
Arga tampak gelisah duduk di tempatnya, sejak tadi hingga acara hampir berakhir, Nadira belum kembali dari kamar kecil. Ia menunggu dengan gelisah seorang diri, sementara Rachel dan Feli sedang bersama berbicara dengan beberapa tamu undangan. Mereka bahkan tidak peduli Nadira ada atau tidak.
Irfan memasuki ballroom sambil berlari kecil menghampiri Arga.
“Tuan, maaf, tidak ada yang melihat Nona Nadira dia ke mana,” sahut Irfan begitu dia sampai.
Arga tampak geram, ia bangkit dari duduknya lalu menarik jas Irfan dengan kasar, “cari dia sampai ketemu, atau biar aku sendiri yang mencarinya,”
“Tuan, anda mau mencari ke mana?”
Arga tampak putus asa, “bodohnya aku, dia begitu sedih malam ini, aku justru tetap bertahan di sini,”
Rachel dan Feli menghampiri Arga ketika melihat Arga begitu gelisah dan terdengar membentak Irfan.
“Ada apa Arga? Kenapa kau begitu khawatir?” tanya Rachel.
“Nona Nadira tidak ada di sini, nyonya,” jawab Irfan, karena Arga diam saja.
“Mungkin dia pulang duluan, apa kau sudah mencoba menelpon ke rumah?” tanya Rachel lagi.
“Mereka mengabari kalau Nona Nadira belum pulang ke rumah,” Irfan lagi-lagi menjawab.
Rachel menghela nafas.
“Ada apa dengannya? Dia tampak tidak nyaman begitu saat laki-laki bernama Bram itu datang,” Feli jadi penasaran ada hubungan apa Nadira dan Bram di masa lalu.
“Apa dia juga tidak ada di rumah pak Herman?” Rachel bertanya lagi.
“Tidak ada, nyonya,” Irfan kembali menjawab.
“Irfan, antarkan aku ke ruang kontrol cctv,” Arga memberi perintah, “mom, aku pulang duluan, aku harus mencari Nadira,” Arga pamit pada ibunya.
“Arga...,”
Arga tidak peduli pada Rachel ia bergegas mengajak Irfan pergi dengannya.
Rachel dan Feli tertegun saat Arga pergi dengan raut khawatir.
.
.
.
Di ruang kontrol cctv, Arga menanti dengan cemas hasil penelusuran Irfan dan petugas di ruang kontrol.
“Nona masuk ke lift di depan ballroom, lalu turun ke lantai dasar, menahan taksi di depan hotel,” Irfan menjelaskan setelah melihat rekaman cctv Nadira. Ia juga melihat rekaman cctv saat Nadira bersama Bram di dekat toilet. Irfan melihat di layar cctv, Bram yang tampak berusaha mendekati Nadira. Namun ia diam saja, tidak ingin memberitahukan yang sebenarnya kepada Arga.
“Di sini juga terlihat kalau nona Nadira tampak berbicara dengan seorang laki-laki di dekat toilet,” sahut petugas kontrol ruang cctv hotel.
Irfan melotot tajam padanya, seperti sedang memarahinya.
“Dengan siapa?” tanya Arga langsung.
“Maaf tuan, saya tidak tahu. Sepertinya saya salah lihat,” jawab petugas itu tampak gelagapan dan begitu ketakutan melihat Irfan yang menyorotnya tajam.
“Irfan, siapa laki-laki itu?” tanya Arga tampak tidak sabaran.
Irfan tak langsung menjawab, “saya juga tidak tahu, tuan,”
“Jangan berbohong padaku!” Arga memukul meja, “karena buta begini, kau pikir aku bodoh? Huh?”
Petugas itu begitu ketakutan melihat sang bos besar tampak murka.
“Maafkan saya tuan,” Irfan menundukkan kepalanya.
“Apa laki-laki itu adalah Bram?” tanya Arga. Firasatnya tidak salah.
“Iya tuan, itu Bram, dia seperti berusaha mendekati Nona Nadira, tapi nona segera pergi meninggalkannya,” Irfan menjelaskan. Wajah Bram tersorot jelas di cctv saat Bram hendak masuk kembali ke ballroom. Sementara Nadira terlihat jelas sedang menangis seorang diri dari cctv lift. Irfan tak ingin membocorkan kebenarannya lagi. Ia mewanti-wanti si petugas untuk menutup mulut rapat-rapat dan tidak berbicara saat tidak diminta.
“Cepat temukan Nadira! Aku tidak akan pulang ke rumah sebelum menemukannya!” Arga memberi perintah dengan tegas, “kerahkan semua orang terbaik untuk melacak keberadaannya. Dan segera pecat kedua bodyguard itu, mereka tidak becus menjaga dan mengawal Nadira!” Arga benar-benar meluapkan kemarahannya.
.
.
.
Nadira tiba-tiba mendengar bunyi bel di luar. Ia bisa menduga kalau Arga pasti mencarinya, karena ia pulang tidak bilang-bilang dan sengaja mematikan ponselnya. Nadira mengabaikan bunyi bel itu dan tidak bergeming di tempatnya.
Sementara di luar pintu, Arga, Irfan dan juga Herman, menunggu dengan cemas.
“Sepertinya tidak ada orang,” sahut Irfan setelah memencet bel di sebuah pintu apartemen.
“Aku yakin, Nadira pasti ada di dalam. Memangnya dia bisa ke mana selain bukan ke sini?” Herman sangat yakin. Ia pun begitu cemasnya.
Dari dalam, Nadira melangkah pelan mendekati pintu apartemennya, ia memasang telinga di daun pintu dan mendengarkan suara-suara di luar, di depan pintu apartemennya.
Irfan dan Herman bisa melihat jelas, Arga tampak cemas dan frustasi.
“Nak Arga, lebih baik kamu pulang dan istirahat, ini sudah larut malam,” Herman berujar saat melihat Arga bersandar lesu di tembok.
“Aku tidak akan pulang kalau tidak menemukan Nadira malam ini,” gumam Arga.
“Lagipula kita mau mencari ke mana? Aku sudah menelpon ke nomor temannya, Melani. Dia bilang juga Nadira tidak ke sana,”
Nadira mendengar semuanya dari dalam. Semua orang begitu mengkhawatirkannya, apa yang sudah kulakukan malam ini? Ia segera memutar kunci dan membuka pintu.
Semua menatap lega ke arahnya.
“Nadira, apa yang kamu lakukan di sini nak?” tanya Herman.
“Maaf, aku, sudah membuat kalian khawatir,” gumam Nadira sambil melirik ke arah Arga.
Arga segera mencarinya dan begitu menemukannya, ia segera memeluk Nadira. Saat itu Herman menyadari bagaimana besarnya rasa cinta Arga kepada Nadira.
.
.
.
Nadira sedang membuat secangkir coklat panas untuk Arga, sementara Arga sedang duduk menunggunya di sebuah sofa dengan televisi yang menyala. Begitu selesai, Nadira segera menghampiri Arga dan meletakkan coklat panas itu di depannya.
"Minumlah dulu," Nadira meraih tangan kanan Arga dan menuntunnya menemukan pegangan cangkirnya.
Arga meneguknya pelan, lalu Nadira mengambil cangkir itu dan menyimpannya kembali di atas meja.
"Kenapa kau menyuruh Irfan pulang? Kenapa tidak pulang bersamanya,"
"Kau sendiri juga tidak mau pulang," sahut Arga.
"Aku hanya ingin menenangkan pikiranku di sini sendirian, tapi...," Nadira menatap Arga.
"Kalau kau begitu tega mengusirku dari sini,"
"Bukan begitu, mommy pasti khawatir padamu,"
"Mommy tahu aku di sini bersamamu, dia tidak akan khawatir," Arga membantah dengan kesal.
Nadira diam dan menatap layar kaca di depannya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan acara televisi itu.
"Nad, apa kau begitu kepikiran karena malam ini tiba-tiba saja kau bertemu Bram?" Arga bertanya.
"Iya," jawabnya dingin. Padahal yang paling membuatnya kepikiran adalah karena Arga naik ke podium bersama Feli. Hatinya seperti terbakar melihat mereka.
"Nad, kumohon jangan begini lagi, aku sangat mengkhawatirkanmu," Arga memegangi kedua pipi Nadira dan seolah sedang menatapnya begitu dalam. "Aku sangat panik, aku sangat frustasi mencarimu dalam keadaanku yang seperti ini,"
Nadira bisa membaca sorot mata Arga yang tampak merana.
"Aku bahkan tidak bisa mencegah Bram yang datang menemuimu di toilet,"
"Tidak apa-apa Arga, aku sudah lebih baik. Maaf, aku sudah membuat kalian semua begitu khawatir," Nadira menurunkan kedua tangan Arga dari pipinya.
Nadira meraih remote di atas meja dan mematikan televisi. Lalu mengajak Arga segera ke kamarnya untuk beristirahat.
Nadira tidak bisa tidur, meski Arga kini sedang memeluknya dan tampak sudah tertidur.
"Nad, apa kau sudah tidur?" tanya Arga tiba-tiba, Nadira agak kaget, ia segera memejamkan kedua matanya dan berpura-pura seolah-olah ia sudah jatuh terlelap sejak tadi.
"Maafkan aku," bisik Arga lalu menciumi kening Nadira.