My Possessive Wife

My Possessive Wife
58



Abraham Prayoga pamungkas, laki laki tampan dan tajir yang beberapa bulan ke depan setatusnya akan menjadi seorang Ayah, laki laki yang banyak di gilai wanita, tapi dia juga hanya menggilai satu orang wanita yang sekarang menjadi istri dan calon Ibu untuk anaknya , dia sedang duduk di kursi ruangan kantornya.


Matanya menatap lurus ke depan, tangan satunya memainkan ballpoint.


Abra tersenyum, mengingat tadi pagi azell yang menyiapkan segala keperluannya, azell bangun lebih pagi darinya tidak seperti biasanya, bahkan azell sampai menyuapi abra karena abra yang bangun begitu siang.


Semakin ke sini azell semakin dewasa, meskipun perutnya semakin buncit, tapi malah membuat azell semakin rajin terlihat siap untuk menjadi seorang Ibu, dan itu yang membuat abda sedari tadi terus tersenyum mengingat istri cantiknya.


" You are s special woman yank." Gumam abra kembali tersenyum.


Bahkan abra berniat untuk menghubungi azell, tapi abra tahu di jam segini azell sedang sibuk di kelas nya mengikuti pelajaran kuliah.


Mengingat azell yang masih kuliah di semester awal membuat abra kembali tersenyum dan menggeleng.


" Gila... Aku nggak pernah ngebayangin rumah tanggan ku bakal seindah ini." Gumam abra lagi.


" Ha...ha. Dulu aja nggak mau, sekarang jadi kamu bersyukur kan dengan perjodohan ini?." Ucap Papa yang ntah sudah berapa lama di ruangan abra, membuat abra menatap papa nya terkejut.


" Papa." Jawab Abra terkejut dengan adanya Papa, dan abra semakin terkejut karena Papa di sana tidak sendiri.


Papa datang bersama sahabat yang kemarin baru saja di temuinya, sahabat yang diam-diam memiliki rasa untuk istri cantiknya, dia adalah Tian yang sedang cekikikan mendengar gumaman abra tadi.


" Ngapain Lo ke sini?." Tanya abra dengan kesal. %3D


" Tenang bra, gue nggak akan ganggu Lo yang sedang berimajinasi dengan lamunan, Gue ke sini karena ada hal penting." Jawab Tian membuat abra manatap Tian kesal.


" Sudah saya tinggal ya kalian, dan kamu abra. Jangan usir Tian, kasihan dia jauh-jauh ke sini cuma buat nemuin kamu." Ucap Papa membuat abra semakin kesal dengan sahabat yang satunya ini.


Sedangkan Tian tersenyum smirk ke arah abra.


" Tian sengaja gangguin pekerjaan Abra pa." Jawab abra mencoba menjelaskan kepada papa.


" Thanks Om!." Teriak Tian yang di acungi jempol oleh Papa.


" Ah... Lo terlalu kaku bra, Om aja asik gitu." Cletuk Tian yang membuat abra kembali menatapnya dengan kesal.


Merasa di tatap Abra seperti itu membuat Tian tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


" Lo masih dingin kayak es kutub abra, kapan cairnya?." Tanya Tian yang belum begitu tau tentang perubahan abra sekarang.


" Gue dingin sama Lo doang." Jawab abra sekenanya, membuat Tian kembali tersenyum.


" Btw, Lo sibuk banget nggak?." Tanya Tian yang di jawab abra dengan gelengan kepala.


" Di deket sini ada caffe kan?." Tanya Tian kepada abra.


" Ada dan Lo mau ajak Gue ke sana." Jawab abra yang langsung di angguki oleh Tian.


" Tepat, wow?." Tanya Tian yang di angguki oleh abra. Mereka berdua memutuskan untuk keluar sebentar menikmati segelas coffe**e di caffe dekat kantor.


to be continued....


...🌹🌹🌹🌹🌹...


...Jangan lupa Like dan Vote...


...Terima kasih....


Jangan lupa mampir ke cerita ku yang lain ya kak