NADIRA

NADIRA
KONTRAK PERNIKAHAN



Nadira menatap amplop undangan berwarna putih gading yang dihiasi aksen tinta berwarna emas. Di undangan itu tertulis jelas namanya dan juga nama Arga, calon suaminya.


...Akan menikah:...


...Arga Ibrahim Daniel Rajasa, SE...


...&...


...dr. Nadira Nuraini Afifa...


Ya Allah, aku sungguh akan segera menikah dengan laki-laki yang seharusnya dinikahi oleh Niken. Nadira membathin sambil membaca undangannya. Nadira bergegas keluar dari ruangannya sambil membawa undangannya untuk ia bagi-bagikan kepada rekannya sesama dokter, kepada perawat dan juga staf rumah sakit tempatnya bekerja.


“Aku tahu, ini kan pasien yang dokter Nadira tangani di UGD waktu itu kan? Tahu-tahunya jodoh ya,” kata salah seorang perawat saat menerima undangan dan membaca nama yang tertera di dalam. “Cie dokter, ketemu jodoh sama pasien sendiri. Padahal selama saya kerja di sini dan mengenal dokter, kita-kita tidak ada yang tahu siapa kekasih dokter atau setidaknya dokter pernah dekat dengan siapa,” perawat itu tampak menggoda bersama teman-temannya yang lain.


Nadira hanya terkekeh, dan pipinya tampak memerah karena malu, melihat hal itu mereka justru semakin menggodanya. Apa ini jodoh? Nadira bertanya dalam hati, sementara ia tahu sejak awal kalau pernikahan yang dijalaninya adalah pernikahan hanya untuk menyelamatkan kehormatan Arga. Mereka berdua sepakat tidak akan saling menuntut hak suami-istri, pernikahan yang tidak akan mengikat mereka, Nadira hanya diminta untuk merawat Arga dalam kondisinya yang buta, juga suatu hari mereka akan memutuskan perceraian jika saatnya telah tepat.


Beberapa hari sebelumnya, ia telah bertemu secara privat dengan Arga. Waktu itu mereka tidak berdua, karena kondisi Arga yang buta, ia ditemani oleh ibunya, Rachel, dan juga lelaki bernama Irfan yang saat itu diketahui Nadira bekerja sebagai sekretaris pribadi dan juga orang kepercayaan Rachel ataupun Arga. Tujuan pertemuan mereka adalah untuk menandatangani kontrak pernikahan. 


Nadira curi-curi pandang kepada Arga yang duduk berhadapan dengannya dalam keadaan memakai kacamata hitam, sementara Rachel dan Irfan sibuk mengeluarkan berkas kontrak pernikahan dari dalam map. Sejak datang, Arga belum pernah bicara sama sekali, ia bahkan diam saja di tempatnya bagaikan patung.


Nadira jadi penasaran pada Arga, kesan terakhir ia bertemu Arga lelaki itu tampak menyedihkan dan penuh amarah. Mengingat tindakan apa yang pernah dilakukan Arga padanya, menarik kerah jasnya dengan kasar, seakan tidak peduli padanya yang seorang perempuan.  


Rachel meletakkan beberapa lembar kertas tepat di hadapan Nadira dan Arga. Ia menatap kedua orang itu bergantian.


“Ini kontrak pernikahannya, silahkan kamu baca dulu. Arga sudah mengetahui isi kontrak ini. Jadi silahkan kamu dalami dulu,” Rachel menyodorkan selembar kertas kepada Nadira. 


Nadira menerimanya dengan perasaan campur aduk. Nadira membaca setiap poin dalam kontrak itu dengan cermat.


1.       Tidak akan menuntut hak suami-istri (nafkah lahir bathin) bagi pihak pertama dan pihak kedua (Arga dan Nadira)


2.       Pernikahan tidak akan mengikat bagi pihak pertama dan pihak kedua (Arga dan Nadira)


3.       Bisa mengajukan perceraian jika salah satu pihak atau kedua belah pihak sama-sama merasa sudah perlu untuk bercerai (Arga dan Nadira)


“Apa ada yang ingin kamu tanyakan atau tambahkan dari kontrak itu?” tanya Rachel setelah merasa Nadira sudah selesai membaca dan mencerna semua isi kontrak pernikahan itu.


 


“Saya ingin nyonya menjelaskan poin ketiga lebih rinci lagi,” jawab Nadira. 


“Maksudnya begini, semisalkan kamu sudah menjalani pernikahan dengan Arga selama beberapa waktu. Kamu sudah baca poin kedua kan? Pernikahan ini tidak mengikat, jadi kamu bebas jika semisalkan ada lelaki lain yang kamu sukai kamu boleh menjalin hubungan dengannya, hal ini juga berlaku bagi Arga. Bukan hanya itu, bisa karena alasan lain juga. Karena saya tahu, kalian menikah bukan atas dasar suka sama suka ataupun saling cinta, tapi hanya demi kehormatan dan juga bertanggung jawab atas perbuatan Niken,”


“Iya, saya mengerti,” Nadira mengangguk lemah.


Ya Allah, aku memang akan menikah, tapi dengan tujuan suatu hari akan bercerai. Tidak ada satu pun pasangan menikah dengan tujuan untuk bercerai, tujuan mereka adalah sama-sama hingga ke surga. Tapi aku? Aku dan lelaki ini tidak saling mencintai, hanya sama-sama terjebak situasi sampai harus menikah. Ampuni aku ya Allah, sudah menyetujui aturan yang dibuat Nyonya Rachel. Semoga Engkau tak menganggapku mempermainkan pernikahan.


Rachel tersenyum lega, “Arga, apa ada yang ingin kamu tambahkan dari kontrak ini?” Rachel bertanya pada Arga. 


“Tidak ada mom,” jawabnya datar saja. Seakan tak peduli aturan apa yang mengikat pernikahannya nanti dalam kontrak itu.


“Baiklah sayang. Sekarang kalian tinggal menandatangani kontrak pernikahan ini,” Rachel tampak antusias.


 


Rachel memberi Arga sebuah pulpen dan menuntun tangan kanannya menandatangani kontrak pernikahan sebagai pihak pertama di atas selembar materai. Setelah itu giliran Nadira untuk membubuhkan tanda tangannya sebagai pihak kedua di atas selembar materai.


Nadira sempat diam menatap kolom pihak kedua yang bertuliskan nama lengkap dan gelar dokternya. Setelah ia bertanda tangan, ia takkan bisa lari dari semua ini. Nadira menarik nafas sejenak dan bergumam mengucapkan basmalah lalu membubuhi tanda tangannya di kolom pihak kedua.


 


Setelahnya, 


Nadira tak berlama-lama, sebab ia harus kembali ke rumah sakit. Menjalankan tugas mulianya melayani pasien di Unit Gawat Darurat.  


“Kenapa mommy sampai buat kontrak pernikahan segala?” tanya Arga setelah kepergian Nadira.


“Sayang, kamu dan Nadira kan tidak saling cinta, kalian menikah karena suatu sebab khusus. Mommy tak ingin baik kamu ataupun Nadira hatinya jadi terkungkung karena pernikahan ini. Nadira itu gadis yang bebas dan mandiri, setelah menikah denganmu dia masih punya hak untuk membuka hatinya pada lelaki lain yang dia sukai. Begitu juga kamu sayang, sampai hatimu pulih dari rasa sakit karena Niken, kamu bisa mengajukan perceraian. Kalian tentunya harus bercerai secara baik-baik juga, mommy tidak mau kamu ataupun Nadira sama-sama sakit hati. Itulah tujuan mommy membuat kontrak pernikahan ini.”


Nadira berjalan pelan menyusuri koridor rumah sakit menuju ke parkiran. Ia baru saja selesai bertugas di UGD. Pasien di Unit Gawat Darurat cukup banyak hari ini.


“Dokter Nadira!” panggil seseorang di belakangnya, membuyarkan ingatannya pada pertemuannya dengan Arga untuk tanda tangan kontrak pernikahan.


Nadira berhenti dan menoleh, ia melihat dokter Mirza seorang dokter spesialis anak, berlari pelan menghampirinya.


“Sudah mau pulang ya?” tanyanya penuh keramahan.


“Eh, iya dok,” jawab Nadira yang agak salah tingkah melihat senyum manis di bibir dokter Mirza.


“Selamat ya. Aku tidak menyangka, kamu akan menikah,”


“Oh ya dok, maaf tadi aku tidak sempat memberi langsung undangan pernikahanku, dokter lagi sibuk dengan pasien. Jadi aku hanya menyimpannya di atas meja anda,”


“Tidak apa-apa. Jujur, aku sangat kaget kamu akan menikah. Soalnya di rumah sakit ini tidak ada yang tahu kamu pernah dekat dengan siapa, tiba-tiba saja sudah bawa undangan,” dokter Mirza terkekeh pelan.


Nadira hanya diam sambil tersenyum malu-malu.


“Kamu tahu, itu keren sekali loh,”


“Maksud dokter?” Nadira tak mengerti.


“Tidak pernah berpacaran, tiba-tiba langsung sebar undangan pernikahan,” jelasnya sambil sumringah.


Nadira hanya terkekeh. Seandainya mereka tahu aku menikah tidak seperti pasangan pada umumnya.


Keduanya pun tiba di parkiran. 


“Hati-hati di jalan ya dok,” ucap Nadira sebelum ia ataupun dokter Mirza naik ke mobil masing-masing.


“Iya, kamu juga. In Syaa Allah aku akan hadir di pernikahan kamu,” ia berjanji sambil melempar senyum dan naik ke Mitsubishi Pajero miliknya.


Begitupun Nadira, ia segera naik ke Honda  Mobilio putih miliknya. Terdengar bunyi klakson dari Mitsubishi Pajero milik dokter Mirza ketika melintas di depan mobil Nadira. Nadira mengarahkan pandangannya pada mobil itu dan melihat senyuman manis dokter Mirza tertuju padanya, lalu menghilang dari pandangan.


 


Nadira bersandar pelan di jok mobilnya. “Seandainya saja, lelaki yang kunikahi seperti dokter Mirza,” gumamnya sambil membandingkan wajah ramah dan senyum manis dokter Mirza dengan wajah dingin dan tatapan kosong Arga. Jelas berbeda. Sebagai wanita normal, tentu ia tahu mana yang terbaik.


Nadira baru setahun lebih bekerja di Rumah Sakit Harapan. Orang pertama yang dikenalnya adalah dokter Mirza. Si dokter ramah dengan senyum manis yang juga alim. Mirza adalah tipe orang yang mudah bergaul, setiap orang di sekitarnya akan nyaman berada di dekatnya. Nadira sejujurnya jatuh hati pandangan pertama pada dokter itu, bukan hanya karena keramahannya namun dokter Mirza adalah seorang dokter spesialis anak yang keramahannya pada anak-anak membuat hati Nadira jadi luluh. Ia bahkan sempat berpikir suatu hari nanti bisa mengambil program dokter spesialis anak, biar bisa satu departemen dengan Mirza sehingga ada peluang bisa bekerja sama dan sering bertemu.


Sebenarnya bukan hanya Nadira perempuan yang naksir pada dokter Mirza di rumah sakit itu, ada banyak dari rekan sesama tenaga kesehatan bahkan dari pasien yang kebetulan melihatnya dan merasakan keramahan dokter itu. Nadira menyembunyikan perasaannya karena tahu bukan hanya dia kaum hawa yang tergila-gila pada sang dokter. Dokter Mirza diketahui tidak memiliki pacar, apalagi berpikir ingin mengajak wanita berpacaran dengannya. Tapi dia juga belum menikah, tiap kali ditanya hanya dijawab belum bertemu jodohnya dan minta didoakan agar disegerakan untuk menikah.


Orang-orang di rumah sakit sempat menjodoh-jodohkan Nadira dengan dokter anak itu. Karena karakter Mirza yang terkenal alim dan juga Nadira si dokter cantik berhijab, tentunya serasi bila bersanding dengan dokter Mirza yang tampan. Apalagi keduanya masih sama-sama jomblo.


Tapi dokter Mirza hanya tertawa dengan senyum penuh pemakluman, menganggap itu sekedar gurauan. Padahal Nadira sempat berharap dari jodoh-jodohan iseng itu bisa jadi jodoh beneran. Nadira tidak tahu bagaimana isi hati dokter Mirza, apakah ada juga walaupun sedikit saja di hatinya perasaan suka padanya sebagai seorang wanita? Sampai detik ini Nadira tak pernah tahu. Ia pun hanya memendam sendiri perasaannya.