NADIRA

NADIRA
BULAN MADU



Nadira terbangun di pagi hari dalam keadaan Arga yang masih terlelap di sampingnya sambil memeluknya. Nadira segera membangunkan Arga dengan lembut.


“Selamat pagi Nyonya Arga,” sahut Arga begitu ia bangun, lalu mendaratkan bibirnya di bibir Nadira.


“Selamat pagi juga suamiku.”


Nadira lalu menuntun Arga ke kamar mandi dan membantunya mencuci muka dan gosok gigi.


“Rasanya bahagia sekali punya istri, tidur ada yang menemani dan dilayani dengan begitu baik,” ucap Arga ketika Nadira memegang handuk kecil dan menepuk-nepuk pelan ke wajahnya yang basah sehabis mencuci muka.


“Aku akan menyiapkan sarapan untukmu, ingin makan apa pagi ini?” tanya Nadira setelah selesai mengeringkan wajah Arga dengan handuk tadi.


“Aku akan makan apa saja yang dibuatkan istriku untukku,”


Nadira segera ke dapur membuatkan sarapan spesial untuk Arga.


.


.


.


Rachel mengintip keluar melalui jendela dengan perasaan campur aduk, melihat Arga dan Nadira baru saja menaiki mobil dan seorang sopir sedang sibuk memasukkan koper keduanya ke dalam bagasi.


Tak lama kemudian mobil itu melaju pergi meninggalkan pekarangan rumah istananya yang megah. Rachel kemudian melangkah keluar rumah dan berdiri di teras ketika mobil yang membawa Arga dan Nadira sudah melewati pagar dan berbelok ke jalan raya lalu hilang dari pandangan.


Beberapa orang pria segera menghampiri Rachel.


“Ikuti ke mana Arga pergi, kalian tidak boleh lengah mengawasinya,” pesan nyonya Rachel pada mereka bertiga.


Ketiganya mengangguk patuh lalu bergegas naik ke sebuah mobil untuk segera menyusul mobil yang membawa Arga dan Nadira.


Rachel menghela nafas setelah orang suruhannya pun menghilang dari pandangan. Rachel berpikir untuk saat ini ia biarkan saja apa yang ingin dilakukan Arga dan Nadira. Toh tidak ada gunanya jika ia terus melarang, Rachel bercermin dari pengalaman yang lalu saat Arga begitu ngotot ingin tetap menjalin hubungan dengan Niken padahal ia sudah melarangnya.


.


.


.


“Ga, kita akan ke mana?” tanya Nadira begitu penasaran ketika dalam perjalanan. Setelah sarapan tadi, Arga memintanya segera mengemasi barangnya katanya akan pergi ke suatu tempat selama beberapa hari.


“Kita akan berbulan madu,”


Nadira melirik Arga sambil tersenyum bahagia mendengar kata bulan madu.


“Ke mana?” tanyanya antusias.


“Nantilah sampai di sana kamu akan tahu sendiri,”


“Ayolah, jangan buat aku penasaran,” Nadira merengek seperti anak kecil.


“Nad, namanya bukan kejutan lagi kalau aku kasih tahu sekarang. Perjalanan kita ini cukup panjang,”


“Baiklah, aku akan membuang rasa penasaranku.”


Ketika telah melewati Bandung, Nadira kemudian bertanya, “Arga, apa kita akan ke Pangandaran?”


Arga mengangguk.


Nadira tampak terharu.


“Aku tahu, sudah lama sekali kamu tidak pernah pulang ke kampung halaman ibumu,”


Nadira mengangguk, matanya tampak berkaca-kaca dan isakannya terdengar lirih.


“Sayangku, kenapa kau menangis?” tanya Arga kaget sambil meraba wajah Nadira dan merasakan lelehan air matanya.


“Kemarin aku berpikir ingin mengajakmu berkunjung ke kampung halaman ibumu. Mumpung bebas tugasmu di UGD masih ada beberapa hari lagi,”


“Tapi, pekerjaanmu bagaimana?”


“Tenang saja, ada Irfan dan juga Wira. Sejujurnya Irfan ingin ikut juga, tapi namanya bukan bulan madu lagi kalau kita bertiga,”


“Tidak-tidak apa-apa Arga, Irfan itu orang kepercayaanmu tentu saja dia khawatir, kau pergi jauh begini. Kulihat juga mommy tadi seperti tidak setuju kau pergi denganku, tapi kurasa dia tidak ada pilihan untuk melarang,”


“Tidak! Tidak! Kemarin saja bulan madu di Lombok dia juga ikut. Ayolah Nad, aku ingin berduaan denganmu saja, seandainya aku tidak buta aku yang akan mengendarai mobil berdua denganmu. Cukup sopir yang bersama kita, tugasnya hanya mengantar kita ke mana-mana,”


“Baiklah sayangku, ayo kita habiskan waktu berdua selama beberapa hari ke depan.”


Begitu sampai di Pangandaran, mereka langsung mengunjungi makam almarhumah ibu dari Nadira. Tangis Nadira langsung pecah begitu ia mengunjungi kembali makam ibunya setelah terakhir adalah tiga tahun yang lalu.


Nadira menyeka air matanya lalu memegangi sebelah tangan Arga. “Ibu, sekarang Nadira datang bersama suami Nadira, kenalkan namanya Arga,”


“Halo ibu mertua, aku adalah menantumu satu-satunya, menantu kesayangan,”


Nadira tersenyum mendengar kata-kata Arga, “tentu saja. Aku kan anak tunggal, tidak punya saudara,”


Arga lalu mendekap Nadira penuh rasa sayang.


Setelah mengunjungi makam ibu Nadira, mobil yang mereka naiki memasuki sebuah halaman rumah yang tampak asri dan hijau. Begitu mereka turun, Arga bisa merasakan udara yang sejuk serta suasana yang jauh dari suara bising kendaraan.


“Bapak bisa istirahat di paviliun sana,” sahut Nadira sambil menunjuk ke arah sebuah paviliun di samping rumah utama.


“Oh, iya nona,” balas sang sopir yang sedang membawa dua buah koper yang masing-masing milik Arga dan Nadira. Ia meletakkannya di teras sembari menunggu Nadira membukakan pintu rumah dengan kunci yang dibawanya. Sebelum ke rumah, mereka mampir sebentar ke rumah saudara almarhum ibu Nadira. Selama rumah itu kosong, bibi Nadira dari pihak ibunyalah yang rutin membersihkan rumah itu. Jarak rumahnya dari rumah bibinya sekitar delapan rumah dari situ.


Sejak ibunya meninggal dan paman Herman memboyongnya tinggal di Jakarta dengan tujuan agar Niken tidak merasa kesepian, Nadira tidak pernah berniat menjual rumah itu. Rumah itu adalah satu-satunya peninggalan sang ibu yang penuh kenangan, membesarkannya penuh kesabaran sebagai seorang single parent. Mengingat ia tak punya banyak kenangan ataupun benda peninggalan yang penuh kenangan dengan almarhum ayahnya, kecuali hanya beberapa lembar foto saja.


Nadira dan Arga masuk ke rumah itu, disusul oleh sopir mereka di belakang. Setelah meletakkan koper di depan pintu kamar Nadira, sopir itu segera beristirahat di paviliun setelah diberikan kuncinya oleh Nadira.


“Sayang sekali aku tidak bisa melihat seperti apa rumah masa kecilmu,” gumam Arga, tampak kecewa.


“Rumah orang tuaku tidak seperti rumahmu sekarang,” sahut Nadira.


“Kau tahu, sebenarnya aku tidak suka rumah yang terlalu luas dan megah. Apalagi sejak papa meninggal, rumah itu rasanya tidak hidup, makanya mommy mempekerjakan banyak orang di rumah itu, asisten rumah tangga, tukang kebun, sopir, sekuriti.”


Arga menunggu di meja makan saat Nadira mulai beraksi di dapur untuk membuat menu makanan. Nadira memasak menu sayur asem dan ayam goreng. Dan seperti biasa mereka selalu makan sepiring berdua, sesuatu yang begitu romantis dan membuat mereka makan begitu lahap.


Saat malam tiba keduanya tidur di kamar Nadira, kamar yang tidak begitu luas juga tidak begitu sempit. Mereka baru saja berciuman di atas ranjang, setelah merasa puas, Arga berkata dalam posisi berada di atas tubuh Nadira,


“Nad, aku penasaran ingin mencobanya denganmu,” Arga tampak tak bisa menahan diri, hasratnya naik.


Nadira jadi deg-degan, “uhm..,”


“Aku akan melakukannya dengan pelan, sayangku,” bisiknya lembut sambil mengecup pelan pipi Nadira.


Mereka menghabiskan malam dengan begitu intim, saling mencurahkan segala kasih sayang dan perasaan cinta. Berdua saja. Arga menciumi bibir Nadira saat gadis itu mengerang kesakitan.


“Tidak apa-apa sayangku,” bisik Arga dengan sorot bahagia.


.


.


.


Saat terbangun di pagi hari, Nadira mendapati Arga memeluknya dari belakang, tidurnya begitu nyenyak dan wajahnya tampak damai, kebahagiaan semalam sampai terbawa dalam mimpinya. Keduanya dalam keadaan tanpa sehelai benang, Nadira melihat ke lantai, bajunya dan juga baju Arga berserakan begitu saja, bahkan beberapa bantal juga tergeletak begitu saja di atas lantai. Entah apa yang dilakukan Arga semalam, mungkin saja itu ulahnya menendang bantal sampai jatuh di lantai.


Nadira ingat ia sudah menyerahkan segalanya kepada Arga semalam. Ia tersipu malu sendiri dan merasa bahagia, mengingat malam tadi. Nadira mengambil kembali bajunya di lantai lalu segera memakainya, tidur Arga tidak terusik sama sekali.


Saat membetulkan selimut untuk Arga, Nadira mendapati beberapa bercak darah yang mengering di seprai tempat tidurnya.