NADIRA

NADIRA
GAGAL OPERASI



Pipi Nadira bersemu merah. Saat ia sedang berjalan bersama Arga setelah dari rooftop, lelaki itu balas memegang tangannya. Ciuman tadi begitu membekas dalam ingatan Nadira, setelah itu keadaan berubah canggung. Beberapa langkah sebelum mereka sampai di kamar, keduanya berpapasan dengan Rachel, Irfan dan juga Rasty yang baru saja tiba di rumah sakit.


Rachel menatap risih ketika tangan Arga dan Nadira saling berpegangan tidak kelihatan seperti Nadira yang biasanya menuntun Arga dengan menggamit sikunya dan gadis itu tampak malu-malu. Menyadari sorot mata Rachel, Nadira segera melepas tangannya dengan tatapan was-was. Belum Arga merespon, Rasty sudah keburu menghampirinya dan memeluknya.


“Kak Arga,”


“Rasty, kamu datang,” Arga terdengar senang.


“Iya kak, aku sudah mengambil cuti beberapa pekan. Aku tidak mau kehilangan momen saat kak Arga bisa melihat lagi,” jelas Rasty sambil melirik Nadira. “Hai kakak ipar,” sapanya.


Nadira hanya balas tersenyum sambil mengawasi Rachel dan Irfan yang berjalan mendekat.


“Kalian habis dari mana?” tanya Rachel.


“Aku minta Nadira mengajakku jalan-jalan mom, aku bosan di kamar terus. Seperti tahanan saja,” jawab Arga, padahal saat Rachel bertanya ia hanya menyorot kepada Nadira, seakan meminta jawaban langsung dari gadis itu.


“Habis jalan-jalan dari mana kalian kak?” Rasty begitu penasaran sambil menatap bergantian Arga dan Nadira.


“Kau sangat penasaran begitu?”


“Tentu saja kak, di rumah sakit seperti ini memangnya bisa jalan-jalan ke mana kalau bukan hanya bangsal, ruang dokter, ruang operasi dan kamar mayat...,”


“Rasty, hentikan! Biarkan kakakmu masuk ke kamar dan beristirahat,” Rachel memotong ucapan Rasty dan segera membawa Arga masuk ke kamar perawatan VIP nya.


“Kak, kalian habis jalan-jalan ke mana?” Rasty bertanya kepada Nadira ketika Arga, Rachel dan Irfan sudah masuk ke kamar perawatan.


“Kami dari rooftop rumah sakit,” jawab Nadira.


“Kalian habis ngapain, kak?” tanya Rasty sambil menatap lekat-lekat wajah Nadira.


Nadira tampak kikuk, berusaha menyembunyikan rasa malunya setelah ciumannya tadi bersama Arga.


“Tidak ada, kami hanya mengobrol saja,” jawab Nadira dan menghindari Rasty.


“Aku tahu kak, di rooftop itu pasti suasananya sepi, hanya kalian berdua. Kakak ipar pasti habis melakukan sesuatu dengan kak Arga kan?” Rasty berusaha memancing agar Nadira mau jujur.


Saat itu juga dokter Aslan datang dengan raut muka yang tak bisa ditebak.


“Dokter Nadira,” panggilnya.


“Dokter, ada apa? Mau memeriksa kondisi Arga?” tanya Nadira senang, ia bersyukur kedatangan dokter Aslan membuatnya bisa menghindar dari Rasty yang berusaha menyudutkannya.


“Apa ibunya Arga, ada di dalam?” tanya Dokter Aslan.


Nadira mengangguk, melihat raut muka dokter Aslan yang tidak optimis seperti biasanya membuatnya was-was.


“Saya minta dokter untuk masuk juga ke dalam, ada hal penting yang ingin saya sampaikan,” ucap dokter Aslan lalu membuka pintu dan masuk.


Nadira dan Rasty menyusul di belakang dengan rasa penasaran.


Dokter Aslan menyampaikan maksud kedatangannya dengan perasaan tak enak hati, terlebih saat menatap Rachel, ibunya Arga.


“Dengan terpaksa dan sangat berat hati saya harus menyampaikan kalau, operasi transplantasi kornea mata untuk Arga tidak bisa dilaksanakan hari ini sesuai rencana, ditunda dulu,” ucap dokter Aslan, menatap satu-satu semua di ruangan itu.


“Kenapa dokter? Bukankah dokter bilang sudah menemukan pendonor?” Rachel segera menyahut, begitu kaget.


Nadira, Rasty dan Irfan pun tak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya.


“Bagaimana bisa petugas rumah sakit melakukan hal teledor seperti itu!” Rachel tak terima, ia ingin marah dan memaki dokter Aslan.


“Nyonya, tolong tenangkan diri anda,” Irfan bertindak cepat dengan menahan Rachel.


Seketika Rachel meneteskan air matanya begitu juga Rasty.


“Arga, seharusnya tidak lama lagi kamu bisa melihat sayang,” Rachel memeluk Arga penuh rasa kecewa dan marah.


Arga hanya diam saja, begitu juga Nadira, namun ia tak bisa menyembunyikan rasa kecewa dan juga penyesalannya atas kejadian yang menimpa hari ini. Rasty pun tak bisa menyembunyikan tangisnya, saat ibunya menelpon bahwa Arga sudah menemukan pendonor kornea mata, Rasty sangat bahagia dan tidak sabar untuk segera kembali ke Indonesia.


Arga balas memeluk ibunya, “sudahlah mom, tidak apa-apa. Mungkin memang belum saatnya bagiku,” ia berusaha menenangkan wanita itu dalam pelukannya.


“Kenapa semua ini harus terjadi padamu, nak. Seandainya bisa, lebih baik mommy yang mendonorkan kornea mata untuk kamu sayang, tidak mesti menunggu orang lain. Kapan lagi kita akan menemukan pendonor,” Rachel masih terisak.


“Sudahlah mom, tidak apa-apa.  Menjadi pendonor juga tidak mudah, syaratnya harus mati dulu. Mommy tidak usah terlalu memikirkan kondisiku yang seperti ini, mungkin ini sudah jalanku jadi orang buta, mungkin juga selamanya,” ada nada putus asa dalam bicara Arga, meski ia terlihat tidak terlalu ambil pusing dengan kegagalannya untuk operasi kornea mata.


“Tidak sayang! Mommy akan berusaha mencari donor kornea untuk kamu. Mommy akan membayar berapapun bagi keluarga pendonor asalkan kamu dapat kornea mata dan bisa melihat lagi sayang,”


“Sudahlah mom, aku benar-benar tidak apa-apa jadi orang buta!” ujar Arga sambil lepas memeluk ibunya.


Rachel menatap Arga yang tampak tegar namun juga tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang begitu kesal atas kejadian hari ini.


“Dihina dan diremehkan karena buta, aku sudah terbiasa dengan semua itu. Bahkan tidak punya keberanian menyatakan perasaan kepada orang yang kusuka, karena aku buta... sepertinya itu sangat menyedihkan,”


Tanpa sadar, Nadira pun menitikkan air matanya.


“Jangan putus asa Tuan Arga, kita pasti akan menemukan pendonor yang lain,” sahut dokter Aslan berusaha menguatkan.


Nadira membuka pintu dan segera keluar. Ia berlari-lari melintasi koridor sambil menyeka air matanya dan kembali ke rooftop rumah sakit sendirian. Sampai di sana, tangisnya pun pecah dan ia menumpahkan kesedihannya. Nadira tak ragu menangis seorang diri di rooftop karena tidak ada siapa-siapa.


Ia pun begitu berharap dengan operasi transplantasi besok, dan tiba-tiba harapannya harus pupus berganti rasa kecewa, sedih melihat Arga harus kehilangan kesempatan untuk bisa melihat kembali lewat donor kornea mata.


.


.


.


Rachel segera mengemasi barang-barang Arga dan ingin segera membawa Arga kembali ke rumah. Hatinya belum bisa pulih dari rasa kecewa karena gagalnya operasi kornea mata bagi Arga.


“Rasty, ke mana Nadira pergi?” tanya Arga saat sang adik hanya duduk menemaninya sambil bersandar di lengannya.


“Aku tidak tahu kak, kak Arga tidak usah khawatir, kurasa kak Nadira pergi menenangkan dirinya, aku lihat dia juga sangat kecewa dan sedih setelah mendengar kabar buruk yang disampaikan dokter Aslan tadi,”


Arga menghela nafas.


Rachel yang baru selesai mengemas barang Arga menoleh ke arah kedua anaknya dan menghampirinya.


“Arga, ayo kita pulang nak,” Rachel membantunya berdiri.


“Tapi Nadira, mom...,”


“Kamu tidak usah memikirkan Nadira, dia baik-baik saja,” Rachel tak mau tahu, ia bersikeras mengajak Arga pulang kembali ke rumah hari ini dengan atau tanpa Nadira.