
Arga bangun dari tidurnya dengan perasaan lebih segar. Arga menurunkan kakinya dari tempat tidur dan mencari tongkatnya.
“Selamat pagi tuan muda, apa tidur anda nyenyak?” sapa Irfan yang tengah duduk di sofa sambil memegang tab-nya.
Suara Irfan mengagetkan Arga. “Irfan? Kenapa kau ada di sini? Mana Nadira?”
“Nona muda, sejak pagi-pagi sekali sudah keluar jalan-jalan tuan, dia menyewa sepeda,” jawab Irfan.
“Apa? Bagaimana bisa dia pergi tanpa memberitahuku?”
“Maafkan saya tuan muda, saya tidak bisa mencegah keinginan nona muda. Sejak kemarin dia sangat ingin pergi berwisata, namun tidak bisa. Dia seperti akan stres kalau terus-terusan bersama tuan di kamar,” Irfan menjelaskan. “Nona meminta saya untuk menemani tuan muda di sini.”
“Jam berapa sekarang?”
“Tujuh dua satu (07.21) tuan,” jawab Irfan setelah melirik arlojinya.
“Cepat cari tahu destinasi wisata di sini yang tidak banyak pengunjungnya,” Arga memberi perintah.
“Apa tuan ingin keluar jalan-jalan juga?” tanya Irfan tak percaya. Sejak menjadi buta, Arga tidak pernah tertarik untuk bepergian, apalagi sekedar jalan-jalan. Orang buta sepertinya tidak bisa menikmati jalan-jalan.
“Tentu saja!” jawab Arga. “Siapkan pakaian yang akan kupakai nanti,” Arga mengambil tongkatnya dan berjalan masuk ke kamar mandi.
.
.
.
Nadira mengayuh sepeda sewaannya dengan penuh semangat dan hati yang gembira. Udara pagi terasa bersih memenuhi rongga paru-parunya, jalan raya juga masih lengang. Nadira berjalan-jalan sendirian di Pantai Kuta Mandalika. Di sana ia mencari spot foto yang menarik lalu mengabadikannya dengan kamera yang ia bawa-bawa yang menggantung di lehernya.
Nadira turun dari sepeda, dan melangkah ke tepi pantai setelah menanggalkan sepatunya. Karena udara masih pagi dan terasa dingin, ia merapatkan jaketnya lalu menghirup udara segar dengan rakus.
“Ah, jalan-jalan begini kan, menyenangkan. Aku berharap sekali Arga bisa ikut, apa tidak bosan dia terus-terusan di kamar, cuma pasang earphone dengar musik, atau usil padaku,” Nadira teringat Arga sambil senyum-senyum sendiri.
Nadira melirik arlojinya, sebentar lagi pukul setengah delapan, “Arga pasti sudah bangun, dan sebentar lagi masuk waktu sarapan, lebih baik aku kembali ke vila,” Nadira menghampiri sepedanya dan mengayuhnya kembali ke vila.
Nadira sampai di vila, saat membuka pintu ia mendapati Arga sedang duduk di sofa bersama Irfan. Penampilannya, casual, rapi dan wangi. Arga mengenakan celana jeans, sepatu Nike, kaos oblong warna hitam lalu sweater berwarna merah marun. Sosoknya benar-benar mencuri perhatian.
“Dari mana saja kau?” suara Arga yang khas langsung keluar begitu ia menyadari kalau Nadira sudah datang.
“Aku dari luar jalan-jalan,” jawab Nadira tak lepas mengamati penampilan Arga.
“Beraninya kau pergi keluar tanpa minta izin pada suamimu,”
Nadira mengernyitkan dahi, “pernikahan ini kan tidak mengikat,” Nadira tidak terima dimarahi Arga.
“Bagaimana pun juga aku ini suamimu. Aku berhak tahu kau pergi ke mana, jangan suami belum bangun kamu malah pergi keluyuran,” Arga mengesampingkan isi kontrak.
Apa sih suami suami. Kau benar-benar senang mengajakku berdebat.
“Aku tidak keluyuran! Aku hanya olahraga pagi dengan bersepeda,” Nadira menekankan.
“Cepat ganti bajumu, kita akan sarapan bersama, setelah itu kita akan keluar,”
“Apa aku tidak salah dengar? Kau mau keluar?”
“Iya, kita akan jalan-jalan,” jawab Arga, “Irfan jelaskan padanya kita akan ke mana!”
“Kita akan ke pantai Malimbu, nona. Jaraknya agak jauh dari sini, jadi mohon nona segera bersiap-siap.”
Nadira melirik Irfan seolah bertanya lewat ada apa dengannya sampai tiba-tiba ingin pergi jalan-jalan juga. Padahal kemarin ia mengajak ke Bukit Merese justru tidak mau, tidak lama kemudian malah berubah pikiran mau ikut.
Irfan hanya balas tersenyum tanpa Nadira mengerti maksudnya.
“Jangan membuatku lama menunggu. Memangnya salah kalau tiba-tiba aku mau jalan-jalan,” Arga menyahut.
“Iya, iya.”
.
.
.
Pantai Malimbu terletak di Lombok Utara, sementara vila yang ditempati Arga Nadira terletak di Lombok Tengah. Pantai Malimbu masih sambungan dari Pantai Senggigi yang terkenal di Lombok. Pantai Malimbu juga dikelilingi oleh hambatan perbukitan yang disebut Bukit Malimbu. Irfan memilih tempat ini karena kalau dibandingkan dengan Pantai Kuta Mandalika, Pantai Malimbu jauh lebih sepi, di sana tidak ada penginapan semacam vila ataupun hotel, yang ada hanya rumah para warga yang menetap di sekitarnya pantai. (Author: maaf kalau penggambaran soal pantai Malimbu di Lombok kurang tepat, author sebenarnya belum pernah ke sana, hanya berbekal informasi dari google. Barangkali ada readers di sini yang pernah ke Lombok atau malah domisili Lombok, bolehlah dibetulkan di kolom komentar. Terima kasih)
Nadira menurunkan kaca mobil sambil menatap keluar, setiap bepergian ia selalu menikmati perjalanan. Apalagi sekarang dia ada di Lombok, salah satu surga yang jatuh ke bumi. Begitu kaca diturunkan, angin masuk menerpa wajah Nadira, hijabnya pun berkibar, meliuk-liuk tersentuh angin. Ujung hijabnya di belakang, mengenai pipi Arga yang sedang duduk diam dengan earphone yang menyumbat telinganya.
Arga merasakan sesuatu yang mendesir di hatinya. Menyadari ujung hijabnya menyentuh wajah Arga, Nadira menaikkan kembali kaca mobil.
Arga menarik kedua earphone-nya lalu melepas kacamata hitamnya.
“Kau selalu menikmati perjalanan,” ucap Arga.
Nadira tersenyum, “setiap bepergian aku memang selalu menikmati perjalanan. Apalagi ini pertama kalinya bagiku berkunjung ke Lombok,”
Arga mengangguk, “aku sudah pernah ke Lombok. Kira-kira dua atau tiga tahun yang lalu,”
“Oh ya,”
“Iya, aku mengunjungi pantai pink, kamu tahukan pantai dengan pasir berwarna pink. Makanya disebut pantai pink,”
“Apa jauh dari vila kita?” Nadira bertanya antusias
“Iya, jauh, waktu itu Niken sampai mabuk perjalanan. Ternyata sepupumu itu tidak sama denganmu, tidak bisa naik mobil jauh-jauh,” Arga mengenang.
“Jadi, kamu pernah ke Lombok sama Niken,”
Kenapa dia malah curhat perasaannya sama Niken.
Nadira membuang pandangan keluar. Irfan yang duduk di depan bersama sopir, mengawasi keduanya melalui spion.
“Besok lusa kita bisa merencanakan jalan-jalan ke pantai pink kalau kau mau,” Arga berharap Nadira semakin antusias dengan tawarannya.
“Tidak usah!” Nadira menolak.
“Kenapa? Bukannya kau sangat suka jalan-jalan di sini,”
“Mungkin setelah hari ini, besok-besok aku ingin istirahat saja di vila. Kalau perlu kita pulang cepat saja ke Jakarta, aku rindu pekerjaanku di UGD, juga paman sama bibi,” Nadira mencari alasan.
.
.
.
Mereka pun sampai di pantai Malimbu. Matahari jam sepuluh pagi, belum begitu terik. Suasana hati Nadira yang semula buruk karena kejujuran Arga tentang liburannya bersama Niken di Lombok dulu, seketika terlupakan begitu melihat hamparan pemandangan laut biru yang indah.
Angin menerpa wajah begitu mereka turun dari mobil.
Arga tersenyum ketika mendengar suara Nadira yang tampak kagum dan memuji keindahan pantai. Ia segera menggamit lengan Arga agar mengikuti langkahnya berjalan di atas pasir, menuju ke bibir pantai.
“Pantainya cantik sekali, Arga,” Nadira melepaskan genggamannya dari lengan Arga. Lekas melepas sepatunya lalu berjalan ke bibir pantai, agar kedua kakinya merasakan tersapu air laut dan ombak kecil.
“Benarkah sangat cantik? Sayangnya aku buta, jadi membuatku penasaran secantik apa pantainya. Ini pertama kalinya juga aku ke sini,” sahut Arga di belakang.
“Nanti kalau kamu bisa melihat, kamu bisa datang ke sini lagi dan membuktikan kalau pantai ini benar-benar indah,” sahut Nadira masih asyik bermain air.
Arga tersenyum getir. Melihat lagi? Dokter bilang satu-satunya jalan agar dia bisa melihat kembali adalah dengan menunggu donor kornea mata. Kapan dan siapa yang mau berbaik hati mendonorkan kornea mata untuknya.
Nadira mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu mulai merekam suasana di pantai dan juga sosok Arga yang sedang berdiri di belakangnya. Setelahnya Nadira mulai berselfie beberapa kutipan yang juga sengaja menyorot Arga yang berdiri dengan pandangan kosong di belakangnya.
Irfan mengawasi mereka di dekat mobil sambil sibuk dengan ponselnya sendiri.
Nadira melangkah mendekati Arga, mengajaknya duduk di atas pasir lalu melepas kedua sepatunya.
“Kau mau apa?” tanya Arga yang tidak membantah tindakan Nadira.
Setelahnya, Nadira lekas menarik tangannya agar ikut langkahnya. Arga merasakan kedua kakinya tercebur air laut di bibir pantai setelah Nadira menuntunnya beberapa langkah.
“Ayo kita jalan-jalan sambil aku menceritakan bagaimana suasana di pantai ini,”
Arga menurut. Nadira dengan setia menggamit lengannya lalu menceritakan setiap detil apa yang dilihatnya di pantai ini, semata ingin membuat Arga seolah-olah bisa melihat karena tahu bagaimana suasana pantainya. Tidak terlalu banyak orang di pantai ini saat pagi menjelang siang begini. Kebanyakan datang di sore hari, supaya bisa melihat matahari terbenam di bukit Malimbu.
Begitu Nadira selesai menceritakan tentang setiap detil dari pantai Malimbu sesuai yang ia lihat dengan kedua matanya, Nadira melepaskan tangannya dari Arga lalu melangkah semakin dalam ke arah lautan. Tidak peduli celananya basah karena air laut sudah sampai di batas lututnya.
“Nadira, kamu sedang apa?” tanya Arga di belakang. Ia bingung sendiri kenapa Nadira meninggalkannya di bibir pantai.
“Ayah!! Nadira rindu!!” teriaknya sekeras dan sekencang mungkin ke arah hamparan laut biru yang membentang luas.
“Nad!” panggil Arga kaget setelah mendengarnya berteriak.
“Ayah apa kabar? Nadira rindu banget sama ayah,” kini terdengar tidak berteriak lagi.
Arga terus mengawasi gerak-gerik Nadira dengan kedua telinganya yang peka. Kemudian ia mendengar suara isak tangis Nadira, suara isak pilu karena rindu yang tak kunjung terobati.
“Ada apa dengannya?” Arga bergumam penasaran.
Nadira terus meluapkan tangisannya, tidak peduli Arga di belakang.
Tiba-tiba ia merasakan kehadiran Arga yang menyentuh belakangnya.
“Arga,” Nadira menghentikan tangisnya dan menghapus lelehan air matanya. Ia segera meraih tangan Arga.
“Maaf Arga, kamu jadi kebingungan ya di belakang,”
“Kamu kenapa Nad?” Arga bertanya penasaran.
Nadira menuntun Arga ke tepi pantai, lalu mengajaknya duduk di atas pasir sembari mengeringkan celana mereka yang basah.
“Aku tidak apa-apa,” jawab Nadira.
“Kenapa menangis memanggil ayahmu?”
Nadira menatap lurus ke arah lautan. “Aku rindu almarhum ayahku. Ayah adalah prajurit muda yang tampan dari Angkatan Laut. Dia gugur saat berpatroli dengan kapal selam di perairan perbatasan Indonesia dan Filipina. Ayah gugur bersama lima puluh prajurit Angkatan Laut lainnya. Kami tidak pernah menemukan jasad ayah, ayah mati di lautan. Maka dari itu, setiap kali merindukannya, aku akan selalu menyempatkan diri ke laut, laut mana saja. Karena ayahku sudah menjadi bagian dari lautan. Kalau ada waktu aku sering snorkling di bawah laut saat aku sangat rindu dan ingin menyapa ayah,” Nadira membagi kisahnya begitu saja pada Arga.
“Aku tidak punya banyak kenangan dengan ayah, tapi ayah sudah menyisakan kenangan yang manis denganku yang selalu aku ingat seumur hidupku. Saat itu umurku masih delapan tahun, saat ayah gugur di perairan Laut Sulawesi. Karena mengikuti tempat tugas ayah, aku menghabiskan masa kecilku di Manado. Setelah ayah meninggal, ibu memboyongku kembali ke kampung halamannya di Pangandaran. Jadi mengunjungi laut sudah menjadi hal wajib bagiku saat aku dan ibu merindukan ayah. Karena ayah tidak punya makam yang bisa kami kunjungi untuk diziarahi,”
Arga bisa merasaka cinta yang begitu besar dari Nadira kepada almarhum ayahnya dan juga kerinduan yang mendalam pada sosok ayahnya.
“Karena seorang prajurit, ayah jarang menghabiskan waktu di rumah denganku dan ibu. Tapi setiap kali dia pulang ke rumah dan sedang bebas tugas, ayah tak pernah absen mengajakku bermain, ayah sangat menyayangiku. Kalau ibu sering marah karena aku bandel dan kadang tidak menuruti perintahnya, ayah tidak pernah memarahiku. Dia selalu menemiku bermain dan memberiku mainan baru setiap dia pulang bertugas,” air mata Nadira menetes pelan mengenang hal manis bersama almarhum ayahnya dulu.
Namun Arga tidak tahu dan juga tidak mendengar suara isak tangis Nadira.
Arga tersenyum setelah mendengar semua cerita Nadira tentang sosok almarhum ayahnya. “Ayahmu adalah pria yang hebat,” gumam Arga. Sorot matanya yang kosong menatap ke arah lautan.
Ayah, apa ayah sudah melihat suamiku? Namanya Arga, dia tampan bukan? Tenang ayah, bagiku ayah adalah yang paling tampan nomor satu di hatiku. Sebenarnya dia sangat berbeda dengan ayah yang lembut dan ramah. Arga agak kasar, kalau suasana hatinya buruk dia suka mengumpat. Tapi entah kenapa ayah, aku tidak bisa membenci sikapnya itu, aku tidak bisa tidak peduli padanya.
“Halo ayah mertua!!” teriak Arga. Nadira menoleh kaget, melihat Arga kini sedang menyapa ayahnya ke arah lautan.
“Aku adalah Arga, suaminya Nadira. Kuharap anda senang bertemu denganku!!” lanjutnya sambil menyunggingkan senyum yang ramah, seolah sedang berbicara dengan sosok ayah Nadira.
Nadira menatap Arga begitu dalam. Hingga kemudian kedua mata Arga menyorot ke arahnya, seolah mata coklat yang kosong itu sedang berusaha untuk menemukan dirinya. Berharap bisa menatap wajah cantiknya di tengah kegelapan yang menyelimuti kedua matanya.