
Kereta kuda mereka berjalan dengan santai di pusat keramaian, penanda ukiran Keluarga Charlotte membuat banyak orang yang mengerumuni jalan utama hanya bisa menepi sebagai langkah, dari jalan kereta kuda yang lewati. Jalan protokol yang secara vertikal pun memanjang menghubungkan antara pintu masuk gerbang secara langsung, berbata sebagai material jalan ini; menarik semua indikasi, walaupun hal itu masih ada yang sama, wagon-wagom yang lewat tak terkecuali, itu tak menyurut perhatian di kala kebladaan maupun keberadaan sisi yang sama. Lambang keluarga Charlotte, di bagian kedua sisinya terukir, bunga mawar yang sangat khas, walaupun bahan material wagon ok yang di pakai sendiri adalah perak cukup keras di ukir—sangat indah di lihat.
Termaksud generasi dari keluarga besar Charlotte ini, kecuali Zen sendiri. Hendrick, Susan, Isabella, dan juga paman Dalton yang sebagi kusir di depan sana, duduk di posisi masing-masing, Zen saling berhadapan dengan Hendrick, duduk bersebelahan dengan Susan yang sedari tadi matanya berbinar menatap jalanan yang bangunannya sangatlah apik, dari ruko ataupun toko perjualan — perbatasan distrik kedua dan ketiga ini.
“Ini memanglah yang terbaik,” kata Susan.
“Apa maksudmu yang terbaik,” ujar Hendrico yang mengeryit.
“Tentu saja ini yang terbaik, aku sudah tidak pernah melihat pemandangan ini sebelumnya, sudah lama aku kan tidak kesini.”
“Jujur saja, kamu itu sangat aneh Susan, kamu tidak lihat, kalo keadaan ini sama sekali tak berubah sewaktu kamu pernah kesini juga,” balas Hendrick malas.
“Oh.. benarkah, apakah begitu,” katanya membuat sebuah kepolosan. “Jika begitu, kenapa kamu ikut, terlihat dari mata kamu saja, kami sangat... terlihat malas bukan.”
“Aku hanya ingin menemani Zen jalan-jalan, jadi.. tidak ada hubungannya dengamu,” kata-katanya cepat.
Zen hanya berdiam menatap menatap kearah luar di tepi jendela dari wagon ini, lebih tepatnya ia hanya berpikir dengan pikirannya sendiri tak mendengar apa yang mereka ributkan di sebelahnya. Sama sekali tak mendengar, cukup melamun, dan tersadar sewaktu keributan menggelar antara dua orang yang saling bersahutan.
“Sudahlah... kalian berdua, jangan meributkan sesuatu yang aneh-aneh.”
— Terdiam di kala sesuatu yang menggelar di telinga mereka berdua.
Namun...
“Kak Zen, apa yang kamu lihat...” Susan memegang baju Zen.
Tersadar!!!
“Ya, emm.. tadi, aku lihat hanya rumah-rumah kota yang bagus,” ucapnya spontan.
Susan menyeringai, senyum lembut ia alihkan pada Hendrick yang menatap tidak mengerti. “Lihat saja kan, Kak Zen saja setuju denganku. Kamu kalah kak Hendrick... hehe.”
“Ya, yah aku kalah, aku turutin saja. Kamu menang Susan.” Malas menjawab.
Pusat kota Aliance city yang di kenal oleh kebanyakan orang dengan Sebutan Alun Alun kota. Dari jauh terlihat jelas patung yang berdiri megah, besar nan kokoh yang penuh di dambakan oleh sosok manusia, itulah patung pahlawan. Dengan corak yang sangtlah glamour, dam pancuran air yang di bawah kulminasinya matahari ini, hingga meredam suasana panas pancuran yang mendesis. Tujuan mereka pertama saat ini ini adalah, kunjungan ketempat tersebut.
Kata itu di bawahnya, atau patung itu berwujud itu: Arturh De Camelot kaisar yang memimpin Dinasti Camelot, konon Ceritanya seorang Artur adalah pemimpin dan juga penyatu Ras manusia di bawah Dinasti Camelot, sebelum terpecah belah menjadi beberapa kekaisaran maupun kerajaan. Sang pemegang pedang Suci Excalibur ini di gambarkan dengan Sosok tangguh dan juga keberanian yang Bahkan dapat menyeimbangi Salah satu terkuat dari sebutan tujuh dosa besar, penguasa pilar bangsa Demon dan tak tak gentar sedikit pun memimpin pasukannya melawan ribuan pasukan Demon sekalipun. Rambut pirang yang panjang yang mengartikan dialah sosok bersinar dari para bersinar seperti sang Surya menerangi siapa saja.
Pandangan Zen hanya melihat di Gerbong kereta dari balik kaca, “kenapa pakai kereta kuda sih, kan lihat! pemandangannya tidak jelas,” gerutu Zen Dalam hati.
Tapi semua itu sudah terlanjur terjadi, beberapa saat sebelumya tepatnya kejadian pada paman Sebastian. Sebenarnya dua orang itu, Susan dan juga Isabella memohon pada ayahnya untuk pergi jalan jalan demi kesenagan semata, berbagai lontaran alasan yang begitu di keluarkan ketiganya, tapi di jawab dengan Dengan datar oleh ayahnya, “Tidak boleh,” hingga membuat mereka menyerah sesaat. Langsung saja ide cemerlang yang timbul di otak Susan membuat ayahnya mereka langsung Setuju. Tapi, dengan syarat harus menggunakan kereta dan juga Dalton sebagai yang mangawasi. Yah, seperti yang di ketahui tadi, Hendrikc malas untuk mengikuti, namun satu kata “Zen,” nama itu seakan membuat ia dengan cepat berubah pikiran.
Demi mengambil keuntungan, nama Zen di keluarkan bahkan juga di pertaruhkan, tapi Sosok Zen tak tau akan hal itu. Bagaimana sih reaksinya jika ia tau? Kini Zen memandang bosan Objek yang ada sasaran pandangnya dari balik jendela bahkan objek yang di pandang itu seolah olah yang memandang Zen balik. Tak terlepas akan hal itu, Ide yang terlintas di pikiran Zen membuat ia tersenyum melengkung yang sedikit mengerikan.
“Zenos bisakah kamu memetekan kota Aliance City,” batinya tak meninggalkan senyum melengkungnya.
[Dimengerti].
[Analisis Data Di Mulai].
0%...25%...50%...75%...100%..
[Pemetaan Selesai].
[Objek yang Di minta akan di Kirim Langsung ke pikiran anda].
Hologram transparan langsung saja dikirim ke otak Zen, Ia hanya terkagum-kagum bahkan proses analisis data yang di lakukan Zenos begitu cepat 0,05 sistem komputer yang ada mengunakan teknologi terbaru. Analoginya, Zen hanya berkedip maka sudah mendapatkan jawaban.
“Wah... jadi seperti ini yah kota Alliance city, cukup strategis juga,” Batin Zen terkagum.
Susan yang menunggu untuk turun dari wagon setelah Isabella, langsung saja melirik kearah Zen, senyum melengkung Zen sedikit membuat Ia bergidik nyeri beberapa saat sebelum menstabilkan tubuhnya.
“Kak Zen, kenapa?” ucap Susan kepada Zen
“I-iya k-kenapa?” jawab Zen gugup bertanya balik.
“Hmmm...kita sudah tiba di alun-alun kota apakah kakak tidak mau turun,” jawab Susan.
“Sudah sampai yah...” batin Zen.
Mereka berdua turun dari gerbong kereta yang cukup besar Itu disusul paman Dalton yang turun begitu saja dan... paman Dalton dengan telatennya menyimpan gerbang kereta dengan [Storage Magic] sebagai salah satu sihir dasar dari tipikal sihir [Sealing Magic].
Begitu mengesankan bagi pandangan Zen, ia secara tak Sadar menunjukan keterkejutannya itu membuat ketiga kakak beradik itu tertawa cekikikan sedangkan orang yang di tertawakan itu hanya menatap berbinar ke arah paman Dalton.
“Benarkah... ini baru pertama kali aku melihat sihir seperti itu,” kata Zen Jujur
“Apakah seperti itu..” jawab Hendrick tidak percaya sambil sedikit menajamkan matanya.
“Tapi bukanya orang yang berumur lima tahun sudah bisa menggunakan Sihir,” kata Isabella.
“Aku sebenarnya juga tidak tau apa itu sihir,” balas Zen sambil menggaruk belakang kepalanya itu.
“Ayolah... kak jangan terus menyudutkan Ka Zen, lihatlah ia tidak begitu berbohong bukan."
“Sudahlah ayo kita lihat lihat pemandangan dari alun-Alun kota,” ajak Isabel dan di balas anggukan.
Mereka berempat bersenda gurau sambil membicarakan dan juga menggoda Susan yang notabenenya adalah yang begitu pemalu di bawah sifat periangnya dan juga percaya diri, sangatlah kontras. Hendrick yang berlarian di kejar-kejar oleh Susan sedangkan dua orang lainya yaitu Zen dan juga Isabella hanya tertawa melihat kelakuan dua orang di hadapannya.
“Hei, Zen... sebenarnya, kamu berasalah dari mana?” ucap Isabella menatap lurus kearah kedua adiknya.
“...”
Zen menatap Isabella yang masih mebatap kearah adiknya, tersenyum lebar. Helaan napas yang ia keluarkan. "Huh.. Aku sebenarnya juga tak tau berasal dari mana, waktu pertama kali aku tersadar. Aku langsung di tolong oleh Susan yang bersama rombongan Paman Sebastian menuju kota Alliance City ini,” ucap Zen setengah benar setengah salah.
Tak mungkin juga kan Kali, Zen memberi tahunya kalau ia bukan berasal dari dunia ini. Mungkin orang mengganggap itu hanya omong kosong belaka, tapi itu adalah kenyataan sebenarnya.
“Yasudahlah... Jujur saja ketika aku melihat dirimu itu, seperti aku melihat sosok ibuku yang terbaring lemah sekarang. Ingin kulindungi apa yang berharga bagiku. Mungkin Hendric dan juga ayahku menyadarinya kalo kamu Zen, seperti ibuku itu,” ucapnya dengan Sendu, menunduk.
Tersenyum kearah Zen yang tak mengerti. “Senyum dan juga emosi yang terlukis di wajahmu itu seperti ibu kami yang begitu kami banggakan,” tambahnya.
“Kenapa kamu merasa semua itu yang kamu lihat dariku seperti Sosok ibumu,” tanya Zen
“Sebenarnya jika kamu tahu, kami semua keturunan keluarga Charlotte di berikan sedikit keistimewaan dari kebanyakan ras Manusia lain bahkan kesatria hebat sekalipun. Yaitu...” ucapnya yang menjeda.
“Perasaan Batin!!!”
— Angin menderu menerpa dengan kuat, dedaunan pohon yang gugur berwarna layu, menyahut pembicaraan dua orang ini.
“Kemampuan yang dapat merasakan Rasa Familiar ketika merasakan sosok kehadiran dan juga orang yang begitu penting dalam hidup sehingga kami keluarga Charlotte sering di pakai dalam sistem pencarian maupun Investigasi selain menggunakan sihir tipe sensor,” ucapnya panjang Lebar.
“Hmmm...Cukup Rumit yah, tapi apa yang kamu lihat dariku,” tanya Zen balik mengangkat satu alisnya.
“Keinginan untuk Hidup bagi orang tercinta” jawabnya dengan Sendu. Menatap langit yang indah.
***
Pohon rindang dan juga daun berguguran menghiasi setiap sudut mata memandang, banyak yang di lakukan oleh kebanyakan orang seperti melakukan piknik keluarga sebagai sifat person, ataupun gelaran yang di lakukan menghiasi keramaian. Dua orang berlari dengan rambut yang terbawa angin rindang dan dua sosok yang memandang tersenyum melihat dua orang itu.
Tak lama berlangsung Seorang yang menggunakan kacamata dengan Rambut kuning cerahnya, dengan satu orang pelayan yang tak henti-hentinya mengejar tuanya itu berteriak cukup kencang melawan desiran angin yang ada. Berlari dari jauh, di arah sana.
“Woi.... Hendrick,” terdengar suara balik, arah dari kejauhan.
Orang yang berteriak sedikit kencang itu memanggil Sosok Hendrick, yang menjadi individu terpanggil pun berbalik mencari orang yang memanggilnya. Setelan formal yang ia kenakan terlihat dari orang itu dengan wajah cerahnya dan irisnya kuning cerah senada dengan rambutnya, membuat Hendrick yang melihat itu, hanya mendesah, yap, ia tahu orang itu.
“Ernest... sudah lama sekali kita tidak berjumpa yah,” ucap Hendrick ke sosok Ernest.
“Hmm... lama sejak libur akademi,” Tambahnya.
Ernes Van Liquen itu nama pemuda itu, pemuda yang satu sekolah bersama Hendrick yang bersekolah di Akademi Sihir dan juga Kesatria yang satu satunya berada pada Pada kota Aliance City – lebih di katakan universitas, untuk belajar.
“Hahaha lihatlah Penelitian terakhirku berhasil,” ucapnya dengan bangga.
“Benarkah?” tanya Hendrick sedikit tidak percaya.
“Kamu sepertinya tidak senang atas pencapaianku itu,” ucap Erness sedikit kecewa sedangkan Hendrick hanya senyum masam sambil mengingat apa yang di lakukan temannya itu — hampir meledakan rumahnya sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Note;
Arthur De Camelot, adalah salah satu individu yang sangat di hormati bagi ras Manusia, orang yang melambangkan keselarasan, kepercayaan, maupun kekuatan bagi orang yang meyakini. Di Etherna World sendiri, Arthur di anggap salah satu pahlawan yang sangat kuat, yah, julukan pahlawan sendiri karena kegagahannya, sifat, ataupun royalitasnya yang di anggap di atas-atasnya bagi ras Manusia.
Sedangkan, pihak Kekaisaran Elbasta sendiri, mengklaim sendiri, jika negara mereka tersebut adalah lanjutan dari Dinasti Camelot dulu—puncak kejayaannya.