
Tania yang berulang kali di tolak Akmal hanya bisa tersenyum walau hatinya terasa begitu sakit. Tanpa memperdulikan Tania, Akmal segera melangkah masuk ke dalam mobilnya.
Sedangkan Sasa yg berada di sampingnya memilih menatap ke jendela, karena merasa sakit hati dengan perlakuan Akmal di toilet tadi.
"Turun!" Perintah Akmal.
"Kok kita ke Kantor bukannya pulang?" Protes Sasa. Tanpa menjawab pertanyaan Sasa, Akmal segera keluar dari dalam mobil sambil menarik tangan Sasa dan membawanya menuju lift.
Sampainya di lantai paling atas tepatnya di lantai yang terdapat ruangan kerja Akmal, mereka keluar dari lift dengan tampang Akmal yang seperti bom waktu siap meledak , Sedangkan Sasa dengan tampang cemberutnya.
"Mas lepas kan tangan aku! Lepasin Mas!" Ujar Sasa yang sudah mulai berkaca-kaca karena malu di perhatikan pegawai-pegawai Akmal.
Akmal sama sekali tidak memperdulikan Sasa. Dia tetap menarik tangan Sasa dan masuk ruang kerjanya kemudian menyandarkan Sasa ke dinding, sambil menatap Sasa dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Lepaskan aku Maas..! Mengapa kamu seperti ini padaku..?" Tanya Sasa sedikit berteriak.
Teriakan Sasa barusan semakin membuat Akmal terlihat menakutkan. Dengan begitu kasar, dia kembali menarik tangan Sasa dan membawanya menuju sebuah kamar yang terdapat di dalam ruang kerjanya itu.
Sasa yang semakin ketakutan melihat ekspresi Akmal, berusaha untuk menarik tangannya.
Namun apa yang dia lakukan malah membuat Akmal marah dan mendorongnya.
Tindakan Akmal barusan tanpa dia sadari membuat rok pendek yang di kenakan Sasa sebagian tersangkut pada pintu.
Menyadari keadaannya, sasa langsung berteriak dan menangis dengan sangat kencang. Tangisan Sasa sama sekali tidak mempengaruhi kemarahan Akmal.
Dengan tatapan tajam Akmal malah mendorong Sasa ke atas tempat tidur sampai membuat paha Sasa sedikit terlihat. Hal itu membuat Akmal tambah emosi melihat pakaian yang di kenakan Sasa.
"Hiks, hiks, hiks.." Sasa cuma bisa menangis dan mencoba menutupi paha nya dengan selimut yang ada di situ.
"Mengapa di tutup ha..? Kamu malu sama aku..?" Teriak Aal tapi tidak di jawab oleh Sasa.
"Kamu itu harusnya malu mengenakan pakaian kaya gini di depan umum. Kenapa di depan aku sendiri baru kamu malu..?" Dengan kesal Akmal berkata-kata.
"Aku itu suami kamu yang berhak atas semua yang kamu miliki. Kamu harus tau itu..." Tambah Akmal dengan nada yang keras.
"Tapi jangan kamu berfikir aku seperti ini karena cemburu. Aku tidak ada rasa apa pun sama kamu, karena pernikahan kita hanya atas dasar perjodohan orang tua, aku juga tidak mengerti kenapa waktu aku kecil malah meminta kamu menjadi istri ku." Tambah Akmal.
"Kalau menurutmu pernikahan ini tidak ada artinya, untuk apa juga kamu harus marah seperti ini hanya karena penampilanku? Itu bukan urusan kamu." Kata-kata Sasa yang membuat Akmal langsung mengangkat tangan hendak menamparnya.
"Ayo tampar.! Mengapa kamu diam? Ayo. Ayo tampar aku..!" Teriak Sasa sambil menarik kerah baju Akmal.
Akmal yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa, dengan segera berbalik menghadap pintu hendak keluar.
Namun tindakannya malah membuat seluruh kancing bajunya terlepas, karena tangan Sasa masih memegang kencang kerah kemejanya .
...Happy Reading...
...❤️❤️❤️...