
Pagi-pagi sekali Nadira sudah sibuk di dapur apartemennya, hendak membuatkan sarapan untuk Arga dan juga untuknya, sementara Arga terakhir ia meninggalkannya, lelaki itu masih terlelap di kasurnya, karena semalam ia tertidur begitu larut malam. Saat Nadira tengah asyik membuat spagethi instan, ia mendengar ponselnya berdering tak jauh dari meja dapur.
Saat bangun tadi, Nadira kembali mengaktifkan ponselnya yang sengaja ia matikan semalam.
Nadira segera mematikan kompor lalu bergegas meraih ponselnya. Ia melihat nomor telpon dari rumah pamannya, sedang memanggil. Nadira segera menjawabnya.
“Halo, assalamualaikum,”
“Waalaikumussalam, Nad,” sahut Niken di ujung telpon.
“Niken, ada apa?”
“Nad, aku sangat khawatir padamu, semalam papa bilang kau menghilang dari pesta ulang tahun Rajasa Group,”
“Maaf, aku sudah membuat banyak orang jadi khawatir,”
“Apa terjadi sesuatu antara kamu dan Arga?” tanya Niken seolah tahu apa yang terjadi sehingga Nadira meninggalkan acara ulang tahun Rajasa Group begitu saja.
Nadira tak menjawab, dia hanya diam.
“Nad, aku sangat mengenalmu. Jangan simpan bebanmu sendirian, ceritalah padaku nanti, aku tahu pasti tidak mudah bagimu menjalani semua ini, mengingat seperti apa sikap ibunya Arga,”
“Iya Niken, nanti kalau aku datang menjengukmu, aku akan berbagi cerita denganmu,” Nadira berjanji.
“Apa Arga sedang bersamamu?”
“Iya, dia masih tidur dan aku sedang memasak sarapan untuknya,” jawab Nadira.
Tiba-tiba Nadira mendengar bunyi benda jatuh di belakangnya. Nadira segera menoleh dan melihat Arga berdiri tidak jauh dari dapur dan di dekat kakinya berserakan pecahan vas bunga yang tidak sengaja ia senggol dan terjatuh dari sebuah meja kecil. Lelaki itu sudah bangun sejak tadi, dan ia bersusah payah keluar dari kamar ingin menghampiri langsung Nadira yang sedang memasak sarapan.
“A-Arga,” Nadira begitu kaget, ia meletakkan ponselnya tanpa mengakhiri telponnya dengan Niken. Ia bergegas menghampiri Arga, sebelum lelaki itu melangkah dan menginjak pecahan vas bunga.
“Kau berbicara dengan siapa di telpon?” tanyanya dengan sorot datar saat Nadira meraih tangannya.
“Itu, sama teman,” jawabnya asal, Nadira tak tahu harus bagaimana. Ia bagai kucing yang tersiram air.
“Nad, aku mendengar semuanya dengan jelas. Itu Niken kan?” tanyanya.
Nadira diam.
“Dia sudah kembali?” tanya Arga lagi.
Nadira masih diam.
“Nad, kenapa kamu tidak jujur padaku?” Arga begitu kecewa.
“Maaf Arga, aku...,”
“Kau sudah membohongiku, Nad,”
“Arga, bukannya kau tidak mengharapkan Niken lagi?”
“Iya, kau benar. Aku tidak menginginkannya lagi setelah aku jatuh cinta padamu. Tapi aku kecewa, selama ini kau tidak jujur padaku tentang kebenarannya. Kalian berdua seperti mempermainkan aku,”
Arga membalik badannya dan melangkah pergi dengan langkah hati-hati.
“Arga, tidak seperti itu,” Nadira mencegatnya dan berdiri di depan lelaki itu.
Arga menarik nafas, pikirannya kacau. Ia tak menyangka Nadira tidak jujur padanya tentang Niken yang sudah kembali. Nadira pun sama kacaunya saat melihat Arga yang merasa begitu kecewa padanya.
Niken yang masih ada di sambungan telpon, mendengar semua pertengkaran antara Arga dan Nadira. Ia merasa perlu untuk mengambil tindakan.
.
.
.
Nadira lebih banyak diam dan melamun saat di UGD, ketika UGD cukup lengang, hanya ada beberapa pasien yang masih dirawat itupun hanya perawat yang mengambil alih memantau kondisi mereka.
Ponsel Nadira kembali berdering, nomor telpon dari rumah pamannya.
“Halo, assalamualaikum,”
“Bibi, ada apa?”
“Nak, Niken baru saja pergi sendirian ke Rajasa Group dia ingin bertemu Arga. Bibi tidak bisa mencegahnya, dia pergi sendiri sambil mengendarai mobil,” Widya masih begitu cemas.
“Apa,”
“Nadira, tolong kamu ke sana, susul Niken. Bibi takut terjadi apa-apa padanya, apalagi kalau dia bertemu Nyonya Rachel,” Widya tak bisa membayangkan, Niken yang sedang hamil tua dengan perut yang besar, berhadapan dengan amarah Rachel yang pasti akan mengata-ngatainya jika melihatnya tiba-tiba muncul di sana.
.
.
.
Niken melangkah masuk ke Rajasa Group, kedatangannya langsung menjadi pusat perhatian, apalagi bagi orang-orang yang bekerja di sana mereka cukup mengenali Niken sebagai mantan tunangan bos mereka.
Niken segera menghampiri meja resepsionis, “apa direktur utama ada di tempat?” tanyanya langsung.
Resepsionis itu menatap penampilan Niken dari ujung kepala hingga ujung kaki. Niken berdandan biasa saja, perutnya yang besar sangat menarik sorot mata orang-orang.
“Ada. Apa anda sudah buat janji sebelumnya?” tanya resepsionis itu.
“Tolong sambungkan saya ke meja sekretaris pribadinya,” ujar Niken.
Resepsionis itu menatapnya ragu, apalagi melihat penampilan Niken yang tidak seperti orang yang mau datang untuk berbicara soal pekerjaan ataupun bisnis.
“Nona, bilang saja Niken ingin bertemu, dia pasti akan menerima kedatanganku,” sahut Niken tampak tidak sabaran.
Resepsionis itu mengangguk lalu menelpon langsung ke meja Irfan dan menyampaikan sesuai yang dikatakan Niken.
“Saya sudah bicara, kata sekretarisnya anda menunggu saja di lobi,” kata si resepsionis setelah menutup telponnya.
Niken hanya mengangguk lalu melangkah menuju ke jajaran sofa yang tak jauh dari meja resepsionis. Tak lama kemudian, Irfan datang, ia segera menghampiri Niken. Niken segera berdiri begitu Irfan datang.
“Nona, kenapa anda tiba-tiba datang kemari?” tanya Irfan, ia seolah menyayangkan kedatangan wanita itu yang tanpa dipikirkan matang-matang.
“Aku hanya ingin bertemu Arga, aku hanya ingin bicara dengannya. Banyak hal yang harus aku jelaskan padanya,” jelas Niken.
“Nona, jangan sekarang, suasana hati Tuan Arga sedang tidak baik, kalau anda tiba-tiba muncul...,”
“Irfan, Arga sudah tahu kalau aku sudah kembali,” Niken memotong bicara Irfan.
“Karena dia sudah tahu, aku harus bertemu dengannya. Dia pasti akan semakin marah kalau aku tidak datang menemuinya dan menjelaskan semuanya,”
Irfan diam saja. Baginya ini begitu sulit.
“Mau tidak mau Arga harus tetap tahu semuanya kan? Dia akan semakin marah kalau aku menyembunyikan kebenarannya. Biarkan aku bicara berdua dengannya, setelah ini aku berjanji tidak akan pernah menemuinya lagi, karena dia sudah menjadi suami dari Nadira,”
Irfan kemudian mengangguk lalu menuntun Niken menuju ke ruangan Arga.
Mereka berdua pun sampai di depan pintu ruangan Arga. Irfan mengetuk pintu sebentar, lalu membukanya dan masuk bersama Niken.
Arga tahu, Irfan baru saja datang, tapi dia tidak berkata-kata, hanya duduk bersandar di kursinya. Niken bisa membaca raut muka Arga yang begitu galau.
“Maaf tuan, ada seseorang yang ingin menemui anda,” sahut Irfan tampak hati-hati.
“Siapa?” tanya Arga dengan nada datar.
“Aku, Arga,” sahut Niken yang berdiri di samping Irfan.
Arga bagai membeku di tempatnya saat ia mengenali suara Niken. Untuk sesaat, ketiganya dalam keheningan, tidak tahu hendak berkata apa.
“Maaf Arga, kalau aku tiba-tiba datang...,”
“Irfan, keluarlah!” sahut Arga dingin.
Irfan segera bergegas keluar dari ruangan dan menutup pintu.
Niken menarik nafas saat ia menatap Arga yang tiba-tiba saja berekspresi begitu dingin dan menakutkan seperti Rachel.