NADIRA

NADIRA
KEMBALI KE UGD



Beberapa hari kepulangannya dari Lombok, Nadira kembali dengan tugas mulianya sebagai dokter di UGD. Nadira baru saja selesai menangani seorang pasien remaja laki-laki yang segera dilarikan ke UGD setelah upayanya ingin bunuh diri karena putus cinta dengan meminum oli.


Nadira bersandar di kursi sambil memijat pelan kepalanya, “putus cinta sampai nekad bunuh diri minum oli, apa yang dipikirkan anak itu. Pikirannya sempit sekali, untung saja nyawamu masih selamat,” Nadira tak habis pikir.


Tiba-tiba beberapa perawat dan juga dokter lainnya yang bertugas di UGD datang menemui Nadira di ruangannya dan mengajaknya makan siang bersama di kantin rumah sakit.


Saat di kantin, mereka melihat kedatangan dokter Mirza yang sendirian yang baru saja selesai memesan menu makan siangnya. Dokter Fadli, salah satu rekan kerja Nadira di UGD segera memanggilnya ikut bergabung satu meja dengan mereka.


Dokter tampan itu berjalan mendekat dengan senyuman khasnya.


“Kok sendirian saja dok?” tanya dokter Fadli.


“Saya kan memang masih sendiri, alias jomblo,” dokter Mirza terkekeh sambil menarik kursi dan duduk. Saat itu ia mendapati Nadira yang duduk bersama mereka.


“Wah, ternyata pengantin baru sudah kembali,” dokter Mirza tersenyum ramah kepada Nadira yang duduk berdekatan dengan perawat wanita.


“Apa kabar dok?” sapa Nadira.


“Seharusnya saya yang bertanya begitu, gimana kabarnya yang sudah nikah,”


Nadira tersenyum, “alhamdulillah saya sehat dok,”


“Bagaimana kabar suami kamu?”


“Alhamdulillah sehat juga dok,”


“Apa belum ada kabar dari dokter Aslan soal pendonor kornea mata untuk suami kamu?” Mirza lanjut bertanya, tampak peduli.


“Untuk saat ini belum ada dok. Semoga secepatnya bisa segera bertemu dengan orang yang berbaik hati mau mendonorkan kornea matanya untuk Arga.  Keluarganya rela membayar mahal jika seandainya pendonor itu sudah ketemu,” jelas Nadira.


“Aamiin. Saya juga akan membantu mencari info soal donor kornea mata,” jelas Mirza.


“Terima kasih, dok,” balas Nadira.


Tak lama kemudian pesanan makan siang mereka datang dibawakan oleh pramusaji.


.


.


.


Nadira berlari-lari kecil menuju pintu utama rumah sakit, ia baru saja memesan ojek online dan sedang menunggunya tak jauh dari pintu utama rumah sakit.


Bagitu sampai, Nadira melihat ojek itu parkir di dekat sebuah mobil yang cukup ia kenal. Nadira sudah memegang helm yang diberikan oleh si tukang ojek, namun ia lepas lagi dan melangkah mendekati mobil itu. Seorang sopir, turun dari mobil mewah itu dan menghampiri Nadira dengan sikap hormat.


“Selamat siang nona, apa anda sudah ingin kembali ke rumah?” tanya sopir itu setelah menundukkan kepala.


“Loh, pak. Bapak daritadi di sini ya?” tanya Nadira kaget.


Sopir itu mengangguk.


“Kenapa malah menunggu di sini pak? Saya kan sudah bilang bapak pulang saja ke rumah, tidak usah menunggu saya sampai selesai shift,”


“Nyonya Rachel menugaskan saya untuk mengantar-jemput nona muda, saya tidak mau dipecat sama nyonya Rachel karena tidak mematuhi perintahnya,” ucapnya patuh.


“Tapi, bapak sudah makan?” tanya Nadira yang tampak peduli.


“Tidak apa-apa nona, saya sudah makan di warung kaki lima sekitar sini,” jawabnya.


“Tunggu sebentar ya pak,” Nadira bergegas menghampiri tukang ojek yang setia menunggunya.


“Bagaimana mbak, jadi naik ojek saya tidak?” tanyanya tampak gusar karena sejak tadi menunggu. Takut calon penumpangnya tiba-tiba membatalkan orderan padahal ia sudah jauh-jauh datang menjemput.


“Saya tidak jadi naik ojek bapak,” Nadira mengembalikan helm yang dipegangnya, lalu membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang biru dari dompetnya.


“Bapak berkendara saja sesuai rutenya. Ini bayaran saya,” Nadira mengulurkan semua uang biru itu kepada si tukang ojek online.


“Wah, ini kelebihan mbak, saya tidak ada kembalian,” jelas si tukang ojek.


“Tidak usah pak. Semuanya buat bapak. Sekali lagi maaf ya pak,”


“Wah, terima kasih ya mbak, semoga rezekinya selalu lancar,”


Nadira hanya balas tersenyum lalu si tukang ojek menyalakan mesin motor dan pergi.


Nadira segera naik ke mobil yang tadi mengantarnya ke rumah sakit dari kediaman Rachel.


“Nona suka naik ojol ya?” tanya sopir itu iseng ketika perjalanan mereka belum terlalu jauh meninggalkan rumah sakit.


“Suka sih pak, lebih cepat karena bisa nyalip kalau lagi macet, lebih murah juga,” jawab Nadira.


“Nona kan dokter, duitnya pasti banyak, kenapa tidak pesan taksi saja,”


Sopir itu manggut-manggut sepakat.


“Apa kita langsung pulang, nona? Atau nona mau ke tempat lain dulu?” tanya sopir yang sedang mengemudi sambil menatap ke arah Nadira di belakang lewat kaca spion.


“Tolong bapak antar saya ke jalan Anggrek nomor 15 (lima belas). Itu rumah paman saya, sebenarnya saya mau ke sana menjenguk sekaligus mengambil mobil saya,”


“Jadi pulangnya nona tidak ikut dengan saya?”


“Iya, bapak pulang duluan saja ya. Nanti saya yang jelaskan sama nyonya Rachel,”


“Tapi nona, saya sudah ditugaskan menjadi sopir bagi nona muda. Bisa-bisa saya kena murka nyonya Rachel karena tidak melaksanakan perintahnya, atau paling buruk saya bakal dipecat, nona,” sopir itu tampak gusar.


“Tidak akan pak. Saya yang akan menjamin kalau bapak tidak akan dipecat oleh nyonya Rachel,” Nadira berusaha menenangkan.


“Nona kan istrinya tuan Arga, jadi nona berhak menggunakan segala fasilitas yang diberikan oleh nyonya Rachel, daripada nona ke mana-mana menyetir mobil sendirian,”


“Sebenarnya saya lebih suka menyetir mobil sendirian pak, daripada ke mana-mana diantar sama sopir. Bapak tidak usah takut ya, saya yang akan menjamin nyonya Rachel tidak akan marah sama sama bapak karena tidak mengantar saya pulang,”


“Tolong nona, hari ini pulang sama saya saja dulu ya. Kalau memang mau ambil mobil, nanti suruh orang yang kerja di rumah nyonya Rachel untuk datang ambilkan mobil nona,” sopir itu berusaha membujuk.


“Bapak sudah lama kerja jadi sopir di rumah nyonya Rachel?” tanya Nadira penasaran.


“Belum lama, nona. Saya bekerja baru sekitar enam bulan yang lalu. Sebenarnya saya ini sopir yang paling kurang kerjaannya, karena di rumah itu nyonya Rachel sudah mempekerjakan tiga orang sopir pribadi. Karena saya tidak pernah buat masalah, jadi nyonya masih membiarkan saya kerja sebagai sopirnya. Jadi nona, saya takut kalau nyonya tahu saya tidak mengantar jemput nona sesuai perintah, saya akan dipecat karena sebelum saya kerja di situ nyonya Rachel memecat seorang sopir karena hal sepele saja,” jelas sopir itu.


“Hal sepele?” tanya Nadira penasaran.


“Waktu itu sopirnya sedang mengantar nona Rasty berkunjung ke rumah temannya, karena lama  sopirnya ketiduran, begitu terbangun nyonya Rasty dan temannya pergi jalan-jalan bersama tanpa bilang-bilang. Nyonya Rachel sangat marah karena setelah dari jalan-jalan nona Rasty langsung pulang ke rumah diantar temannya, tidak naik mobil bersama sopir yang mengantarnya,”


“Benar-benar hal yang sepele,” gumam Nadira.


“Iya nona, selama bekerja saya benar-benar tidak mau berbuat kesalahan sekecil pun, meskipun itu tidak disengaja. Hadirnya nyonya sebagai istri tuan Arga di rumah itu, membuat saya bersyukur karena nyonya Rachel menugaskan saya untuk menjadi sopir pribadi nona. Tidak gampang nona, bisa bekerja di rumah nyonya Rachel, saya termasuk beruntung. Walaupun sudah beredar kabar kalau nyonya itu sangat kejam dan tidak segan memecat kalau salah sedikit, tapi hal itu sebanding dengan gaji yang saya terima setiap bulannya, setidaknya saya bisa membiayai anak dan istri saya di kampung, apalagi anak sulung saya baru masuk kuliah di kota, biaya hidup dan SPPnya bisa saya bayarkan karena gaji saya bekerja di rumah nyonya Rachel,”


Nadira menghela nafas. “Baiklah pak, saya akan pulang bersama bapak, selama saya masih tinggal di rumah itu, bapak yang akan mengantar jemput saya ke mana pun saya pergi,”


Sopir itu melempar senyuman kelegaan lewat kaca spion. “Terima kasih ya nona. Sejak awal saya sudah tahu kalau nona adalah orang yang baik, senang rasanya tuan Arga dapat istri yang baik seperti nona Nadira,”


“Bapak bisa saja,” Nadira hanya tersenyum sesaat lalu melempar pandangan keluar jalan raya. Mendengar nama Arga, dia jadi teringat suaminya itu. Sedang apa dia sekarang?


.


.


.


Nadira menatap selembar foto di tangannya. Wajah Niken tampak tersenyum ke arah Desta di hadapan penghulu. Nadira melirik ke arah Widya yang sedang duduk di sampingnya tanpa menyembunyikan rasa khawatir memikirkan nasib putri semata wayangnya yang meninggalkan rumah, meninggalkan calon suaminya dan juga meninggalkan segalanya demi bisa bersama Desta, lelaki yang sudah dicintainya sejak ia masih remaja.


“Niken juga mengirim surat, kalau dia sudah menikah siri dengan Desta dan sekarang sedang mengandung anaknya,” jelas Widya begitu melihat Nadira hanya diam membasuh menatap foto di tangannya.


“Kenapa Niken tidak pulang bi? Apa bibi sama paman tidak merestuinya dengan Desta?”


“Tidak direstui? Apa kami harus tidak merestuinya sementara dia sedang mengandung cucu kami,” Widya menuang air putih ke dalam gelas dan meneguknya pelan. “Niken belum kembali, sepertinya dia takut menghadapi Arga dan juga menghadapi nyonya Rachel,”


Nadira berpikir, yang dikatakan bibinya benar. Kalau Niken kembali, dia pasti berpikir belum bisa menghadapi kemarahan Arga dan ibunya.


“Bagaimana di rumah nyonya Rachel, apa dia memperlakukanmu dengan baik?” tanya Widya mengalihkan pembicaraan.


Nadira mengangguk lemah.


“Paman dan bibi merasa telah menjualmu kepada nyonya Rachel untuk menikahi putranya yang buta,”


“Tidak bi, jangan merasa begitu. Aku sendiri yang menerima pernikahan ini, sebelum amarah nyonya Rachel berdampak juga pada paman dan bibi,”


Widya menyentuh sebelah tangan Nadira dan menatapnya lembut, “seandainya saja Niken juga penurut dan pemikirannya dewasa seperti kamu nak. Semuanya salah kami, orang tuanya yang terlalu memanjakannya,”


“Apa paman sudah tahu soal ini?” tanya Nadira sambil melirik foto yang tadi dipegangnya.


“Belum nak. Bibi jadi bingung, saat dia pulang nanti aku harus berkata apa tentang kenyataan ini, atau aku tidak usah berkata apa-apa padanya?”


“Lebih baik bibi tetap mengatakannya, paman pasti akan jauh lebih marah kalau bibi menyembunyikannya.”


.


.


.


Nadira membuka pintu dan masuk ke dalam kamar pribadinya saat tinggal di rumah paman dan bibinya. Ia segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya masih membayangkan pada foto akad nikah Niken dan Desta juga ucapan Widya kalau Niken sudah hamil.


“Niken, kenapa kamu setega itu meninggalkan Arga yang malang? Apa cintamu pada Desta jauh lebih besar dari cintamu untuk Arga?” Nadira bergumam sendiri sambil menatap langit-langit kamar.


Nadira menatap foto SMAnya dengan Niken dalam balutan seragam putih abu-abu yang sudah disemprot dengan pilot warna warni. Dalam foto itu, Nadira belum mengenakan hijab. Rambut panjangnya tampak berantakan, namun tidak mengurangi kecantikannya. Nadira beralih menatap beberapa koleksi fotonya saat masih jadi mahasiswa baru di Jogja. Menatap foto itu seketika ia teringat Melani, salah satu teman akrabnya saat di Jogja meski mereka kuliah di kampus yang berbeda. Melani adalah mahasiswa dari program studi Pendidikan Luar Biasa dari Universitas Negeri Yogyakarta yang mengambil spesialisasi pendidikan bagi tuna netra.