NADIRA

NADIRA
KEDAI SOMAY BANG TOYIB



Arga memarkir mobil sportnya di parkiran sebuah kedai makan. Tangan Arga yang disangga dan dibebat, telah sembuh, bahkan setelah kesembuhannya ia segera mengajak Nadira untuk makan somay kesukaannya.


Nadira mendongak dari dalam mobil membaca tulisan kedai makanan yang terpampang besar. SOMAY BANG TOYIB.


"Ini somay yang ...," Nadira menatap ke arah Arga seolah bertanya dengan rasa tak percaya.


Arga mengangguk, senang melihat respon istrinya, "ini somay Bang Toyib kesukaan kamu Nad," jelasnya.


"Kok pindah ke sini?" Nadira keheranan tapi juga tampak takjub melihat bagaimana somay pinggir jalan yang dulunya berjualan gerobak itu kini memiliki lahan dan membuka kedai dengan konsep ala-ala kekinian.


"Bukannya bagus kan? Tempatnya sekarang lebih luas, lihatlah ke dalam banyak sekali orang-orang yang datang untuk makan langsung. Mereka pasti adalah pelanggan setianya," Arga menunjuk ke dalam, tampak tidak sabaran mengajak Nadira segera turun.


Begitu turun dari mobil, keduanya saling berpegangan tangan melenggang masuk ke dalam kedai Somay Bang Toyib. Begitu keduanya masuk, mereka langsung jadi pusat perhatian, sebenarnya pusat perhatian mereka adalah Arga, dengan wajah dan penampilannya yang mencolok. Keduanya segera disambut oleh pemilik kedai dan juga adik perempuannya.


"Selamat datang Mas Arga dan Mbak Nadira," sambut Toyib dengan senyum sumringah kepada keduanya.


"Bang, ini sudah pindah ya," ucap Nadira yang begitu takjub melihat usaha jualan somay langganannya ada peningkatan karena bisa membuka kedai di lokasi yang cukup strategis.


"Alhamdulillah mbak Nad, berkat Mas Arga, jadi saya bisa buka kedai dengan tempat yang lebih luas dan nyaman untuk pelanggan setia saya," Toyib melirik kepada Arga dengan senyum mengembang.


Nadira melirik Arga, "jadi ini semua perbuatanmu?" sejurus kemudian perempuan itu tersenyum.


"Sayang kan, somay seenak ini jualannya di pinggir jalan. Jadi aku menawarinya bantuan dengan memberi modal dan juga mencarikan lokasi yang strategis," jawab Arga enteng.


"Betul sekali mbak. Awalnya saya tidak mau, hanya takut saja kalau saya pindah, nanti pelanggan saya pada lari, tapi alhamdulillah yang namanya pelanggan setia somay saya, di mana pun saya jualan pasti akan datang,"


"Mas Arga juga baik sekali mbak, mau membantu promosi UMKM kami," sahut Salma, adik dari Toyib.


"Mari Mas Arga dan Mbak Nadira saya antarkan ke kursinya, Mas Arga tadi sudah telpon untuk booking tempat," ajak Toyib pada kedua sejoli itu begitu antusias. Keduanya duduk dekat dengan jendela.


"Kapan kamu menemui mereka?" tanya Nadira penasaran setelah Toyib pergi hendak membuatkan somay untuk keduanya.


"Bukan aku sih, aku hanya meminta Irfan mengurusinya,"


Nadira tersenyum, "Kamu baik sekali sayangku, membantu usaha kecil mereka," menatap bangga kepada suaminya.


"Sebenarnya aku hanya khawatir kalau kamu terus-terusan makan makanan di pinggir jalan sementara sedang hamil," Arga menyampaikan niat awalnya.


"Aku kan sudah bilang tidak apa-apa. Kamu saking tidak biasanya makan di pinggir jalan, jadi berpikiran begitu," bantah Nadira. "Kalau aku kasih tahu Melani somay kesukaan kami sudah pindah lokasi dia pasti kaget dan takjub juga," Nadira tampak tidak sabaran menyampaikan kabar bahagia ini kepada Melani, sahabatnya.


"Melani?"


"Iya, kamu tidak lupa kan? Dia yang banyak kasih kamu buku-buku braille-nya,"


"Mana mungkin aku lupa. Mungkin suatu hari aku ingin bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih,"


"Nanti aku akan memanggilnya makan di sini, dia pasti senang. Soalnya Melani juga suka makan somay Bang Toyib."


Tidak begitu lama, Salma kemudian datang membawakan dua porsi somay ke meja Arga dan Nadira.


"Mas dan mbaknya mau minum apa?" tanya Salma sebelum ia beranjak.


"Air mineral saja dua," jawab Nadira. Salma mengangguk lalu segera pergi.


Nadira terkejut, jam saku itu dulu miliknya, tapi kemudian ia kembalikan lagi karena berpikir bahwa saat itu tidak ada jalan baginya dan juga Arga untuk bersama karena Rachel meminta keduanya untuk berpisah. Jadi ia merasa tidak pantas memiliki benda antik dan bersejarah itu, apalagi itu pemberian dari mendiang ayah mertuanya.


"Tolong ambil Nad!" pinta Arga masih setia menjulurkan benda antik peninggalan mendiang ayahnya itu kepada istrinya.


"Arga, aku tidak pantas. Aku merasa malu karena dulu aku mengembalikannya padamu," Nadira menolak sopan.


"Kau pantas sayang, benda ini sekarang milikmu. Ambillah kembali, aku tidak marah saat kau kembalikan dulu, karena itu hanya sebuah kesalahpahaman," Arga masih menanti dengan sabar.


Nadira lalu meraih jam saku antik itu. Arga tersenyum senang ketika jam saku antik itu kini berpindah tangan ke Nadira.


"Terima kasih. Aku akan menyimpannya baik-baik," Nadira berjanji sambil membuka jam saku itu dan menatapnya takjub.


.


.


.


Selepas subuh, Nadira sudah sibuk menyiapkan setelan Arga yang hari ini akan kembali bekerja di Rajasa Group. Kini ia sedang membantu suami tercintanya memasangkan dasinya. Nadira tidak begitu kesusahan menyeimbangkan tinggi badannya dengan Arga sebab, perempuan berhijab itu memiliki postur tubuh yang cukup tinggi untuk ukuran perempuan dewasa, karena ia mendapatkan gen tinggi dari ayahnya yang seorang anggota TNI AL.


Setelah selesai memasangkan dasi, Arga tiba-tiba memeluknya erat.


"Ada apa Arga?"


"Rasanya aku tidak ingin bekerja Nad. Aku sudah terbiasa menghabiskan hari-hari bersamamu di kamar," ujarnya dengan manja.


"Jangan manja ih," Nadira tergelak lalu melonggarkan pelukan Arga dan menatap wajah tampan suaminya dengan sorot mata coklatnya yang indah.


"Aku serius Nad, aku pasti akan merindukanmu seharian di kantor," Arga berkata masam sambil membayangkan hari-harinya ke depan saat di kantor begitu hampa karena tidak ada Nadira di sisinya.


"Seharusnya aku yang berkata begitu. Kalau kau pergi bekerja, aku sendirian di sini, pasti rasa rinduku lebih berat daripada kamu. Rasanya aku juga ingin menyibukkan diriku dengan bekerja, rasanya aku ingin kembali ke UGD,"


"Tidak boleh! Aku tidak mengizinkanmu bekerja, lalu kau akan capek, lalu itu akan berpengaruh pada kandunganmu," Arga menolak.


Nadira tampak kecewa. Sebenarnya ia begitu rindu dengan pekerjaannya sebagai dokter UGD.


"Setelah melahirkan, apa aku boleh kembali bekerja?" tanya Nadira kemudian.


"Nanti kita lihat sayang, aku tidak janji. Lagipula kau punya suami yang tampan dan juga kaya, tidak perlu lagi repot-repot bekerja, aku bisa memberimu uang bulanan yang berkali-kali lipat dari gajimu sebagai dokter,"


"Dasar sombong," Nadira mencubit kesal lengan Arga lalu beralih mengambil ponselnya di atas meja rias.


Arga tergelak lalu merangkul Nadira dengan mesra, mengajaknya keluar kamar hendak turun ke ruang makan menikmati sarapan bersama sebelum berangkat bekerja.


"Jadi dokterku saja ya, tidak usah jadi dokter untuk orang lain di UGD," Arga kembali manja.


"Apa aku akan mendapatkan gaji yang besar kalau jadi dokter pribadi kamu?" tanya Nadira sambil menuruni tangga bersama.


"Aku akan mengalihkan seluruh aset pribadiku atas namamu,"


"Benar-benar sombong."