NADIRA

NADIRA
SEPERTI CAHAYA



Arga belum bereaksi, ia hanya duduk termangu. Setelah menyadari kenyataan kalau laki-laki di hadapannya ini adalah mantan pacar Nadira.


“Kalau anda tidak tertarik dengan pembicaraan ini, kita bisa akhiri pertemuan hari ini,” Bram berujar santai sambil meraih gelas dan meminumnya habis dalam satu tegukan.


“Sejauh apa kau mengenalnya?” tanya Arga kemudian.


“Aku akan bicara jujur saja tuan Arga, aku yakin istrimu Nadira pasti tidak pernah terbuka padamu soal masa lalunya,”


“Tuan Bram, saya rasa bicara anda sudah di luar dari tujuan pertemuan bisnis hari ini dengan tuan Arga,” Irfan menyahut tiba-tiba, ia merasa cemas dan tidak nyaman dengan Bram.


“Irfan, jangan ikut campur!” Arga berkata dingin, ekpresinya begitu datar.


Irfan tak bisa berbuat apa-apa, ia tak pernah membantah perintah tuan mudanya.


Bram lagi-lagi tersenyum samar. Dia benar-benar penasaran bagaimana reaksi Arga saat tahu seperti apa hubungannya dulu dengan Nadira.


“Aku mengenal istrimu jauh sebelum kau mengenalnya. Dia perempuan yang polos dan agak pemalu,” Bram mulai bercerita seperti apa Nadira di matanya.


“Dia cukup terkenal di kampus karena kecantikannya. Dia dijuluki si putri malu, karena tidak sembarangan dekat dengan laki-laki. Aku suka tipe gadis seperti dia, begitu polos. Tak mudah bagiku mendekatinya, sampai kemudian dia luluh dan menerimaku sebagai teman dekatnya, lalu menjadi pacarnya,” Bram melanjutkan sambil terus mengamati raut muka Arga.


Arga menggerakkan tangannya ingin mengambil jusnya, namun ia tidak sengaja menjatuhkan gelas jusnya di lantai. Suasana hatinya begitu kacau.


“Tuan Arga, anda baik-baik saja?” tanya Bram pura-pura cemas.


“Berikan aku whisky!” ujar Arga pada wanita di sampingnya. Wanita itu segera melaksanakan perintah dari Arga dengan mengambil gelas dan sebotol whisky.


“Tuan, aku bisa ambilkan minuman yang lain,” Irfan menawari.


Arga mengangkat sebelah tangannya melarang Irfan bergerak dari posisinya.


“Jangan berbicara dan bertindak tanpa aku perintahkan!” tegas Arga, ia pun menerima segelas whisky dari wanita di sampingnya. Arga menghabiskan whisky itu dengan sekali tegukan. Ia benar-benar tidak nyaman dengan hubungan Bram dan Nadira di masa lalu.


Irfan hanya bisa mengawasi Arga tanpa bisa berbuat apa-apa. Setiap tegukan whisky yang diminumnya, membuat Irfan begitu cemas.


Gelas demi gelas whisky dihabiskan begitu saja oleh Arga. Wanita di sampingnya dengan patuh menuangkan whisky di gelas minuman Arga setiap kali ia memintanya.


“Tuan Arga, sepertinya anda sudah banyak minum,” ujar Bram yang tampak asyik mengamati Arga menikmati setiap gelas whisky nya.


“Lanjutkan saja ceritamu, sejauh apa hubunganmu dengan Nadira di masa lalu,” sahut Arga, dia sangat penasaran walau itu harus mengganggu hati dan pikirannya, hingga ia tidak bisa mengontrol tindakannya malam ini.


Arga teringat kenangannya dengan Nadira saat mereka berkunjung ke Pantai Malimbu, saat bulan madu di Lombok. Di situ dia juga tahu bagaimana bahagianya Nadira melihat pantai karena merasa bisa bertemu ayahnya yang meninggal tenggelam di lautan luas.


Setiap Bram bercerita tentang masa lalunya dengan Nadira, Arga terus meminta whisky pada wanita di sampingnya. Hati dan pikirannya kacau, sehingga ia melampiaskannya dengan meminum whisky.


“Nadira selalu menuruti tiap apa yang kuminta, setiap kali aku ingin makan sesuatu dan meminta padanya, dengan senang hati dia akan memasakkannya untukku. Dan masakannya selalu enak, yang paling kuingat adalah nasi goreng buatannya, tidak ada tandingannya,”


Bram mengawasi Arga yang tak terasa sudah menghabiskan sebotol whisky, sendirian.


“Apa kau masih mencintai Nadira? Sampai sekarang kau menceritakan kenanganmu dengannya begitu membekas di pikiranmu,” nada bicara Arga terdengar tak biasa, ia sudah mulai mabuk.


Bram diam sejenak sambil menuangkan sendiri anggur ke dalam gelasnya yang kosong. Ia tersenyum sambil meminum anggurnya beberapa teguk, sementara Arga terus meminta whisky, bagai orang yang kecanduan.


“Sebenarnya aku sangat mencintainya. Seandainya dia tidak bersikap keras kepala padaku,” ujar Bram tampak menyesal.


“Nadira keras kepala bagaimana, huh?” Arga bertanya dengan dengan suara agak lantang pengaruh alkohol perlahan mulai menguasainya.


“Dia tidak mudah disentuh,” Bram berkata jujur, “satu hal yang tidak kusukai darinya, dia terlalu kaku. Bahkan untuk sekedar dicium atau dipeluk. Aku merasa dia terlalu sok suci. Apa gunanya dia menerimaku sebagai pacarnya kalau aku tidak bisa menyentuh tubuhnya? Sekedar berciuman dan berpelukan saja. Aku bahkan tidak berpikir untuk meminta kehormatannya,”


Arga melempar gelas minumannya ke lantai setelah meneguk habis whisky nya. “Sialan kau! Beraninya kau mencium dan memeluk Nadira. Kau bilang dia sok suci? Hei jaga mulutmu, Nadira yang kukenal tidak seperti itu. Aku sangat tidak suka hubungan masa lalu kalian, tapi bagaimana pun juga aku tidak bisa tidak peduli padanya, dia seperti cahaya yang menuntunku dalam hidupku yang dipenuhi kegelapan,” Arga berujar di bawah pengaruh alkohol. Jadi Bram tidak kaget saat Arga meresponnya dengan kata-kata kasar dan nada bicara yang lantang.


Kesadaran Arga perlahan tergantikan pengaruh alkohol dari sebotol whisky yang dihabiskannya. Arga tak bisa menguasai tubuhnya, ia tampak oleng. Wanita di sampingnya, segera menahan tubuhnya.


“Tuan, anda baik-baik saja?” tanya wanita itu sambil menepuk pelan sebelah pipi Arga dengan lembut, berusaha mengembalikan kesadaran lelaki tampan itu.


Merasakan sentuhan tangan wanita itu, Arga jadi berhalusinasi kalau dia adalah Nadira.


“Aku senang kau di sini,” ujar Arga sambil mengarahkan wajahnya ke depan wajah wanita itu. “Sungguh aku begitu menyedihkan karena tidak bisa melihatmu, tidak tahu bagaimana wajahmu,” kali ini Arga tampak sedih. Hal yang sebenarnya sangat ia impikan, bisa melihat seperti apa wajah Nadira. secantik apa dia seperti yang diceritakan Bram.


Wanita itu tersenyum malu, berpikir Arga sedang menggodanya, meski ia cukup tahu kalau Arga sedang mabuk dan tidak bisa menguasai dirinya.


“Tuan Arga, sudah saatnya kita pulang,” Irfan pun menyahut dan memutuskan untuk mengurus Arga membawanya pulang, ia memegang lengannya.


“Lepaskan!” ucap Arga kasar, lalu merangkul wanita di sampingnya begitu erat, dan wanita itu deg-degan bukan main, tapi merasa senang. Baginya ia seperti kejatuhan berlian, bisa bersentuhan bahkan dirangkul oleh seorang lelaki tampan dan kaya raya seperti Arga, pemimpin dari perusahaan terkenal di negeri ini.


“Aku mau pulang asal dia ikut denganku!” Arga mengajukan syarat.


Irfan mengisyaratkan wanita itu untuk ikut dan membantunya membawa Arga yang mabuk berat keluar dari klub malam itu. Sepanjang jalan Arga terus merangkul wanita itu, merasa sedang bersama Nadira.