NADIRA

NADIRA
MENJAGA PERASAAN



Bu Ruly mengetuk beberapa kali pintu kamar Arga lalu kemudian membukanya dan masuk.


“Selamat malam tuan, mari saya antar anda untuk makan malam,” ujar bu Ruly sopan beberapa langkah tak jauh dari tempat Arga sedang duduk di kamarnya.


“Kenapa bu Ruly? Mana Nadira?”


“Nona sedang bekerja di rumah sakit, tuan,” jawab Bu Ruly.


“Apa?” Arga terkejut.


“Nona Nadira tidak memberi tahu tuan ya, kalau dia memutuskan untuk kembali bekerja di rumah sakit?” tanya bu Ruly heran.


Arga tertegun, diam. Juga tidak habis pikir, kenapa Nadira tidak memberi tahunya kalau kembali bekerja di rumah sakit. Padahal kalau Nadira memberi tahunya dia tidak akan keberatan untuk memberi izin. Jauh-jauh hari Arga juga sudah merencanakan untuk berbicara langsung dengan Nadira untuk memintanya kembali bekerja di rumah sakit, melaksanakan tugas mulianya sebagai dokter.


Nadira sedang berkumpul dengan beberapa dokter yang bertugas jaga dengannya malam ini dan juga beberapa orang perawat. Mereka duduk-duduk di sebuah meja besar yang di kelilingi beberapa buah kursi. Lokasi mereka di luar ruangan tempat pasien gawat darurat sedang dievakuasi.


“Kita-kita senang loh dokter Nadira kembali ke rumah sakit ini,” sahut dokter Alam, salah satu rekan kerja Nadira.


“Ternyata aku begitu dirindukan ya,” balas Nadira sambil terkekeh pelan.


“Ada beberapa pasien yang sempat mencari anda dok,” sahut salah seorang perawat kepada Nadira.


“Oh ya? Kenapa mencariku?” tanya Nadira penasaran.


“Dokter masih ingat, pasien remaja laki-laki yang mau bunuh diri dengan minum oli?” tanya perawat itu.


“Jadi dia yang mencariku,”


“Dia ingin mengucapkan terima kasih karena telah berupaya menyelamatkan hidupnya. Dan anak itu sepertinya naksir sama dokter, dia sangat antusias bertanya alamat rumah dokter di mana, kenapa dokter berhenti bekerja waktu itu, dan dia juga tampak shock saat kuberitahu kalau dokter ini sudah menikah dan punya suami,”


“Oh ya?” Nadira terkekeh lagi.


“Mana mungkinlah anak ingusan itu naksir sama dokter Nadira. Mungkin dia berniat menjodohkan dokter Nadira dengan kakaknya kah, om nya kah atau bapaknya,” dokter Alam tertawa.


“Nah, itu baru teori yang benar dokter,” sahut Nadira sambil tersenyum geli.


“Tapi dokter Nadira ini cantik, wajahnya juga mungkin kelihatan seperti anak SMA, jadi bocah itu tertarik padanya. Ada banyak kasus di luaran sana, lelaki brondong lebih menyukai wanita yang lebih tua. Kalau di Korea si dongsaeng (adik) suka sama nuna (kakak perempuan) nya,” balas si perawat yang dikenal memang suka nonton drama korea.


“Mungkin aku punya pesona seperti Dayang Sumbi,” Nadira menambahkan.


Semua pun tertawa. Benar-benar ini yang dicari Nadira, kehidupannya yang dulu. Kembali bekerja memang bisa membuatnya lupa walau sejenak, segala hal yang ingin dilenyapkannya pelan-pelan, perasaannya.


“Permisi dokter Nadira, suami anda datang mencari,” sahut salah seorang perawat yang baru datang.


Nadira menghentikan tawanya. Ia segera bergegas pergi masuk ke ruang UGD dan melihat Arga dan Irfan sedang duduk berdampingan di kursi tunggu.


Irfan segera berdiri menyambut Nadira yang datang menghampiri, Arga pun ikut berdiri saat menyadari Irfan yang berdiri dan menyapa hormat pada Nadira.


“Arga, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Nadira kaget sambil melirik kepada Irfan.


“Mencarimu, bodoh!” Arga tampak kesal.


“Hei, pelankan suaramu. Ini UGD,” Nadira menyahut pelan, lalu menarik tangan Arga dan membawanya keluar UGD, Irfan menyusul mereka di belakang.


“Ada apa mencariku? Sampai keluar malam-malam begini,” tanya Nadira tampak khawatir.


“Kau ini memang bodoh atau sengaja ingin membuatku kesal, huh?”


Nadira menarik nafas, agar tidak terpancing emosi melihat mood Arga yang kurang baik malam ini.


“Apa kau sudah makan?” Nadira bertanya iseng, ia juga berpikir mungkin saja Arga jadi kurang mood karena sedang lapar.


“Aku belum makan!”


Nadira menyuapi pelan-pelan sepiring gado-gado yang dipesannya untuk Arga, setelah mengajaknya untuk makan malam di kantin rumah sakit. Suasana kantin tidak begitu ramai, juga tidak lengang. Nadira sesekali mengawasi Irfan yang duduk menyendiri di luar kantin dengan segelas kopi dan juga sibuk memainkan tabnya. Nadira berpikir, setiap ia bertemu sekretaris pribadi Arga yang sudah dianggap seperti keluarga itu begitu sibuk sepanjang waktu dengan urusan pekerjaan. Atau gayanya itu hanya sekedar pencitraan? Pikirnya.


Arga menyisakan sedikit sisa gado-gadonya. Setelah memberinya gelas teh hangat, Nadira memutuskan untuk menghabiskan sisa gado-gado milik Arga, daripada mubazir pikirnya, soalnya gado-gado itu dia yang pesan dan bayar.


“Apa kau juga belum makan? Kenapa tidak pesan dua porsi tadi?” tanya Arga saat mendengar suara pelan mulut Nadira yang sedang mengunyah, apalagi ketika ia memasukkan kerupuk ke mulutnya.


“Aku sudah makan. Kau menyisakan sedikit, jadi kuhabiskan saja daripada mubazir, orang tuaku mengajariku sejak kecil tidak boleh menyisakan makanan apalagi sampai dibuang,” jawab Nadira yang masih asyik mengunyah sambil menjawab pertanyaan Arga.


Arga tersenyum samar, kenapa hatinya merasa senang saat tahu Nadira memakan sisa makanannya. Gadis itu tanpa ragu makan dari sendok bekas bibirnya.


“Ini juga jangan lupa minum sehabis makan,” Arga menyorongkan gelas teh hangatnya. “Aku juga menyisakannya, tidak ingin meminumnya lagi. Jadi kau habiskan juga ya,” ujarnya penuh semangat.


Nadira mengangguk sambil mengunyah makanannya.


Arga tersenyum sambil mengelus kepala Nadira. Nadira melirik Arga, lelaki itu tampak begitu senang, padahal tadi moodnya sedang tidak bagus, tiba-tiba saja datang ke UGD dan memarahinya.


“Sebenarnya ada apa, kenapa kau sampai datang ke sini malam-malam?” tanya Nadira setelah selesai menghabiskan semua sisa makanan dan minuman Arga.


“Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya kalau kau kembali bekerja di rumah sakit?” tanya Arga dengan nada kecewa.


“Apa kau keberatan, aku kembali bekerja di sini?”


“Aku tidak keberatan. Aku sangat kecewa dan marah padamu karena kau tidak memberitahuku tentang keputusanmu ini. Kau membuatku seperti orang bodoh di rumah, karena mencarimu,”


“Aku...aku berpikir akhir-akhir ini kau cukup sibuk bersama Irfan. Jadi aku tidak memberitahumu,” jawab Nadira, meski yang sebenarnya dia berpikir tidak perlu memberitahu Arga tentang keputusannya untuk kembali bekerja di UGD Rumah Sakit.


“Aku merasa kau tidak menghargai aku sebagai suamimu," Arga merasa semakin kecewa setelah mendengar jawaban dan penjelasan Nadira.


“Arga, apa kau masih ingat tujuan kita menikah? Kita memang sah sebagai suami istri secara hukum dan agama, tapi pada kenyataannya kita hanya dua orang yang sama terpaksa menjalani pernikahan ini demi mommy. Lagipula bagaimana kita saling bersikap semua sudah diatur dalam kontrak yang telah kita sepakati dan tanda tangani,”


“Masa bodoh dengan kontrak pernikahan. Itu hanya sekedar hitam di atas putih lalu ditandatangani dengan selembar materai. Tapi kita tetap sah sebagai suami istri, Nad,”


“Arga, aku menuntut kebebasanku suatu hari nanti seperti yang dijanjikan ibumu padaku,”


Arga tertegun mendengar kata-kata Nadira barusan. Gadis itu sebenarnya merasa tidak tega mengatakan semua itu.


“Ingatlah, kita akan bercerai nanti saat waktunya sudah tepat. Jadi dari sekarang kau dan aku harus saling menjaga perasaan,” Nadira menambahkan.


Arga masih memilih diam.


“Kita harus saling menjaga diri dan perasaan masing-masing. Suatu hari aku akan bertemu dengan laki-laki yang tepat,”


“Tentu saja. Yang tepat dan lebih baik daripada aku yang buta, pemarah, kasar dan sering mengataimu bodoh,” Arga menambahkan dengan sorot yang tajam.


Kini Nadira yang tertegun.


“Kau juga akan bertemu dengan perempuan yang tepat dan lebih baik. Yang akan kau cintai sepenuh hati. Bukan perempuan yang dengan pasrah dan terpaksa harus kau nikahi karena keadaan,” Nadira menambahkan.


Arga tersenyum sinis, “hanya perempuan bodoh yang mau dengan laki-laki buta,”


Nadira menatap tak tega kepada Arga.


“Terima kasih karena kau sudah mengingatkan aku tentang bagaimana pernikahan kita seharusnya,” Arga berujar sambil menahan gejolak di dadanya.


Lalu keheningan antara keduanya terjadi. Yang terdengar hanya lalu lalang orang-orang yang datang dan meninggalkan kantin setelah selesai makan.


Saat Irfan mengarahkan pandangannya ke dalam kantin, ia melihat Nadira seperti memanggilnya datang dengan lambaian tangan.


“Arga, Irfan, maaf aku tidak bisa berlama-lama dengan kalian di sini. Aku sedang bertugas jaga di UGD. Arga, kamu harus segera pulang dan beristirahat,” Nadira berujar seolah tidak terjadi sesuatu tadi antara dirinya dan juga Arga, ketika Irfan datang menghampiri keduanya.


Arga bangkit berdiri lalu memanggil Irfan. Tanpa berpamitan kepada Nadira, Arga pergi begitu saja dengan dituntun Irfan.


Nadira bersandar lemas di kursi, menatap kepergian Arga dan Irfan dengan hati yang gundah gulana. Nadira menitikkan air matanya sambil bergumam, “maafkan aku, Arga.”