
"Sayang, kita mau ke mana?" tanya Arga ketika Nadira mengemudi mobilnya cukup jauh.
"Sebentar lagi sampai, sayang,"
"Sebenarnya kamu ngidam makan apa sih?" tanya Arga penasaran.
"Somay," jawab Nadira.
Nadira menepikan mobilnya ketika melihat gerobak penjual somay Bang Toyib yang membuka lapak sederhana di pinggir jalan. Begitu mereka turun ada banyak pembeli yang sedang mengantri dilayani, Nadira melirik ke dalam lapak, namun ternyata penuh oleh orang-orang yang datang untuk menikmati langsung somay-nya.
Somay itu memang terkenal sebagai somay yang enak, di daerah situ, pengunjungnya selalu banyak, sebenarnya somay Bang Toyib itu adalah langganan Nadira dan Melani sejak dulu. Sudah lama memang Nadira tidak makan somay, dan saat hamil begini tiba-tiba saja dia ngidam ingin makan somay Bang Toyib.
"Sayang, apa tidak ada penjual somay yang lain? Kenapa harus di sini sih?" Cegat Arga sebelum Nadira melangkah menemui penjualnya langsung untuk memesan. Arga agak merasa risih melihat orang-orang seketika menatap kepadanya, itu karena wajah dan penampilannya yang memang mencolok. selain itu ia menilai kalau somay yang dijual itu tidak sehat apalagi higienis karena lokasinya yang di pinggir jalanan yang ramai.
"Kita pulang saja, tidak usah beli di sini. Kita cari penjual somay lain saja," ajak Arga.
"Arga, aku maunya makan somay yang di sini, tidak mau beli di penjual lain," Nadira bersikeras dengan raut manjanya.
Arga jadi tidak berdaya untuk melarangnya lagi.
"Tidak boleh loh, larang-larang orang hamil makan yang diidamkannya, ini juga kan bawaan dari jabang bayi" tambah Nadira.
Arga pun mengangguk, mengalah jika ini keinginan si jabang bayi, meski dalam hati sejujurnya ia tidak suka jika Nadira makan di sini.
Nadira menyadari respon para calon pembeli somay Bang Toyib apalagi di sana cukup banyak kaum hawa yang menatap terang-terangan kepada Arga. Seolah melihat seorang selebriti.
"Arga, lebih baik tunggu aku di mobil," ajak Nadira, merasa risih.
"Tidak. Mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian, kau sedang hamil sayang," Arga menolak, lalu meraih tangan Nadira, menggenggamnya. Takut ada yang menggoda wanitanya di keramaian seperti ini.
"Kau tidak akan tergoda kan?" tanya Nadira.
"Apa aku seperti lelaki murahan, begitu?"
"Aku percaya padamu," Nadira tersenyum menatap Arga kemudian ikut masuk ke barisan untuk mengantri.
"Nad, hari sudah mulai malam, sebaiknya kau menunggu di mobil saja, biar aku yang mengantri di sini untuk membeli somay-nya," Arga berinisiatif.
"Tapi ...," Nadira sedikit khawatir, takut kalau-kalau perempuan lainnya mencoba menggoda suami tampannya.
"Kau tidak boleh lama berdiri sayang, tidak baik bagi kondisimu, aku tidak mau kau kelelahan," pinta Arga.
Nadira mengangguk patuh lalu berjalan masuk ke arah mobil yang tidak jauh terparkir. Dari dalam mobil pun, Nadira terus mengawasi Arga yang sedang mengantri sambil menurunkan kaca mobilnya.
"Suami yang baik," gumam Nadira.
Saat Arga sedang mengantri sendiri, seorang perempuan muda tiba-tiba bertanya padanya, "itu tadi istrinya ya mas?"
"Iya," jawab Arga tanpa menatap lama wanita itu.
Dari rautnya tampak begitu kecewa, kalau si tampan nyasar itu ternyata sudah beristri.
"Mas, lagi cari apa?" tanya seorang perempuan salah satu pelayan di lapak somay Bang Toyib. Sebenarnya pertanyaan itu basa basi saja, saking penasarannya dengan sosok Arga yang kelewat tampan dan penampilannya yang mencolok.
"Saya mau beli somay mbak, buat istri saya yang lagi hamil, lagi ngidam, kasihan dia menunggu saya di mobil," jelas Arga.
Mendengar hal itu semua yang di sana kemudian mempersilahkan Arga untuk dilayani lebih dulu. Tentu saja Arga tak menolak, meski sebenarnya ini pertama kalinya bagi Arga mengantri seperti ini, ia hanya ingin cepat-cepat berlalu biar tidak membuat orang lain salah fokus padanya.
Setelah menerima bungkusan somay, Arga pun hendak membayarnya, ia mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan sebuah kartu kepada kang penjualnya.
"Itu saya mau bayar, uangnya di situ, saya tidak ada uang cash, malah tidak pernah pegang uang cash,"
Penjual itu diam saja dan saling pandang kebingungan dengan perempuan yang tadi.
"Tidak bisa bayar pakai kartu ya?" tanya Arga kemudian.
Penjual itu mengangguk.
Arga menghela nafas, "baik, tunggu sebentar, saya ambil uang cash dulu di mobil," Arga mengambil alih kartunya lalu menuju ke mobil menghampiri Nadira.
Nadira menerima bungkusan somaynya dengan hati senang.
"Sayang, berikan uangmu, aku tidak ada uang cash,"
Nadira mengeluarkan dompetnya lalu memberi Arga selembar uang seratus ribuan. Arga kembali kepada Kang Penjual dan memberikan pecahan seratus ribu rupiah itu.
"Tidak ada uang pas ya mas?"
"Ya sudah, kembaliannya ambil saja,"
"Terima kasih ya mas,"
Arga kemudian melewati orang-orang yang masih menatap penasaran padanya.
Begitu sampai di mobil, Arga mendapati Nadira sedang menikmati somay-nya.
"Terima kasih sudah antri membeli ini untukku sayang. Ayo buka mulutmu," Nadira hendak menyuapi somay itu untuk Arga.
Arga menatap ragu.
"Kenapa sayang? Serius loh, ini enak. Coba dulu," Nadira meyakinkan.
"Nad, sebaiknya makan makanan yang lebih sehatlah yang tidak di jual sembarangan di pinggir jalan begitu," sebenarnya Arga kurang setuju jika Nadira yang sedang hamil dan ngidam, malah jajan sembarangan di pinggir jalan.
Nadira tergelak, "Aku yang dokter saja, tidak berpikir begitu sayang. Asli deh ini enak sayang, ayo buka mulutmu," Nadira bersikeras.
Arga menggeleng cepat.
Nadira bersungut kecewa, lalu kemudian meneteskan air mata. Karena bawaan hamil, perasaannya jadi lebih sensitif.
"Nad, kenapa malah menangis sih," Arga jadi gusar dan berusaha menenangkan Nadira. "Sayang, diam dong, tidak usah nangis,"
Nadira merajuk, "kenapa sih kamu tidak percaya sama aku? Aku hanya ingin kau mencoba salah satu makanan kesukaanku, tapi kau malah menolak bilang ini makanan yang tidak sehat, sedih sekali rasanya,"
"Sayang, maafkan aku. Baiklah, aku akan memakannya, ini kau lihat ya, aku benar-benar akan memakannya di depanmu," tanpa berpikir panjang, Arga segera menyuapi sendiri somay itu ke mulutnya. Dalam satu kunyahan ekspresinya berubah, lalu kunyahan berikutnya ia jadi malu sendiri sambil menatap Nadira yang terdiam mengamati sikapnya.
Nadira mengusap air matanya.
"Kau benar sayang, ini sangat enak. Ayo kita makan sama-sama," Arga mengambil alih somay itu, hendak menyuapkan somay-nya kepada Nadira. "Ayo dong sayang, tidak usah cemberut, aku akui makanan kesukaanmu ini sangat enak,"
"Kamu tidak bohong kan, Ga? Kamu bicara begitu bukan untuk bikin aku senang,"
Arga menggeleng, dan masih menunggu Nadira membuka mulutnya. Nadira pun luluh lalu menerima suapan somay dari Arga. Keduanya lalu sama-sama menikmati somay itu di dalam mobil sambil saling tersenyum.
Rachel menatap anak dan menantunya dengan perasaan campur aduk. Sejak tadi ia membuntuti keduanya, Rachel bahkan sempat tertawa saat melihat Arga ikut mengantri di kerumunan orang-orang yang ingin membeli somay. Arga dan Rasty sejak lahir sudah hidup sangat berkecukupan, segalanya mereka dilayani. Arga sebenarnya tidak pernah mengantri seperti itu, apapun yang dia mau pasti akan ia dapatkan dengan mudahnya tanpa harus bersusah payah. Melihat Arga seperti itu tadi demi Nadira membuat Rachel tertawa karena Arga malah jadi pusat perhatian di sana, seperti orang nyasar.
Rachel bersandar pelan sambil menghela nafas lalu meminta sopir pribadinya untuk segera tancap gas kembali pulang ke kediamannya menjelang waktu maghrib.