
“Mom, tolong....,” sahut Nadira begitu melow.
“Kamu tidak perlu ikut campur!” Rachel memotong kalimat Nadira.
Arga menatap Nadira sedih, lalu menggeleng pelan, memintanya untuk diam saja, biarkan ia bicara berdua dengan sang ibu.
Arga hanya saling pandang sejenak dengan ibunya, ketegangan antara ibu dan anak itu tak bisa dihindari. Lalu Arga menatap sejenak pada Nadira. Nadira hendak melepaskan tangannya dari genggaman Arga, namun ia menolak dan tetap menggenggam tangan Nadira.
“Mom, aku sangat menyayangimu dan aku juga sangat menghormatimu sebagai ibuku. Tapi kali ini aku mohon, izinkan aku menentukan kebahagiaanku sendiri hanya bersama Nadira, bukan dengan Feli ataupun perempuan lain,” sahut Arga dengan sorot memohon, suaranya pun sedikit bergetar menahan emosi yang sesak di dadanya.
Rachel tak segan-segan lagi menyorot dingin ke arah putra semata wayang dan kesayangannya itu.
“Sejak hari ini mommy akan selalu ingat keputusanmu yang lebih memilihnya daripada ibumu sendiri,” ucapan Rachel bercampur amarah dan juga kecewa.
“Mom, aku tidak memilih siapa-siapa. Aku hanya meminta izinmu untuk menentukan sendiri kebahagiaanku bukan lewat keputusan mommy yang menginginkan aku bersama perempuan lain selain Nadira,”
“Cukup Arga! Mommy sudah bilang, pilih dia atau mommy. Kalau kau bersikeras perempuan ini tetap bersamamu, bagi mommy kamu bukan Arga, anak mommy lagi. Tidak ada hak bagimu ataupun perempuan itu di rumah ini. Apalagi Rajasa Group tinggalkan semua posisi dan jabatanmu,”
“Mommy mengusir kak Arga ya?” Rasty tampak tidak terima.
“Arga...,” panggil Nadira yang tampak gusar.
“Baiklah mom, aku terima kalau aku harus kehilangan semuanya, bahkan statusku di rumah ini. Tapi mommy tetaplah ibuku dan aku juga tetaplah anakmu. Aku tidak akan jadi anak yang durhaka mom, aku hanya meminta kali ini saja izinkan aku menentukan kebahagiaanku sendiri,”
Arga lalu melangkah pergi sambil terus menggandeng Nadira.
“Arga, seharusnya tidak begini. Aku tidak sampai tega kalau hubunganmu dan mommy jadi seperti ini,”
“Lalu harus bagaimana Nad? Kau lebih memilih untuk berpisah denganku dan aku kembali kepada ibuku? Mommy terlalu egois, kalau aku pergi setelah dia mengusirku aku berharap dia bisa merenungkan semuanya, kalau kebahagiaan seorang anak adalah yang utama, lagipula aku sudah dewasa mommy seharusnya tidak mengatur hidupku lagi,” ungkap Arga berhadapan Nadira ketika mereka telah sampai di depan pintu rumah.
“Kak Arga! Kak,” Rasty berlari-lari menyusul keduanya. “Kak, kalian jangan pergi dari rumah ini. Mommy itu tidak serius, dia hanya ingin menggertakmu saja,” ujar Rasty begitu sampai.
“Tidak apa-apa Ras, aku hanya ikut saja apa mau mommy. Mungkin memang lebih baik sekarang, aku dan Nadira tidak muncul dulu di depan mommy, kau tahu kan mommy kalau marah seperti apa,” ucap Arga sambil tersenyum setelah melewati aura ketegangan bersama ibunya.
“Kak Arga, ini serius. Aku tidak mau kehilanganmu kak,” Rasty tampak merengek.
“Rasty, aku dan mommy hanya beda tempat saja, kau tidak akan kehilangan kakakmu ini. Kau harus percaya kalau Nadira akan menjaga kakakmu ini dengan sangat baik,” Arga melirik Nadira sambil tersenyum.
Nadira mengangguk, “iya Rasty, aku akan menjamin kebahagiaan kakakmu,”
Rasty mengusap air matanya, “Seandainya saja mommy tidak bersikap sekeras ini,”
“Sekarang kau juga harus berjanji untuk menjaga mommy selama aku tidak di rumah. Kalau ada apa-apa pada mommy kau harus segera menghubungiku,”
Rasty mengangguk kemudian memeluk Arga. Siang itu Arga memantapkan hatinya merajut hari-harinya bersama Nadira, tak terpisahkan lagi.
Nadira tak bisa membendung tangisannya saat ia dan Arga duduk bersama dalam sebuah taksi.
“Nad, kenapa kau harus menangis begini?” tegur Arga sambil menarik wajah Nadira menghadap padanya.
Nadira tak bisa berkata-kata, tangisnya masih pecah dan tenggelam di dada Arga.
“Kenapa kau meminta maaf? Apa kau merasa telah memisahkan seorang anak dengan ibunya?”
Nadira mengangguk, kemudian mengangkat wajahnya. “Arga, aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua, apalagi seorang ibu, rasanya aku sedang kembali pada masa saat ibuku meninggal dan aku hanya bisa menangis saat menyadari kalau aku tidak memiliki orang tua lagi setelah kematian ibu,”
Arga mendekap Nadira, “aku menyesal karena hal ini jadi membuatmu teringat saat itu, maafkan aku Nad,”
“Mommy adalah satu-satunya orang tua kita, dan kita pun harus kehilangannya,” Nadira begitu sedih dan menyesal.
“Sayang, dengarkan baik-baik. Kita tidak kehilangan mommy, percaya saja kalau yang terjadi saat ini adalah yang terbaik bagi kita dan juga mommy. Setelah perasaan mommy sudah lebih tenang, kita akan coba lagi untuk mendapatkan restunya,” ucap Arga sambil menghapus air mata Nadira dan menenangkan perasaannya.
“Tadinya aku pikir kau menangis karena menyadari kalau aku sekarang sudah jatuh miskin,” sahut Arga kemudian setelah Nadira berhasil meredam tangisnya.
“Tapi apa kau akan baik-baik saja, setelah jatuh miskin?”
“Asal bersamamu, aku tidak masalah. Lagipula aku tidak sendiri dalam kondisi ini. Kau tahu Raja Edward ke VIII? Rela turun tahta Kerajaan Inggris hanya demi seorang perempuan yang terlarang untuk dinikahinya sebagai seorang penerus tahta Kerajaan. Aku juga melakukan hal yang sama, semua kekayaan dan juga Rajasa Group tidak sebanding dengan rasa sayangku padamu Nad,”
“Apa murni karena menyayangiku kau meninggalkan semuanya?”
Arga mengelus lembut perut Nadira, “karena dia juga, aku tidak mau dia terlahir tanpa seorang ayah.”
Keduanya sampai di rumah Herman dan Widya. Keduanya disambut dengan begitu hangat, bahkan ketika mereka melihat tangan kanan Arga yang masih dibebat, keduanya begitu khawatir.
“Apa kalian sudah bertemu Nyonya Rachel?” tanya Herman saat mereka berempat duduk di kursi ruang tamu.
“Iya paman,” jawab Nadira sekenanya.
Herman menatap keduanya begitu serius. Arga mengerti lalu angkat bicara, “mommy sangat marah, dan ... aku tidak bisa melepaskan Nadira,” Arga menatap Nadira lalu menggenggam erat tangannya.
Herman dan Widya menghela nafas. Tidak perlu heran lagi, Arga memang begitu tulus dan serius mencintai Nadira walau begitu banyak dorongan untuk mereka berpisah.
“Aku bangga padamu Arga, walau awalnya kalian menikah untuk menyelamatkan kehormatan, tapi pada akhirnya kau memilih mempertahankan pernikahanmu dengan Nadira, aku bisa tenang sekarang karena Nadira memiliki seseorang di sisinya yang akan selalu mencintai dan menjaganya,” ungkap Herman menatap kedua sejoli itu bergantian.
“Bukan hanya untuk Nadira, paman. Tapi juga janin dalam kandungannya, aku tidak ingin dia terlahir tanpa ayah,” ungkap Arga.
“Kamu hamil nak?” Widya bertanya senang.
Nadira mengangguk sambil meneteskan air mata bahagia.
“Alhamdulillah. Apa Nyonya Rachel tahu kalau kamu hamil?” tanya Herman.
Arga dan Nadira berpandangan sejenak, lalu Nadira mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tadi saat mereka menemui Rachel.
“Bibi tidak setuju kalian tinggal di apartemen. Lebih baik kalian tinggal di sini dengan kami. Apalagi kamu sedang hamil nak,” ujar Widya.
“Bibimu benar. Tak perlu merasa sungkan, kita adalah keluarga,” Herman menambahkan.
Arga dan Nadira saling berpandangan sejenak lalu kemudian kompak mengangguk, setuju untuk tinggal di kediaman Herman dan Widya.