
Setelah pernyataan cinta mereka, Nadira terus tersipu malu setelah ciuman bertubi-tubi yang diberikan Arga ke bibirnya. Ini pertama kalinya Nadira melihat Arga terus tersenyum, senyuman yang mewakili seluruh perasaannya. Nadira lalu mengajaknya duduk di sofa.
Arga tak mau melepaskan tangannya. Nadira seakan takjub melihat senyuman bahagia di bibir lelaki itu.
“Kau adalah wanita bodoh yang kucintai,”
“Kau tahu, aku selalu mendapatkan rangking di sekolah. Kau satu-satunya orang di dunia ini yang memanggilku bodoh,”
“Jadi selama ini kau marah aku sering memanggilmu bodoh?”
“Kenapa kau tidak memanggilku sayang? Bukankah kau baru saja menyatakan cintamu,”
“Aku tidak akan memanggilmu sayang!” Arga menggeleng.
Nadira merengut, “ya sudah, panggil saja aku bodoh, sepuas hatimu,”
“Aku akan memanggilmu sayangku,” jelas Arga, menanti reaksi gadis itu.
Bibir Nadira lalu menyunggingkan senyum, Arga ternyata begitu romantis.
“Sayangku kau mulai lagi diam dan tidak menyahutku,”
Nadira segera mendaratkan sebuah kecupan mesra di pipi Arga, “Aku setuju, sayangku,” ucapnya malu-malu.
Arga kembali tersenyum, begitu bahagia. Seandainya hatinya memiliki sayap, sudah dari tadi hatinya terbang melambung tinggi.
“Arga, setelah ini bagaimana kita akan berbicara dengan mommy?” tanya Nadira yang tampak cemas, membayangkan dalam benaknya bagaimana raut muka Rachel begitu mengetahui kalau ia telah melanggar janjinya untuk tidak masuk ke dalam hatinya Arga.
“Apa kau takut pada mommy?” tanya Arga sambil menggenggam erat tangan Nadira.
“Apa dia akan marah?” Nadira bertanya lagi, keraguan mulai muncul di hatinya.
“Kenapa dia harus marah? Kita kan tidak salah jika bilang padanya kalau kita saling mencintai, karena kita sudah menikah,” Arga berujar tenang.
“Tapi, bagaimana dengan kontrak pernikahan?”
“Apa memenuhi kontrak pernikahan lebih penting daripada perasaan kita?” Arga memegangi pipi Nadira seolah sedang menatap gadis itu. “Kau harus yakin Nad. Aku tidak mau kau menyerah setelah memikirkan mommy,”
Nadira mengangguk sambil berusaha menepis segala rasa khawatirnya tentang Rachel.
“Setelah dari sini, kita akan segera bertemu dan mengatakan yang sejujurnya pada mommy,” Arga kembali tersenyum menenangkan. Senyuman yang tak pernah bosan dilihat Nadira.
Saat itu terdengar bunyi ketukan pintu dari luar. Nadira segera menoleh ke arah pintu, Arga menurunkan tangannya. Pintu terbuka dan Irfan segera masuk sambil membawa beberapa dokumen di tangannya.
Ia langsung salah tingkah begitu melihat Arga dan Nadira yang sedang duduk berdampingan di sofa. Apalagi begitu melihat rona merah di wajah Nadira dan juga raut wajah Arga yang tidak seperti biasanya, luar biasa bahagia. Irfan akhirnya melihat kembali raut wajah bahagia itu, terakhir ia melihatnya ketika Arga dan Niken baru saja resmi bertunangan.
Tuan muda, bunga di hatimu akhirnya bermekaran kembali. Irfan melangkah mendekat sambil senyum-senyum sendiri, turut merasakan kebahagiaan tuannya. Nadira yang melihatnya jadi bergidik, Irfan yang biasanya berwajah datar dan tenang tiba-tiba jadi senyum-senyum sendiri, di luar dari perilaku normalnya.
“Ada apa Irfan?” Arga bisa menebak kedatangan Irfan, karena ia sudah cukup hafal bunyi ketukan pintu Irfan sebelum masuk ke ruangannya. Pertanyaan Arga seperti mengatakan kalau ia cukup terganggu dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
“Maaf kalau saya mengganggu tuan, ada beberapa berkas yang perlu anda pelajari dan juga ditandatangani,” jawabnya sambil menunduk hormat.
“Simpan saja di mejaku, aku akan memanggilmu sebentar,”
“Baik tuan,” Irfan segera meletakkan berkas-berkas itu di atas meja kerja Arga kemudian segera keluar ruangan.
Arga kemudian mendekap Nadira sambil mengelus lembut pipinya.
“Aduh, kau benar-benar tergila-gila padaku ya. Dari tadi kau menciumku, terus memegangi tanganku dan sekarang kau memelukku,” sahut Nadira saat menyandarkan kepalanya tepat di dada Arga.
Arga sumringah. “Anggap saja kita pengantin baru sejak hari ini, meski kita sudah lama menikah, tapi aku tidak pernah memperlakukanmu seperti ini,”
Nadira balas melingkarkan lengannya di tubuh Arga begitu erat.
“Tapi kau harus ingat sayangku, sekarang kita tidak di kamar, tapi di ruang kerjamu. Irfan bisa saja tiba-tiba masuk ke sini dan mendapati kita seperti ini,”
“Masa bodoh dengan Irfan, meski dia melihat wanita bugil sekalipun, dia tidak akan bereaksi macam-macam. Aku akui, dia itu sangat pandai mengendalikan dirinya dalam situasi apa pun,”
Nadira manggut-manggut, Arga benar. Dulu saat Arga marah-marah tidak karuan sampai membanting barang-barang, Irfan tetap tenang menghadapinya.
“Iya kau benar. Sepertinya kau harus belajar banyak darinya,”
“Kau berbanding terbalik dengannya. Kau tidak pandai mengendalikan dirimu, lihat saja kebiasaanmu ketika begitu marah semua benda-benda di sekitarmu jadi pelampiasan,” Nadira mengingat-ingat semua tindakan Arga ketika marah.
“Bisanya kau membandingkan aku dengan Irfan,” Arga tidak terima, “kenapa sekarang malah membahas Irfan, sih. Bukankah hari ini hari bahagia kita,”
Nadira tersenyum, “emosimu benar-benar seperti perempuan,” meledeknya.
“Berhenti menyebutku perempuan. Aku tidak akan melepaskanmu kali ini,” Arga kemudian menggelitik Nadira, hingga gadis itu tertawa-tawa dan berubah posisi berbaring di atas sofa dengan Arga di atas tubuhnya.
Arga mendengar tawa Nadira begitu renyah. Arga terdiam sesaat dengan sorot mata yang memaksa di depan wajah Nadira.
“Ada apa Arga?” Nadira menghentikan tawanya.
Arga menghembuskan nafas tepat di depan wajah Nadira.
“Sayang sekali, aku, tidak bisa melihat wajahmu,” Arga tampak kecewa lalu mengubah posisinya duduk bersandar. “Benar-benar malang,” gumamnya.
Nadira segera bangun dan duduk di samping Arga.
“Arga, suatu hari nanti kamu pasti bisa melihat kembali,” ucap Nadira ketika Arga mulai merasa sedih mengingat kondisinya.
“Kapan Nad? Kadang aku bisa menerima semua ini, tapi kadang aku merasa semua ini begitu menakutkan, gelap di mana-mana,” Arga mengungkapkan perasaannya.
Nadira menatapnya penuh simpati. Ia meraih kedua tangan Arga lalu menempelkannya di pipinya.
“Sekarang kau bisa terus-terus melukis wajahku, saat kau merasa penasaran seperti apa aku,”
Arga tersenyum lalu menyusuri wajah Nadira dengan jemarinya.
“Kata Rasty, kau cantik. Sepertinya dia memang tidak berbohong,” ucap Arga tersenyum senang.
Nadira tersenyum malu.
“Kalau misalnya aku tidak punya kesempatan untuk bisa melihat lagi, apa kau akan mencari lelaki lain?” tanya Arga tiba-tiba.
“Kalaupun harus begitu, aku pasti akan mencari laki-laki yang mirip denganmu. Wajah, sifat, karakter, tidak mesti sama, tapi yang penting mirip,”
Arga menurunkan tangannya, raut mukanya seperti ditekuk.
“Apa maksudmu mencari yang mirip denganku. Milyaran manusia di muka bumi ini apa kau pikir akan bisa saling mirip-mirip begitu,” Arga terdengar sewot.
Nadira tersenyum geli.
“Ah kau ini payah, masa tidak mengerti dengan maksudku. Kau benar, setiap manusia itu punya keunikan masing-masing,” Nadira menimpali.
“Lalu kenapa kau berkata seperti itu?”
“Masa sih kau tidak mengerti, maksudku aku tidak akan berpaling bagaimana pun kondisimu, aku hanya bisa melihat kepadamu, Arga. Dulu setelah ijab qabul dan kau selesai memasangkan cincin di jari manisku, aku sempat berpikir, rasanya aku ingin bersamamu selamanya,” Nadira mengakui.
Arga tampak terharu. “Aku juga ingin bersamamu selamanya,” ucapnya bersungguh-sungguh.
“Iya sayangku, aku akan selalu mendampingimu bagaimana pun kondisimu,”
Arga kembali mendekapnya penuh rasa cinta. Ia seakan tak ragu untuk mempercayakan hatinya kedua kalinya. Meski sebelumnya Niken telah mengkhianatinya, tapi Arga tak pernah ragu sedikitpun memberikan seluruh hatinya kepada Nadira, istrinya sendiri.
“Apa kau ingin bolos kerja hari ini? Tadi kau baru saja menunda pekerjaanmu,”
“Baiklah sayangku aku akan segera memanggil Irfan,” Arga melepas pelukannya. “Kau akan menemaniku bekerja kan?”
“Tentu, aku akan menemanimu seharian di sini. Selama ini aku cukup penasaran bagaimana pekerjaan suamiku di kantor,”
Arga tersipu ketika Nadira menyebutnya suamiku.
Irfan yang duduk di meja kerjanya di depan ruangan Arga, mengawasi suara-suara dari dalam. Sedikit banyak ia bisa mendengar tawa Nadira dari dalam. Irfan senyum-senyum sendiri lagi, tiba-tiba ia tergelitik penasaran apa yang sedang dilakukan dua sejoli itu di dalam sampai suara tawa Nadira terdengar begitu lepas dan pastinya bahagia.
Tak lama kemudian, Irfan mendengar suara Arga memanggilnya dari dalam.
“Irfan!”
Irfan pun segera bangkit dan bergegas masuk ke ruangan itu.