
Nadira sudah bisa membayangkan bagaimana senang dan bahagianya Rachel saat ia memberi tahu ketika makan malam bersama bahwa Dokter Aslan sudah menemukan pendonor kornea mata bagi Arga. Apalagi Arga dia juga tidak bisa membendung rasa senangnya mendengar kabar baik yang dibawa oleh Nadira.
“Mulai besok sampai operasi transplantasi kornea mata dilaksanakan, kamu tidak perlu bekerja dulu sayang. Tinggallah di rumah untuk beristirahat,” sahut Rachel masih begitu bahagia.
“Tapi mom...,”
“Jangan membantah apa yang mommy katakan,” Rachel memotong kalimat Arga, “Kamu tidak perlu memikirkan pekerjaan. Serahkan saja semuanya pada Wira selama beberapa waktu sampai kamu pulih kembali dan bisa melihat lagi sayang. Lagipula masih ada mommy dan juga Irfan yang akan mengurusi Rajasa Group,”
“Mommy benar! Aku akan menemanimu untuk kontrol ke dokter Aslan,” Nadira menyahut, setuju dengan Rachel.
Rachel mengangguk dan menatap senang ke arah Nadira.
“Mommy juga tidak sabar, mengabarkan ini kepada Rasty, dia pasti juga senang sekali,”
Arga akhirnya menurut dengan semua titah dari ibunya yang didukung penuh oleh Nadira.
Setelah makan malam, Nadira mengantarkan Arga kembali ke kamarnya. Perasaan gundah yang dirasakan keduanya selama beberapa waktu lalu, perlahan terlupakan dengan kabar donor kornea mata bagi Arga.
“Apa kau sangat bahagia dengan kabar ini?” tanya Nadira saat mereka sudah sampai di kamar.
Arga tersenyum, rautnya memancarkan kebahagiaan dan harapan. Meski tidak bertanya, sebenarnya raut muka Arga sudah cukup untuk menjawab pertanyaan nya tadi.
“Apa aku harus terang-terangan mengakuinya padamu di sini, kalau aku sangat bahagia,”
“Iya, aku juga sangat bahagia, sebentar lagi kau akan bisa melihat kembali,”
“Tapi, apa semua akan berjalan lancar?”
“Kenapa harus ada pertanyaan seperti itu terlintas dibenakmu?” Nadira terdengar menyesali, “kau harus optimis Arga. Kau bisa dengar jelaskan tadi bagaimana senangnya mommy saat mendengar kabar bahagia ini. Aku sudah tidak bisa membayangkan bagaimana bahagianya saat transplantasi kornea matamu berhasil lalu kamu bisa melihat setiap senyuman ibumu yang begitu sayang dan cinta kepadamu,”
Arga tertegun, ia seakan tak menyangka dalam waktu dekat ini ia akan melihat dunia kembali dan yang pasti ia akan segera tahu seperti apa wajah Nadira.
“Kalau begitu istirahatlah,” ucap Nadira kemudian hendak beranjak pergi dari sisi Arga.
“Kalau aku bisa melihat kembali, apa kau akan tetap di sini?” tanya Arga tiba-tiba.
Nadira pun diam di tempatnya. Pertanyaan Arga begitu sulit untuk ia jawab.
“Kenapa kau tidak menjawab?” tanya Arga saat menyadari Nadira yang hanya diam saja di dekatnya.
Nadira menatap kedua mata coklat Arga yang menyorot kosong kepadanya.
“Kalau kau bisa melihat, semua akan kembali normal, Arga. Termasuk kehidupanku sebelum mengenalmu dan terpaksa menjadi istrimu,” jawab Nadira, perasaannya yang gundah kembali muncul. Bagaimana pun ia harus memegang teguh janjinya kepada Rachel untuk tidak masuk ke dalam hatinya Arga, dan memegang teguh kesepakatan mereka di kontrak pernikahan.
“Jadi kau sungguh terpaksa menjadi istriku?”
“Arga, kau tahu kan, aku menikah denganmu untuk menyelamatkan kehormatan keluargamu setelah Niken pergi,”
Arga tersenyum getir, “Jadi sekarang kau menganggap dirimu adalah tumbal, karena terpaksa menikahiku karena perbuatan Niken?”
Nadira menghela nafas, ia berusaha tenang, “Arga, aku tidak bisa berdebat denganmu malam. Sebaiknya kamu cepat beristirahat, apapun yang terjadi nanti saat kamu bisa melihat kembali, itu adalah yang terbaik. Aku ingin kamu tetap fokus sampai hari operasi transplantasi kornea matamu,”
“Kalau begitu, berjanjilah satu hal padaku kalau aku bisa melihat kembali,” ucap Arga kemudian.
Nadira duduk menunggu, berharap Arga tidak memintanya berjanji macam-macam apalagi berjanji yang berat-berat, karena baginya tidak mungkin untuk tetap bersama lelaki itu setelah kedua matanya bisa melihat kembali.
“Apapun yang terjadi di antara kita setelah aku bisa melihat kembali kau harus bisa meluangkan waktumu sehari denganku untuk menonton pertunjukan angklung,”
“Pertunjukan angklung?” ulang Nadira. Ia tak menyangka Arga memintanya menemani menonton pertunjukan angklung.
“Kenapa? Apa permintaanku berat bagimu?”
“Baiklah, nanti aku akan menemanimu menonton pertunjukan angklung saat kau bisa melihat lagi,” Nadira berjanji, menyanggupi diri kalau suatu hari nanti akan memenuhi janjinya pada Arga setelah lelaki itu bisa melihat kembali.
“Kau harus menepati janjimu! Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau tidak menepatinya nanti,” ujar Arga dengan tegas dengan sorot mengancam.
“Iya, iya, istirahatlah!” Nadira mengiyakan saja agar bisa segera pergi dari kamar Arga, ia takut kalau masih di situ Arga akan memintanya berjanji yang macam-macam lagi.
Nadira pun bergegas pergi dari kamar Arga setelah mengucapkan selamat malam dan mematikan lampu kamar.
Dokter Aslan memeriksa dengan detail kedua mata Arga saat Nadira membawanya check up langsung sesuai waktu yang dijanjikan olehnya.
“Pemeriksaan fisik semuanya bagus,” ujar dokter Aslan sambil membuka-buka dan membaca lembaran kertas di atas mejanya hasil pemeriksaan Arga.
“Jadi kapan dokter akan segera menjadwalkan operasi transplantasinya?” tanya Nadira antusias yang duduk berdampingan dengan Arga di hadapan dokter Aslan di ruangannya.
“Bagaimana kalau lima hari lagi?” tanya Dokter Aslan menatap bergantian pada Arga dan Nadira.
“Secepat itu dok?” tanya Arga.
“Bukankah lebih cepat, lebih baik?” Dokter Aslan balik bertanya sambil mengulum senyum.
“Tentu saja dok, lebih cepat lebih baik, iya kan, Ga?” sahut Nadira senang sambil melirik Arga dan refleks memegang sebelah tangan Arga. Saat menyadari tindakannya yang di luar kendali, Nadira buru-buru melepas dan menarik tangannya. “Ma-maaf,” gumamnya tampak malu-malu di depan Dokter Aslan yang memergoki langsung tangannya yang memegangi tangan Arga saking merasa senangnya.
“Tidak usah malu-malu begitu dokter Nadira. Aku begitu memahami kebahagiaanmu dan juga Arga,”
“Sekali lagi terima kasih ya dokter,” Nadira menjabat tangan dokter Aslan sebelum keluar dari ruangannya bersama Arga.
Begitu keluar, keduanya bertemu dokter Mirza yang sepertinya memang sengaja menemui Nadira dan juga Arga.
“Apa kabar Arga?” sapa Mirza kepada Arga.
Arga mengernyitkan dahi, berusaha mengingat suara dokter Mirza.
“Arga, ini dokter Mirza. Dokter anak di rumah sakit ini. Dia juga hadir saat pernikahan kita,” Nadira menjelaskan.
Tentu saja Arga ingat betul bagaimana antusiasnya Nadira saat menyapa dokter Mirza ketika menghadiri pernikahannya.
“Senang berjumpa denganmu,” sapa Arga kembali.
“Hai Chita, sudah dibolehkan jalan-jalan sama dokter Mirza ya?” sapa Nadira penuh keramahan pada seorang gadis kecil yang sedang digandeng oleh Mirza. Anak tujuh tahun itu adalah salah seorang pasien Mirza yang rawat inap di rumah sakit karena sakit demam berdarah.
“Aku sudah mau pulang tante dokter,” sahut suara polos Chita kepada Nadira.
“Alhamdulillah, selamat ya sayang sudah sembuh,”
Chita mengangguk.
“Anak ini menagih janjiku untuk memberinya coklat kalau dia sudah sembuh,” Mirza menjelaskan.
“Kau memang harus menepatinya dok, janji memberi coklat bukan sekedar motivasi untuk sembuh, anak kecil itu punya ingatan yang kuat,”
“Tante dokter bukan istri om dokter kan?” tanya Chita tiba-tiba.
Mirza dan Nadira saling berpandangan kaget, anak sekecil itu bisa bertanya demikian. Belum lagi Arga yang sudah sama kagetnya.
“Chita, nak, tante dokter ini adalah teman om. Bukan istri, om ini suaminya tante dokter,” jelas Mirza sambil menunjuk ke arah Arga yang berdiri di samping Nadira.
Chita tersenyum, “Syukurlah om dokter belum punya istri, jadi tidak ada yang marah kalau Chita pegang-pegang terus tangan om dokter,” ucapnya polos.
Mirza hanya tersenyum sambil menggeleng pelan. Mirza segera pamit pada Arga dan Nadira sambil membawa Chita ke sebuah minimarket untuk dibelikan coklat, sesuai janjinya.
Arga bisa mendengar tawa kecil Nadira melihat tingkah pasien kecil Mirza yang tertarik pada dokternya. Semua di rumah sakit sudah mengenal Mirza sebagai seorang dokter anak yang ramah, setiap anak yang jadi pasiennya akan jatuh hati padanya, karena Mirza pandai mengambil hati anak-anak.
“Maaf, kau merasa diabaikan ya?” Nadira menggamit lengan Arga dan menuntunnya menyusuri koridor rumah sakit.
“Apa itu lucu bagimu?” tanya Arga tampak tak suka.
“Memangnya kenapa? Anak itu begitu lucu dan polos,”
“Aku heran anak kecil zaman sekarang, sudah cukup mengerti hubungan laki-laki dan perempuan dewasa. Bisa-bisanya dia menuduhmu istrinya,”
Nadira hanya tersenyum mendengar ocehan Arga. Namun jauh di dalam hati Arga ia sudah berpikir kalau dari gelagat suaranya, Nadira kagum pada dokter anak itu.