
Acara perayaan ulang tahun Rajasa Group yang ke 50 tahun digelar di ballroom sebuah hotel berbintang yang pastinya itu juga masih milik grup kerajaan bisnis ternama di negeri ini.
Arga sedang berdiri bersama Irfan, karena ia seorang direktur utama maka ia harus siap sedia berada di tengah-tengah ketika para rekan bisnis dan kolega ibunya datang dan menyapanya.
“Apa dia belum datang?” bisik Arga.
“Belum tuan, mereka masih di perjalanan,” jawab Irfan.
“Ah, kenapa lama sekali sih, bodyguard itu sepertinya tidak bisa diandalkan,” kesal Arga.
“Tolong bersabar tuan, nona Nadira pasti akan segera sampai di sini dan menemani anda menyambut para tamu,”
“Aku bisa gila sejak pagi-pagi sekali dia berangkat ke rumah sakit untuk shift, kami belum bertemu sampai sekarang,” Arga seperti merana, begitu merindukan Nadira.
Irfan hanya tersenyum mendengar celotehan tuannya yang begitu dimabuk cinta sampai sedikit-sedikit sudah merasa rindu ketika tidak bertemu.
Sepasang mata, mengawasi kedua pria itu dari jarak beberapa meter. Namun pastinya mata itu hanya tertuju pada satu sosok, dialah Arga. Perempuan cantik dan anggun itu mengenakan gaun malam yang indah, ia lalu melangkah menghampiri keduanya.
“Selamat malam Arga, apa masih ingat dengan suaraku?” tanya wanita itu dengan senyum sumringah.
“Maaf, aku tidak mengenali suaramu, kau siapa?” tanya Arga penasaran.
“Aku Felisha,” jawabnya sambil menunggu reaksi Arga.
“Oh, Feli anaknya pak Tirta Kusuma?” Arga langsung bisa menebak, senyumnya pun turut mengembang, bagai seseorang yang baru bertemu teman lama.
“Benar sekali, ternyata kau masih ingat,” sahut Feli tampak senang.
“Ya, tentu, kedua orang tuaku berteman baik dengan almarhum ayahmu. Kau ke sini dengan siapa? Apa suamimu ikut?”
“Uhm, aku, aku baru bercerai, Arga,” jawabnya jujur, namun Feli tetap tersenyum. Tidak ingin terlalu larut dengan kenyataan kalau ia gagal membina rumah tangga yang baru seumur jagung.
“Maaf, aku tidak tahu apa yang sudah terjadi padamu selama ini,” Arga tampak tidak enak hati dan tampak begitu peduli dengan apa yang telah dialami Feli.
“Tidak apa-apa, aku juga tidak tahu apa yang telah terjadi padamu selama ini,” Feli menatapnya prihatin.
“Seperti yang kau lihat, kedua mataku tidak berfungsi lagi,” Arga tersenyum santai.
“Ya, ibumu sudah menceritakan semuanya padaku saat kami tidak sengaja bertemu beberapa hari yang lalu. Jadi, dia juga yang mengundangku langsung untuk hadir di sini malam ini,” Feli menjelaskan.
Irfan menangkap sosok Nadira yang baru tiba di pintu masuk. Ia segera berbisik kepada Arga, “tuan, Nona Nadira sudah datang,”
“Benarkah?” Arga berbinar senang, “di mana dia? Apa dia melihat kita?”
“Iya tuan, dia sedang berjalan menghampiri anda,” Irfan menjelaskan.
Nadira mempercepat langkahnya saat menghampiri Arga dan juga Irfan.
“Arga,” panggil Nadira begitu ia sampai. Hatinya merasa begitu senang, bisa melihat lelaki yang sangat dicintainya. Ia juga sama, merasakan rindu karena seharian tidak bertemu karena kesibukannya di UGD sejak pagi.
“Nad, akhirnya kau datang juga,” Arga mengulurkan tangannya, mencarinya, Nadira segera meraihnya, dan tangan mereka kembali saling bergenggaman.
Feli menatapnya begitu dalam.
“Nad, kenalkan ini Feli, temanku. Mommy berkawan dekat dengan ayahnya,” Arga mengenalkan Nadira dengan Feli.
“Hai, aku Felisha, panggil saja Feli,” wanita itu memulai dengan ramah.
“Feli, ini Nadira, istriku,” Arga menambahkan ketika kedua wanita itu selesai bersalaman.
Saat itu juga dari kejauhan Rachel melihat Feli yang tampak sedang mengobrol dengan Arga dan Nadira. Ia yang sedang asyik berbicara dengan beberapa rekan bisnisnya segera pamit hendak menghampiri ketiganya.
“Feli sayang, kamu sudah datang,” sahut Rachel senang begitu ia ikut bergabung.
“Hai tante,” Feli dan Rachel saling cipika cipiki, cium pipi kanan dan kiri. Begitu akrab seperti ibu dan anak.
Pertama kalinya Nadira melihat Rachel memberikan tatapan yang begitu hangat dan itu hanya kepada kepada Feli. Selama ini ia lebih sering melihat sorot dingin dari sang ibu mertua. Ia tak pernah merasakan tatapan hangat seperti itu dari ibu mertuanya. Tiba-tiba Nadira merasakan sesuatu yang janggal dengan kehadiran Feli malam ini.
“Tante kira kamu tidak datang loh,” ujar Rachel begitu akrabnya sambil menggamit lengan Feli.
“Ya datanglah tante, aku kan sudah janji,”
“Kalian sudah saling sapa?” tanya Rachel menatap Feli dan Arga bergantian, mengabaikan kehadiran Nadira yang sedang berdiri di sisi putranya sambil berpegangan tangan.
“Sudah tante, Arga masih ingat kok denganku, walaupun dia tidak hafal suaraku,” jawab Feli sambil melirik Arga dan juga ikut-ikutan mengabaikan Nadira. Meskipun raut wajahnya begitu ramah.
“Selamat malam Tuan Arga, dan selamat malam juga Nyonya Rachel,” sapa sebuah suara yang tiba-tiba hadir di antara mereka.
Pemilik suara itu tersenyum sesaat kepada Arga dan juga Rachel, lalu kemudian tatapannya mengarah begitu lama ke satu sosok, yaitu Nadira.
Nadira bagai membeku di tempatnya, saat ia berpandangan dengan lelaki itu. Arga bisa merasakan tangan Nadira yang bergetar, ia tahu gadis itu seketika merasa tidak nyaman. Arga ingin bertanya siapa yang datang, namun ia berusaha mengingat-ingat siapa pemilik suara itu.
Rachel menatap lelaki itu dengan pandangan yang menyiratkan pertanyaan, maaf anda siapa?
“Saya Bramantyo Wijaya, nyonya. Direktur utama PT. Surya Desain. Perusahaanku dan perusahaan anda yang dibawah pimpinan Tuan Arga sudah melakukan kontrak kerjasama pembangunan mega proyek apartemen di Kalimantan Timur yang akan dimulai tahun depan nanti,” Bram menjelaskan sambil melirik Nadira dengan senyuman menakutkan.
Rachel segera melirik Nadira yang tampak gemetar dan begitu tidak nyaman. Lalu kemudian melirik kembali kepada Bram. Ia tahu, lelaki ini adalah mantan kekasih Nadira.
“Senang bertemu denganmu juga, Tuan Bram,” balas Rachel dan ikut tersenyum sejuta makna.
“Nad, kamu baik-baik saja?” Arga tampak khawatir, apalagi kini ia tahu Bram, mantan kekasih Nadira ternyata juga salah satu tamu undangan.
Nadira tak menjawab, ia berusaha menenangkan hati dan pikirannya.
“Nadira, apa kamu sakit?” tanya Feli tampak peduli saat melihat gelagat Nadira yang tak biasa.
“Tidak, aku, aku baik-baik saja,” Nadira gelagapan dan menghindari kontak mata dengan Bram. Kenangan pahitnya bersama Bram beberapa tahun silam mulai mengganggu pikirannya.
“Nadira? Apa kau masih mengingatku? Kita dulu satu kampus di UGM,” sahut Bram sambil terus menatap Nadira dengan senyum menakutkan dan juga sorot yang mengintimidasi.
Nadira tak menjawab. Ia mengacuhkan Bram.
“Oh, rupanya kau mengenal menantuku,” sahut Rachel tiba-tiba. Baginya kehadiran Bram sedikit menguntungkan. “Apa kalian cukup dekat?” Rachel melanjutkan.
“Kami sangat dekat, nyonya,” Bram meralat.
Arga, tolong bawa aku pergi dari sini.
“Cukup!” Arga mengeraskan suaranya. Semua menoleh kepadanya. “Silahkan kalian lanjutkan obrolan, aku dan Nadira akan pergi, dia butuh beristirahat karena dia ke sini setelah bekerja di UGD,”
Nadira segera melangkah sambil tetap menggenggam tangan Arga agar ikut dengannya.