NADIRA

NADIRA
TUGAS ISTRI



Nadira berdiri tepat di depan pintu kamar Arga, gadis itu sudah mengangkat sebelah tangannya ingin mengetuk pintu kamar sang suami. Nadira menoleh ke belakang, ia melihat bu Ruly mengawasinya tak jauh dengan raut khawatir.


“Aku tidak apa-apa bu, silahkan lanjutkan pekerjaan anda,” Nadira tersenyum lepas ke arah wanita setengah abad itu.


Bu Ruly selalu mengkhawatirkan Nadira, sejak pertama bertemu istri majikannya, ia tahu Nadira adalah gadis baik-baik yang harus terikat pernikahan dengan Arga. Melihat Nadira selalu mengingatkannya pada anaknya sendiri.


Bu Ruly balas tersenyum lalu melangkah pergi menuruni anak tangga dari lantai dua rumah.


Nadira menghela nafas sejenak lalu mengetuk pintu beberapa kali. Meski tak mendengar suara sahutan dari dalam, Nadira membuka pintu kamar Arga dengan pelan. Dari luar, matanya sudah menangkap pemandangan Arga yang sedang duduk menunggunya di atas sofa.


Nadira menutup pintu dengan pelan dan melangkah hati-hati menghampiri lelaki itu. Kuping Arga yang peka mengawasi setiap langkah gadis itu.


Sambil jalan, Nadira mengamati setiap sudut kamar Arga yang sudah rapi kembali seperti semula, semua perabotan yang dirusaknya pun sudah diganti dengan yang baru. Nadira juga mendapati foto pernikahannya dengan Arga pun sudah ditata kembali di tempat semula menggunakan pigura yang baru.


Nadira berhenti tepat di depan Arga sambil menatap ragu ke arah suaminya yang tak bergeming dan menatap lurus ke depan. Mata coklat itu menyorot kosong, Nadira menatapnya berani sambil bertanya dalam hati, ada perlu apa memanggilnya? Apakah lelaki itu masih marah karena peristiwa kemarin?


Arga berdehem sejenak, ia tahu sejak tadi Nadira sudah sampai di hadapannya. Ia sudah cukup mengenali wangi tubuh dari gadis itu.


“Ada apa, Arga?” tanya Nadira dengan nada datar. Nadira berharap Arga akan mempersilakan ia duduk di salah satu sofanya.


“Ada hal yang perlu aku bicarakan denganmu,” jawab Arga pula dengan nada datar.


Nadira mengamati wajah tampan itu, tidak tersenyum, juga tidak menunjukkan amarah seperti terakhir ia melihatnya kemarin.


Nadira menunggu.


“Tapi sebelumnya, aku ingin minta maaf atas sikapku padamu,” sahut Arga masih dengan nada datar, namun bagi Nadira, nada bicara lelaki itu terdengar dingin.


Apa permintaan maafmu ini tulus?


“Aku juga minta maaf kalau sudah berlebihan menyikapi emosimu,”


Arga tersenyum samar, tampak seperti seseorang yang tersenyum remeh.


“Kenapa kau juga harus meminta maaf?”


“Tidak seharusnya aku begitu padamu. Tidak seharusnya aku ikut campur pada perasaanmu, pada emosimu, aku tahu statusku hanya sekedar istri bagimu. Kita sudah menyepakati kontrak pernikahan, jadi aku sadar sikapku kemarin juga salah padamu,”


Bodoh, memang tidak seharusnya aku peduli padamu. Kenapa juga aku harus marah padamu, amarahmu kemarin tidak ada kaitannya denganku. Hanya karena aku merasa kau tidak menganggapku apa-apa, kenapa itu juga menyulut emosiku?


“Apa kau sudah lama tahu tentang pernikahan Niken dan Denis?” tanya Arga dengan sorot dingin.


“Aku tahu hari itu juga. Niken mengirim selembar surat dan foto akad nikahnya ke rumah paman dan bibi, kebetulan saat itu aku datang berkunjung,” Nadira menjawab jujur, tidak ingin peduli lagi bagaimana perasaan Arga tiap mengetahui hal yang berkaitan dengan Niken.


Arga tertawa getir.


“Mungkin aku tidak akan sakit hati begini kalau tahu Niken mengkhianatiku pergi dengan lelaki lain yang tidak kukenal sama sekali. Tapi dia pergi dengan Denis. Aku cukup tahu Denis adalah lelaki yang dicintainya sebelum dia mengenalku. Apa bagimu, cinta pertama seindah itu? Apa cintaku pada Niken tidak seindah itu meski aku bukan cinta pertama baginya?” Arga seolah bertanya pada Nadira.


Nadira menggeleng pelan jika mengingat tentang cinta pertamanya. Ia memejamkan sejenak kedua matanya, seolah mengusir sebuah bayangan masa lalu yang tidak ingin dikenangnya.


“Kenapa kau tidak menjawabku? Kau selalu lupa kalau aku benci didiamkan dalam keadaan seperti ini?”


“Arga, kenapa kau tidak mengikhlaskan Niken? Untuk apa terus mengingat orang yang sudah meninggalkanmu,” Apa maksudku bicara seperti itu?


“Karena aku yakin, selain karena aku buta, ada hal lain yang membuat Niken akhirnya meninggalkanku,”


“Apa Denis tidak cukup menjadi alasan bagimu?”


Pertanyaan Nadira seolah menampar hati Arga yang lemah dan labil tiap kali berurusan dengan Niken dan Denis.


“Lupakan saja mereka, tidak perlu merasa penasaran, kalau kau terus mencari tahu tentang mereka itu hanya akan menambah lukamu. Kau cukup tampan dan juga kaya raya, kau masih bisa menemukan perempuan yang lebih baik di luar sana,” Nadira merasa bicaranya sudah mengada-ada, ia tidak tahu bagaimana harus menyikapi Arga saat ini. Lelaki itu selalu emosi  dan juga mellow tiap kali membahas tentang Niken.


“Perempuan yang mencintaiku karena aku tampan dan kaya raya, apa bagimu itu perempuan yang baik?” Arga jadi teringat omongan para tamu undangan di hari pernikahannya ketika menuduh Nadira rela menikah dengannya walau buta karena ketampanan dan juga kekayaan keluarganya.


“Maksudku...,”


“Niken tidak seperti itu,” Arga seolah membela Niken, “Niken selalu bersikap apa adanya padaku. Walaupun pada akhirnya dia lebih memilih Denis,” ucapan Arga, terdengar getir.


“Kau benar-benar menyedihkan, Arga,” Nadira tidak takut jika harus menyulut amarah Arga lagi.


“Iya, aku memang menyedihkan. Tapi mulai detik ini, aku tidak akan peduli lagi dengan Niken,”


“Begitu lebih baik,” sahut Nadira seolah mendukung.


“Di sini aku punya seorang istri, aku selalu lupa kalau kau adalah sepupunya Niken,” Arga tersenyum samar.


Nadira melihat Arga bangkit berdiri, lelaki itu bahkan mengabaikan tongkatnya, ia melangkah santai ke arahnya yang sejak tadi terus berdiri. Sikap Arga seolah tidak buta, walau mata coklatnya hanya menyorot kosong ke arah suaranya.


Kedua tangan Arga meremas pelan pundak Nadira.


Gadis itu menahan diri dari keterkejutan karena sikap agresif Arga. Dengan mudah, Arga membalik tubuh Nadira dan mendorongnya kasar duduk di atas sofa.


“Arga, kau mau apa?” Nadira berusaha tetap tenang, walau sejujurnya ia agak takut melihat Arga.


“Benar aku punya seorang istri. Ada gunanya juga mommy mengharuskanku menikah denganmu. Mungkin ini tujuannya, aku bisa membalas Niken lewat dirimu, kau kan sepupunya. Aku yakin dia pasti sudah tahu kita telah menikah, aku begitu penasaran bagaimana reaksinya saat tahu lelaki yang dicampakkannya justru menikah dengan sepupunya sendiri dan justru membuat hubungan kekeluargaan dengannya,” Arga tampak antusias.


“Apa maksudmu Arga? Kau ingin melampiaskan kekesalanmu pada Niken kepadaku?”


Arga tersenyum sejenak, melihat senyum itu tampak menakutkan di mata Nadira. Arga benar-benar sedang mengintimidasinya.


Arga mendekat pelan, ia membungkukkan badan dan mendekatkan wajahnya di hadapan wajah Nadira dengan tepat. Ia bisa mendengar nafas Nadira yang memburu gelisah, walau tak melihat, setiap tarikan dan helaan nafas Nadira membuatnya tahu bagaimana perasaan Nadira yang sedang menghadapinya.


Arga menyentuh pelan dagu Nadira. Gadis itu benar-benar gemetar, menatap begitu dekat wajah tampan Arga yang tampak menakutkan namun juga seolah sedang mengajaknya bercanda. Dan lagi, kedua mata coklat itu menyipit frustasi ke arahnya, seolah berusaha menembus kegelapan untuk bisa menatap langsung wajahnya. Tiba-tiba, impiannya ingin bisa melihat kembali hanyalah untuk bisa melihat wajah Nadira seperti apa.


Nadira memasrahkan dirinya.


“Nadira, kau adalah istriku,” Arga mengingatkannya.


Kalimat ‘kau adalah istriku’ seolah menyiratkan bahwa dia adalah miliknya.


“Kau, adalah, milikku, Nadira,” Arga mengucapkan dengan pelan seolah sedang berbicara dengan orang yang cacat mental.


“Uhm, iya. Tapi harus kamu ingat, Arga, kalau kita terikat kontrak pernikahan,” Nadira terdengar kikuk.


Arga tersenyum pelan lalu menurunkan tangannya dari menyentuh dagu Nadira. Ia menegakkan kembali tubuhnya yang tinggi.


“Masa bodoh dengan kontrak pernikahan, itu hanya aturan di atas kertas yang dibuat oleh mommy,” Arga tidak peduli.


Nadira tampak was-was ketika menyadari Arga yang mengesampingkan kontrak pernikahan mereka.


“Tapi secara hukum dan agama, aku sudah sah mengikatmu sebagai istriku dan sebagai istri kau harus patuh kepada aku, suami-mu,” Arga menekankan.


“Kau lihat lembaran kertas di atas meja di depanmu?” Tanya Arga.


“Iya, ada,” Nadira melirik ragu.


“Ambil dan bacalah, juga hafalkan baik-baik. Semua itu adalah tugas kewajibanmu sebagai istriku di rumah ini dari aku bangun tidur sampai aku tidur lagi,” Arga menjelaskan.


Nadira membaca setiap poin peraturan dengan cepat dan berusaha memahaminya dengan cepat juga. Semuanya tertulis detil di setiap poin, apa yang harus ia lakukan kepada Arga dalam hal tugas seorang istri melayani suaminya. Nadira mengelus dada karena dalam draft peraturan itu tidak lebih dari sekedar melayani suami.


“Aku harus melakukan semua ini untukmu?” tanya Nadira seolah tak percaya.


“Tentu saja, sebagai istriku,” Arga berujar santai.


“Tapi, bagaimana kalau seharian aku bekerja di rumah sakit?”


“Berhentilah bekerja di rumah sakit setelah kau mematuhi tugasmu sebagai istri,"


“Aku tidak setuju! Menolong setiap nyawa di UGD adalah implementasi nyata dari sumpah profesiku sebagai seorang dokter,”


“Melayani dan merawat suamimu yang buta apa itu bukan menjadi keutamaanmu sebagai seorang istri?” Pertanyaan Arga seolah menampar Nadira.


“Aku benar harus berhenti bekerja sebagai dokter di UGD?” Nadira balik bertanya, ragu.


“Hey, walau buta dan tampak seperti pengangguran, aku masih bisa menafkahimu bahkan lebih dari gaji yang kau terima bekerja sebagai dokter di rumah sakit,”


“Kenapa tiba-tiba kau begitu peduli dengan tugas seorang istri? Apa begini caramu melampiaskan kekesalanmu kepada Niken lewat diriku?”


“Terserah kau mau anggap apa, sebagai suami aku tidak salah memintamu melayaniku sebagai istriku,” ungkap Arga tanpa rasa bersalah.