
Nadira memutuskan untuk berkunjung ke rumah paman dan bibinya, sekedar untuk mengalihkan perasaannya yang masih terus kepikiran tentang Arga yang gagal menjalani operasi transplantasi kornea mata. Nadira juga merasa sudah agak lama ia tak pernah menyempatkan diri mengunjungi rumah paman dan bibinya, tiba-tiba juga ia begitu rindu masakan Widya.
Nadira tak menunggu lama ketika selesai memencet bel rumah, pembantu rumah segera membukakan pintu dan menyambutnya dengan ramah.
Saat Nadira baru masuk bersama pembantu, saat itu juga terdengar langkah kaki Herman berlari menuruni anak tangga dari lantai dua. Begitu melihatnya, raut muka sang paman berubah kaget lalu segera tersenyum hangat menyambut kedatangannya.
“Paman, apa kabar?” sapa Nadira, keduanya melangkah saling menghampiri dan berpelukan melepas rindu.
“Paman baik-baik saja, kamu yang apa kabar? Belakangan ini kamu jarang main ke sini sejak sudah menikah,”
Herman dan Nadira segera duduk berdampingan di sofa ruang tamu rumah.
“Aku cukup sibuk shift di UGD paman, dan belakangan ini aku sibuk mengurus Arga yang rencananya akan operasi transplantasi kornea mata,”
“Oh ya? Kenapa kamu tidak berbagi kabar bahagia ini dengan paman dan bibimu juga?” Herman tampak senang, tapi seketika rasa senangnya pudar begitu melihat bagaimana raut muka Nadira yang tampak sedih.
“Tapi semua tinggal rencana paman, operasinya tidak bisa dilaksanakan,”
“Maksud kamu?”
“Petugas yang mengirimkan donor kornea itu ke rumah sakit, mengalami kecelakaan di jalan dan donor kornea itu rusak, tidak bisa digunakan lagi,”
Herman menghela nafas, ikut merasakan kesedihan dan kekecewaan Nadira. “Yang sabar ya nak,” Herman membawa Nadira ke dekapannya dan menenangkan perasaannya.
“Oh iya, bibi di mana paman?” tanya Nadira setelah merasa baikan.
“Uhm,” Herman tak tahu harus berkata apa.
Samar-samar Nadira mendengar suara seseorang yang sedang mual dan muntah di lantai atas. Nadira menyangka itu adalah bibinya.
“Paman, ada apa dengan bibi?” Nadira tampak khawatir.
“Pa! siapa yang datang? Apa itu dokter?” teriak Widya dari lantai dua.
“Paman, bibi kenapa? Kenapa paman tidak bilang, kalau bibi sedang sakit?” Nadira pun bangkit, tampak panik, ia bergegas menuju lantai dua.
“Nak, kamu baru sampai, duduklah dulu,” Herman berusaha menahan Nadira yang baru beberapa langkah.
“Bagaimana mungkin aku duduk saja sementara bibi sedang sakit. Biar aku periksa kondisinya, apa paman lupa kalau aku ini seorang dokter?” Nadira masih panik, ia bergegas menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Herman tak bisa berbuat apa-apa untuk menahan Nadira atau sekedar memberi penjelasan kepadanya. Ia pun memutuskan untuk menyusul Nadira di belakang.
Begitu sampai di lantai dua, mata Nadira langsung mendapati pintu kamar Niken yang terbuka lebar. Nadira mengamati kamar itu dari jauh, ia melangkah mendekat saat mendengar suara-suara dari dalam, suara-suara batuk dan juga suara panik Widya sambil menyebut nama Niken.
Nadira segera berlari menuju kamar Niken, ia berdiri di ambang pintu dan melihat ke dalam. Niken sedang berbaring di tempat tidurnya, sementara Widya di sisinya tampak khawatir, ia memberinya segelas air putih untuk minum.
Untuk sesaat Nadira terdiam di ambang pintu, tak kemudian Herman pun datang dan juga berdiri di samping Nadira dengan perasaan campur aduk.
Niken terpaku menatap kehadiran Nadira. Keduanya pun saling pandang. Niken begitu berubah, wajahnya pucat, ia tak secantik dulu, ia yang pandai merias diri kini tampak biasa saja tanpa polesan make up, kedua matanya agak sembap, dan perutnya begitu buncit, tanda kehamilannya sudah memasuki usia tua.
“Nad,” panggil Niken dengan nada parau.
Nadira mendekat dan menatap prihatin kepada sepupunya namun juga tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
“Sejak kapan kamu kembali?” tanya Nadira, tak lepas menatap Niken.
“Sudah seminggu lebih, nak,” Widya yang menjawab.
“Kamu ke mana saja, Ken,” Nadira menghambur memeluk Niken. Keduanya saling menumpahkan tangis lirih di pundak masing-masing. Mereka sudah seperti saudara kandung yang saling merindukan, bagaimana pun jahat dan buruknya keluarga Arga menilai Niken, Nadira tak bisa ikut membencinya, walaupun ia sendiri merasa kesal dan marah atas tindakannya dulu pergi meninggalkan Arga begitu saja.
Tak lama kemudian seorang dokter spesialis kandungan datang ke kamar Niken diantar oleh pembantu rumah. Dokter yang tadi ditelpon oleh Herman untuk datang memeriksa kondisi kesehatan Niken yang terus memburuk sejak kedatangannya kembali ke rumah orang tuanya.
Setelahnya, keduanya diberi kesempatan untuk bicara empat mata di kamar.
“Sudah berapa bulan kandunganmu?” tanya Nadira sambil menatap perut Niken yang membuncit.
“Baru delapan bulan, Nad,” jawab Niken dengan nada getir. Ia menggerakkan pelan-pelan tangan kanannya yang baru saja dipasang infus oleh dokter kandungan yang tadi datang memeriksa kondisinya.
Nadira membantu Niken mencari posisi nyaman bersandar di tempat tidurnya.
“Apa kabar kamu dan Arga, Nad?” tanya Niken penasaran.
“Ken, kepergianmu hari itu benar-benar mengubah keadaanku dan Arga 180 derajat,”
“Iya, aku tahu. Papa sama mama sudah cerita apa yang terjadi sama kamu setelah aku pergi begitu saja. Kamu menikah dengan Arga untuk menyelamatkan kehormatan keluarganya,”
Nadira hanya mengangguk pelan.
“Lalu bagaimana hubunganmu dan Arga? Saat aku melihat foto pernikahan kalian, aku tidak pernah menyangka kamu juga jadi bagian dari kisahnya. Kita berdua terseret pada laki-laki yang sama,”
“Niken, kenapa kamu meninggalkan Arga begitu saja? Kenapa kamu tega Ken, kamu tahu kan Arga sangat mencintaimu,” Nadira mencecar Niken, sejak tahu Niken telah kembali, Nadira hanya ingin meminta kejelasan dari sepupunya itu kenapa ia pergi meninggalkan Arga dan rencana pernikahan mereka yang tinggal hitungan minggu.
“Apa karena dia buta?” Nadira begitu tak sabaran.
“Awalnya aku memang shock setelah tahu dia buta, tapi bukan itu alasan utamanya, Nad,”
“Lalu apa?” Nadira seakan menuntut.
Niken diam kembali, seperti merenung.
“Apa karena Desta?”
Niken hanya mengangguk.
“Lalu di mana Desta? Kenapa dia tidak ada di sini sekarang?”
“Nad, Desta, sudah meninggal sebulan yang lalu,” jawab Niken. Awalnya ia tampak tegar, namun kemudian air matanya pun luruh.
“Innallillah, Desta meninggal karena apa Ken?” tanya Nadira tampak prihatin dan ikut bersedih melihat air mata Niken.
“Kecelakaan motor, Nad. Dan dia meninggal di tempat,” Niken pun terisak. Nadira segera memeluknya, ia pun ikut menitikkan air mata, merasakan bagaimana sedih dan menderitanya Niken dalam kondisi ia sedang mengandung.
“Aku benar-benar tidak memiliki firasat apa-apa sebelum kematiannya Nad,”
“Aku turut bersedih, Niken,” Nadira melepaskan pelukannya lalu menatap kedua bola mata Niken yang berair, Nadira menghapus air mata itu dengan kedua tangannya.
“Karena kondisiku yang seperti ini, aku terpaksa kembali ke rumah ini,” Niken melanjutkan masih terisak sedih.
“Tidak apa-apa Niken, waktu pasti akan menyembuhkan,”
Di tengah-tengah tangis haru dan kesedihan mereka, bunyi ponsel Nadira mengalihkan suasana. Nadira meraih tasnya dan mengeluarkan ponselnya, ia menatap layar ponselnya, nama Irfan sedang memanggil.
Niken meredam tangisnya dan memberi isyarat kepada Nadira untuk menjawab telpon. Sebelum menjawabnya, Nadira memperbaiki dulu suasana hatinya.
“Halo Irfan, ada apa?” tanya Nadira berusaha terdengar biasa.
“Ini aku. Hari sudah semakin sore, kenapa kau belum pulang juga?” sahut Arga di telpon dengan nada bicaranya yang khas.
“A-Arga,” Nadira terkejut sambil melirik Niken. Niken yang tak jauh darinya bisa mendengar jelas suara Arga di telpon. Sudah lama sekali ia tak mendengar suara itu, laki-laki yang dulu selalu memperlakukan dan menatapnya penuh kehangatan.
Nadira ingin bangkit pergi, menjauh dari Niken sambil menjawab telpon dari Arga, namun Niken menahannya sambil menggeleng lemah. Memintanya tetap di situ, menjawab telpon dari Arga di depan matanya.
“Aku, aku sedang di rumah paman,” jelas Nadira, sesekali ia masih sesenggukan.
“Kau, menangis ya?” tanya Arga saat menyadari nada bicara Nadira. “Apa karena aku gagal operasi?”
“Tentu saja, aku punya harapan yang besar kalau kau akan bisa melihat kembali, tapi ternyata rencana tidak berjalan sebagaimana mestinya,”
Niken terus mengawasi pembicaraan keduanya.
Arga diam sejenak, yang terdengar hanya ******* nafasnya.
“Tidak apa-apa, mungkin ini lebih baik. Kalau aku buta terus, kau tidak punya alasan untuk pergi dan berpisah denganku,” kata Arga kemudian.
Nadira bagai terpaku di tempatnya. Secara tidak langsung, Arga sudah menyatakan perasaannya.
Nadira tak menjawab, sebab ia merasa begitu canggung di hadapan Niken.
“Apa kau akan menginap di sana?” tanya Arga kemudian.
“Uhm, sepertinya begitu,”
“Baiklah, aku akan mengizinkanmu menginap di sana malam ini. Aku tahu kau pasti rindu dengan paman dan bibimu,”
“I-iya,”
“Sampaikan salamku pada mereka,”
“Iya,”
“Aku akan menjemputmu besok,”
“Eh, jangan!” Nadira buru-buru menolak.
“Kenapa?” tanya Arga curiga. “Apa aku tidak boleh berkunjung ke rumah paman dan bibimu? Bagaimana pun juga aku sudah cukup lama mengenal mereka, kau tahukan saat aku masih bersama Niken,”
“Uhm, besok aku akan langsung ke rumah sakit,” Nadira beralasan.
“Baiklah kalau itu maumu,” Arga memilih mengalah.
Nadira menarik nafas lega. Setelah itu Arga menutup telponnya. Niken menatap Nadira dengan sorot yang tak bisa ditebak.