NADIRA

NADIRA
JEDA



Nadira sengaja menghindari Arga setelah kejadian malam itu, saat Arga spontan menciuminya namun bagi Nadira terasa seperti sebuah pelampiasan, tidak tulus. Gara-gara hal itu ia jadi teringat kembali masa lalu pahitnya bersama Bram, mantan kekasihnya.


Sopir yang setia mengantar Nadira ke mana-mana juga merasakan kalau majikannya berubah pendiam dan sering melamun saat duduk di dalam mobil. Bukan hanya karena kenangan masa lalu pahit yang memenuhi pikirannya tapi juga kemarahannya pada Arga.


Bahkan saat di UGD pun, Nadira jadi tidak fokus, ia salah memberi penanganan terhadap pasien kecelakaan yang untungnya tidak berakibat fatal. Nadira meminta tolong kepada dokter lain yang tugas di UGD malam itu dengannya untuk menggantikannya dengan alasan ia sedang kurang enak badan.


Arga masih sama, selalu mengurung diri di kamar. Suasana hatinya juga cukup buruk, sampai-sampai pelayan yang datang mengantarkan makan atau sekedar membereskan dan merapikan kamarnya, jadi ketakutan. Sebab Arga selalu menjawab dengan nada tidak bersahabat ketika ditanya. Rasty yang juga berusaha mengajaknya bicara dari hati ke hati, ingin tahu apa masalah kakak tersayangnya itu dengan Nadira, juga mendapat respon yang dingin dan memintanya untuk tidak mengganggunya.


Beberapa hari ini Arga tak pernah bertemu Nadira, Arga tahu Nadira sedang menghindarinya. Mungkin Arga juga marah pada Nadira, kecewa pada gadis itu karena telah mengadu pada ibunya soal draft tugas istri yang dibuatnya. Namun selama beberapa hari ini Arga tak mengerti dengan dirinya sendiri, kenapa merasa kehilangan gadis itu, mereka masih berada di satu atap yang sama, hanya terasa berjeda karena mereka saling memberi jarak karena rasa marah dan kecewa.


Selama beberapa hari ini juga Nadira hanya makan malam berdua dengan Rasty di rumah. Belakangan ini Rachel sang nyonya rumah, jarang nampak di rumah karena sibuk mengurus perusahaan sepeninggal Arga yang mengalami kebutaan.


Sudah jelas bagaimana suasana makan malam dengan Rasty. Gadis remaja itu masih sama dalam bersikap pada Nadira, tidak pernah mau tersenyum atau mengajak Nadira berbicara, ia lebih senang menatap Nadira dengan pandangan tak suka, bahkan ia sengaja tidak menghabiskan makanannya demi membuat Nadira merasa bersalah karena seolah-olah Rasty kehilangan selera makannya karena hanya makan berdua saja di meja makan yang besar di rumahnya.


Nadira tak tahu bagaimana harus menyikapi Rasty, ia memilih diam saja dan acuh. Ia merasa tak perlu merebut hati adik iparnya itu, toh ia menikah dengan Arga hanya untuk menggantikan Niken. Rachel sang ibu mertuanya pun tidak mengharapkan ia jadi menantu sejati di rumah ini, pernikahannya dengan Arga harus terjadi demi menyelamatkan kehormatan keluarga Rajasa. Dan Arga, suaminya pun dalam hatinya masih ada Niken, ia tak punya tempat di hati Arga, di hati Rasty, juga di hati Rachel.


Suatu subuh, saat Nadira selesai melaksanakan shalat subuh berjamaah di mesjid rumah sakit, ia tak langsung beranjak, ia duduk di tempatnya mendengarkan kajian subuh selama tujuh menit yang dibawakan oleh ustadz yang mengimami shalat subuh dan juga bekerja sebagai dokter di rumah sakit itu.


Ceramah subuh itu membahas tentang Tugas dan Kewajiban Istri. Nadira mendengarkan dengan seksama.


“Kewajiban istri itu sudah sepatutnya patuh kepada perintah suami. Jadi kalau suami meminta kita misalnya berhenti bekerja, ya sebagai istri kita harus stop dari pekerjaan itu bisa karena alasan takut terjadi fitnah kalau istri juga keluar rumah untuk pergi bekerja sementara suami masih sanggup menafkahi secara finansial,”


Nadira merasa isi ceramah itu seolah teguran baginya. Arga yang notabene adalah suami sahnya juga memintanya berhenti bekerja agar ia bisa fokus melaksanakan tugasnya sebagai istri.


“Hati-hati ya bagi istri-istri bagi yang tidak mematuhi perintah suami. Kalau dulu sebelum menikah, ridho Allah ada pada orang tua kita, maka setelah menikah ridho Allah ada pada suami. Jadi coba tanyakan pada diri sendiri untuk istri-istri yang ada di mesjid ini, sudahkah kita mematuhi perintah suami hari ini?”


Pantas saja beberapa hari ini Nadira tidak  bisa fokus bekerja di UGD, apa karena Arga tidak meridhoinya? Bahkan sudah lebih tiga hari ia mendiamkan Arga. Nadira yang semula berharap Arga akan datang duluan minta maaf padanya, pun tak jua mengusiknya ketika kembali ke rumah sehabis bekerja dari rumah sakit.


.


.


.


Arga sedang berdiri di depan kaca jendela kamarnya, ia bisa merasakan matahari yang masuk menembus kulitnya, namun kedua matanya masih diselimuti kegelapan, matahari begitu terik di luar sana tapi matanya tidak silau sama sekali.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Arga tak merespon. Beberapa detik kemudian, ia mendengar pintu kamarnya di buka.


“Beraninya kau masuk tanpa aku persilakan,” sahut Arga menyambar kesal. Temperamennya agak buruk beberapa hari ini, setiap hari ia hanya bertemu dan berkomunikasi dengan pelayan-pelayan di rumahnya, bu Ruly sang kepala pelayan mengambil cuti beberapa hari untuk pulang kampung menjenguk keluarganya. Ibunya juga jarang berada lama di rumah karena sibuk mengurus perusahaan. Rasty juga takut menemuinya lagi setelah ia menyikapinya dingin. Dan Nadira? Sudah pasti gadis itu takkan muncul di hadapannya setelah ia nekad menciumnya karena ia hanya ingin memberinya pelajaran. Entah karena betul-betul marah atau Nadira begitu malu setelah mendapat ciuman dari bibirnya, walau Arga sendiri merasa ciumannya itu tidak seindah di film romantis percintaan.


“Ini aku,” jawab Nadira setelah menghela nafas lalu menutup pintu kamar Arga dengan pelan. Ia melangkah pelan menghampiri Arga sambil membawa beberapa buku yang agak besar dan tebal di dadanya.


“Mau apa kau kemari?” tanya Arga ketus, dalam posisi membelakangi Nadira, masih berhadapan matahari melalui jendela kamarnya. Arga berusaha menutupi rasa kagetnya karena ia tak pernah menyangka gadis itu akan lebih dulu datang dan menyapanya.


Nadira diam sejenak, melihat sikap Arga yang kurang bersahabat membuat egonya pun muncul. Nadira menepisnya dan meletakkan buku-buku yang dibawanya di atas meja.


Arga mengawasi lewat pendengarannya yang peka. “Apa yang kau lakukan?” Arga terdengar dingin. Belum Nadira menjawab, ia sudah merasakan tangan gadis itu menyentuh lengannya hendak menuntunnya. “Lepaskan aku!” ucap Arga kasar sambil menghentakkan lengannya sehingga tangan Nadira lepas dari lengannya.


Nadira menarik nafas sejenak, sambil berusaha meredam emosinya.


Kenapa emosimu seperti perempuan sih. Aku datang menemuimu lebih dulu dengan membuang egoku, tahu.


“Arga sampai kapan kamu akan terus begini? Apa duniamu hanya di kamar saja? Makan pun harus diantarkan ke kamar, dan apa yang kau lakukan berdiri di depan jendela? Berharap bisa melihat matahari?”


Arga membalik badan ke arah Nadira, sorot matanya tampak tidak bersahabat.


“Keluar kau dari kamarku! Aku malas mendebatmu,” Arga mencari Nadira, berharap bisa menyeret langsung gadis itu keluar dari kamarnya sebelum moodnya semakin memburuk. Namun Nadira diam-diam menghindarinya. Membuat Arga semakin kesal karena gadis itu memanfaatkan matanya yang buta.


“Dasar gadis sialan!” umpatnya.


Nadira menatap kesal ke arah Arga, lelaki itu sampai tega memaki dirinya. Nadira berusaha menguatkan telinga dan juga mentalnya menghadapi sikap kasar Arga.


Tiap kali tidak marah kenapa aku selalu lupa kalau kau punya mulut yang jelek begini.


“Aku juga malas berdebat denganmu, Arga. Aku ke sini dengan niat baik Arga, walaupun sebenarnya aku juga sedang kesal padamu,”


“Ya sudah,  keluar sana kalau kau sedang kesal padaku!” Arga terdengar tidak sabaran.


“Arga, aku ke sini ingin mengajarimu huruf braille, walaupun kamu buta, kamu masih bisa membaca buku,” Nadira menjelaskan niatnya.


Arga menggeleng, “aku tidak butuh!”


“Ayolah Arga. Kali ini saja, kita jadi teman yang saling membutuhkan,” nada bicara Nadira terdengar lebih sabar, ia berhasil menyingkirkan ego dan emosinya. “Aku, aku hanya peduli padamu, bukan hanya aku, ibumu, Rasty ataupun Irfan ingin kau tidak terus-terusan seperti ini walaupun kini kau tidak bisa melihat. Cobalah hal baru dengan belajar huruf braille, itu akan memudahkanmu untuk mendapat informasi melalui buku,”


Arga terdiam, benarkah Nadira peduli padanya?


Pintu kamar Arga tiba-tiba terbuka, Rasty muncul dengan raut khawatir menghampiri kakaknya, ia mengacuhkan kehadiran Nadira.


“Kak Arga, mommy pingsan di tangga kak,”


“Ayo kak! Mommy baru saja pulang, tiba-tiba dia pingsan saat menaiki tangga,” Rasty menjelaskan. Rasty segera menggamit lengan Arga dan membawa kakaknya keluar kamar menuju ke kamar ibu mereka. Nadira menyusul keduanya di belakang, juga sama khawatirnya.


Ketiganya masuk di kamar Rachel ketika Irfan baru saja membaringkan tubuh Rachel di atas tempat tidur.


“Mommy,” Arga begitu khawatir. Rasty menuntun Arga ke sisi ibu mereka. Arga segera meraih tangan ibunya dan kembali memanggilnya. Namun Rachel tidak menyahutnya, ia sedang pingsan tidak sadarkan diri.


“Apa yang terjadi pada mommy, kenapa bisa sampai pingsan?” Arga bertanya khawatir.


“Saya juga tidak tahu tuan, nyonya sebenarnya masih ingin tinggal di kantor, namun karena melihatnya beberapa hari ini tampak kelelahan jadi tadi saya memintanya pulang cepat lalu mengantarnya. Saat menaiki tangga, beliau tiba-tiba pingsan, saya yang berjalan di belakang segera menahan tubuh nyonya agar tidak jatuh dari tangga,” Irfan angkat bicara, menjawabnya.


“Kita harus segera menelpon dokter,” celetuk Rasty, ia bahkan lupa kalau kakak iparnya adalah seorang dokter.


“Biar aku saja, Rasty,” Nadira mendekat dan memeriksa denyut nadi Rachel, “Irfan, tolong perintahkan pelayan untuk mengambil tas peralatan medisku di kamar,”


Irfan mengangguk, dan keluar sebentar dari kamar. Tidak lama kemudian ia masuk kembali setelah memberi perintah kepada seorang pelayan untuk mengambilkan tas peralatan medis di kamar Nadira.


Tak lama kemudian pelayan pun datang membawakan tas milik Nadira yang berisi alat-alat khas kedokterannya. Gadis itu segera mengukur tekanan darah Rachel, dan hasilnya tekanannya begitu rendah sampai 80. Nadira terus memeriksa kondisi Rachel dan menanyakan pada Arga maupun Rasty mengenai rekam medis Rachel.


“Mommy terkena gejala thypoid karena terlalu kelelahan,” Nadira menyimpulkan setelah memeriksa baik-baik kondisi ibu mertuanya. Ia menurunkan stetoskopnya dan membereskan peralatan medisnya masuk kembali ke dalam tas.


Melihat tindakan gesit Nadira dalam mengevaluasi kondisi ibunya, membuat Rasty sedikit kagum pada kakak iparnya itu, merasa bahwa Nadira tidak seburuk yang ia bayangkan. Walaupun Rasty sendiri merasa gengsi untuk mengucapkan terima kasih.


“Sebaiknya biarkan mommy istirahat total selama seminggu. Kalau tidak, takutnya mommy benar-benar terkena thypoid, tapi bersyukurlah ini baru gejala,” Nadira berkata bergantian pada Arga dan Rasty.


“Irfan, bagaimana bisa kamu membiarkan mommy sampai kelelahan begitu dalam bekerja?” Arga terdengar menyalahkan Irfan.


“Saya selalu mengingatkan nyonya untuk beristirahat tuan, tiap kali beliau begitu sibuk sebagai direktur utama,” Irfan menjawab dengan hormat sambil menundukkan wajah.


“Ini bukan salah Irfan. Tapi salah kak Arga,” Rasty menyahut.


Arga, Nadira dan Irfan menatap terkejut ke arah Rasty.


“Apa pernah kak Arga peduli pada mommy setiap kali mommy pulang ke rumah sehabis bekerja? Tidak kan. Bahkan kak Arga lebih sering mengabaikan perhatian mommy saat di rumah, padahal mommy sendiri juga begitu kelelahan. Lelah mengurus perusahaan dan juga lelah memikirkan kakak,"


Arga terdiam. Kata-kata Rasty barusan seolah menamparnya, membuatnya merasa sebagai anak yang durhaka, tidak berguna.


“Kakak ipar, kau harus betul-betul merawat mommy sampai sembuh. Aku tidak mau terjadi apa-apa kepada mommy. Aku tidak mau kehilangan mommy, karena aku sudah kehilangan papa gara-gara Rajasa Group,” Rasty tampak berkaca-kaca, ia bergegas keluar dari kamar Rachel sebelum Irfan dan Nadira menatap simpati pada kesedihan dan air matanya.


Suasana berubah menjadi canggung bagi Irfan dan Nadira.


“Arga, ayo aku antar ke kamarmu,” Nadira berkata lembut sambil menyentuh lengan Arga. “Biarkan Irfan di sini bersama beberapa pelayan,” Nadira tahu, Arga begitu kepikiran dengan ucapan Rasty. Diam-diam adiknya itu menaruh emosi padanya, namun karena kondisinya yang buta, Rasty enggan mengingatkan kakaknya.


Arga mengangguk pelan. Ia ikut saja saat Nadira menuntunnya kembali ke kamarnya. Begitu sampai, Nadira menuntun Arga duduk di tempat tidurnya.


“Tidak apa-apa Arga. In Syaa Allah mommy pasti akan baik-baik saja. Kamu istirahat saja. Biar aku yang mengurus selama mommy sakit,”


Arga masih diam.


“Kamu percaya padaku, kan?” Nadira ingin meyakinkan.


Arga mengangguk.


“Aku akan menemui Irfan untuk menebus beberapa resep obat untuk mommy,” Nadira hendak keluar dari kamar Arga. Tapi Arga menahannya, kini tangan suaminya itu beralih memegang pergelangan tangan Nadira.


Nadira menoleh menatap mata coklat Arga yang kosong.


“Tolong, temani aku di sini,” pinta Arga.


Nadira tidak bisa berkata-kata, melihat Arga yang penuh harap padanya.


Nadira pun segera duduk di sisi Arga.


“Nad, tolong kamu jujur, apa aku semenyedihkan ini karena buta?”


“Kamu bicara apa, Arga,”


“Selama ini kamu sering mengataiku karena aku buta,”


“Arga, aku... aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin kamu tidak berhenti hanya karena sekarang semuanya menjadi gelap di matamu,” tiba-tiba Nadira merasa begitu bersalah atas kata-katanya dulu kepada Arga.


Arga mengangguk pelan, “terima kasih Nad, karena tidak merasa iba kepadaku yang buta, kau tahu aku sangat benci diperlakukan seperti itu. Semua orang di rumah ini, baik Rasty ataupun mommy selalu memperlakukan aku selayaknya orang yang buta. Tapi kamu tidak, kamu tidak ragu menegurku, mengataiku saat aku berbuat kesalahan, di mana ketika orang lain tidak tega melakukan itu padaku dengan alasan takut menyinggung perasaanku, karena sejak jadi buta aku akui, aku punya perasaan yang begitu emosional,”


“Arga, kamu pasti bisa melalui semua ini,”


Arga tersenyum lembut, membuat perasaan Nadira jadi jungkir balik.


Ya Allah jangan biarkan aku jatuh cinta padanya. Batinnya.