
Rachel tak habis pikir dengan sikap Arga sekarang. Ia berubah jadi dingin dan selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja saja. Semua perubahan ini karena Nadira. Sampai saat ini Arga masih berusaha untuk mencari di mana keberadaan Nadira.
Arga bahkan sudah ke Pangandaran untuk mencari Nadira, namun keluarga besar ibunya di sana tidak ada yang tahu di mana Nadira. Terakhir mereka bertemu adalah saat ia dan Nadira datang untuk berbulan madu.
.
.
.
Arga memasuki ruang kerjanya sambil melempar beberapa dokumennya di atas meja kerja dan segera duduk bersandar di kursinya. Arga merasa begitu hampa di dunianya yang kini tanpa Nadira. Semua orang begitu berbahagia setelah operasi transplantasi kornea matanya yang sukses.
Arga mengambil beberapa berkas yang tadi dibawanya. Lalu melihat-lihat lagi berkas lainnya di atas mejanya, hingga ia tak sengaja menemukan salah satu buku bacaannya yang belum selesai dibacanya. Sebuah buku berjudul Men Without Women. Arga membukanya iseng dan menemukan lipatan pada tanda bacaannya, ia menemukan tulisan kecil Nadira di sudut buku yang bertuliskan :
Kau akan selalu bersamaku, a Man with a woman.
Arga menatapnya terpaku.
“Kau mengingkari semua janjimu Nad. Kalau boleh memilih, lebih baik aku buta selamanya asal kau ada di sisiku, daripada aku melihat kembali dan kau tidak ada,” Arga tampak merana. Dalam hatinya tak pernah lepas pertanyaan, Nadira kau di mana?
.
.
.
Arga diam saja ketika Rachel bercengkrama begitu akrab dengan Feli dalam satu meja makan. Ketiganya makan malam bersama, Feli sengaja diundang khusus oleh Rachel untuk ikut makan malam di rumahnya. Arga tampak biasa saja, ia bahkan menghindari kontak mata dengan Feli.
Arga bisa melihat kalau Feli dan ibunya begitu akrab, seperti hubungan ibu dan anak antara Rachel dan juga Rasty.
“Arga, bagaimana rasanya?” tanya Rachel antusias.
“Maksud mommy?” Arga mengerutkan dahi.
“Opor ayam yang kamu makan,” jelas Rachel.
“Enak,” jawab Arga biasa saja dan kembali menyuapi mulutnya.
“Itu buatan Feli loh,” jawab Rachel.
Feli hanya tersenyum.
“Senang rasanya kalau kamu jago masak,” Rachel menatap Feli begitu sumringah.
Arga menatap ibunya begitu dalam, dengan rasa bergejolak yang ditahannya.
“Mom, kenapa mommy tidak pernah bersikap seperti ini sama Nadira?” Arga protes.
“Arga, kalian sudah bercerai,” Rachel mengingatkan, tatapannya begitu tajam.
Feli hanya diam saja, merasa tak enak hati kalau Arga ternyata masih memikirkan Nadira.
“Mom, aku belum menandatangani surat cerai. Jadi sampai detik ini kami belum resmi bercerai,” ujar Arga tegas.
“Arga, gadis itu sudah pergi,” Rachel mengingatkan.
Arga tertegun sejenak, berusaha menenangkan perasaannya yang bergejolak.
“Lupakan dia, lagipula kalian dulu menikah karena alasan khusus. Nadira berhak mendapatkan kebebasannya apalagi setelah kamu bisa melihat,” Rachel mengingatkan.
Arga menghela nafas lalu meneguk segelas air putih.
Rachel hanya mengelus dada dan begitu bersedih atas sikap membangkang Arga padanya.
.
.
.
Arga membanting pintu kamarnya begitu ia masuk. Ia merasa kesal dan begitu kacau. Setiap hari dan setiap waktu, ia tak pernah berhenti memikirkan Nadira dan selalu bertanya kepada orang suruhannya apakah sudah menemukan jejak kepergian Nadira.
Kadang Arga menangis lirih memikirkan gadis itu. Ia merasa, kalau kepergian Nadira jauh lebih menyakitkan daripada kepergian Niken saat ia buta.
“Aku tidak akan memaafkanmu kalau aku menemukanmu, dan kau tidak akan pernah lepas dariku lagi,” gumam Arga sambil memandangi foto Nadira dalam pigura.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Feli muncul dengan senyum manis dan bersahabat sambil membawa secangkir coklat panas kesukaan Arga.
“Kata mommy kau sangat suka minum coklat panas, apalagi saat suasana hatimu sedang buruk,” Feli meletakkan cangkir coklat panas itu di atas meja.
Ia melihat Arga sedang berdiri sambil memandangi foto Nadira yang tertata rapi di samping tempat tidurnya.
“Aku tidak menyangka dia pergi meninggalkanmu dengan selembar surat cerai,” sahut Feli kemudian.
“Feli, tolong jangan ikut campur,” ucap Arga berusaha tidak dingin ataupun mengintimidasi. Karena ia menghargai Feli sebagai temannnya dan gadis itu ada di sini karena keinginan Rachel.
“Aku tahu Arga, hari-hari yang telah kau jalani dengannya saat kau masih buta. Pasti begitu membekas bagimu. Tapi jangan sampai karena perasaanmu yang egois dengan terus memikirkan dia yang sudah pergi, kamu justru menyakiti perasaan ibumu,”
Arga menatap Feli.
“Kau boleh mencintai seorang perempuan, tapi cinta dari ibumu adalah yang abadi, Arga. Aku sedih melihat kau bersikap seperti itu pada mommy sejak Nadira pergi, padahal tidak ada hal yang dilakukan mommy untuk menyakiti perasaanmu. Mungkin kemarin kau menikah dengan Nadira, tanpa dia bermaksud untuk melibatkan perasaan kalian,”
“Feli, berhentilah ikut campur. Aku sangat menghargaimu sebagai temanku,”
“Arga, aku sudah menganggap ibumu seperti ibuku sendiri. Kehilangan sosok ibu di usia belia bukanlah hal mudah, tante Rachel sudah seperti orang tua bagiku apalagi saat ayahku meninggal. Aku merasa tidak punya siapa-siapa lagi, tapi tante Rachel selalu bilang bahwa masih ada dia. Arga, jaga dan sayangilah orang tuamu satu-satunya yang masih tersisa. Aku tidak mau kau menyesal, saat ini kau berani menentang ibumu dan bersikap acuh padanya hanya karena seorang wanita,”
Arga menatap Feli dengan sorot yang tak bisa ditebak.
“Arga, aku hanya peduli pada ibumu. Sejak sikapmu berubah setelah kepergian Nadira, tante Rachel merasa sendirian, apalagi Rasty sekarang tidak di sini,” Feli tampak sedih.
“Feli, aku melakukan semuanya atas kemauan mommy. Dulu dia yang memintaku untuk menikahi Nadira saat aku merasa tidak mau karena tidak mengenalnya. Dan sekarang dia juga yang memintaku berpisah dengan Nadira,” ujar Arga tak terima.
“Arga itu karena sekarang kau dan dia pakai perasaan, kau belum lama mengenalnya dan kau sudah begitu yakin dengan perasaanmu padanya?” Feli bertanya seolah meremehkan perasaan Arga kepada Nadira.
“Aku cukup mengenalnya selama dia bersamaku saat aku buta,” Arga meyakini diri.
Feli menggeleng pelan. “Arga apa kau ingat saat ulang tahun Rajasa Group? Dia tidak ada di saat kau ingin ditemani naik podium memberikan pidato. Dia ke mana? Kalau dia mencintaimu dia tidak mungkin pergi begitu saja, memikirkan dirinya sendiri. Sementara saat itu kau harus didampingi karena kondisimu,”
Arga terdiam.
“Aku tahu kau sangat kecewa Arga, aku bisa melihat ekspresi wajahmu malam itu, karena bukan Nadira yang menemanimu naik podium, tapi aku. Tante Rachel juga sudah cerita kalau laki-laki bernama Bram itu adalah mantan kekasihnya. Pantas saja malam itu dia merasa tidak begitu nyaman dan tidak menikmati pesta. Kalau dia memang mencintaimu seharusnya dia bisa kuat malam itu demi dirimu, tapi dia justru begitu lemah dan tak bersemangat saat bertemu kembali dengan mantan kekasihnya,”
“Feli, cukup!” Arga mulai berkata dingin, walaupun ia masih bisa menahan emosi.
“Arga aku hanya peduli padamu dan juga ibumu,” Feli tampak tersinggung, ia merasa nada bicara dan sorot mata Arga yang dingin begitu menyakitinya. Feli segera pergi keluar dari kamar Arga dengan mata berkaca-kaca.
Arga tak bermaksud menyakiti perasaan Feli, mengingat almarhum ayahnya adalah teman baik ibunya. Ia hanya merasa kesal karena gadis itu terlalu jauh ikut campur hanya karena Rachel sudah menceritakan segalanya padanya.