NADIRA

NADIRA
TERBIASA



Suasana terasa canggung bagi Arga dan Nadira setelah perjalanan mereka dari pantai Malimbu. Apalagi bagi Nadira, ia sudah lancang menggenggam kedua tangan Arga saat itu. Ia jadi malu setiap kali bertemu Arga.


Nadira menatap keluar jalan ketika mobil yang menjemput mereka di bandara sedang melaju menuju kediaman Arga. Arga pun tampak menatap kosong keluar, ia yang biasanya mendengarkan musik melalui earphone, kini hanya duduk diam di samping Nadira seperti sedang mengkhayal.


Nadira terpaku ketika mobil yang ditumpanginya memasuki sebuah halaman rumah yang begitu luas. Dari dalam mobil ia bisa melihat sebuah rumah dengan desain khas Eropa, begitu megah bak istana. Nadira tahu Arga dan juga keluarganya begitu kaya, tapi saat melihat rumahnya Nadira berpikir bahwa suaminya itu lebih dari kaya. Ia jadi penasaran bagaimana isi dalam rumah itu, apakah dipenuhi emas dan berlian?


Begitu mereka turun, barisan para pelayan berjejer rapi di depan pintu utama, seperti sedang menyambut kedatangan raja dan ratu mereka. Nadira melihat dua sosok wanita dalam penampilan yang begitu anggun dan mencolok. Rachel dan Rasty.


Rachel tersenyum bahagia melihat Arga. Ia segera menghampiri Arga sambil menyapa dan mengecup sebelah pipinya.


“Bagaimana perjalananmu di Lombok, sayang?”


“Mommy berharap jawaban apa dari orang buta seperti aku?” Arga menyindir.


“Irfan bilang kamu pergi jalan-jalan ke pantai Malimbu. Berarti kamu menikmati perjalananmu di Lombok,”


“Aku hanya bosan saja terus-terusan di kamar. Makanya keluar jalan-jalan,” Arga memberi alasan.


Rachel melirik ke arah Nadira yang berdiri di belakang Arga, sementara Rasty menghambur memeluk dan menanyakan kabar sang kakak.


Rachel menyambut Nadira dengan hangat, “selamat datang di rumah kami,”


“Iya nyonya,” Nadira tersenyum lalu menciumi tangan Rachel sebagai bentuk penghormatannya kepada ibu mertuanya.


Rasty terang-terangan menatap tak suka ke arah Nadira. Nadira memaklumi, sebab sejak awal Rasty tidak menyukai Niken, berarti juga tidak akan menyukainya.


Nadira pun berkenalan dengan bu Ruly selaku kepala pelayan dan orang kepercayaan Rachel di rumah ini.


Semuanya masuk ke dalam rumah. Rachel dengan setia menggandeng dan menuntun Arga menuju kamarnya di lantai dua.


Begitu masuk, rumah bak istana itu isinya pun tidak kalah mengagumkan. Di ruang tamu, Nadira melihat foto keluarga dalam pigura besar berwarna emas. Nadira akhirnya tahu seperti apa sosok almarhum ayah Arga. Foto keluarga itu adalah foto lama, Nadira bisa menduga kalau Arga dalam foto itu masih berusia belasan dan Rasty wajahnya masih tampak kanak-kanak.


Arga segera beristirahat di kamarnya. Setelah itu Rachel dan bu Ruly mengantar Nadira menuju ke kamarnya sendiri yang berada tepat di samping kamar Arga. Kamar Nadira sama luas seperti kamar Arga.


“Ini adalah kamarmu, sebenarnya kamar ini milik Rasty. Tapi aku bersikeras dia harus pindah kamar. Jadi maklumi saja kalau anak itu kurang ramah padamu. Dia masih kekanakan,”


“Saya bisa menempati kamar yang lain saja nyonya,” sahut Nadira merasa tak enakan.


Rachel menggeleng, “saya sudah tetapkan kamu harus di kamar ini,”


Nadira hanya mengangguk lemah, mengikuti semua keinginan dan ketetapan yang dibuat oleh Rachel sebagai nyonya besar di rumah ini.


“Bu Ruly, tolong bantu Nadira merapikan barang-barangnya di kamar ini,”


“Siap nyonya,” bu Ruly mengangguk patuh.


“Dan mulai sekarang, berhenti memanggilku nyonya. Panggil aku mommy, sama seperti Arga dan Rasty memanggilku di rumah ini,” Rachel berkata kepada Nadira.


Nadira mengangguk sambil tersenyum dan berujar, “iya, mommy,”


Rachel bergegas keluar kamar dan kembali ke kamar Arga untuk memastikan kondisinya.


.


.


.


Seharian Nadira belum bertemu dengan Arga, kecuali saat mereka di mobil bersama sehabis dari bandara. Nadira berbaring di tempat tidurnya sambil menatap langit-langit kamar.


“Dia sedang apa ya?” seolah bertanya kepada langit-langit kamar. Nadira sedikit merasa aneh berada di kamar, selama beberapa hari ia tidur dalam kamar yang sama dengan Arga, meskipun dia tidak masalah jika harus terus-terusan tidur di atas sofa. Biasanya dia akan melihat Arga di kamar, keluar masuk kamar mandi, pakai dan buka baju tanpa bilang-bilang, juga Nadira sering diam-diam memandanginya wajahnya dalam tidurnya.


Sementara Arga di kamarnya juga merasa tidak biasa. Selama beberapa hari ia tidur di kamar yang sama dengan Nadira, dia jadi punya teman mengobrol atau sekedar berdebat. Tiba-tiba Arga merasa sepi. Padahal sebelumnya Arga sangat suka suasana kamarnya yang sepi dan senyap, dia tidak suka suara-suara. Tapi entah kenapa dia ingin sekali mendengar suara Nadira yang menggeram sebal atau membalas ocehannya.


Dering telpon di atas nakas, mengangetkan Nadira. Ia bangun dari tempat tidur dan mengangkat telpon.


“Iya?” Nadira berucap ragu.


“Buatkan aku coklat panas, aku tidak bisa tidur!” suara khas Arga langsung menyapa di telinga Nadira. Ia tak menyangka, Arga menelpon ke kamarnya.


Belum Nadira merespon, Arga langsung menutup telpon.


Nadira melirik jam dinding di kamarnya, pukul 23.45 malam.


Nadira bergegas ke dapur untuk membuat secangkir coklat panas pesanan Arga. Nadira melangkah hati-hati membawa secangkir coklat panas menuju ke kamar Arga.


Arga yang sedang menunggu di dalam kamarnya, duduk di atas tempat tidurnya. Begitu mendengar bunyi ketukan pintu, ia segera merebahkan tubuhnya dan menatap kosong langit-langit kamarnya.


Nadira masuk sambil nanar mencari Arga dengan kedua matanya. Ia segera meletakkan secangkir coklat panas itu di atas meja, kemudian melangkah ke arah tempat tidur.


“Arga,” panggil Nadira pelan.


“Kenapa tidak bisa tidur?” tanya Nadira.


“Sepertinya aku terbawa suasana waktu kita sekamar, kau senang mengajakku bicara, jadinya jam tidurku mundur beberapa jam dari waktu biasanya,” Arga memberi alasan. Padahal saat ini dia hanya ingin mengobrol dengan Nadira, seperti kebiasaan mereka selama beberapa hari sekamar.


“Mana coklat panas pesananku?”


“Ada di atas meja depan sofa. Mau aku bawakan ke sini?"


“Tidak usah,” Arga menolak lalu mengambil tongkatnya dan turun dari tempat tidur.


Nadira ingin menuntunnya namun Arga melangkah dengan santai ke arah meja lalu duduk di sofa. Arga memang sudah bisa beradaptasi dengan suasana kamarnya, dia tidak merasa kesulitan membawa dirinya ke sofa, kamar mandi, lemari pakaian dan juga benda-benda lainnya di kamar.


Arga meletakkan tangannya di atas meja lalu bergerak pelan hingga ia menyentuh piring cangkir coklat panas yang tadi dibawa oleh Nadira.


Arga meminumnya pelan-pelan, beberapa teguk lalu meletakkan kembali cangkirnya di atas meja.


“Hey, kenapa diam? Memandangiku lagi ya?” suara khas Arga membuyarkan Nadira yang seolah terpesona melihat Arga yang buta bisa dengan mudah membawa dirinya ke mana saja ia suka di setiap sudut kamarnya.


“Percaya dirimu tinggi sekali ya,” sahut Nadira sambil melangkah ke arah beberapa koleksi foto dalam pigura yang tertata rapi di atas meja. Ia penasaran melihat foto-foto apa saja.


Beberapa foto masa kecil Arga sampai remaja, ada juga foto ayah dan ibunya. Nyonya Rachel dan almarhum suaminya.


“Kau sedang apa?”


“Melihat fotomu,” jawab Nadira. “Kau tidak mirip ayahmu, ya,” Nadira menyahut.


“Hmm, aku memang lebih mirip mommy. Rasty yang lebih mirip ayahku,”


“Kenapa ayahmu bisa meninggal?” tanya Nadira penasaran dan masih asyik melihat-lihat koleksi foto.


Arga menghela nafas, “apa harus aku menceritakannya padamu?”


“Kenapa?”


“Ayah punya riwayat penyakit tekanan darah tinggi. Ayah mati karena sengaja dibunuh,”


Nadira kaget mendengar penuturan Arga.


“Kau tidak bercanda kan?”


“Untuk apa aku bercanda tentang orang yang sudah meninggal. Saat penyakit ayah kambuh, dokter yang menanganinya sengaja menyuntikkan obat mematikan yang kami kira adalah obat untuk penyakitnya. Dokter itu ditangkap dan setelah diusut ternyata dia dibayar mahal oleh pamanku untuk membunuh ayahku,” tampak sorot mata Arga menunjukkan amarah yang samar-samar.


Nadira menatap serius ke arah Arga. “Jadi pamanmu sengaja ingin membunuh ayahmu,”


Arga mengangguk.


“Semua gara-gara Rajasa Group, turun temurun dari keluarga ayah. Rajasa Group seharusnya milik pamanku, karena dia anak pertama, sementara ayahku anak kedua. Tapi kakek sebelum meninggal menulis surat wasiat dengan menyerahkan kepemimpinan Rajasa Group kepada ayahku, bukan paman. Alasannya karena paman punya tempramen yang kasar dan setelah ayahku mati, terungkap kalau paman menderita penyakit yang mengarah pada gejala psikopat,”


Nadira bergidik takut mendengar kata psikopat dari mulut Arga.


“Setelah ayah mati, mommy yang mengambil alih jabatan kepemimpinan dan anak-anak paman juga berusaha merebut jabatan itu dari mommy. Tapi mommy tidak selemah dan sebodoh yang mereka bayangkan, mommy berhasil menjaga kursi kepemimpinan Rajasa Group,” Arga lanjut bercerita. “Mungkin kamu merasa mommy menakutkan. Asal kamu tahu, sebelum berurusan dengan hal-hal kotor seperti rebutan kekuasaan dan warisan, mommy adalah ibu yang lembut dan penyayang. Sejak ayah meninggal, mommy berubah seperti ini, semata-mata ingin menunjukkan pada orang-orang agar tidak memandangnya sebelah mata,”


Nadira diam mendengar.


“Kau tahu, Niken sangat takut pada mommy,” Arga menambahkan.


Lagi-lagi Nadira merasa risih, nama Niken begitu dengan entengnya disebut oleh Arga.


“Tapi aku salut padamu, setiap kudengar kau berbicara dengan mommy, nada bicaramu begitu tenang, tidak terdengar takut salah bicara atau apa.  Beda sama Niken, dia selalu takut salah bicara sama mommy,”


Nadira masih diam.


“Jangan-jangan kau memang tidak pernah takut pada mommy,” Arga terkekeh pelan. Ia pun sadar kalau Nadira tidak merespon ucapannya. “Hey, kau tidak mengerti ya kalau aku tidak suka didiamkan?” Arga mulai tampak kesal.


Melihat emosimu yang begitu aku lebih takut padamu dibanding takut pada ibumu.


“Iya, lantas kau mau aku bicara apa?” tanya Nadira yang justru membuat Arga semakin gemas.


“Mulai sekarang, sebagai istriku kau tidak boleh mendiamkan aku ketika bicara,”


“Apa? Kenapa harus seperti itu?”


“Aku merasa kau tidak menghargaiku sebagai suamimu kalau kau bersikap diam begitu. Kalau diam begitu aku kan tidak tahu kau sedang bagaimana, suka, sedih, atau justru sedang mengolokku,”


“Kenapa kau malah berpikiran seperti itu,” gumam Nadira, terdengar menyesali isi pikiran Arga namun juga berusaha menyembunyikan kekesalannya.


Arga tersenyum samar. Entah kenapa ia senang sekali mengajak Nadira berdebat dan memancing sedikit kekesalannya. Arga merasa, dunianya yang gelap sedikit berwarna karena interaksinya dengan Nadira. Tampaknya ia sudah mulai terbiasa dengan suara, aroma tubuh dan juga kehadiran Nadira.