NADIRA

NADIRA
BAYI GEDE



Nadira memandangi Arga yang tampak melamun duduk di sofa. Pikirannya sedang menerawang. Nadira menghentikan aktivitasnya mengemasi barang-barang mereka sebab besok mereka akan dijemput sopir dari kediaman Rachel. Iya, kedua sejoli itu akan kembali ke rumah.


Nadira menghampiri Arga. "Sayang, kenapa? Lagi mikir apa?"


"Tidak apa-apa Nad,"


"Apa kamu kepikiran ucapan bibi?" Nadira duduk di sisi Arga.


Arga hanya menatap dalam pada Nadira. Nadira lalu menyentuh sebelah pundak Arga.


"Aku tidak menyangka bibi akan berkata seperti itu pada mommy," sahut Nadira.


"Semua itu benar Nad, tidak ada yang perlu sakit hati dengan apa yang dikatakan bibi," ucap Arga, "seandainya masih bisa ditukar, aku lebih memilih buta selamanya asalkan Niken bisa hidup kembali,"


"Kenapa kamu berkata begitu? Apa kamu ...," Nadira merasa Arga masih ada rasa kepada Niken.


"Bukan seperti itu Nad," Arga membantah isi pikiran istrinya, "Aku hanya tidak ingin punya hutang budi kepada orang Nad. Termasuk kepada Niken meskipun dia sudah meninggal. Semua ini memang berkat dirinya aku bisa di sini, bisa melihatmu, hal yang paling aku inginkan saat aku buta," Arga menatap Nadira begitu lama.


Nadira memeluk Arga sambil mengelus lembut belakang kepala suaminya.


"Tidak ada yang pernah menyangka Niken akan berakhir seperti itu. Tapi satu hal yang pasti adalah Niken meninggalkan kenangan yang begitu baik setelah kepergiannya, kebaikan dan kecantikan hatinya karena telah mendonorkan korneanya untukmu. Sejujurnya aku sangat iri padanya, dia melakukan hal yang begitu besar untukmu, yang membuatmu dan mommy sangat terkesan akan kebaikannya,"


Arga melepaskan pelukan Nadira dan menatapnya, "kenapa kamu iri? Kalau bagimu Niken sudah melakukan hal yang besar untukku, maka kau juga sudah melakukan hal yang sama untukku, kau di sini," Arga meletakkan sebelah tangan Nadira di dadanya. "Aku tidak pernah bisa membayangkan Nad, kalau kamu tidak ada dulu, mungkin aku akan terus terpuruk dan membenci Niken yang telah pergi. Apalagi sekarang kau telah melakukan hal yang besar karena mengandung anakku," Arga menyentuh dagu Nadira dan berkata, "jadi jangan pernah lagi membandingkan dirimu dengan Niken. Jangan pernah merasa kecil hanya karena Niken sudah mendonorkan korneanya untukku, bagaimana pun sekarang hanya kau yang kucintai Nad,"


Nadira mengangguk sambil tersenyum.


.


.


.


Semua menyambut kedatangan Nadira dan Arga kembali ke rumah. Para pelayan, sopir, tukang kebun, begitu pun Rachel, juga tak ketinggalan Irfan. Rachel menyambut kedatangan anak dan menantunya dengan senyum hangat. Ia bahkan tak sungkan untuk memeluk Nadira. Arga menatap keduanya penuh rasa syukur, akhirnya ia berhasil menaklukkan hati ibunya, walaupun semua berawal saat Rachel tahu bahwa Nikenlah yang telah berbesar hati mau mendonorkan kornea matanya baginya.


"Selamat datang kembali di rumah ini nona muda, kami sangat merindukan anda," sahut bu Ruly saat berhadapan Nadira.


"Terima kasih bu Ruly, aku juga sangat rindu kembali ke rumah ini," balas Nadira.


Keduanya langsung dijamu dengan hidangan makan siang di meja makan. Rachel bahkan begitu bersemangat mengisi piring Nadira dengan berbagai macam lauk yang tersedia di meja.


"Mom, aku tidak apa-apa. Aku bisa ambil sendiri," ujar Nadira tak enak hati sambil menatap sungkan pada Rachel. Tapi ia bahagia mendapat perhatian dari sang ibu mertua.


"Tidak apa-apa Nadira. Kau sedang hamil, ibu hamil harus makan makanan yang bergizi,"


Nadira tersenyum malu-malu.


"Anggap saja aku melakukan ini untuk calon cucuku. Kau tidak perlu sungkan begitu,"


"Mom, untukku mana? Mommy lihat kan, aku belum bisa menggunakan tangan kananku karena dibebat," sahut Arga tiba-tiba, menanti piringnya juga diisikan berbagai macam lauk yang menggugah selera. Jika tidak ada Irfan, ia pasti akan bermanja-manja kepada Rachel.


"Biar aku yang isikan piringmu sayang, kau mau apa?" Nadira menawari.


"Kalau begitu, pilihkan untukku saja sayang,"


Nadira lalu mengambil beberapa lauk yang terdekat dari jangkauannya lalu mengisinya ke dalam piring Arga dengan senyum sumringah.


Rachel dan Irfan mengulas senyum saat menyaksikan kemesraan kedua sejoli itu. Rachel merasa, rumahnya kini tidak sunyi lagi, lebih hidup dan berwarna sebab Arga sudah kembali bersama belahan jiwanya yang tidak bisa lagi ia paksa untuk dipisahkan. Rachel mengalah dan memilih untuk menerima Nadira.


Kejutan lain yang disiapkan oleh Rachel adalah dengan mendekorasi ulang kamar Arga, menggantinya dengan beberapa perabot baru bernuansa putih estetik. Satu hal yang paling mencolok adalah pigura 20R yang membingkai potret Arga dan Nadira saat mereka menikah. Pigura itu terpajang tepat di atas tempat tidur mereka. Di atas tempat tidur juga banyak terdapat kelopak mawar merah yang membentuk gambar hati di tengah-tengah.


Nadira takjub dan tersipu melihat perubahan drastis kamar Arga yang kini jadi kamar mereka.


"Aku merasa jadi pengantin baru lagi," sahut Arga sambil melirik nakal pada Nadira.


Arga bergegas ke belakang Nadira dan menatap lingerie-lingerie itu.


"A-apa ini? Kenapa ada beginian di kamarmu?"


"Ternyata mommy peka sekali, sampai menyediakan stok lingerie khusus untukmu," sahut Arga tampak senang.


Nadira sontak menutup pintu lemari dan berbalik badan, wajah nakal Arga langsung menyergapnya.


"Kau akan memakainya malam nanti kan?"


Nadira sontak menggeleng. Pipinya semakin bersemu merah.


"Sayang, aku ingin lihat kau memakai lingerie itu," Arga tampak kecewa.


"Jangan memintaku memakainya, aku malu,"


"Sayang, ayo mengulang malam pertama lagi, dulu malam pertama kita berlalu sia-sia begitu saja," Arga memulai kelakuan manjanya, ia bahkan menyandarkan kepalanya di pundak Nadira sambil membayangkan Nadira mengenakan lingerienya, membayangkan lekuk tubuh wanita itu yang semakin seksi saat menggunakan lingerie, lalu menggodanya duluan untuk bercinta.


"Jangan berpikir yang macam-macam!" Nadira melangkah maju sambil membuang jauh pikiran fantasinya jika mengenakan lingerie.


"Aku ingin kita punya kenangan malam pertama yang indah," Arga semakin menjadi-jadi dengan manjanya.


"Kau ini, kan aku yang hamil, kenapa kau yang lebih manja sih,"


"Aku kan bayi gedemu," Arga semakin senang menggoda Nadira.


Nadira terpingkal, saat Arga menyebut dirinya bayi gede.


"Sudah sebesar ini apa kau sering bermanja seperti itu kepada mommy?"


"Uhm, kadang-kadang, tapi mommy lebih sering menyentilku kalau tiba-tiba aku bersikap seperti anak kecil,"


Nadira tergelak.


"Tapi kau tidak akan menyentilku kan?"


Nadira tersenyum, "mana mungkin aku berani menyentil bayi gedeku," Nadira maju mencium Arga saking gemasnya.


.


.


.


Nadira keluar dari kamar mandi sambil mengenakan kimono handuknya, ia melihat Arga sudah mengenakan piyama sedang duduk di sofa sambil menikmati segelas coklat panas kesukaannya.


Keduanya saling melempar senyuman saat Nadira berjalan menuju meja rias. Nadira duduk menatap wajahnya di cermin lalu mulai menyisir rambut panjangnya dan merias wajahnya agar tampak lebih segar dan menggoda pastinya. Arga terus mengamatinya melalui cermin, ia senyum-senyum sendiri melihat Nadira berbuat demikian, ia tahu Nadira melakukannya untuk membuatnya senang.


Setelahnya, Nadira melangkah mendekati Arga lalu duduk di sisinya. Arga bisa mencium wangi aroma parfum yang dikenakan istrinya, baginya wanginya begitu sensual. Arga lalu menciumi bibir Nadira, merasakan lip tint nya yang masih basah.


"Rasa coklat," sahut Nadira sambil menyentuh bibirnya.


Arga tergelak.


"Kau sedang menggodaku ya," tangan Arga bergerak pelan menarik simpul pita handuk kimono yang dikenakan Nadira. Saat dibuka, Arga mendapati tubuh mulus istrinya dari balik lingerie hitam transparan yang dikenakannya. Begitu seksi dan benar-benar mampu menggoda hasrat kelelakiannya.


Arga tersenyum senang melihat Nadira mengenakan lingerie itu. Awalnya Nadira masih malu-malu lalu kemudian ia merasa senang saat melihat respon Arga ketika ia mengenakan lingerienya.


Arga lalu mulai mengecup ceruk leher Nadira yang putih dan halus, meninggalkan bekas merah di sana. Aroma parfumnya begitu kuat, Nadira telah menyemprotkan parfumnya di bagian itu. Pikiran Arga semakin melayang, menikmati aroma menggoda dan juga lekuk indah tubuh Nadira dari balik lingerienya. Arga pun semakin liar, ia mengecup dada Nadira dan juga meninggalkan bekas merah.


"Terima kasih Nad, kamu cantik sekali," kata Arga lembut sambil mengelus pelan puncak kepala Nadira.