
Hari pertama masuk Kampus Sasa sudah menyita perhatian para kaum laki laki di sekelilingnya.
Terutama para Laki laki yang berada satu ruangan dengannya. Keadaan di dalam ruangan itu seketika heboh dengan kehadiran Sasa.
Mereka semua saling bergantian berkenalan dengan Sasa, laki-laki maupun perempuan.
Keramahan juga keceriaan Sasa membuatnya tidak sulit untuk mendapatkan teman di Kampus ternama itu.
"Sasa, kamu dari kota mana?" Tanya Sifa salah seorang teman satu ruangan Sasa.
"Aku dari Bandung." Jawab Sasa.
"Cewek -cewek Bandung memang cantik-cantik banget. Ibu ku juga berasal dari Bandung." Sabung Bima cowok yang suka cari perhatian cewek cantik.
"Jangan sembarangan kamu kalau ngomong. Ibumu itu dari Sumatera, bukan Bandung. Kamu pikir kita nggak tahu?" Ketus Arif teman mereka yang lain.
"Arif, Arif, kamu kenapa ngga diam saja sih?" Ujar Baim dengan tampang kesalahannya.
"Ha ha ha ha.." Serempak mereka semua langsung tertawa karena ulah Baim.
Tepat pukul 11:30, Sasa dan teman-teman barunya meninggalkan ruangan menuju kantin.
Mereka semua memutuskan untuk makan siang di kantin.
Sampainya di kantin, mata para kakak-kakak senior langsung tertuju pada Sasa.
"Wow... Bodinya mantap banget tu6." Ujar Anton salah satu kakak senior di Kampung itu.
"Hmmm.." dengus Akmal yang terdengar jelas setelah menatap ke arah Sasa.
"Kenapa lo bro? Ngga tahan ya lo liatin tu gitar Spanyol?" Tanya Rian salah satu temannya Akmal.
"Apa-apaan si kamu?" Jawab Akmal sambil menundukkan kepalanya.
" Kelewatan banget Sasa. Apa dia ngga sadar dengan penampilannya itu?" Batin Akmal sambil meremas tangannya sendiri.
"He Bro, kamu kenapa? Awas jangan berpikir macam-macam melihat yang berisi kaya gitu." Ujar Rian lagi yang tidak sengaja melihat ekspresi Akmal.
"Eh, eh, eh. Tu lihat. Cowok tertampan di dunia ini mau lewat sini." Ujar Sifa sambil mencolek lengan Sasa.
"Mana mana?" Tanya Amel.
"Astaga Amel. Ko lo ngga lihat makhluk Tuhan yang paling sempurna itu. Mata itu di gunakan untuk melihat yang indah indah seperti." Sifa berkata sambil menunjuk ke arah Akmal yang sedang melirik ke arah mereka sekilas.
"Itu kan dia lihatin kita. Kamu sih bikin malu saja." Ujar Sifa.
"Apa sih kalian ini? Buat apa bangga di lirik sama es balok itu?" Ketus Sasa.
"Aduh Sasa, es balok itu sejuk sayang." Jawab Sifa tidak mau kalah.
"Apa semua wanita di Kampus ini mengidolakan Mas Akmal? Hmmm, dia saja sudah seperti gundukan salju ." Batin Sasa yang merasa kebingungan dengan teman-temannya.
"Sampai kapan kalian mau membahas Kak Akmal? Mending pesan makan." Sambung Baim yang sedikit kesal dengan sikap berlebihan wanita-wanita yang berada di sekelilingnya.
"lya ayo. Aku juga udah lapar ni." Sambung Ara salah satu temannya mereka.
"Ya Tuhan, dompetku ketinggalan di rumah." Sasa yang baru saja menyadari kalau dia lupa membawa dompet begitu kaget.
"Ya udah biar aku yang traktir." Jawab Agus anak satu ruangan Sasa yang di kenal playboy dalam ruangan mereka.
"Nanti uangmu berkurang lo." Canda Sasa dengan genitnya, tanpa menyadari keberadaan Akmal yang sudah melangkah mendekat ke arah mereka.
"Aku ngga masalah biar jatuh miskin karena kamu sayang." Tambah Agus.
"Dasar buaya." Serentak Sifa, Amel dan Ara menyerang Agus.
...Happy Reading...
...❤️❤️❤️...