NADIRA

NADIRA
HARUS PERGI



Flashback saat Arga operasi mata


Nadira dan Arga saling bergenggaman tangan ketika Arga yang berbaring di atas brankar akan dibawa masuk oleh beberapa perawat ke dalam ruang operasi. Rachel pun ada, dia hanya melirik tak suka pada Nadira.


Arga tak mau melepaskan tangannya saat Nadira akan melepaskan tangannya ketika mereka sampai di depan pintu ruang operasi.


“Nad, kau akan di sini kan?” tanya Arga.


“Iya Arga,” jawab Arga sambil melirik Rachel. “Aku selalu mendoakan, operasimu hari ini berjalan lancar,”


Arga mengangguk tenang lalu melepaskan tangannya. "I love you," ucapnya.


"I love you too," balas Nadira, tampak canggung di depan Rachel dan lainnya.


“Arga, mommy juga selalu mendoakan untuk kelancaran operasimu,” sahut Rachel sambil membelai lembut rambut Arga.


“Terima kasih mom,” balas Arga.


Perawat kemudian membawa masuk Arga ke dalam ruang operasi. Menyisakan Nadira bersama Rachel, Rasty dan juga Irfan.


“Rasty, tetaplah di sini, tunggu kakakmu hingga selesai operasi,” sahut Rachel pada Rasty.


Rasty mengangguk.


Rachel kemudian menghampiri Nadira, “ikutlah denganku, ada hal yang perlu kita bicarakan berdua,” sahut Rachel dingin, lalu segera melangkah pergi sambil menenteng tas mahalnya.


Nadira pasrah mengikuti sang ibu mertua. Rasty hanya bisa menatap khawatir pada Nadira.


Kedua wanita itu memasuki sebuah ruang tunggu VIP yang sepi, Rachel sepertinya sudah mengatur pertemuannya dengan Nadira di ruang tunggu rumah sakit, di mana hanya ada mereka berdua saja.


Mertua dan menantu itu duduk berhadapan. Rachel tak banyak basa basi, ia segera mengeluarkan sebuah amplop coklat besar dari dalam tasnya dan menyodorkannya langsung kepada Nadira.


Tanpa bertanya, Nadira mengambil amplop itu dan mengeluarkan isinya, matanya melotot kaget saat membaca surat persetujuan perceraian.


“Nadira, aku mohon, tinggalkan Arga. Ini adalah waktu yang tepat,” pinta Rachel.


Nadira tak tahu hendak berkata apa.


“Nadira, aku tak pernah mau bersikap jahat padamu. Bagaimana pun aku sangat berterima kasih, dulu kau sudah berani menanggung perbuatan Niken dengan menikahi Arga, tapi seperti yang pernah aku bilang, kau sudah melanggar kesepakatan kita, kau membawa dirimu memasuki hatinya Arga,”


Nadira meletakkan surat perceraian itu di atas meja dan bersandar lesu di kursinya.


“Nyonya, aku minta maaf kalau aku mencintai putramu,” ucap Nadira begitu putus asa.


“Nadira, tolong, aku tidak mau kehilangan putraku,” pinta Rachel bersungguh-sungguh, “lupakan dia, dan pergilah dari kehidupannya. Kalau bisa lebih baik kau meninggalkannya sebelum dia bisa melihat kembali,” sorot mata Rachel begitu penuh harap.


“Dulu aku begitu yakin untuk menikahkanmu dengan Arga, karena aku yakin Arga tidak akan jatuh cinta padamu, karena aku tahu dia buta, tidak bisa melihatmu, dia tidak mengenalmu dengan baik, aku yang sudah memaksanya untuk menikahimu,” Rachel tampak menyesal.


“Nyonya, kalau aku pergi, apakah Arga akan baik-baik saja?” tanya Nadira tak yakin.


“Dia akan baik-baik saja, waktu pasti akan membuatnya lupa pada perasaannya padamu. Maafkan aku Nadira, tapi seperti inilah yang seharusnya terjadi antara kalian, kau meninggalkan Arga saat dia sudah sembuh dan kau mendapatkan kembali kebebasanmu. Aku tidak bisa menerimamu sebagai menantu sejati di rumahku, karena aku sudah punya wanita pilihan lain untuk Arga, dan aku sudah berjanji pada kawan lamaku itu untuk menikahkan Arga dengan Feli. Semua tidak berjalan sesuai rencana karena kehadiran Niken dalam hidupnya Arga, dan kini aku tidak mau menganggapmu sama seperti Niken,”


Nadira tak berkata-kata, bagaimana pun ia mengakui perasaannya, Rachel takkan pernah memberikan restu untuknya dan Arga.


“Setelah menandatangani surat cerai itu, kumohon pergilah dari hidup Arga. Aku akan memberimu berapa pun yang kau minta, aku bahkan akan membantumu bersembunyi dari Arga agar dia tidak akan pernah menemukanmu. Kalau dulu aku bisa membujuknya untuk menikah denganmu, maka sekarang aku juga pasti bisa membujuknya untuk menikah dengan Feli,” Rachel meyakini.


Nadira menatap surat cerai itu dengan rasa hampa. Ia mengambil pena di saku jasnya, memegangnya dengan tangan gemetar. Nadira sudah bersiap membubuhkan tanda tangannya di kolom namanya sebagai orang yang melayangkan gugatan perceraian.


“Terima kasih Nad,” ucap Rachel lega sambil memasukkan kembali surat cerai itu ke dalam amplop coklat.


“Aku bisa mengurus tinggalmu di luar negeri, sekalian kau bisa melanjutkan pendidikan spesialis di sana. Kau bisa tetap berhubungan dengan paman dan bibimu selama mereka berjanji akan menutup mulut tentang keberadaanmu dari Arga,”


“Maaf nyonya, aku punya satu permintaan,” Nadira memotong ucapan Rachel.


“Aku akan meninggalkan Arga, tapi aku tidak ingin dibantu untuk bersembunyi di mana,”


Rachel menatap ragu.


“Percayalah, aku akan meninggalkan Arga tanpa anda harus tahu ke mana aku akan pergi,” Nadira berjanji.


Rachel pun setuju karena itu adalah permintaan Nadira. Rachel meninggalkan Nadira setelah tujuan utamanya tercapai, membujuk Nadira menandatangani surat cerai dan selanjutnya tinggal membujuk Arga untuk menandatangani juga surat cerai itu.


Nadira pun melangkah keluar dari ruang tunggu saat Rachel sudah pergi. Nadira merasa langkah kakinya begitu berat. Nadira pun tak bisa membendung air matanya, ia tak menyangka, ia dan Arga akan berakhir seperti ini, ia diminta untuk menjauhi lelaki yang begitu dicintainya.


Tak jauh darinya, dokter Mirza menatap was-was kepada Nadira yang tampak menyedihkan.


Nadira merasakan kepalanya begitu berat dan pusing, seketika ia kehilangan kesadaran. Dokter Mirza tiba tepat waktu di belakangnya sebelum tubuh Nadira jatuh begitu saja di koridor rumah sakit.


.


.


.


Nadira tersadar dan mendapati dirinya terbaring di atas brankar dengan infus ditangan kanannya. Di sisinya ia melihat dokter Mirza menatap lega padanya sambil bergumam alhamdulillah, sementara di sisi lainnya ia melihat dokter Mira, seorang dokter spesialis kandungan.


Nadira pun ingat kalau tadi ia jatuh pingsan.


“Dokter Mirza, ada apa?” tanya Nadira.


“Tadi kau pingsan, dan aku menemukanmu,” jawab Mirza.


“Dokter Nadira apa belakangan ini kau jarang memperhatikan pola makanmu? Atau sedang banyak pikiran?” tanya dokter Mira.


“Iya, aku memang sering lupa makan belakangan ini,” jawab Nadira.


“Lupa ya, semoga memang begitu, bukan karena sengaja tidak mau makan karena banyaknya pikiran,”


Nadira hanya diam.


“Anda tahu, pingsan bagi seorang ibu hamil itu berbahaya. Tolong jaga asupan anda selama kehamilan ini dan juga sugesti pikiran anda untuk selalu positif, kalaupun ada masalah, jangan terlalu dalam dipikirkan karena itu bisa memengaruhi janin,” jelas dokter Mira panjang lebar.


“Apa dokter? Aku hamil?” tanya Nadira tak percaya.


“Iya, kira-kira anda sudah hamil lima minggu. Maaf ya aku sampai lupa memberi selamat. Tadi Dokter Mirza membawamu ke sini untuk diperiksa oleh dokter umum, dan dia menemukan tanda-tanda kehamilan di dirimu, lalu untuk memastikan mereka memanggilku untuk tindakan USG, dan memang benar ada janin yang sedang berkembang di rahimmu. Sekali lagi selamat ya,” dokter Mira tersenyum senang.


Nadira meletakkan sebelah tangannya di atas perutnya. Jadi dia sedang mengandung anaknya dengan Arga.


Begitu merasa baikan, Nadira bergegas mengambil test pack di apotik rumah sakit, untuk memastikan sendiri kehamilannya. Dan saat mengujinya dengan urine-nya, test pack itu menunjukkan dua garis positif. Nadira hanya bisa menangis lirih di dalam kamar mandi saat menyadari kenyataan kehamilannya.


Nak, kita harus pergi dari hidup ayahmu. Kau mungkin takkan pernah mengenal siapa ayahmu.