
Kata-kata Widya saat ia datang berkunjung, terus terngiang di benak Rachel. Hingga detik ini ia masih selalu merasa sebagai orang yang jahat, karena telah melukai perasaan dua orang gadis, yaitu Niken dan Nadira. Tapi setelah tahu kabar kematian Niken dan juga kebesaran hati Niken yang mendonorkan korneanya untuk Arga, ia pun tersadar bahwa selama ini ia telah menjadi orang yang buruk. Bahkan ibu yang buruk bagi Arga, sebab menghalang-halangi putranya dalam menggapai cinta sejatinya.
Sepagi ini Rachel sudah bangun, ia baru saja selesai mencuci muka dan segera keluar dari kamarnya. Begitu keluar kamar dan menuruni anak tangga, ia mendapati Arga dan Nadira sudah menyambutnya dibawa. Tampak Nadira memegang sebuah kue tart yang di atasnya bertahtakan angka 51 dalam kondisi menyala.
"Happy birthday mommy," Arga segera menyambut tangan Rachel begitu ia menuruni anak tangga terakhir. Arga menciumi tangan Rachel dengan lembut, mengecup kedua pipinya lalu memeluknya erat.
Rachel tampak terharu dengan kejutan kecil yang dibuat Arga dan Nadira.
"Terima kasih sayang," ucap Rachel sambil memandangi sang putra tersayang dengan sorot kebahagiaan.
"Ayo mom, tiup lilinnya!" Arga begitu antusias.
Sejenak Rachel melafalkan doanya dalam hati lalu meniup lilin angka 51 yang bertengger di atas kuenya.
"Selamat ulang tahun mommy," Nadira mengucapkan selamat juga setelah Rachel selesai meniup lilinnya yang diikuti dengan tepuk tangan oleh para pelayan yang berkumpul atas perintah dari bu Ruly.
"Selamat ulang tahun nyonya Rachel, semoga anda sehat selalu," sahut bu Ruly pula.
"Terima kasih semuanya,"
"Kamu dan Nadira siap-siap ya, malam nanti acara ulang tahun mommy. Kita ketemu di sana ya," pesan Rachel kepada Arga dan Nadira. "Dan juga sampaikan undanganku untuk orang tuanya Niken, paman dan bibimu," ucapnya pada Nadira.
"Mommy ingin mengundang paman sama bibi?" Nadira senang bukan main.
Rachel mengangguk mengiyakan.
.
.
.
Nadira mengenakan sebuah gaun malam berwarna hijau emerald, ia baru selesai mendandani wajahnya sendiri. Ia menoleh ke belakang dan melihat Arga sudah siap dan rapi dengan setelan jasnya. Nadira menelan ludahnya, melihat betapa nyaris sempurnanya sosok Arga. Arga melangkah mendekat dengan senyum sumringah.
"Kau butuh bantuan, sayangku?" tanyanya sambil melirik nakal punggung Nadira yang terpampang nyata di depan matanya.
Nadira tiba-tiba teringat saat malam pertama mereka di hotel sebagai pasutri pengantin baru. Saat ia meminta tolong Arga untuk membukakan ritsleting belakang gaun pengantinnya.
Nadira tersenyum mengingat hal itu.
Arga justru mengecup pelan leher belakang Nadira hingga ke punggungnya. Wanita itu bagai terasa disengat, bibir Arga yang menempel di atas kulitnya terasa dingin. Arga menanti reaksi istrinya dengan melempar tatapan lewat cermin.
"Jangan menggodaku! Nanti kita terlambat ke pesta ulang tahun mommy," ujar Nadira. "Ayo cepat tarik ritsletingnya," titahnya, sebelum Arga membuatnya berhasrat duluan.
Arga melaksanakan titah Nadira dengan menarik ke atas ritsleting gaunnya dengan sekali gerakan. Ia tidak terlalu kesulitan hanya menggunakan tangan kirinya saja.
.
.
.
Pesta ulang tahun Rachel digelar di sebuah ballroom hotel berbintang. Menjadi keharusan bagi Rachel untuk setiap tahunnya merayakan pesta ulang tahunnya karena figur dan namanya sudah terlanjur terkenal sebagai pengusaha sukses di negeri ini. Pesta ulang tahunnya juga sebagai ajang bagi rekan-rekan bisnis dan koleganya untuk mencari muka kepada Rachel agar bisa mendapatkan tawaran bisnis atau bekerja sama, mengingat kesuksesan dan kebesaran Rajasa Group.
"Mom, ini kado ulang tahun dariku dan Arga," Nadira menyodorkan kepada Rachel sebuah kotak kado berwarna abu-abu yang dipadukan dengan pita berwarna maroon.
Rachel menerimanya dengan senang hati.
"Semoga mommy suka dengan kadonya," sahut Nadira begitu antusias.
"Boleh mommy buka, di sini?" Rachel menatap Nadira dan Arga bergantian.
Nadira mengangguk.
Saat membukanya, Rachel disuguhi sebuah kalung mutiara yang indah.
"Kalian ini kenapa repot segala kasih mommy beginian?"
"Sebenarnya kalau tidak ketahuan duluan, kami berencana menjadikan kabar kehamilan Nadira sebagai hadiah ulang tahun mommy. Tapi ternyata mommy sudah tahu duluan kabar itu," sahut Arga tampak kecewa.
"Tidak mengapa, mommy sudah menganggap kehamilan Nadira sebagai kado ulang tahun mommy. Dan di momen ini mommy akan umumkan kepada mereka bahwa menantuku sedang hamil dan sebentar lagi aku akan segera memiliki cucu,"
Nadira dan Arga tentu senang.
Saat itu juga mereka melihat kehadiran Rasty yang juga sudah tampak cantik dan anggun. Gadis muda itu berlari-lari kecil menghampiri keluarganya. Ia menghambur memeluk dan mengecup ibunya.
"Happy birthday mommy! Suprprise kan, aku datang," ujar Rasty setelah pelukan dan ciumannya untuk Rachel.
"Kapan kamu datang, sayang?" Rachel terkejut, ia tahu Rasty cukup sibuk dengan segudang aktivitas perkuliahannya di california. Bahkan kemarin ia menyempatkan kembali ke Indonesia saat tahu kalau Arga pergi meninggalkan rumah untuk menyusul Nadira ke Sumbawa Barat.
"Mom, aku tidak mungkin melewatkan momen ulang tahun mommy. Aku dari bandara langsung ke salon dan bergegas ke sini. Aku juga tidak sabar, ingin ketemu kak Arga dan kak Nadira,"
Arga mengangkat tangan kirinya menyambut Rasty yang kini memeluknya penuh rindu.
"Selamat ya kak, sudah dapat restu dari mommy,"
"Terima kasih ya dek kamu sudah begitu perhatian sama kakak dan juga Nadira,"
Rasty juga memeluk Nadira ia juga tak lupa mengucapkan selamat atas kehamilan sang kakak ipar, ia tahu kabar bahagia itu dari Arga langsung via telpon.
"Selamat kak Nad, atas kehamilannya. Sebentar lagi kita akan kedatangan anggota keluarga baru, sebentar lagi akan ada yang memanggilku tante di rumah," Rasty tersenyum membayangkan hal itu. Ia benar-benar sangat menanti kehadiran calon keponakannya.
Di pesta itu juga Feli hadir, gadis cantik itu tampak anggun dengan gaun malam yang dikenakannya, yang memamerkan belahan paha sebelah kirinya yang mulus dan putih.
Ia sama sekali tidak merasa canggung saat hendak menghampiri Rachel sambil membawa sebuah paper bag berisi kadonya untuk sang pemilik pesta.
"Tante Rachel selamat ulang tahun," Feli tampak sumringah lalu memeluk Rachel dan menyentuh pipi kiri dan kanan dengan begitu akrab. Ia tersenyum cantik dan manis, mengabaikan orang-orang di sekitar mereka, termasuk Arga, Nadira dan Rasty.
Rachel justru merasa canggung dan tidak enakan saat mendapati sikap ramah dan akrab Feli kepadanya. Dalam situasi kemarin, sebelum ia memutuskan pada akhirnya untuk merestui penyatuan cinta Arga dan Nadira, Feli adalah sosok yang paling membuatnya tidak enak hati. Sebab terlalu banyak janji dan angannya kepada gadis itu untuk menjodohkannnya dengan Arga, bahkan sejak Arga masih menjalin hubungan dengan Niken.
Ia masih tak bisa melupakan semua kebaikan almarhum ayah Feli yang selalu membantunya di awal-awal ia memimpin Rajasa Group sepeninggal mendiang suaminya. Bahkan saat Rajasa Group berada dalam kondisi keuangan yang buruk akibat ulah bawahannya yang begitu rakus, pak Tirta tanpa ragu memberinya bantuan dana.
Itulah mengapa Rachel dulu begitu berharap Arga dan Feli bisa bersama, setidaknya hanya hal itu yang bisa ia lakukan untuk membalas semua kebaikan almarhum ayah Feli. Tapi kenyataannya Arga tak ada rasa sedikitpun kepada Feli selain sebagai teman, meski sedikit banyak Arga cukup tahu Feli ada rasa padanya. Tidak ada satupun wanita yang tidak jatuh ke dalam pesonanya.