
Rachel membuka pintu kamar Arga dan melihat putranya itu sedang berdiri menghadap jendela, merasakan siraman matahari pagi yang menembus jendela kamarnya.
“Selamat pagi sayang,” Rachel mendekat sambil mengecup pelan sebelah pipi Arga.
“Jam berapa sekarang mom?” tanya Arga.
“Baru setengah tujuh sayang,” jawab Rachel sambil melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya.
“Mommy tahu tidak setiap aku akan tidur, aku berharap semua yang kualami ini hanya mimpi dan keesokannya aku bangun pagi sambil memandang cahaya matahari yang menembus jendela kamarku. Tapi sama saja, semuanya masih gelap bagiku,” ucap Arga, masam.
“Arga sayang, kita pasti akan segera menemukan pendonor mata untuk kamu,”
Arga tersenyum getir.
“Oh iya, mommy ingin bicara sesuatu yang penting dengan kamu,” Rachel menuntun Arga duduk di tempat tidur.
Arga menunggu.
“Mommy ingin kamu menikah,”
“Apa aku tidak salah dengar mom?” tanya Arga. “Aku akan menikah dengan siapa? Niken baru saja membatalkan pernikahan kami,”
“Kamu masih ingat dengan sepupunya Niken?”
Arga diam sejenak, “dokter UGD itu?” seingatnya.
“Iya. Namanya dokter Nadira,” sahut Rachel antusias.
“Bagaimana bisa aku harus menikah dengannya mom? Kami tidak saling kenal, lagipula aku ini laki-laki yang buta, dia pasti tidak mau,” Arga mulai merendahkan diri.
“Siapa yang bilang, anakku yang tampan ini masih mempesona meski dia buta,” bantah Rachel sambil mengelus lembut pundak Arga.
“Sudahlah mom, aku sadar diri kok,”
“Arga sayang, pernikahan ini tidak seperti pernikahan pada umumnya,”
“Maksud mommy?”
“Pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan kehormatanmu dan juga kehormatan keluarga kita. Kamu tahu kan, sejak Niken pergi, semuanya jadi kacau. Nadira itu sepupunya Niken, sebagai balasannya dialah yang akan bertanggung jawab atas semua kekacauan yang terjadi akibat ulahnya Niken,” kalimat Rachel seakan menggambarkan kalau Nadira memang wajib untuk mengambil alih tanggung jawab atas perbuatan Niken.
“Mom, wajar Niken pergi. Dia gadis yang cantik dan normal, aku memaklumi jika kebutaanku menjadi alasan dia meninggalkanku,” Arga berujar penuh pemakluman, walaupun sejujurnya ia sepenuhnya belum bisa menerima kepergian Niken.
“Arga, kenapa kamu berkata seperti itu? Mama tetap tidak bisa memaklumi apa yang sudah diperbuat oleh Niken sama kamu,” Rachel tampak kesal. Anak kesayangannya sudah menjadi budak cintanya Niken.
“Tidak ada gunanya mommy terus marah kepada Niken. Dia tidak akan kembali, dan aku tetap jadi orang buta,” Arga terdengar pasrah.
“Arga, kamu harus dengarkan mommy kali ini. Menikahlah dengan Nadira, mommy sudah menyampaikan padanya bahwa pernikahan kalian tidak seperti pernikahan pada umumnya. Kamu tidak perlu memperlakukan dia selayaknya istri, cukup sebagai teman, dan dia berjanji akan merawatmu dengan kondisimu sekarang, mengingat dia adalah seorang dokter. Ingatlah pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan kehormatanmu, mommy tidak mau teman-teman ataupun rekan bisnis mommy mengolokmu yang batal menikah karena ditinggal oleh calon istrimu gara-gara kamu buta. Nadira tidak akan menuntut haknya sebagai istri, begitupun kamu. Mommy hanya berharap kalian bisa berteman lewat pernikahan ini. Kalian bisa bercerai suatu hari nanti, saat kamu sudah siap untuk berpisah atau, kamu sudah membuka hatimu untuk perempuan lain,”
“Mom, kenapa aku harus menjalani pernikahan semacam itu,” Arga tampak keberatan. Dia tidak pernah berpikir akan menikah dalam keadaannya yang buta.
“Arga, mommy melakukan ini demi kamu. Mama juga sedih mendengar cerita orang-orang di belakang tentang kamu yang buta, pasti akan lebih parah lagi mereka berghibah jika tahu kalau calon istrimu telah meninggalkanmu dan membatalkan pernikahan,” Rachel terdengar sedih.
Arga mendengar isak tangis ibunya. Sebagai anak, hatinya pun tersentuh, merasa menjadi anak yang tidak berbakti jika membuat ibunya menangis karena dirinya.
“Baiklah mom, lakukan saja apa yang menurut mommy terbaik buat aku,” Arga meraba tubuh Rachel dan memeluknya. Ia memilih mengalah dengan keputusan ibunya.
.
.
.
“Ya Allah, apa yang sudah aku katakan pada Nyonya Rachel. Aku bersedia bertanggung jawab atas perbuatan Niken, dengan menikahi Arga. Sebagai balasannya, perusahaan paman akan baik-baik saja,”
Nadira memeluk guling, “semoga ini yang terbaik dan jalan keluar dari kekacauan yang telah diperbuat oleh Niken,” gumamnya berusaha meyakinkan diri, kalau keputusannya bertanggung jawab atas perbuatan Niken adalah benar.
Terdengar suara ketukan pintu. Widya membuka pintu, “Nadira, ayo makan siang dulu,”
“Oh, iya bi,” Nadira turun dari tempat tidur sambil membetulkan letak hijabnya.
Di meja makan, Herman sudah duduk menunggu. Ia tersenyum senang begitu melihat Widya dan Nadira berjalan bersama menuju meja makan.
Nadira berbinar senang melihat hidangan tempe bacem dan sayur asem di meja makan. Widya sudah memasak menu kesukaan Nadira. Herman dan Nadira terpaku menatap menu opor ayam, mereka tahu itu adalah menu makanan kesukaan Niken.
“Aku masih kepikiran Niken. Di mana dia sekarang? apa makannya teratur?” ujar Widya.
“Bu, tidak perlu memikirkannya seperti itu. Dia sudah melakukan tindakan tidak bertanggung jawab terhadap keluarga Nyonya Rachel,” timpal Herman masih belum bisa menutupi kekecewaannya terhadap Niken.
“Meskipun Niken salah, dia tetap anak kita Yah,” sahut Widya.
“Paman dan bibi, Niken pasti baik-baik saja,” sahut Nadira.
Ketiganya lalu bersantap siang bersama.
“Oh iya Nad, waktu itu kamu jadi bertemu Nyonya Rachel?” tanya Herman yang sedang menikmati hidangan penutup.
“Iya paman,”
Herman menatap tak percaya pada Nadira. “Apa yang sudah kamu bicarakan, tiba-tiba saja rekan bisnis paman datang kembali dan mengajak kerjasama,”
“Benarkah paman? Alhamdulillah kalau begitu,” Nadira berujar senang.
“Apa yang sudah kamu katakan padanya? Sampai sekarang paman belum berani mengajaknya bertemu untuk membahas apa yang telah diperbuat Niken,”
“Aku hanya mengajukan diriku untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukan Niken,”
“Maksud kamu?”
“Aku akan menikahi Arga, untuk menyelamatkan kehormatannya dan juga kehormatan keluarga Nyonya Rachel,”
“Nadira, kenapa kamu sampai harus melakukan itu? Kenapa kamu yang harus membayar semua perbuatan Niken?” Herman seolah tak percaya.
“Tidak ada pilihan lain paman. Siapa yang akan mengambil alih tanggung jawab itu kalau bukan aku? Tenanglah paman, aku akan baik-baik saja,” ujar Nadira.
“Kamu melakukan semua ini demi perusahaan pamanmu dan juga Niken?” tanya Widya.
“In Syaa Allah ini yang terbaik untuk semuanya, paman, bibi.” Nadira berkata dengan mantap.
^^^
Selamat membaca! Semoga terhibur!
Aku harap kalian menikmati ceritanya.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like dan komentar ya.
Jangan lupa vote aku juga, biar up-nya lebih semangat.
Terima kasih.
Salam hangat, Ratihyera.
^^^