
“Hai Nad, senang kamu datang ke sini lagi,” sapa Melani yang sedang berpelukan dengan Nadira.
“Bagaimana kabar kamu Mel? Sehat-sehat saja?” Nadira membalas setelah keduanya berpelukan.
“Alhamdulillah,” Melani melirik penasaran ke arah Arga yang berdiri tenang di samping Nadira. “Uhm, ini...,” tunjuknya pada lelaki tampan itu.
“Iya, kenalkan ini Arga, suamiku,” jelas Nadira sambil meraih lengan Arga.
Dalam hatinya, Melani memuji betapa tampannya suami Nadira itu sampai tidak percaya kalau lelaki itu buta.
“Halo, aku Melani. Aku temannya Nadira sejak di Jogja,” Melani mengulurkan tangan dan tersenyum ramah.
Arga pun tersenyum ramah, “Iya, senang berkenalan denganmu. Nadira sering cerita kalau kamu yang mengajarinya membaca dan menulis huruf braille, yang kemudian dia yang mengajariku di rumah,”
Melani menarik kembali tangannya.
“Iya, iya, itu betul sekali. Seharusnya aku yang mengajarimu langsung membaca dan menulis huruf braille, tapi Nadira tidak berminat, dia lebih memilih mempelajarinya langsung lalu mengajarimu. Padahal aku ini lulusan sarjana pendidikan dengan spesialisasi pengajaran bagi tuna netra. Mungkin karena kamu begitu tampan, jadi takut kalau aku bukannya mengajarimu, malah menggodamu,” Melani terkekeh, sambil melirik jenaka ke arah Nadira.
“Mel, apa sih. Kenapa kamu menarik kesimpulan begitu,” Nadira tampak malu sambil melirik Arga.
Arga hanya tersenyum tipis.
Melani segera mengajak Nadira dan Arga memasuki ruang koleksi buku-buku bacaan dengan huruf braille di perpustakaan miliknya. Melani membangun perpustakaan braille sejak ia menjadi seorang guru SLB.
“Di sini tidak sebanyak koleksi di perpustakaan pada umumnya, tapi lumayan dengan koleksi buku yang aku punya. Memang agak susah mendapatkan buku yang dicetak dengan huruf braille,” Melani menjelaskan sambil menunjukkan pada Nadira jajaran rak buku di hadapan mereka.
“Kau tahu, sejak menjadi orang buta, aku tidak punya hiburan lain selain membaca buku,” Arga menimpali.
“Nad, silahkan kamu pilihan buku apa yang ingin dibaca oleh Arga, aku akan keluar sebentar membeli minum untuk kalian,” Melani bergegas pergi.
Pengunjung di perpustakaan braille milik Melani cukup banyak dari kalangan orang-orang tuna netra. Kebanyakan adalah siswa Melani di SLB.
Nadira meletakkan beberapa tumpukan buku di atas meja di depan Arga yang sedang membaca huruf braille dengan ujung jemarinya.
“Terima kasih,” ucapnya, lalu melanjutkan kegiatannya.
Nadira menopang dagunya dan menatap ke arah Arga begitu dalam. Lelaki itu selalu sempurna di matanya walaupun pada kenyataannya dia seorang tuna netra. Nadira seolah-olah bertanya dalam hatinya sendiri, kenapa dia sepeduli ini pada Arga. Benarkah sekarang benih-benih rasa telah bermunculan di hatinya?
Kedatangan Melani yang langsung meletakkan beberapa kaleng minuman di hadapan Nadira, membuat gadis itu terkejut. Arga pun menghentikan kegiatan membacanya begitu mendengar suara meja akibat kedatangan Melani.
“Lagi apa Nad? Diam-diam gitu sambil liatin Arga,” Melani berkata jujur sambil melirik Nadira dengan raut menggoda.
“Mel, apa sih. Bukan! Aku cuma duduk-duduk saja,”
Melani tersenyum lalu menarik kursi dan duduk di depan Arga dan Nadira.
“Aku tahu, kalau diam begitu berarti dia sedang memandangku,” Arga berujar sambil tersenyum sekilas.
Nadira gagal menyembunyikan rasa malunya. Berkunjung ke sini bersama Arga sepertinya ia akan jadi bulan-bulanan Melani yang senang menggodanya. Apa kawan lamanya itu bisa membaca kalau Nadira mulai menaruh rasa pada Arga?
“Mel, kita bicara sebentar. Arga, kamu tunggu di sini ya,” Nadira bergegas membawa Melani agak menjauh dari lokasi Arga yang sedang duduk sambil membaca.
“Mel, kamu jangan bikin aku malu di depan Arga,” bisik Nadira.
Arga mengawasi suara itu, suara Nadira, ia masih bisa menangkap pembicaraan itu walau Nadira berbisik sekalipun.
“Kenapa sih Nad? Dia kan suami kamu, untuk apa juga kamu takut malu, Arga kan tidak tahu karena tidak bisa melihat,” Melani setengah berbisik, tampak santai.
“Kamu beruntung loh dapat suami seperti Arga, ya walaupun dia buta, itu tidak masalah sih. Daripada dulu kamu menyerahkan hati dan cintamu pada lelaki yang salah dan brengsek seperti Bram. Aku berharap Arga adalah lelaki yang tepat, apalagi dia adalah suamimu,” Melani menambahkan sambil sesekali melirik ke arah Arga yang tampak asyik menyusuri tiap huruf braille di tangannya. Padahal sebenarnya ia sedang mengawasi pembicaraan kedua gadis itu, memasang kuping baik-baik.
Nadira hanya diam, mendengar nama Bram seketika suasana hatinya berubah. Seketika Nadira berpikir, apakah Arga adalah lelaki yang tepat, di mana dulu di masa lalu ia salah mencintai orang seperti Bram.
Tapi ia teringat kontrak pernikahan yang telah ia tanda tangani dengan sesadar-sadarnya sebelum pernikahannya dengan Arga.
.
.
.
Setelah dari perpustakaan, Arga dan Nadira mampir di sebuah restoran masakan Italia. Saat Arga bertanya Nadira ingin makan apa, tiba-tiba saja ia begitu ingin makan spagethi.
“Nad, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Arga tiba-tiba di sela-sela penantian mereka setelah memesan menu pada pramusaji.
“Apa Arga?” Entah kenapa Nadira jadi deg-degan.
“Boleh aku tahu, Bram itu siapa?” Arga memberanikan diri.
Nadira seolah membeku di tempatnya, mendengar langsung dari bibir Arga, menanyakan tentang sosok lelaki di masa lalunya yang segala kenangannya ingin ia kubur dan lupakan.
“Kenapa kamu tidak jawab? Maaf kalau aku sudah menguping pembicaraanmu dengan Melani. Aku tidak bermaksud, kau tahu sendiri kan, pendengaranku begitu sensitif sejak aku tidak bisa melihat,”
Nadira masih diam. Arga hanya mendengar desahan nafas gadis itu, seolah menenangkan perasaannya.
“Arga, Bram bukan siapa-siapa. Dia hanya seseorang yang dulu kukenal dan kami cukup akrab,” jawab Nadira.
“Dia pasti spesial kan, dulunya. Kamu bahkan menyerahkan hati dan cintamu padanya,” Arga sengaja memancing.
“Arga, cukup! Tolong ini tidak perlu dibahas. Kalau kamu mau tahu yang lebih jelas, Bram adalah mantan pacarku,” Nadira menjelaskan.
Arga sudah bisa menebak siapa Bram di masa lalu Nadira. Dia hanya ingin memastikan apakah Nadira masih mencintai lelaki bernama Bram itu apa tidak. Setelah mendengar perkataan Melani tadi, Arga merasa kurang nyaman. Mendengar respon Nadira yang kurang suka pembahasan mengenai Bram, Arga menarik kesimpulan kalau Nadira sudah tidak mencintai Bram, justru membencinya.
“Oke, aku minta maaf. Tapi sebagai suamimu, atau sebagai temanmu, aku ingin tahu apa ada laki-laki di luar sana yang kamu sukai?”
Nadira hanya mengernyitkan dahi, lagi-lagi tak langsung menjawab. Ia merasa Arga jadi aneh setelah dari perpustakaan.
Belum Nadira menjawab, pramusaji keburu datang membawakan menu pesanan mereka.
“Akhirnya, spagethi datang!” Nadira berseru senang begitu sepiring spagethi tersaji di depannya. “Aku benar-benar ingin segera memakannya, aku sangat lapar,” tambahnya. Nadira bersyukur, ia jadi punya alasan untuk menghindari menjawab pertanyaan Arga tadi.