NADIRA

NADIRA
MELIHAT KEMBALI



Nadira melangkah keluar dari UGD sambil menoleh sejenak ke belakang melihat beberapa orang perawat dan juga dokter melambaikan tangan kepadanya. Beberapa dari mereka bahkan ada yang menitikkan air mata, Nadira segera melangkah pergi sebelum ia juga ikut-ikutan merasa sedih dan menangis.


Beberapa langkah, ia melihat dokter Mirza dari arah berlawanan sedang berlari-lari kecil menghampirinya. Mereka saling pandang sejenak, Nadira kemudian tersenyum. Tiba-tiba ponsel Nadira berdering, panggilan dari Rasty.


Nadira menjawab telponnya, “Halo,”


“Kakak ipar apa kau sedang sibuk? Kak Arga mencarimu,” sahut Rasty di ujung telpon, Nadira bisa mendengar jelas suara Arga yang sedang berbicara kepada Rasty.


“Berikan padaku,”


“Kenapa kau belum datang menjengukku? Aku sudah selesai operasi masa tidak datang melihat suamimu,” Arga kini menguasai ponsel milik Rasty.


“Iya maaf, aku tadi banyak pasien di UGD,” jawab Nadira sambil sesekali melihat ke arah dokter Mirza yang menatapnya khawatir.


“Kau mau menjengukku tidak?”


“Iya, aku akan ke sana, tunggulah,” Nadira lalu menutup telponnya.


“Dokter Nadira, apa kau baik-baik saja?” tanya Mirza setelah Nadira berbicara di telpon.


Nadira hanya mengangguk.


“Dokter aku benar-benar tidak menyangka dengan keputusanmu ini...,”


“Maaf dokter aku harus menjenguk Arga,” Nadira segera pamit dan melangkah pergi.


Dokter Mirza hanya diam terpaku menatap gadis itu melangkah pergi meninggalkannya.


.


.


.


Nadira pun sampai di depan pintu ruang VIP tempat perawatan Arga sehabis operasi transplantasi kornea mata semalam. Ia mengintip ke dalam melalui celah kaca, Arga hanya berdua Rasty di dalam. Tetapi di depan kamar, beberapa bodyguard yang disewa Rachel sedang berjaga untuk memastikan keamanan Arga selama ia menginap di rumah sakit.


“Hai, kakak ipar,” Rasty menoleh begitu menyadari kedatangan Nadira.


Nadira lalu tersenyum dan menghampiri Rasty yang sedang bersama Arga.


Arga baru selesai operasi transplantasi kornea mata semalam, dan sejak tadi pagi ia sudah sadar setelah efek obat biusnya menghilang. Kedua matanya masih dalam keadaan diperban.


“Lihatlah kak, sejak tadi dia menanyakanmu terus, dia seperti anak kucing yang mencari induknya,”


“Enak saja kau bilang aku anak kucing,” sahut Arga kesal.


Rasty hanya tersenyum sambil menahan tawanya.


Nadira pun tersenyum lalu menghampiri Arga, “bagaimana keadaanmu?” tanya Nadira sambil menyentuh pundak Arga.


Rasty menatap ganjil jemari manis tangan kanan Nadira yang tidak mengenakan cincin kawinnya. Selama ini ia cukup tahu kalau Nadira tidak pernah melepas cincin pernikahannya.


“Rasty, keluarlah dulu, aku ingin berdua saja dengan kakak iparmu,” sahut Arga.


“Iya, iya, aku tahu kak Arga mau mesum kan?”


“Kalau iya, kenapa?”


Rasty hanya tertawa-tawa lalu segera keluar dari kamar perawatan walaupun ia masih merasa aneh dengan cincin kawin yang menghilang dari jemari manis Nadira. Ia akan bertanya nanti pada Nadira, cincinnya hilang atau ia memang lupa memakainya.


“Aku sangat rindu padamu,” Arga segera memeluk Nadira. “Semua orang ada di sini saat aku siuman, tapi kau malah tidak ada,” Arga begitu kecewa.


“Arga kau tahu kan, aku cukup sibuk di UGD,” ujar Nadira setelah Arga melepaskan pelukannya.


“Aku tahu Nad, masa kau tidak bisa datang untuk suamimu. Rencana operasi yang kemarin, kau terus menemaniku, kenapa operasi yang sekarang kau tidak punya waktu,” Arga melayangkan protesnya.


“Uhm, aku tidak enak minta izin bebas tugas lagi sama direktur rumah sakit. Kau tahukan, menjadi dokter itu harus selalu siap kapanpun pasien datang dan butuh penanganan,”


Arga hanya menghela nafas.


“Aku akan membeli rumah sakit ini untukmu, biar kau tidak punya alasan lagi untuk tidak menemaniku,” Arga tampak kesal.


Nadira tersenyum lalu memeluk Arga begitu erat. “Sepertinya kau bisa memberikan segalanya untukku, apapun yang kuminta?”


“Hmm,” Arga mengangguk, “katakan saja apa yang kau mau. Kecuali satu hal, aku tidak akan memberikannya padamu,”


“Pergi. Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu kalau kau meminta pergi dari sisiku,”


Nadira tertegun.


“Bagaimana kalau aku pergi diam-diam?”


“Kau mau melakukan itu? Awas saja aku tidak akan mengampunimu,” Arga tampak mengancam walaupun ancamannya tidak terdengar menakutkan.


“Aku hanya bercanda. Aku akan tetap di sisimu selama kau mencintaiku,”


“Aku mencintaimu selamanya, jadi kau akan di sisiku selamanya,”


“Aamiin,” gumam Nadira lalu menciumi bibir Arga dengan mesra. Arga membalasnya dengan lebih berani, ia melakukan ciuman French Kiss dengan Nadira. Gerakan keduanya saling bersambut dalam durasi yang cukup lama, hingga Rasty tanpa sengaja melihat mereka melalui kaca pintu dan jadi malu sendiri ketika ia memalingkan wajah.


.


.


.


“Coba pelan-pelan buka kedua mata anda, Tuan Arga,” kata dokter Aslan ketika ia baru selesai membukakan perban di kedua mata Arga.


Semua menanti dengan cemas, Rachel, Rasty dan juga Irfan.


Arga lalu membuka pelan-pelan kelopak matanya. Mata coklatnya bergerak-gerak pelan mengamati sekitarnya. Arga bisa melihat jelas wajah dokter Aslan yang berdiri paling depan, lalu wajah-wajah lainnya yang ia kenal ibunya, adiknya dan juga sekretaris pribadinya. Ia juga melihat beberapa orang perawat berdiri tak jauh dari dokter Aslan.


“Arga,” Rachel segera mendekat bersama Rasty dengan perasaan cemas, karena Arga sejak tadi hanya diam saja.


Arga menatap keduanya sambil menyunggingkan senyum bahagianya. “Mom, Rasty, aku bisa melihat kalian sekarang,”


Rachel tak tahu hendak berkata apa, ia begitu bahagia dan terharu, ia segera memeluk Arga dengan lelehan air matanya.


“Akhirnya nak, kamu bisa melihat lagi,”


Rasty pun sama bahagianya, ia juga menitikkan air matanya. Begitu bahagia melihat sang kakak kini bisa melihat kembali.


“Terima kasih atas kerja keras anda, dokter Aslan,” sahut Arga sambil menatap dokter Aslan penuh rasa syukur.


Dokter Aslan hanya mengangguk, “selamat Tuan Arga, anda bisa melihat kembali. Selama sebulan ini anda harus rutin memeriksakan mata, seminggu sekali, untuk melihat perkembangan apakah kornea mata ini tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan,” dokter Aslan tersenyum.


Irfan pun datang menghampiri Arga, “selamat untuk anda, Tuan Muda,” ia tersenyum setitik air matanya pun jatuh saking ikut terharu dan bahagianya.


“Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarga pendonor yang sudah memberikan kornea matanya untukku,” ucap Arga setelah berpelukan dengan Rachel.


“Maaf Tuan Arga, kami tidak bisa memberitahukan identitas pendonor ataupun keluarganya. Mereka meminta untuk tidak diberitahukan kepada anda, kami sudah berjanji. Semoga anda tidak kecewa, Tuan,”


“Padahal aku hanya ingin mengucapkan terima kasih,” Arga tampak kecewa.


“Kita hanya bisa mengirimkan doa sayang, siapapun pendonor itu semoga Allah menempatkannya di sisi terbaik,” sahut Rachel.


Arga hanya mengangguk. Kedua mata coklatnya tampak mencari-cari.


“Nadira di mana? Kenapa dia belum datang?” semua tampak diam, kecuali Rasty.


“Tadi aku coba menghubunginya kak, tapi ponselnya tidak aktif,” jawab Rasty.


“Apa dia sedang di UGD?” tanya Arga pada dokter Aslan.


“Sepertinya begitu tuan,”


Arga menghela nafas.


“Irfan, berikan ponselku!”


Irfan mengeluarkan sebuah ponsel dari saku jasnya dan memberikannya kepada Arga. Selama Arga buta, Irfan yang menyimpan ponsel milik Arga.


Arga memainkan ponselnya dan mencari-cari kontak Nadira. Ia tahu kalau Irfan pasti sudah menyimpan nomor ponsel Nadira di ponsel pintarnya.


Arga mencoba menghubungi Nadira, dan sama saja, ponselnya tidak aktif.


Rachel hanya diam saja sambil melirik Irfan. Sementara Arga dan Rasty begitu penasaran kenapa Nadira tidak juga datang melihat langsung Arga yang sudah bisa melihat kembali.