NADIRA

NADIRA
HUJAN



^^^


Selamat membaca! Semoga terhibur!


Aku harap kalian menikmati ceritanya.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like dan komentar ya.


Jangan lupa vote aku juga, biar up-nya lebih semangat.


Terima kasih.


Salam hangat, Ratihyera.


^^^


Nadira melihat, Arga seperti sedang memaksa kedua matanya untuk melihatnya. Hingga akhirnya ia merasa lelah lalu membuang pandangannya.


“Arga,” panggil Nadira sambil menyentuh pelan pundak Arga.


“Tidak apa-apa. Aku melakukan hal yang tidak mungkin terjadi,” ucapnya. “Aku hanya penasaran seperti apa rupamu,” Arga sedikit tertawa, seolah mengolok dirinya sendiri.


Nadira tersenyum malu, “jadi kamu penasaran denganku?”


Arga tertawa getir.


“Nad, apa sebelumnya kita pernah ketemu waktu aku masih jalan sama Niken?” Arga bertanya penasaran.


“Pernah, sekali,” jawab Nadira mengingat.


“Kapan?” Arga terdengar antusias.


“Waktu kamu mengantar Niken pulang, kita sempat ketemu dan saling senyum. Begitu saja, selebihnya kita tidak bertemu kecuali saat aku menanganimu di UGD,”


Arga diam, berusaha mengingat-ingat, kapan ia pernah bertemu Nadira saat matanya masih bisa melihat. Jika bisa ingat, tentu dia tidak akan penasaran begini tentang bagaimana wajah Nadira.


“Ah, aku benar-benar tidak ingat. Aku tipe orang yang gampang melupakan sesuatu yang menurutku tidak penting,”


Nadira diam. Aku memang bukan orang yang penting bagimu, bahkan saat ini juga tidak penting.


“Kenapa diam?”


“Memangnya aku harus bilang apa?” Nadira menatap lurus ke arah lautan. Nadira mengamati langit yang tampak menghitam.


“Ayo kita pulang, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Kau pasti tidak mau bertemu hujan,” Nadira bangkit, mengambil sepatu Arga dan membantunya memakainya. Keduanya berjalan menyusuri garis pantai menuju ke arah mobil di seberang sana. Ternyata mereka sudah cukup jauh berjalan menyusuri pantai.


Nadira sudah bisa melihat gelagat Arga yang tampak mulai tidak nyaman ketika ia menggamit lengannya. Angin berhembus kencang, pelan-pelan rintik hujan pun jatuh membasahi. Arga belum begitu gelisah karena hujan yang jatuh masih dalam intensitas hujan yang ringan.


“Tenanglah Arga,” Nadira mengelus pelan lengan Arga, berusaha membuatnya tenang sambil terus berjalan menuju ke arah mobil yang parkir agak jauh dari lokasi mereka saat ini.


Hujan deras pun mengguyur. Nadira mempercepat langkah dan setengah berlari sambil terus menuntun Arga. Arga memejamkan kedua matanya, menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangannya.


Nadira tak tahu harus bagaimana. Arga sangat gelisah dan ia berkali-kali menggeleng berusaha mengenyahkan bunyi hujan yang memenuhi ruang dengarnya, juga berusaha mengenyahkan kenangan di malam terakhir matanya masih bisa melihat.


“Arga!” panggil Nadira.


Arga masih sama. Seolah terjebak sendirian dalam trauma dan kenangan buruk yang belum bisa ia lupakan dalam kegelapan dunianya.


Nadira menarik paksa turun kedua tangan Arga yang sedang menutup telinganya.


“Arga!”


Arga semakin gelisah, ia menarik paksa tangannya dari kekuatan tangan Nadira. Hingga gadis itu mundur beberapa langkah ke belakang.


Arga mulai mengerang tak nyaman.


Nadira kembali mendekat dan sekuat tenaga menarik paksa turun tangan Arga.


Dari jarak beberapa meter, Irfan datang sambil membawa payung bagi Arga dan Nadira, tapi Nadira menahannya untuk tidak datang menghampiri.


“Arga! Dengarkan aku!” Nadira setengah berteriak. “Tidak ada yang salah dengan hujan! Kamu tidak mesti membenci atau menghindar!” ujar Nadira masih dengan nada yang sama.


“Arga, pelan-pelan Arga, coba nikmati bunyi hujan,” Nadira berusaha memberi sugesti. “Coba rasakan setiap tetes hujan yang jatuh ke badan kamu.”


Pelan-pelan, Arga mulai tenang meski sesekali ia masih tampak tidak nyaman dengan hujan. Nadira kini menggenggam lembut kedua tangan Arga.


“Tidak ada yang salah dengan hujan, Arga,” ulang Nadira. “Kalau kamu punya kenangan buruk saat hujan turun, lupakan! Ganti dengan kenangan lain yang lebih baik. Misalnya saja hari ini,” nada bicara Nadira mulai melunak, meski suara hujan masih mendominasi. “Kamu bisa melawan traumamu Arga. Kamu pasti bisa.”


Arga diam seolah meresapi bunyi hujan. Nadira menyadari kedua tangannya yang sedang menggenggam tangan Arga. Pelan-pelan ia melepasnya karena mulai merasa kalau mungkin saja Arga akan menganggapnya sudah lancang.


“Kita pulang ya,” Nadira berkata dengan lembut saat melihat Arga sudah tampak lebih tenang sambil menengadahkan sebelah tangannya seolah menangkap hujan dalam telapak tangannya.


Irfan bergegas menghampiri lalu memayungi keduanya. Nadira kembali menuntun langkah Arga menuju ke mobil.


.


.


.


Nadira terjaga di malam buta, ia melihat ke arah Arga yang sedang tidur di atas ranjang. Nadira duduk di sofa tempatnya berbaring tadi, matanya tak lepas menatap ke arah Arga yang sedang tertidur pulas.


Pikiran Nadira mulai berkelana ke masa lalu. Pertemuan pertamanya dengan Arga, saat laki-laki yang dinikahinya itu masih berstatus kekasih Niken.


Flashback...


Lima tahun yang lalu.


Nadira sedang membantu Widya, bibinya menanam beberapa bunga di halaman rumah. Kedua tangannya tampak kotor karena menyentuh tanah. Wajahnya dipenuhi pelu, rambut sebahunya diikat sembarangan.


“Niken kok belum pulang, bi?” tanya Nadira sambil menanam bunga di pot.


“Tadi dia menelpon, katanya jalan sama Arga,” jawab Widya yang juga sedang sibuk menanam bunga di pot.


Nadira hanya manggut-manggut.


“Bibi dengar dari Niken, katanya kamu sudah punya pacar, namanya Bram,”


Nadira tampak malu-malu.


“Bibi sebenarnya khawatir kamu sama Niken berpacaran. Kalian harus bisa menjaga diri, kalian ini anak perempuan. Tapi sejauh bibi mengenal Arga, anaknya baik, dan selalu mengantar Niken pulang tepat waktu sampai di rumah,” Widya bercerita sambil menata bunga yang telah selesai ditanamnya dalam pot. “Bagaimana dengan Bram?”


“Nadira belum lama kenal sama Bram, bi. Tapi Bram orangnya baik,” jawab Nadira.


“Kamu harus jaga diri ya nak. Sebenarnya paman sama bibi begitu khawatir dengan pergaulan kalian di luar, apalagi kamu Nad, yang tinggal di Jogja, jauh dari kami,”


“Iya bi. Bram selalu membantu Nadira selama di Jogja, waktu Nadira sakit dia yang ke sana ke mari beli bubur, belikan obat,” Nadira tersenyum mengingat perhatian kekasihnya, Bram.


“Syukurlah nak, bibi selalu mendoakan kamu dan Niken dapat jodoh laki-laki yang baik,”


Pagar rumah tiba-tiba terbuka, sebuah mobil sport mewah memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di dekat Widya dan Nadira yang sedang asyik menanam bunga dalam pot.


Nadira menatap ke arah mobil itu, seorang laki-laki berpostur tinggi, berkulit putih, dengan gaya casual turun dari mobil. Begitu turun matanya menyasar ke arah Widya, tersenyum sejenak dan menyapa dengan ramah, lalu mata coklat indah itu beralih kepada Nadira yang juga menatapnya penasaran. Hanya beberapa detik mereka berpandangan, lelaki itu segera membukakan pintu bagi Niken.


Begitu turun, Niken segera menghambur ke arah Nadira.


“Nad, akhirnya kamu datang dari Jogja,” Niken seperti anak kecil yang kegirangan saat melihat sepupu rasa saudaranya itu sudah datang ke Jakarta untuk menghabiskan liburan semesternya.


Mereka berangkulan sejenak.


“Maaf Niken, tanganku kotor, bau keringat juga,” ucap Nadira sambil mengawasi Arga yang melangkah mendekat.


“Ga, kenalkan ini Nadira sepupuku yang kuliah di Jogja,” Niken mengenalkan keduanya.


Nadira tersenyum kepada Arga.


Lelaki itu balas tersenyum, namun matanya tak bisa lepas kepada Niken.


“Aku cuci tangan dulu ya,” Nadira pamit pergi. Begitu masuk ke dalam rumah, ia mengintip melalui kaca jendela menatap sembunyi-sembunyi ke arah Arga yang tampak akrab mengobrol dengan Widya.


Satu hal yang muncul dalam hatinya, ia kagum melihat sosok kekasih yang sering diceritakan Niken padanya. Selain tampan, dia juga begitu ramah.