NADIRA

NADIRA
WASIAT NIKEN



Flashback


Setelah menemui Arga di gedung Rajasa Group.


Nadira mengemudi pelan sambil berusaha menenangkan perasaannya setelah bertemu Rachel tadi ketika mereka akan pulang. Niken yang duduk di sampingnya pun tampak gelisah, ia menatap prihatin kepada Nadira. Niken merasa sedih, karena bukan hanya dirinya saja yang tidak direstui dengan Arga, Rachel pun melakukan hal yang sama kepada Nadira tidak merestuinya dengan Arga.


“Nad, yang sabar ya,” ujar Niken sambil menyentuh lengan Nadira.


Nadira hanya tersenyum walau tampak memaksa. Hatinya benar-benar dipenuhi kecemasan karena kata-kata Rachel tadi.


“Aku pikir ibunya Arga sudah berubah, ternyata dia masih sama saja,”


Nadira tak menggubris, ia fokus saja mengendarai mobil yang dibawa Niken.


“Nad, apa tidak ada harapan lain bagi Arga untuk bisa melihat kembali selain menunggu donor kornea?” tanya Niken sambil menatap keluar. Ia benar-benar tidak bisa lupa sorot mata Arga yang kosong dan gelap.


“Kornea matanya cedera akibat kecelakaan itu, satu-satunya cara adalah menggantinya dengan kornea yang baru dari pendonor,”


Niken menghela nafas setelah mendengar semua penjelasan Nadira. Setelah obrolan itu, keduanya saling berdiam diri, sibuk tenggelam dengan pikiran dan keresahan masing-masing.


Begitu keduanya sampai di rumah, Widya segera menyambut penuh kelegaan.


“Kamu terlalu keras kepala, mama kan sudah bilang tidak usah ke sana,” Widya mengomeli Niken.


Niken hanya tersenyum sekilas sambil berkata, “tapi kan aku baik-baik saja bu, Arga ataupun ibunya tidak menyakitiku, iya kan Nad?” sambil melirik Nadira.


Nadira hanya mengangguk.


“Nad, kamu akan langsung ke rumah sakit?” tanya Widya.


Nadira menggeleng, “tiba-tiba aku ingin makan seblak buatan bibi,” sahut Nadira sambil tersenyum penuh makna.


“Iya deh, kau tinggal saja dulu tunggu sampai bibi masak seblak untuk kamu,”


Nadira manggut-manggut seperti anak kecil, “kita buat sama-sama ya bi,”


Widya mengangguk penuh senyuman.


“Aku ke kamar dulu ya ganti baju, lalu ikut gabung dengan mama dan kamu di dapur,” sahut Niken.


Nadira dan Widya mengangguk bersama lalu berjalan berdampingan menuju ke dapur.


.


.


.


Belasan menit kemudian ...


“Niken mana? Kenapa belum turun juga?” tanya Widya di sela-sela kegiatannya dan Widya untuk membuat seblak.


“Iya ya, bi, katanya mau ganti baju,” Nadira bingung sendiri, “mungkin dia mandi dulu,”


Keduanya kembali sibuk. Namun beberapa menit kemudian, Widya lagi-lagi bertanya, “kenapa Niken tidak turun? Apa dia tidur?” Widya sedikit khawatir, perasaannya mulai tidak enak. Selama ini ia begitu protektif mengawasi Niken yang sedang hamil tua sejak sang anak pulang kembali ke rumah.


“Aku akan ke kamarnya untuk melihatnya bi,” Nadira berkata seolah tahu kekhawatiran yang dirasakan oleh Widya.


Nadira pun bergegas menaiki tangga menuju ke kamar Niken. Begitu ia masuk, Niken tidak terlihat di kamarnya. Nadira lalu menuju ke arah kamar mandi dan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi Niken beberapa kali sambil memanggilnya.


“Niken, kamu di dalam ya?” tanya Nadira, namun tidak ada sahutan.


“Niken, kamu lagi mandi?” Nadira menempelkan sebelah telinganya di pintu dan tidak mendengar suara-suara dari dalam apalagi suara guyuran air.


Nadira meraih gagang pintu, hendak membukanya dan ternyata pintu kamar mandi tidak terkunci.


Nadira membuka lebar pintu dan melihat Niken terbaring tidak sadarkan diri di lantai kamar mandi dengan ceceran darah di dekat kakinya.


“Niken!!” teriak Nadira histeris.


.


.


.


Tak berapa lama, Herman pun datang dan menatap cemas pada Widya dan Nadira.


Nadira pun menjelaskan kalau ia sudah menemukan Niken tergeletak pingsan di kamar mandi. Nadira menduga Niken tak sengaja terjatuh di kamar mandi. Dan saat ini dokter kandungan segera mengambil tindakan untuk mengoperasi Niken dan mengeluarkan bayi dalam kandungannya mengingat usia kehamilan Niken yang sudah menginjak bulan kesembilan.


Mereka menunggu kurang lebih sejam hingga operasi sesar selesai. Tampak seorang perawat membawa keluar seorang bayi laki-laki seberat tiga kilogram ke kamar perawatan bayi. Bayi itu tampak sehat dan tangisnya begitu menggema.


Ketiganya menatap penuh rasa syukur, Niken akhirnya telah melahirkan bayi laki-lakinya dengan selamat. Ketiganya mengikuti ke tempat bayi itu dirawat. Sementara Niken, pasca operasi ia langsung dipindahkan ke ICU, keadaannya tidak baik-baik saja.


Mereka hanya boleh masuk menjenguk Niken satu-satu. Widya sudah menjenguk Niken di ICU sambil menggendong bayinya dan memperlihatkannya kepada Niken. Setelah itu, giliran Herman, dan setelah Herman adalah giliran Nadira untuk menjenguk Niken di ruang ICU.


Niken tampak begitu lemah, wajahnya pucat dan ia bahkan harus mengenakan selang oksigen.


Nadira hanya bisa menangis melihat kondisi Niken yang begitu mengkhawatirkan.


“Niken, kamu harus kuat ya, demi anakmu,” Nadira membelai lembut kepala Niken.


Niken mengangguk lemah dan berucap lirih, “doakan aku Nad,”


Nadira hanya mengangguk sambil menyeka air matanya.


“Nad, aku titip anakku ya, tolong jaga dia,” Niken bergumam sambil menahan rasa sakit di tubuhnya.


Nadira menggeleng, “tidak Niken! Kamu akan sembuh, besok dan seterusnya kamu akan merawat dan membesarkan anakmu,”


Niken memejamkan sejenak kedua matanya, air matanya pun jatuh menetes.


“Nad, aku tidak kuat lagi,” lirihnya dengan suara yang nyaris tidak kedengaran.


“Niken kamu kuat! Kamu pasti bisa melewati semua ini,”


“Nad,” panggilnya parau sambil memegang tangan Nadira. “Kalau sesuatu terjadi padaku dan, aku tidak selamat. Tolong donorkan kornea mataku untuk Arga, ini adalah wasiatku dan aku juga sudah menyampaikannya pada papa dan mama,”


“Niken, kenapa kamu berkata seperti itu, kamu akan baik-baik saja. Berjuanglah demi anakmu,”


Niken hanya menangis lirih.


“Nad, aku berpikir dengan menjadi donor kornea bagi Arga, aku bisa menebus semua kesalahanku padanya. Aku hanya ingin kau dan Arga bahagia kalau Arga bisa melihat lagi,”


Nadira hanya menangis.


“Berjanjilah Nad, kalau umurku tidak sampai besok. Tolong jalankan wasiatku ini dan sampai kapanpun jangan pernah katakan padanya kalau aku jadi pendonor kornea baginya,”


Nadira masih menangis.


“Rasanya damai Nad, kalau aku bisa tidur sebentar saja,” Niken memejamkan kedua matanya.


Nadira menatapnya ketakutan, karena Niken tidak membuka matanya lagi, dia tahu kalau Niken dalam keadaan tidak baik-baik saja. Nadira segera memanggil dokter dan beberapa orang perawat untuk segera memantau kondisi Niken.


Dokter segera melakukan tindakan karena kondisi detak jantung Niken yang begitu lemah. Hingga kemudian, monitor pendeteksi detak jantung menunjukkan garis lurus dan bunyi tiiit yang menakutkan. Dokter segera melakukan tindakan resusitasi jantung selama beberapa kali, tapi tetap saja garisnya lurus dan Niken tidak pernah bangun lagi dari tidurnya.


Semua menangis histeris di depan ruang ICU ketika dokter keluar dan menyampaikan bahwa Niken sudah tidak bisa diselamatkan, ia telah menghadap pada sang penciptanya.


Mendengar hal itu, Widya sampai jatuh pingsan.


.


.


.


Arga berdiri diam menatap terpaku pada sebuah nisan bertuliskan nama Niken, tanggal kelahiran dan juga tanggal kematiannya. Hingga detik ini ia masih tak percaya kalau Niken susah meninggal. Tanah kuburan kuburannya masih berwarna merah dan dipenuhi dengan taburan kelopak bunga.


Niken dimakamkan tepat di samping makamnya Desta, ia berwasiat kepada kedua orang tuanya kalau ia meninggal, makamkan ia di sisi kuburan Desta.


Arga merasakan air matanya menetes, “maafkan aku Niken. Aku bahkan tidak mengatakan kalau aku memaafkanmu saat kau datang menemuiku,” Arga menyeka air matanya.


Pikirannya hanya dipenuhi sesuatu yang tidak pernah ia sangka-sangka. Kepergian Nadira, surat cerai dan juga kematian Niken. Membuat Arga begitu shock.