
Sehari menjelang hari operasi kornea mata sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh Dokter Aslan, Arga sudah menempati salah satu kamar VIP di rumah sakit. Mengingat Arga adalah orang yang penting dan ibunya memiliki pengaruh di negeri ini, maka pihak rumah sakit membebas tugaskan Nadira dari pekerjaannya di UGD agar ia bisa menemani dan mengurus Arga selama di rumah sakit.
Arga sendiri tidak merasa berlebihan menjelang hari operasinya, baginya biasa saja. Yang di pikirannya adalah bahwa ia akan benar-benar melepaskan Nadira setelah ia sembuh dari kebutaan.
“Ah, aku benar-benar bosan di sini!” ujar Arga yang kemudian segera turun dari tempat tidurnya.
Nadira yang sedang asyik bermain ponsel dengan membalas chat teman-temannya di grup whatsapp pun bergegas menghampiri Arga yang baru turun dari tempat tidur.
“Arga, kau mau ke mana?”
“Aku mau jalan-jalan,” sahutnya tampak bosan.
“Di sini saja Arga, istirahat. Besok kamu akan segera operasi,” Nadira menahannya.
“Bawa aku jalan-jalan!” Arga terdengar memberi perintah.
“Ke mana?” tanya Nadira bingung.
“Kecuali kalau kau ingin aku jadi gila karena terus mengurungku di kamar ini,”
“Baiklah, ayo kita jalan-jalan,” Nadira segera menggandeng tangan Arga keluar dari kamar VIP.
Sontak saja keduanya jadi pusat perhatian orang-orang di rumah sakit. Nadira yang tidak sedang mengenakan jas dokter dan Arga yang hanya mengenakan piyama rumah sakit tanpa memakai kacamata hitam apalagi membawa tongkatnya.
Arga dengan percaya diri melangkah sambil terus digandeng Nadira, sementara Nadira berusaha menyembunyikan rasa malunya saat orang-orang menatapnya. Dokter Mirza pun melihat keduanya, ia pun tahu ke mana Nadira hendak membawa Arga.
“Kau ini mau bawa aku ke mana? Berapa anak tangga lagi sih?” keluh Arga.
“Katanya mau jalan-jalan, baru begitu sudah mengeluh, kau benar-benar seperti perempuan,” ucap Nadira yang terus mengajak Arga untuk menyelesaikan langkahnya menapaki anak tangga yang tersisa.
“Hei beraninya kau mengataiku perempuan,” ujar Arga merasa kesal.
Nadira hanya tergelak dan memilih mengacuhkannya sambil terus mengajak Arga menapaki anak tangga. Setelah melewati sebuah pintu, saat itu juga Nadira melepaskan tangannya dan membiarkan Arga menebak sendiri di mana mereka kira-kira.
Arga sempat kaget saat Nadira melepaskan tangannya.
“Kau...,”
“Ayo coba tebak, kira-kira kita di mana sekarang?” tanya Nadira penuh antusias lalu melangkah ke depan meninggalkan Arga beberapa langkah di belakangnya.
“Main tebak-tebakan dengan orang buta apa itu membuatmu senang?”
“Tebak sajalah, tidak ada ruginya juga,” Nadira menoleh dan menunggu jawaban Arga.
Arga melangkah pelan sambil mengangkat kedua tangannya di udara. Ia bisa merasakan hembusan angin menerpa seluruh tubuhnya, suara-suara keramaian di suatu titik tertentu dan juga ia bisa merasakan sinar matahari.
“Kau membawaku ke sebuah tempat yang terbuka, apa ini di rooftop rumah sakit?”
Nadira bertepuk tangan lalu berlari-lari kecil menghampiri Arga kembali.
“Jawabanmu benar. Instingmu kuat sekali,” Nadira terdengar senang.
“Awas saja kalau kau berani meremehkanku,”
Nadira meraih kembali tangan Arga lalu mengajaknya ke ujung gedung yang dipagari pagar besi.
“Bagaimana, kau suka jalan-jalan ke sini?” tanya Nadira saat melihat Arga sedang asyik menikmati suasana di rooftop.
“Iya, saat sedang suntuk, atau sedih aku akan ke sini sendirian,” jawab gadis itu menatap lurus ke depan.
“Berarti aku laki-laki pertama yang kau bawa ke sini?” tanya Arga.
“Uhm...,” Nadira teringat Mirza. Ia pernah beberapa kali pergi ke rooftop bersama dokter itu. “I-iya,”
Arga menyeringai, “aku berani bertaruh, kau pasti pernah ke sini bersama dokter itu kan?”
“Memangnya kenapa? Kau tidak suka ya?” tanya Nadira dengan nada menggoda.
“Bukan aku yang pertama,”
Mendengar kalimat Arga tadi, Nadira merasa ada kehampaan dari nada bicara Arga.
“Di tempat ini aku akan mengabulkan satu permintaanmu padaku,” ujar Nadira sambil melirik Arga.
Arga diam sejenak. Nadira menunggunya.
“Aku ingin kau mengakui dengan jujur bagaimana perasaanmu pada dokter Mirza,” ujar Arga kemudian.
Nadira sudah menduganya, “baiklah. Saat pertama kali bekerja di rumah sakit ini, dokter Mirza adalah orang pertama yang menyambutku, aku terbilang masih dokter yang baru, belum banyak pengalaman menangani pasien. Aku masih sering berbuat kesalahan, salah diagnosa, salah memberi penanganan pada pasien di UGD, tapi hanya dokter Mirza yang selalu tersenyum padaku dan berkata tidak apa-apa, menjadi dokter bukanlah suatu keharusan untuk terlihat sempurna seperti malaikat penolong, dokter juga manusia biasa yang bisa berbuat kesalahan. Aku memang sempat kagum padanya karena dia sangat ramah dan aku sangat suka melihat dia begitu akrab dengan pasiennya yang anak-anak, hal itu selalu mengingatkanku dengan masa kecilku dulu bersama ayahku. Masa kecil yang begitu singkat dengan ayah dan selalu kurindukan,” ungkap Nadira, “setiap kali melihat dokter Mirza, aku selalu teringat ayahku. Kepribadian mereka hampir mirip,”
Tanpa Nadira sadari, setiap kata yang ia lontarkan tentang Mirza justru semakin melukai perasaan Arga.
“Aku sudah cukup jujur ya sekarang. Lagipula aku dan dokter Mirza tetaplah teman di rumah sakit ini,”
Arga hanya diam, ia berusaha menyelami perasaannya sendiri.
“Setelah kita berpisah, apa kau akan tetap mengejar dokter Mirza?” tanya Arga kemudian.
“Aku tidak pernah berpikir begitu,” jawab Nadira sambil menggeleng, “Dokter Mirza hanya menganggapku teman. Lagipula perasaanku sekarang juga sudah berubah,” Nadira menatap Arga.
Arga menoleh padanya, Nadira tidak kaget. “Apakah bisa diterima kalau jatuh cinta pada seseorang tanpa alasan yang jelas?” tanya Arga kemudian.
Aku tidak tahu Nad, harus menjelaskan apa padamu kenapa aku bisa menyukaimu. Aku tidak mengenalmu dengan baik bahkan aku tidak tahu bagaimana wajahmu.
“Itu adalah takdir. Karena mencintai tidak butuh alasan, tiba-tiba saja perasaan itu muncul dan hanya ingin bilang kalau aku mencintaimu, ingin terus bersamamu,” jawab Nadira, tak lepas menatap Arga.
Seandainya aku punya keberanian, Arga. Aku tidak bisa menentang ibumu.
Keduanya lalu saling diam. Arga terus meresapi kata-kata Nadira soal takdir.
“Apa kau sudah bosan di sini?” tanya Nadira saat melihat Arga yang diam saja. “Ayo kita kembali ke kamarmu, sebelum mommy dan Rasty datang, mereka pasti akan kebingungan mencari kita,” Nadira meraih tangan Arga, hendak mengajaknya kembali ke kamar.
Arga justru menarik balik tangan Nadira dan membawa gadis itu dalam dekapannya. Nadira sempat berontak.
“Nad, kau istriku. Aku sudah berjanji padamu akan melepaskanmu setelah aku sembuh dan bisa melihat kembali. Biarkan aku melakukan apa yang ingin dilakukan oleh seorang suami kepada istrinya,”
Nadira pun memasrahkan dirinya kepada Arga. Kata-kata Arga benar-benar menyentuh hatinya, ia sampai meneteskan air mata.
Arga menyentuh wajah Nadira dengan begitu mesra, lalu kemudian menciumi bibir gadis itu penuh rasa penasaran. Menciumnya begitu lembut dan mesra.
Saat itu juga Nadira merasa begitu bahagia, baginya ini adalah ciuman pertamanya meski sebelumnya Arga sudah pernah mencoba menciumnya.