NADIRA

NADIRA
BERSAMA



“Kau bisa membantuku mempelajari semua dokumen ini?” Arga bertanya sambil menunjukkan tumpukan dokumen di atas meja kerjanya, setelah ia pulang ke rumah.


Nadira menatap takjub, dokumen-dokumen itu tebal sekali. Irfan sebenarnya sempat membantunya membaca dokumen itu saat di kantor, namun Arga meminta sisakan juga untuk Nadira biar di rumah nanti Nadira bisa membantunya.


“Kau keberatan ya?” tanya Arga, karena Nadira belum bersuara.


“Uhm, sama sekali tidak, aku senang kalau bisa membantumu,” Nadira membuka-buka dokumen itu. “Baiklah, kita mulai dari mana?” tanyanya antusias.


Hari-hari Nadira dan Arga banyak dihabiskan bersama. Sebagai gadis yang cerdas Nadira bisa membantu Arga dengan urusan kantornya, setelahnya ia juga rutin mengajari Arga membaca huruf braille.


Keduanya duduk melantai beralaskan karpet dengan sebuah meja belajar. Nadira menatap Arga yang tampak antusias mencoba membaca sebuah buku berhuruf timbul dengan menggerakkan jemari telunjuknya di setiap deretan huruf yang timbul di atas kertas.


“Wah, kau sudah lancar membacanya ya,” Nadira terdengar kegirangan sambil bertepuk tangan kecil.


“Kalau seperti itu harusnya kau memberiku hadiah,” Arga menyahut.


“Hadiah?”


“Tentu saja, tidak butuh waktu seminggu aku sudah bisa memahami dan juga membaca huruf ini. Bukankah setiap guru akan memberi hadiah kepada muridnya jika mereka berhasil. Kalau di sekolah, itu disebut nilai. Lalu untukku apa hadiah darimu?” Arga seolah menuntut.


Nadira diam sejenak, berpikir.


“Pokoknya harus ada hadiah untukku,” Arga bersikeras.


“Baiklah, tidak apakan kau menunggu sebentar di sini?”


Arga mengangguk.


“Baiklah, aku akan menyiapkan hadiah untukmu,” Nadira bergegas keluar dari kamar Arga.


Arga senyum-senyum sendiri. Nadira sudah banyak membawa perubahan dalam hidupnya, gadis itu selalu memberinya semangat, dan juga membantunya beradaptasi dengan dunianya yang gelap melalui belajar huruf braille. Sambil menunggu Nadira, Arga menghabiskan waktu melanjutkan bacaannya tadi.


.


.


.


“Nona, apa yang anda lakukan?” tanya bu Ruly kaget saat mendapati Nadira di dapur sedang memakai celemek dan di kelilingi beberapa pelayan yang memintanya agar meninggalkan dapur, karena sebagai istri tuan Arga tidak sepantasnya ia menginjakkan kakinya di dapur.


“Oh, hai bu Ruly. Aku ingin bertanya apa anda tahu makanan kesukaan Arga?” Nadira menghampiri bu Ruly dan bertanya antusias.


“Tuan Arga sangat suka makan nasi goreng, nona. Ada apa? Apa nona ingin memasak untuk tuan Arga?”


Nadira manggut-manggut sambil menyiapkan peralatan memasak.


“Nona tidak perlu repot, biar saya yang menyiapkan jika tuan Arga ingin makan nasi goreng,” bu Ruly mendekat.


“Tidak apa-apa bu Ruly. Arga meminta hadiah dariku karena bisa membaca huruf braille dengan baik, jadi aku akan memasakkan sendiri nasi goreng untuknya,”


Bu Ruly tersenyum senang, “baiklah nona, sepertinya sekarang tuan Arga ingin mencicipi masakan istrinya sendiri,” bu Ruly tampak menggoda.


Nadira berusaha menutupi rasa malunya. Bu Ruly segera meninggalkan Nadira sendirian di dapur sambil memanggil pelayan-pelayan tadi ikut bersamanya, agar Nadira lebih leluasa bereksperimen di dapur.


.


.


.


“Aku sudah bawa hadiah untukmu,” Nadira menurunkan buku-buku bacaan Arga ke lantai lalu menghidangkan sepiring nasi goreng dan segelas es teh manis di depan Arga.


“Apa yang kau bawa?” tanya Arga.


“Nasi goreng spesial dan es teh manis,” jawab Nadira.


“Spesial untukku?” tanya Arga.


“Tentu saja. Kubuat spesial untukmu karena kau yang memintanya,” Nadira pun membantu Arga menemukan sendok dan garpunya lalu menatap senang lelaki itu yang sedang menikmati nasi goreng spesial, hadiah darinya.


“Nad, belakangan ini kau sering di rumah, aku pikir kau cukup sibuk sebagai dokter di UGD,” Arga bertanya di sela makannya.


“Aku sudah berhenti bekerja di UGD,” jawab Nadira.


“Kau benar-benar berhenti?” Arga tampak terkejut.


“Bukankah kau yang memintaku untuk berhenti dan fokus mengurusmu?”


“Sejak kapan kau berhenti?”


“Belum lama ini. Kurang lebih seminggu yang lalu,” jawab Nadira. “Tidak apa-apa. Pengorbananku tidak sia-sia, sekarang kau sudah jadi Arga yang penuh semangat dan melahap begitu banyak buku bacaan huruf braille,” Nadira tersenyum senang.


“Nad, terima kasih ya sudah jadi teman yang baik untukku,”


Senyum Nadira perlahan memudar begitu Arga mengucapkan kata teman. Kebersamaan mereka hanya sebatas teman saja.


.


.


.


Rachel dan Rasty sampai di lantai dua setelah menaiki anak tangga. Setelah dinyatakan sembuh oleh Nadira, Rasty segera mengajak ibunya di hari minggu ini dengan berjalan-jalan dan berbelanja kebutuhannya di mall yang akan dibawanya nanti untuk kuliah di Amerika. Keduanya tampak menenteng beberapa paper bag di tangan masing-masing.


Rachel menatap penasaran ke arah pintu kamar Arga yang tidak tertutup rapat. Kedua wanita itu mendekat lalu mengintip ke dalam dari balik pintu yang terbuka sedikit.


Rachel dan Rasty melihat Arga sedang asyik melahap buku bacaan huruf braille-nya. Ia sendiri tidak tahu kalau Nadira sudah terlelap di depannya sambil melipat kedua tangannya di atas meja dan meletakkan kepalanya di atas kedua tangannya yang terlipat.


“Mom, sepertinya kakak ipar berhasil mengubah kak Arga jadi lebih bahagia dengan hidupnya sekarang,” Rasty berbisik dengan raut bahagia. Penilaian Rasty kepada Nadira sudah berubah, sejak menyadari bagaimana Nadira penuh perhatian merawat ibunya dan juga kepada Arga.


Rachel diam saja, matanya tak lepas mengawasi Arga dan juga Nadira.


“Nad? Nadira,” panggil Arga, merasa suasana tiba-tiba saja terasa sunyi, sebab ia tahu Nadira bukan wanita yang cerewet juga bukan tipe wanita yang terlalu pendiam.


Tidak ada suara sahutan.


Arga meraba meja, lalu merasakan puncak kepala Nadira yang sedang terlelap.


“Kau tidur ya,” ucap Arga pelan. Ia tersenyum lalu mengelus pelan kepala Nadira sambil bergumam, “terima kasih, kau sudah bekerja keras dan melakukannya dengan baik untukku,”


Saat itu rasa penasarannya tentang seperti apa wajah Nadira tiba-tiba memenuhi pikirannya. Dengan sangat pelan, Arga menyusuri wajah Nadira melalui sentuhan tangannya. Jidadnya, alis, bulu mata, cuping hidung, pipi, lalu bibir, saat Arga menyentuh salah satu bagian tubuh Nadira yang sensitif, gadis itu membuka matanya dan menatap terkejut apa yang sedang dilakukan Arga. Arga tidak tahu kalau Nadira jadi terbangun karena tindakannya.


Arga berhenti dan menarik tangannya dengan perasaan kecewa. Sungguh ia betul-betul penasaran seperti apa gadis di hadapannya ini, gadis yang telah ia nikahi, tiba-tiba ia merasa begitu menyedihkan menjadi orang buta.


Nadira menegakkan kepalanya dan menatap lurus ke arah Arga, mengamati raut lelaki itu penuh rasa penasaran. Nadira senyum-senyum sendiri, seperti orang yang sedang jatuh cinta. Mungkin ia cukup bahagia mendapati Arga yang tadi sedang menyusuri wajahnya.


Rasty akhirnya mengerti seperti apa perasaan Nadira dan Arga, ia tersenyum lalu melirik ke arah Rachel yang menatap tak senang ke arah anak dan menantunya di dalam.