NADIRA

NADIRA
MENYATAKAN PERASAAN



“Nak Arga, kau pasti belum sarapan sebelum ke sini. Ayo kita sarapan bersama, istriku baru saja selesai menghidangkan sarapan di meja,” Herman mengajak Arga ke meja makan. Ia menuntunnya, lalu menarikkan kursi untuknya.


Arga duduk berhadapan langsung dengan Niken di meja makan. Niken hanya bisa menahan nafasnya saat melihat Arga sedekat ini, mata coklatnya yang dulu selalu menyorotnya penuh kehangatan kini kosong dan tak bersinar. Karena kebutaannya, Arga benar-benar tidak tahu tentang kehadiran Niken di depannya.


Nadira merasa sedih melihat Arga. Arga pasti begitu marah jika tahu kalau semua orang di rumah ini memanfaatkan kebutaanya dengan tidak mengatakan yang sejujurnya tentang hadirnya Niken di sini.


Nadira pun segera menarik kursi dan duduk di dekat Arga sambil mengamati Niken yang belum lepas menatap Arga di depannya. Widya pun segera duduk di samping Niken dan mengisikan piringnya dengan nasi dan lauk.


“Irfan, apa kau belum sarapan juga? Kemarilah bergabung dengan kami,” ajak Herman dengan ramah sebelum ia duduk di antara barisan Niken-Widya dan Arga-Nadira.


“Saya sudah sarapan dari rumah, tuan. Saya aman menunggu tuan Arga di ruang tamu,” Irfan memberi hormat lalu menuju ke ruang tamu.


Nadira mengisikan menu sarapan di piring Arga setelah memberi tahunya menu apa yang tersedia.


“Nak Arga silahkan di makan sarapannya,” ucap Widya menyilahkan Arga ketika Nadira meletakkan piring makannya.


“Terima kasih bibi,” tangan Arga meraba atas meja, mencari sendok dan garpu namun ia tidak sengaja menyenggol gelas air minum lalu jatuh dan pecah di lantai.


“Maaf, aku..,” Arga merasa tak nyaman.


“Biar aku membantumu makan,” Nadira menyentuh tangan Arga.


“Tidak apa-apa nak Arga, kami memaklumi,” sahut Widya.


Widya segera memanggil pembantu rumah untuk membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lantai dan di sekitar kaki Arga.


Arga merasa tak enak, kehadirannya yang merepotkan dan membuat kekacauan karena menjatuhkan gelas, seketika juga merasa telah mengacaukan suasana sarapan Nadira bersama paman dan bibinya.


Niken menatap penuh gejolak tangan Nadira yang sedang memegangi tangan Arga.


“Arga, tidak apa-apa,” bisik Nadira sambil meletakkan satu tangannya lagi di lengan Arga.


Sepanjang suasana sarapan, Nadira membantu Arga makan. Nadira bahkan tidak merasa canggung saat menyuapkan sarapan untuk Arga. Dan Arga juga tidak merasa canggung dan malu makan sambil disuapi Nadira di depan paman dan bibinya.


Saat Arga mengunyah, saat itu juga Nadira mengambil kesempatan untuk menyuapkan sendiri sarapan ke mulutnya.


Pagi itu Arga merasa bahagia atas perlakuan Nadira padanya. Bagi Nadira pun, saat menyadari Niken yang terus menatap kepada Arga, ia merasa takut kehilangan lelaki itu, ia bersikap seolah Arga adalah miliknya.


Setelah sarapan, Nadira akhirnya pamit pulang, ia ikut dengan Arga menuju ke gedung Rajasa Group. Lagi pula Nadira masih ada beberapa hari bebas tugas di UGD setelah rencana operasi kornea mata Arga, namun akhirnya harus gagal.


Begitu sampai, petugas yang berjaga di depan gedung segera membukakan pintu mobil. Nadira turun lebih dulu, lalu disusul Arga. Nadira takjub melihat begitu banyaknya orang yang bekerja di gedung Rajasa Group.


Nadira lalu menggamit lengan Arga, menuntunnya masuk ke dalam gedung. Irfan mengikuti mereka di belakang.


Saat itu Arga menurunkan tangan Nadira yang semula menggamit lengannya, berganti turun untuk memegang tangannya. Arga tersenyum samar dan menatap lurus ke depan di balik kacamata hitamnya.


Ia membalas sapaan dengan ramah pada setiap karyawan yang menyapanya.


Mereka menaiki lift khusus menuju ke ruang kerja Arga. Irfan berdiri di depan mereka, membelakangi. Saat di dalam lift, Arga menggenggam erat tangan Nadira. Nadira melirik Arga dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan. Sejak Arga menciumnya, ia berubah lebih lembut dan penuh perhatian.


Keduanya pun tiba di ruang kerja direktur utama yang begitu luas dan tertata begitu rapi dengan furnitur yang mewah. Nadira berkeliling melihat setiap sudut ruangan, ia begitu takjub dengan ruang kerja Arga, benar-benar memberikan kesan nyaman dan betah. Ini pertama kalinya ia memasuki ruangan Arga.


“Apa yang kau lakukan? Sedang melihat-lihat?” tanya Arga setelah Nadira melepaskan tangannya dan meninggalkannya di dekat meja kerjanya.


“Bagaimana semalam, di rumah paman dan bibimu?” tanya Arga yang melangkah pelan tanpa tongkat sambil mengira-ngira di mana posisi Nadira sekarang. Ia sudah sangat hafal letak benda-benda di setiap sudut ruang kerjanya. Ia juga sudah hafal baik hitungan langkah ke sudut dan arah manapun jika posisinya dari meja kerjanya.


“Terima kasih, sudah mengizinkan aku menginap semalam di rumah paman dan bibi,” Nadira masih asyik melihat-lihat. Hingga saat ia berbalik badan, lelaki itu sudah berdiri tepat di belakangnya.


Nadira nyaris menabrak tubuhnya yang tinggi.


“Arga, kau mengangetkanku,” Nadira mengelus pelan dadanya.


Arga agak membungkukkan badannya ingin mensejajarkan tingginya dengan tinggi badan Nadira. Saat memeluknya di rooftop Arga bisa menduga seperti apa tinggi badan Nadira.


Arga mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Nadira. Nadira seketika merasa malu dan pipinya mulai memerah, Arga kembali bersikap intim padanya.


“Kau tahu, sarapan pagi tadi begitu berkesan untukku. Aku tahu kau cukup sering menyuapiku makan, tapi tadi kau melakukannya di depan paman dan bibimu,”


“Itukan sudah tugasku sebagai istrimu. Aku takut emosimu kambuh lagi saat kau tidak sengaja menjatuhkan gelasmu waktu kita sarapan bersama di hotel,”


Arga tersenyum begitu manis dan tampan. Membuat perasaan Nadira jadi jungkir balik, ia memuji Arga sebagai ciptaan Tuhan yang begitu indah, setiap mata akan susah berpaling darinya.


Arga kembali menegakkan tubuhnya. Tanpa ragu ia meraih kedua tangan Nadira dan menggenggamnya begitu hangat.


“Nadira, aku sangat mencintaimu, setiap hari aku selalu merindukanmu, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Tetaplah menjadi istriku, aku tidak mau kita bercerai bahkan setelah aku bisa melihat kembali,” Arga berkata penuh kesungguhan, sorot matanya menyiratkan perasaan yang begitu mendalam.


Nadira sangat bahagia mendengarnya, ia sampai meneteskan air matanya. Nadira sudah membuka mulut ingin mengakui secara jujur juga perasaannya kepada Arga. Namun tiba-tiba ia teringat Rachel dan juga peringatannya agar tidak masuk ke dalam hatinya Arga.


Arga menunggu dengan sabar apa yang akan dikatakan Nadira tentang ungkapan perasaannya. Bagaimana pun juga saat ini Arga sudah merasa lega karena telah mengungkapkan semuanya langsung kepada Nadira. Ia hanya perlu menunggu bagaimana reaksi gadis itu. Seandainya saja matanya bisa melihat, tentu ia takkan begitu berharap dengan apa yang akan dikatakan Nadira, karena raut mukanya sudah cukup menggambarkan.


Nadira pelan-pelan melepaskan kedua tangannya dari tangan Arga. Ia segera berbalik badan membelakangi Arga dan menyeka air matanya. Ia berusaha selirih mungkin agar Arga tidak tahu kalau ia sedang menangis karena merasa begitu sedih dan tidak beruntung.


“Arga, aku tidak bisa!” ucap Nadira pelan.


Senyuman Arga perlahan memudar, rasa bahagia dan optimisnya pun juga memudar.


Nadira menghela nafas.


“Maaf, aku tidak bisa. Aku terlalu takut,”


Arga hanya tertegun. “Seharusnya aku yakin kalau hatimu masih terpaut pada dokter anak itu. Kau bilang dia mengingatkanmu pada sosok ayahmu. Aku apa? Hanya laki-laki yang tak sengaja hadir di hidupmu karena aku pernah memiliki status bersama Niken. Lagipula, aku hanya orang buta, aku terlalu percaya diri kau bisa menerima perasaanku,” Arga pun membalik badan dan melangkah pergi dengan perasaan yang bergejolak.


Ia tak bisa lagi menghitung langkahnya dan mengingat di mana letak setiap benda di ruang kerjanya. Arga terus saja berjalan tanpa peduli saat tubuhnya menabrak beberapa benda dan terjatuh di lantai.


Nadira menoleh dan menatap sedih punggung Arga yang berjalan menjauh dengan langkah terseok-seok. Tanpa berpikir panjang, Nadira berlari mengejarnya dan segera memeluk Arga dari belakang, melingkarkan lengannya.


“Arga, kau pernah bilang, hanya perempuan bodoh yang mau dengan laki-laki buta,”


Arga hanya diam.


“Dan aku adalah perempuan bodoh itu. Karena aku begitu mencintai laki-laki buta sepertimu tanpa tahu alasannya. Maafkan aku. Aku tidak mau kehilanganmu Arga, aku tidak mau kehilangan kesempatan ini karena menyia-nyiakan perasaanmu. Aku sangat mencintaimu, aku sangat mencintaimu Arga,” Nadira pun mengakui semuanya dengan hati yang lega.


Arga segera berbalik badan penuh rasa bahagia. Ia mendekap Nadira, meraup tubuhnya. Lalu menciumi bibirnya berkali-kali, Nadira membalas ciuman Arga dengan begitu mesra. Mereka telah saling mengungkapkan perasaan.