NADIRA

NADIRA
TERSENYUM



Nadira menyibakkan tirai jendela ketika matahari telah tampak. Ia bisa melihat pemandangan kota Jakarta dengan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.


Ia menarik nafas lega, malam pertamanya dengan Arga telah berlalu dengan aman, hanya dilewati dengan insiden lingerie dan piyama. Nadira melirik ke arah tempat tidur. Arga masih terlelap dengan wajah tampan menggemaskan. Tiba-tiba Arga menggeliat lalu membuka kedua matanya.


Nadira yang sedang asyik memandangnya, jadi salah tingkah. Ia berlari kembali ke sofa tempat ia tidur semalam. Kemudian teringat, untuk apa dia melakukan itu, Arga kan buta, pasti juga tidak tahu kalau sedang dipandangi.


Arga turun dari tempat tidur, lalu mencari tongkatnya. Ia berjalan masuk ke kamar mandi hendak mencuci muka dan menggosok gigi.


Nadira masih duduk di sofa ketika Arga keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar.


“Jam berapa sih, sekarang. Cih, hidupku benar-benar payah jadi orang buta. Lihat jam saja tidak bisa,” gumamnya sebal. Arga teringat Nadira. “Apa dia belum bangun?” gumamnya lagi.


Arga melangkah mencari di mana posisi sofa dalam kamar itu. Nadira kebingungan, ia kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa, sebab Arga sudah akan menemukan sofa, beberapa langkah lagi, ujung tongkatnya akan menyentuh sofa.


“Hei, kau belum bangun ya?” Arga sedikit berteriak.


“Ehm,” terdengar suara Nadira yang terbangun lalu akting menguap. Padahal sejak jam lima ia sudah bangun tidur untuk melaksanakan shalat subuh. “Ada apa?” tanyanya dengan suara yang dibuat-buat seperti baru bangun tidur.


“Jam berapa sekarang?” tanya Arga langsung.


Nadira melirik ponselnya di atas meja, “enam tiga puluh (06.30)” jawabnya.


“Seharusnya Irfan sudah datang,”


“Irfan? Mau apa dia?”


“Membawakan baju untuk kita. Memangnya kau mau keluar sarapan dengan lingerie mu itu?” Arga kembali usil.


“Hey, aku pakai piyama, tidak pakai lingerie,” Nadira membantah.


Arga tertawa senang, kemudian tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


Nadira bagai tersihir. Ternyata dia bisa tersenyum juga, ya Allah manis sekali senyumannya, tidak kalah dengan senyuman dokter Mirza. Gumam Nadira dalam hati.


“Hey, kau masih di sana? Kenapa tidak bersuara?” tanya Arga, gemas.


“Iya, aku ada kok,” jawab Nadira sambil mengupayakan hatinya agar tidak makin dalam tercebur dalam pesona Arga Ibrahim.


“Jangan-jangan kau suka menatapku diam-diam ya karena aku buta?” tanya Arga tampak percaya diri.


Sial, kenapa dia bisa tahu.


“Kenapa tidak menjawab? Benar kan?”


Terdengar bunyi bel dari luar kamar.


“Itu pasti Irfan, sana bukakan pintu!” Arga memberi perintah.


“Aku tidak bisa, kau saja ya,” Nadira menolak.


“Kenapa malah aku?” Arga tak terima.


“Aku tidak pakai hijab. Aku tidak bisa bertemu laki-laki lain selain suamiku, jika tidak memakai hijab,” Nadira menjelaskan lalu bergegas masuk ke kamar mandi, menyembunyikan diri dari Irfan.


Arga terdiam mendengar kalimat Nadira tadi. Bel kembali berbunyi. Ia harus bergegas membuka pintu untuk Irfan.


“Ah, merepotkan sekali. Aku kan tidak tahu arah pintunya di mana kalau dari sini,” Arga melangkah sambil ngedumel mencari di sebelah mana pintu kamar hotel.


Tidak butuh waktu lama, Arga menemukan pintu dan membukanya.


“Selamat pagi tuan Arga,” sapa Irfan sambil menundukkan kepala.


“Kau terlambat,”


“Maafkan saya tuan, ada sedikit insiden kecil di jalan tadi, jadi saya terlambat,”


“Tidak apa-apa, masuklah!” Arga melangkah di depan.


“Sebaiknya kau menuntunku sampai di sofa, tidak perlu menunggu aku memberi perintah,” sahut Arga.


“Baik tuan,” Irfan memegang lengan Arga dan membawanya ke arah sofa dan mendudukkannya di sana.


Irfan menatap bantal yang semalam dipakai Nadira tidur di sofa itu. Irfan lalu duduk di sofa tak jauh dari Arga.


“Saya membawa baju untuk anda dan juga untuk nona Nadira,” Irfan membawa dua paper bag yang masing-masing berisi baju Arga dan Nadira.


“Simpan saja di situ, biar nanti Nadira yang mengurusnya,”


“Hey, kau dengar tidak?”


“Iya tuan,” jawab Irfan. Irfan masih belum bisa beradaptasi dengan kondisi Arga. Ia kadang sering lupa kalau majikannya itu seorang tuna netra.


Irfan menengok kiri-kanan mencari di mana sosok istri majikannya.


“Nona muda di mana tuan?” tanya Irfan.


“Di kamar mandi,” jawab Arga.


“Jam sepuluh nanti, tuan dan nona Nadira akan naik pesawat menuju Lombok untuk berbulan madu,” jelas Irfan.


“Untuk apa sih bulan madu, toh sampai di sana tidak ada apa-apa yang akan keperbuat dengan gadis itu. Mommy membuatku terlalu buang-buang waktu dengan bulan madu ini,”


“Nyonya besar sebenarnya merencanakan bulan madu anda dengan nona muda di Perancis, tuan. Tapi mengingat kondisi tuan muda, jadi di dalam negeri saja,”


“Apa kau ikut?”


“Iya tuan,”


“Bukankah kau harusnya mendampingi mommy mengurus perusahaan?”


“Nyonya besar yang memerintahkan saya untuk mendampingi bulan madu anda dan nona Nadira di Lombok,”


Arga hanya mengangguk.


Dari dalam kamar mandi, Nadira membuka sedikit pintu, ingin mengintip keluar apakah Irfan sudah datang. Nadira melihat kedua lelaki itu sudah duduk di sofa dan saling mengobrol.


“Apa tidak ada perkembangan dari orang suruhan yang kubayar untuk mencari di mana Niken?” tanya Arga mengalihkan pembicaraan.


Nadira yang di kamar mandi, mendengar semuanya. Deg! Mendengar nama Niken, tiba-tiba ia merasa sudah lupa dirinya siapa sebelum Arga menyebut nama itu.


“Belum ada tuan,”


Arga mendesah kasar, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa. Sorot matanya tampak menyiratkan kecewa yang berbalut harapan, agar bisa menemukan Niken dan menemuinya.


“Kenapa tuan muda sangat ingin menemukan nona Niken? Bukankah jelas-jelas dia sudah meninggalkan tuan karena kondisi tuan yang buta?”


“Aku tahu, tapi aku merasa tidak puas dengan perpisahan ini. Dia hanya mengembalikan cincin pertunangan dan menitip surat bodoh untukku melalui sepupunya. Aku hanya ingin mengajaknya bicara berdua kalau memang dia benar-benar ingin berpisah denganku,”


Nadira tidak ingin mendengarnya lagi. Dia menutup rapat pintu kamar mandi dan terdiam, mencerna isi pikirannya sendiri tentang perasaan Arga kepada Niken.


Jadi, dia tidak bisa melupakan Niken.


Nadira mendudukkan dirinya di lantai, dan menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi. Dia terus memikirkan pembicaraan Arga dan Irfan tadi.


Tiba-tiba Nadira merasakan pintu kamar mandi hendak terbuka, alhasil kepala belakangnya kejedot pintu.


“Auw,” Nadira meringis, lalu menggeser tubuhnya sambil menyentuh belakang kepalanya yang nyut-nyut.


“Nad? Kau kenapa?” tanya Arga yang sedang berdiri di ambang pintu kamar mandi.


“Kenapa sih, tidak ketuk pintu dulu,” Nadira merasa kesal, lalu bangkit berdiri masih menyentuh belakang kepalanya.


“Pintunya tidak dikunci, dan sepertinya pintunya tadi agak macet,” Arga menjelaskan.


“Bagaimana kalau aku sedang ganti baju? Atau sedang mandi? Masa kau langsung buka pintu kamar mandi begitu saja,” entah kenapa Nadira masih merasa kesal pada Arga. Padahal yang dilakukan Arga tadi tidak sengaja.


“Hey, bagaimana perempuan bodoh sepertimu bisa jadi dokter? Mau kamu telanjang sekarang di depanku juga aku tidak akan lihat. Aku ini buta! Bahkan kalau kau ingin menertawakanku sekarang juga aku tidak akan marah, karena aku tidak melihatnya,” ujar Arga dengan nada ketus.


Nadira tidak merespon, ia melewati Arga keluar dari kamar mandi.


“Ada apa sih dengannya, kenapa dia jadi sensitif begitu. Padahal tadi baik-baik saja,” gumam Arga setelah Nadira meninggalkannya di depan pintu kamar mandi.


Arga membalik badan, “aku hanya ingin memberitahumu kalau Irfan sudah pulang. Kau bisa keluar dari persembunyianmu,” Arga menjelaskan.


Nadira hanya duduk diam di sofa, sambil melirik sebal ke arah Arga.


“Hey, kau senang sekali mendiamkanku ya, mentang-mentang aku tidak bisa melihat,” sahut Arga sebal.


“Aku di sini, di sofa,” sahut Nadira sebal. Ia merasa dongkol karena Arga kembali memanggilnya dengan sebutan bodoh.


Huh, laki-laki ini sudah buta, tapi bicaranya masih saja kasar. Nadira membathin.


“Berikan bajuku! Kita harus siap-siap, jam tujuh kita akan sarapan bersama.”