NADIRA

NADIRA
HADIAH



Sudah dua hari Arga tak pernah bertemu Nadira, gadis itu bahkan tidak pernah pulang ke rumahnya lagi. Selama ini mereka saling mendiamkan. Setelah Niken menemuinya beberapa hari yang lalu, ia tahu dari Irfan kalau Nadira sempat datang menjemput Niken namun gadis itu tidak menyempatkan diri untuk menemuinya.


Arga masih merasa kecewa kepada Nadira, namun di satu sisi ia begitu merindukannya. Arga tahu, Nadira sedang di rumah pamannya, menemani Niken.


Irfan sesekali mengamati Arga yang duduk di jok belakang dengan pandangan kosong menatap keluar. Ia tahu, kalau Arga dan Nadira sedang diam-diaman. Irfan sedang berpikir bagaimana cara membantu keduanya agar jadi harmonis dan romantis kembali.


Tak terasa mereka pun sampai. Irfan yang duduk di samping sopir, segera turun membukakan pintu untuk Arga dan menuntunnya.


Rachel menyambut kedatangan Arga di pintu rumah dengan senyum berbinar. Rachel menghampiri Arga yang sedang jalan sambil dituntun Irfan, ia segera menyapa Arga lalu mengecup sebelah pipinya.


“Akhirnya kamu pulang juga sayang,” Rachel mengambil alih menuntun Arga masuk ke dalam rumah dan mengajaknya duduk di jejeran sofa empuk di ruang tamu rumahnya yang luas.


“Ada apa mom?” tanya Arga sedikit bingung dengan sikap Rachel yang tak biasa.


“Barusan dokter Aslan menelpon mommy,” jelas Rachel yang begitu sumringah.


“Lalu?”


“Sayang, dia bilang kalau ada keluarga pasien yang ingin mendonorkan kornea matanya untuk kamu,” jelas Rachel menatap Arga begitu antusias.


Awalnya ekspresi Arga datar saja, lalu kemudian ia tersenyum, “syukurlah mom, semoga semuanya berjalan lancar,” harapnya.


“Pasti sayang, kita tidak akan lengah seperti kemarin. Mommy sudah menugaskan beberapa orang untuk mendampingi dokter Aslan selama proses pengiriman donor kornea ke rumah sakit,”


Rachel lalu mendekap Arga, “mommy tidak sabar sayang, kamu akan segera bisa melihat kembali.”


.


.


.


Bu Ruly mengetuk pintu kamar Arga, lalu segera membuka pintu dan masuk saat mendengar suara Arga menyahut masuk dari dalam.


Lelaki itu sedang duduk bersama beberapa buah buku huruf braille di sekitarnya.


“Tuan, nona Nadira sedang menunggu anda di sambungan telpon,” jelas bu Ruly tersenyum.


Arga bangkit berdiri, ia meraih tongkatnya dan berjalan menuju ke telpon di kamarnya. Bu Ruly bantu menuntunnya dan memberikan gagang telpon padanya. Setelah itu ia segera keluar dari kamar Arga.


“Halo,” ucap Arga setelah menempelkan gagang telpon di telinganya.


“Arga,” panggil Nadira di ujung telpon.


“Nad,”


Hening sesaat. Tiba-tiba keduanya merasa bingung setelah beberapa hari mereka tidak bertemu dan tidak saling bertegur sapa.


“Aku merindukanmu,” ucap Nadira kemudian.


“Kenapa kau tidak pulang ke rumah?” sahut Arga dengan nada bicaranya yang khas.


“Kau tidak menelponku duluan,” balas Nadira.


Arga diam, "uhm," kemarin ia juga agak gengsi untuk lebih duluan menelpon gadis itu.


“Padahal aku menunggu kau yang lebih dulu mencariku, tapi kenyataannya hari ini malah aku yang duluan menelponmu, menyebalkan,” Nadira begitu kesal.


“Maaf, aku juga sangat merindukanmu,” ucap Arga jujur.


“Aku akan pulang hari ini, maaf aku sudah di sini beberapa hari,”


“Kau menemani Niken?”


Nadira diam sejenak.


“Itu yang kupikirkan, makanya aku tidak menghubungimu, karena aku tahu kau sedang bersama Niken,”


“Iya, aku sedang menemaninya di sini,” jawab Nadira.


Arga menghela nafas sejenak, “aku tidak bisa menunggumu pulang, aku akan menyampaikannya di sini, kalau dokter Aslan sudah menemukan pendonor kornea mata untukku,”


“Alhamdulillah,” respon Nadira.


“Jangan-jangan kau sudah tahu,” sahut Arga curiga.


“Iya, aku adalah orang pertama yang diberitahu oleh dokter Aslan soal kabar bahagia ini,”


“Ah, sial. Kenapa kau tidak bilang sih, aku seperti orang bodoh menyampaikannya padamu,” kesal Arga.


Nadira terkekeh pelan, “aku bahagia Arga, sebentar lagi kau akan bisa melihat kembali,”


“Aku ingin segera melihatmu,” harap Arga.


“Kenapa kau bicara begitu. Tidak usah sok merendah begitu, aku mencintaimu apa adanya. Aku sudah buta begini bagaimana mungkin aku menuntut kau juga untuk sempurna,”


“Aku ini sangat cantik tahu, kau pasti tidak bisa melupakan wajahku,”


“Dasar sombong,”


Nadira kembali terkekeh.


“Cepatlah pulang, aku benar-benar merindukanmu,” ujar Arga begitu tidak sabaran.


“Aku juga tidak sabar bertemu kembali dengan suamiku,”


Arga tersenyum bahagia.


“Aku mencintaimu,” sahut Nadira.


“Aku juga mencintaimu Nad.”


Arga menutup telpon dengan rasa bahagia yang tak bisa dilukiskan, itu baru bicara ditelpon, bagaimana kalau sudah bertemu Nadira, lebih dari bahagia.


.


.


.


Nadira menemani Arga berjalan-jalan sore di taman rumahnya yang rindang, dikelilingi bunga-bunga indah bermekaran dan juga sebuah kolam ikan koi. Nadira mengajak Arga duduk di sebuah gazebo.


“Nad, kalau aku boleh tahu, Niken sudah hamil berapa bulan?” tanya Arga penasaran.


“Baru masuk sembilan bulan,” jawab Nadira menatap lurus ke depan, pada bunga-bunga.


“Kasihan sekali dia, suaminya meninggal saat dia sedang mengandung,”


Nadira melirik Arga yang tampak peduli.


“Kau begitu perhatian kepada Niken,”


“Aku hanya bersimpati padanya Nad, walaupun dulu aku membencinya karena dia pergi, tapi karenanya juga aku bisa bersamamu, apalagi dia adalah sepupumu,” jelas Arga bersungguh-sungguh.


Nadira hanya diam tertunduk, ia seperti menahan perasaan yang bergejolak di dadanya. Nadira menggigit bibir bawahnya, menahan emosi.


“Kau tidak suka ya aku bertanya tentang Niken? Kau cemburu?” tanya Arga saat ia menyadari Nadira hanya diam saja.


Nadira menggeleng, “tidak! Aku tahu kau mencintaiku Arga, aku tidak memikirkan macam-macam kok pertanyaanmu tadi. Aku percaya pada perasaanmu,” Nadira meletakkan sebelah tangannya di dada Arga.


Arga tersenyum.


Nadira menghela nafas sambil menatap lurus ke depan. Ia seakan berpikir dalam hatinya, menimbang-nimbang ya atau tidak.


“Arga, Niken sebenarnya...,” Nadira menghentikan bicaranya saat kepalan tangan Arga terjulur ke depannya.


Nadira menatapnya dengan kening berkerut.


Arga membuka kepalan tangannya, dan terlihat sebuah benda berwarna silver seperti liontin yang besar yang dilengkapi dengan rantai panjang.


“Untukmu,” sahut Arga dengan senyum menawan.


Nadira mengambil benda itu dan menatapnya lekat-lekat, seperti benda pusaka, begitu antik dan klasik. Nadira membukanya, ternyata benda itu adalah sebuah jam saku.


“Ini untukku?” tanya Nadira tak percaya.


“Iya, itu hadiah untukmu,”


“Kenapa kau memberiku hadiah?”


“Memangnya harus ada alasan kenapa seorang suami memberi hadiah kepada istrinya?” Arga tampak kesal.


“Uhm, terima kasih, ini bagus sekali,” ujar Nadira cepat-cepat. Ya, tentu dia suka karena itu adalah hadiah pertama yang diberikan Arga untuknya. Ia merasa begitu terkesan.


“Kuharap kau benar-benar menyukainya. Jam itu pemberian ayahku saat ulang tahunku yang ke tujuh belas dan ayah membeli jam itu saat dia mengunjungi Amerika dan bertemu mommy di sana untuk pertama kalinya,” jelas Arga panjang lebar.


“Arga, jam ini sangat bersejarah bagi orang tuamu, kenapa kau berikan padaku, aku tidak pantas menerimanya,” Nadira hendak mengembalikan jam saku itu.


“Nad, aku memberikannya padamu, karena itu adalah salah satu benda berharga yang kumiliki. Aku bahkan tidak pernah kepikiran memberikannya kepada Niken saat aku masih bersamanya. Kemarin tiba-tiba saja aku kepikiran memberikannya padamu, kurasa itu lebih baik, karena aku sudah tidak bisa melihat jadi lebih baik kalau kau yang menyimpan dan menggunakan jam itu saat kau bekerja di UGD. Dan kau tahu, saat papa memberikannya padaku sebagai hadiah ulang tahun, dia berkata kalau suatu hari aku bertemu cinta sejatiku, dia bilang berikan jam itu untuknya,”


Nadira tampak terharu, “terima kasih,” gumamnya begitu senang, Arga bahkan begitu meyakini kalau dirinya adalah sang cinta sejati itu, Nadira segera memeluk Arga. Arga balas memeluknya dan merasa puas karena Nadira begitu senang dengan jam saku pemberiannya.


Dari dalam rumah, Rachel memandang tajam pada anak dan menantunya yang sedang saling berpelukan di atas gazebo. Ia begitu risih melihat keduanya yang semakin lengket, seakan tak terpisahkan.