NADIRA

NADIRA
KISAH NIKEN & DESTA



Flashback


Sembilan tahun yang lalu.


“Nad! Nadira!” Nadira menoleh ke belakang dan melihat Desta berlari menghampirinya.


Nadira menutup kembali pintu mobil yang menjemputnya pulang dari sekolah. Baru saja ia akan naik di mobil.


“Desta, ada apa?” tanya Nadira yang kaget. Desta, siswa kelas XI IPA 2, salah satu anggota KIR, sama dengannya.


“Niken sakit apa sebenarnya? Sudah tiga hari dia tidak masuk sekolah,” ucap Desta setelah mengatur nafasnya.


“Dia demam dan juga flu,” Nadira menjelaskan sambil menatap curiga pada Desta.


Desta menarik nafas lega, “aku pikir dia sakit apa. Lalu bagaimana keadaannya sekarang?” tanyanya lagi.


“Sudah lebih baikan, mungkin besok atau lusa dia sudah kembali ke sekolah,”


Desta diam berpikir sambil sesekali menatap Nadira dengan ragu.


“Kamu mau titip pesan, untuk Niken?” Nadira seolah mampu membaca isi pikiran Desta.


“Bolehkan?” Desta tersenyum senang.


“Tentu saja,”


Desta mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah muda yang dihiasi pita berwarna putih dari dalam ranselnya, ia menyodorkan kotak kado itu kepada Nadira.


“Tolong berikan ini kepada Niken,” ucap Desta penuh harap.


Nadira menerimanya sambil mengangguk.


Setelah mengucapkan terima kasih, Desta menuju ke parkiran dan menaiki motornya pulang dari sekolah. Nadira juga segera naik ke mobil jemputannya.


Begitu sampai di rumah, Nadira segera menemui Niken di kamarnya. Gadis itu sedang duduk depan meja rias sambil menata rambutnya untuk diikat.


“Ken, kamu sudah sembuh?” tanya Nadira begitu masuk dan mendapati sepupunya itu sedang duduk bercermin, padahal tadi sebelum berangkat ke sekolah, Niken masih terbaring lemah di kasurnya.


“Hm, sudah mendingan sih, besok aku sudah bisa ke sekolah,” Niken menatap Nadira lewat cermin, lalu mengikat tinggi-tinggi rambut sebahunya.


Nadira segera duduk di atas meja rias, lalu membuka ranselnya dan mengeluarkan kado titipan dari Desta, ia segera menyodorkannya pada Niken.


Niken menatapnya dengan kening berkerut, “dari kamu?”


“Ya bukanlah, ini dari Desta,”


Niken berbinar senang, ia segera mengambil kado itu dan menatapnya penuh rasa kagum.


“Dia sangat mengkhawatirkanmu karena kamu sudah tiga hari tidak masuk sekolah,” Nadira menjelaskan untuk membuat Niken bersemu.


Niken segera membuka kado itu, dan isinya adalah sebuah coklat berbentuk hati yang di tengahnya tertulis kalimat I Love You Niken, dan juga sebuah surat.


“Cie... kalian sudah jadian ya?” Nadira bertanya penasaran.


“Menurut kamu? Apa maksudnya jika seorang cowok ngasih coklat untuk seorang cewek di tanggal 14 Februari ?”


“Oh, rupanya 14 Februari, pantas saja,” Nadira sampai lupa kalau hari ini adalah 14 Februari, hari Valentine, ia melirik menggoda, “trus suratnya isinya apa?” Nadira menatap penasaran surat dalam amplop berwarna merah muda.


“Aku baca juga dong suratnya,”


“Nggak boleh! Ini tuh surat cinta. Aku juga tidak akan bagi coklat ini dengan kamu,” Niken berhasil mendorong Nadira sampai di ambang pintu kamarnya.


“Ih, pelit banget sih,” Nadira pura-pura kesal, padahal ia hanya ingin menggoda Niken saja.


“Makanya kamu punya pacar dong. Jangan terlalu kuper ah sama cowok, kamu terlalu sibuk ikut lomba ini ikut lomba itu, sampai lupa bergaul,”


“Jahat ih, aku dibilang kuper, untung gak culun,” Nadira seolah merengut.


Niken hanya terkekeh, “biar kamu tuh introspeksi diri neng, kamu tuh cantik banyak yang naksir di sekolah, tapi kamu cuek aja, sok polos,” Niken segera menutup pintu sambil menjulurkan lidahnya sejenak, sebelum Nadira membalas kata-katanya.


Nadira hanya tergelak, lalu kemudian masuk ke kamarnya sendiri untuk berganti baju. Sejak hari itu Nadira tahu kalau Niken dan Desta sudah meresmikan hubungan, kapan pastinya Nadira tidak pernah tahu, hanya mereka berdua yang tahu pasti.


Hubungan Niken dan Desta hanya bertahan sampai mereka lulus SMA. Setelah Desta memutuskan melanjutkan kuliahnya di Jerman, keduanya tidak melanjutkan hubungan, Desta ingin fokus dengan pendidikannya di Jerman dan Niken beralasan kalau ia tak mau menjalani hubungan jarak jauh.


Beberapa tahun kemudian, setelah keduanya selesai menamatkan studi di perguruan tinggi, Niken dan Desta kembali bertemu di sebuah cafe yang kebetulan Niken bekerja sebagai manajer di sana. Pertemuan mereka menyalakan kembali api cinta yang pernah padam, padahal saat itu Niken sudah berstatus tunangan Arga dan sudah membicarakan rencana pernikahan dengan keluarga masing-masing.


Bagaimana pun juga Niken tak pernah bisa melupakan Desta sebagai cinta pertamanya, begitu juga dengan Desta yang tak bisa melupakan Niken. Sejak pertemuan mereka kembali, Desta jadi sering mengunjungi cafe itu untuk sekedar bisa bertemu Niken atau menyaksikannya langsung bermain piano untuk menghibur pengunjung cafe.


Awalnya Niken merasa risih dan meminta Desta untuk tidak menemuinya lagi karena takut jika ketahuan dan kedapatan oleh Arga. Saat itu Desta tahu kalau Niken sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah.


Namun beberapa minggu jelang hari pernikahannya, Niken merasa tertekan karena sikap Rachel yang selalu dingin padanya. Ia tak bisa memilih gaun pengantin rancangan sesuai seleranya, ia juga tak bisa memilih ingin dekorasi apa untuk pesta pernikahannya, semuanya hanya boleh dipilih dan diputuskan oleh Rachel.


Arga tak banyak ikut campur dalam persiapan pernikahannya, karena ia begitu sibuk sebagai direktur utama Rajasa Group. Ia mempercayai semuanya kepada Niken sendiri dan juga Rachel, ibunya.


Niken tak pernah berani menentang setiap perkataan dan kemauan Rachel, ia pun merasa tak tega membebani Arga dengan curahannya karena merasa tertekan dengan sikap Rachel, mengingat Arga adalah sosok yang begitu sibuk di Rajasa Group.


Akhirnya, ia banyak menumpahkan keluh kesahnya kepada Desta, mereka diam-diam sering bertemu tanpa sepengetahuan Arga yang tengah sibuk mengurus perusahaan.


“Aku tidak tahu Des, apa aku bisa melanjutkan pernikahan ini. Belum resmi menikah saja, aku sudah merasa begitu tertekan dan stres, aku akan memiliki ibu mertua yang dinginnya seperti kutub dan sorot matanya seperti elang, dia benar-benar tidak pernah menyukaiku,” Niken meneguk pelan anggurnya sambil menyeka pipinya yang agak basah karena titik air matanya.


“Apa kamu sangat mencintai dia?” tanya Desta tampak cemburu.


“Tentu saja. Arga sudah memberikan segalanya untukku, mana mungkin aku berpikir untuk membatalkan pernikahan ini di saat-saat terakhir. Hatiku merasa tidak damai karena wanita galak dan dingin itu adalah ibunya, bagaimana nasibku nanti saat jadi istrinya? Hidupku pasti lebih menderita dari kisah Cinderella dengan ibu tiri dan kedua saudara tirinya,” Niken pun tertawa, seolah menertawakan dirinya sendiri yang begitu lemah karena tidak bisa bersikap tegas kepada calon mertuanya.


“Ken, tolong kamu pikirkan kembali pernikahan ini. Aku tidak mau kamu menyesal kemudian hari, dan tidak mungkin bagimu untuk kembali lagi ke hari ini,”


Niken segera meneguk habis anggurnya.


“Kamu sudah banyak minum,” Desta mengambil alih gelas minuman Niken yang kosong dan menyimpannya jauh.


“Sudah terlambat Desta. Aku akan segera menikah dengan laki-laki yang banyak digilai wanita di kampusku, aku akan menerima nasibku dengan lapang dada jika akhirnya aku jadi stres dan gila karena punya ibu mertua yang tidak pernah bisa menerima kehadiranku di hati anaknya,”


Niken bersandar lesu di kursinya, tak lama kemudian ia jatuh tertidur. Desta segera memindahkan Niken berbaring di tempat tidur. Ia lalu melangkah ke arah jendela dan menatap keluar kamar motel tempat mereka bertemu berdua. Niken yang mengajak Desta bertemu di sebuah kamar motel, ia butuh privasi untuk mengungkapkan perasaannya kepada Desta.


Tak lama kemudian, terdengar suara Niken memanggilnya lirih dalam tidur, “Desta,”


Desta segera menghampiri Niken yang masih dalam keadaan tertidur.


“Kenapa Ken? Kamu buruh sesuatu?” tanyanya.


Niken membuka kedua matanya dan menatap Desta dengan mata berkaca, “seandainya aku bisa kembali padamu, Des,”


Desta tertegun menatap Niken yang begitu sedih dan putus asa. Ia segera memeluk Niken begitu erat, lalu kemudian keduanya berciuman.