
Ruangan yang terdiri dari berbagai pasang mata yang melirik, bahkan dengan jelas memberikan Eksperesi yang mempunyai makna tersendiri ke arah depan, atau lebih tepatnya pada seorang pemuda berambut putih itu. Tak salah lagi, semua yang di lakukan oleh Zen sendiri mengundang berbagai perhatian dari semua sekelas yang ada, tapi sang empu sendiri tak menyadari atau bisa di katakan tak mempedulikan semua hal yang menatapnya seperti itu.
“Sekarang, kalian bisa memperkenalkan nama kalian masing-masing kepada Zen,” ujar Instruktur Anatia.
Ia menunjuk pada orang paling ujung paling atas yang sedikit cuek atas apa yang terjadi. Kendati demikian orang yang tunjuk juga merasa sedikit penasaran dengan remaja berambut putih di hadapannya, entah karna apa. Pemuda dengan rambut berwarna biru tua itu menatap Instruktur Anatia dengan mengeryitkan dahinya seolah-olah bertanya, “ada apa...kenapa aku di tunjuk.” Lalu ia dengan cepat mengerti situasi sekarang ini, paham akan semua itu, ia berdiri dari sandaran duduknya menatap kearah pemuda berambut putih dengan acuh tak acuhnya.
“Namaku Lumire De Paxley, salam kenal,” ujarnya dengan sikap acuhnya, langsung duduk Kembali.
“Selanjutnya...“ sambung Instruktur Anatia.
“Namaku Rena Zosem, salam kenal juga,” ucap perempuan berambut merah tua dengan senyum riangnya.
“Aku Morlex De Calasta, bersyukurlah mengenal bangsawan sepertiku,” dengan Eksperesi Sombong.
“Kamu bisa merubah sikap mu itu tidak Morlex...” Perempuan berambut Skroll memukul kepala sang empu.
“Aduh..sakit banget tahu,” balasnya.
“Maaf..maaf, perkenalkan namaku Guinevere De Barekyou, Salam kenal juga,” ucapnya dengan senyum manis.
Zen menatap orang yang ada secara berturut-turut, ini benar-benar banyak untuk di dengar sekaligus menurutnya. Tapi, sekali lagi ia mau tak mau harus mendengar semua penuturan yang ada sampai selesai, ini benar-benar saja membuat indra pendengaranya panas maupun kakinya lelah berdiri pada tempat tumpuannya saat ini. Dan juga membuat ia tambah malas, ketika mendengar pengenalan ketiga Trio sahabat di tambah Hendrick, padahal sudah tau tentang dirinya Seolah-olah mereka berempat itu menambah beban yang di tanggung Zen sekarang ini.
“Namaku, Gaznel Von Dominic....Salam kenal juga,” ujar pemuda dengan rambut Coklat kehitaman.
“Kamu bisa memanggilku dengan nama Lusi, Lusi Van Alberdo,” sambung perempuan dengan rambut merah muda.
“Cintia, Cintia Garnot,” ucap perempuan dengan rambut Perak.
“Leksmar Jarvis,” lanjut lagi perempuan berambut pasta.
“Perkenalkan namaku Erwin Borden, dari dataran Utara,” ucapnya.
“Aku..aku!!! perkenalkan namaku, Anatasya atau Anatasya Van Izekel.” Seorang Loli yang begitu bersemangat dengan mengangakat tanganya tinggi-tinggi.
“Bolehkah, Jaga sikapmu Anatasya,” ucap perempuan yang di kenal dengan sikap dewasanya Yakni; Esline XE. Lezier.
Dari Zen lihat; ia dalam pikirannya mededukasikan berbagai hal, termaksud orang-orang di hadapannya satu persatu, ia menganalisis baik itu kekuatan maupun kemampuan dari masing-masing yang ada. Tapi Zen cukup bingung dengan apa yang asumsikan sekarang ini, entahlah Ia bahkan tak tau.
“Bagus...Silahkan duduk Zen.”
Zen mendengar apa yang di suruh Instruktur Anatia pun melangkah kakinya dari panggung kecil di depan lalu beranjak naik dari bangku murid yang agak meninggi. Tanpa ia sadari ada iris mata yang memperhatikannya, tapi ia juga malas untuk merespon, walau itu hanya prasangkanya saja.
“Zen...Ayo duduk disini,” teriak Hendrick dengan mengangkat tangannya seolah-olah memanggil.
Merespon apa yang menjadi tindakan dari Hendrick, ia mendekat lalu duduk di sebelahnya. Zen tersenyum tipis sebelumnya, sebelum ia duduk di dekat Hendrick kala itu, jujur saja ia cukup nyaman dengan Hendrick, jadi tak ada salahnya juga ia berdekatan dengannya. Namun demikian, ada satu hal yang mengganggu Zen saat ini, yakni orang yang berdekatan dengan Hendrick itu sendiri yaitu sang Loli.
“Hei..hei kak, boleh tau kau dari mana?” tanya sang Loli atau Anatasya.
Batin Zen sendiri ia terkejut dengan posisi sang Loli. Ia mendekatkan wajahnya kearah Zen dengan beberapa jarak ukuran Cm dari arah wajahnya, tak terlewat akan perhatian banyak orang yang di situ.
“Maaf... Bolehkah kamu, Jangan terlalu mendekatkan wajahmu itu...ini benar-benar membuatku agak tidak nyaman,” ujar Zen canggung.
“Hehehe, maaf...maaf,” jawabnya dengan senyum Cengengesannya itu.
“Apaan sih kamu loli pendek, bisa tidak. Jangan lakukan hal-hal yang membuat orang tidak nyaman seperti itu,” ucap Hendrick.
“Yah... Urusan, Jelas-jelas kamu kan Loli,” sambung Morlex.
“Bisakah kalian diam, kalian tidak lihat ada Instruktur Anatia depan.” Arah Suara dari Guinevere.
“Yah..yah, kalian tidak lihat kalo ada Saya di depan.” Instruktur Anatia terlihat sedikit menahan.
“Maaf,” ucap mereka serempak, tertunduk.
“Bagus...mari kita mulai pelajarannya.”
Pelajaran Dimulai di ikuti dengan ketenangan yang terjadi, kelas yang di sebut salah satu prioritas dan manjadi ketenaran ini dan sekarang di tempati oleh bocah berambut putih itu. Yah...Zen berpikir jika kelas yang ia tempati ini cukup aneh bahkan julukannya sendiri; menurutnya jika julukan kelas ini terlalu Lebai atau terlalu meninggi-ninggikan, tapi apakah semua itu juga berbanding lurus dengan kemampuan dari murid yang ada, Entahlah!!!
Kalian mungkin bertanya, jika... kenapa kelas ini disebut prioritas kebanyakan orang bahkan untuk Seanteru akademi Phyterus itu sendiri? karna yang menjadi pembimbing langsung atau lebih tepatnya guru yang mengajar sendiri adalah para Instruktur-instruktur utama yang ada di akademi sebagai tenaga pengajarnya dan itu pun tak tanggung-tanggung dengan teknologi atau alat sihir yang di gunakan pun memadai untuk menunjang semua itu.
Tapi, di lain sisi; ini sama halnya dengan pencemaran dari aturan-aturan yang berlaku di akademi yang lebih mengutamakan pada kesetaraan baik bangsawan maupun Non-bangsawan dan orang-orang dari semua itu menjadi penghuni dari semua ini. Walau begitu, berbeda halnya dengan pendapat maupun pandangan banyak orang dan itu pun para petinggi Affilition-affilition yang ada, bahwa ini semua tak menjadi pantangan atau hal yang menjadi larangan tersendiri bagi Class yang di Juluki oleh The Golden Egg ini.
o0o
Di perempatan Lorong atau lebih tepatnya, jalan lorong yang menghubungkan ruangan Asrama maupun perpustakaan Anion; enam orang berjalan beriringan, remaja-remaja yang sama gender itu terlihat antusias dengan langkah santainya, melewati
“Hmmm... Hendrick apakah benar kamu tidak mempunyai Compement, aku sedikit penasaran dengan kemampuanmu itu,” tanya Near.
Pertanyaan Near sendiri telah ada sejak ia mengetahui jika ada orang yang sama denganya memasuki kelas para Compement karna kehebatannya atau Bakat selama ini; Ini membuat ia sedikit terkejut akan apa hal, ia tak memikirkan sama sekali jika ada orang yang hebat seperti dirinya yang secara langsung di didik oleh orang yang Berpengaruh dan sangat di rahasiakan Identitasnya para relasi ras Manusia, tapi Near masih mengetahui nama yang sering di pakai yaitu Ne.
Tapi hal lain juga, di sematkan pada Zen. Ia juga bingung kenapa ia di terima bahkan di masukan di kelas seperti itu, apakah Karna kemampuannya juga yang telah di ketahui, tapi di sebarluaskan jika ia tak mempunyai Compement, apa Untungnya; Apakah ada sebuah rencana di baliknya lagi?
“Entah aku juga tak tau...” jawab Zen.
“Tapi...aku tak mengerti kenapa kamu tak tau—” ucapnya terpotong.
“Sudahlah kamu Near, cepatlah....nanti kita terlambat masuk Perpustakaan, bukanya kita sudah sepakat membuat Tugas dari Instruktur Anatia,” ucap Hendrick yang memotong kata-kata Near sebelumnya.
“Ya...itu benar sekali, kan kita sudah sepakat jika...untuk membuat tugas dari Instruktur Anatia,” tambah Peter yang menghela napas.
“Kalo gitu ayo.” Terakhir Leonhart menyudahinya.
Mereka dengan cepat memasuki perpustakan Anion yang di padati berbagi murid lainnya berbeda jurusan, entah itu mengambil buku, menaruh buku di rak yang berjejer, membaca sambil berdiri dan berbagai posisi yang ada atau aktifitas-aktifitas yang lain di lakukan, hingga pandangan mereka jatuh pada segerombolan wanita atau teman sekelasnya yang menghampiri mereka berlima.
“Rupanya para lelaki ya!!! biar aku tebak jika kalian...”
“Sudahlah Anatasya, tidak usaha berbicara dengan para lelaki-lelaki kecoak ini” ucap Esline.
“Siapa yang kalian sebut para Kecoak Ha...” ucap Peter yang termakan provokasi dari Esline.
Pada kejadian sebelumnya, hanya perbedaan pendapat sedikit saja sudah menimbulkan bentrok antara dua Kubuh berlawan, mulanya sih...ini berawal ketika penjelasan pada pelajaran Instruktur Anatia menyebutkan jika perempuan itu takkalah hebat dari laki-laki pada sejarah-sejarah sihir yang ada, bahkan itu melampaui kebanyakan kekuatan para lelaki. Tentu! itu di tentang dengan hebat oleh semua para lelaki, tapi tidak untuk Zen..ia hanya mendengar dengan saksama perdebatan antara dua kubuh berbeda jenis kelamin itu.
Namun demikian, hal yang membuat para Perempuan marah adalah ketika Hendrick mengatakan jika “Perempuan itu benar-benar tak dapat di mengerti perasaanya bahkan itu jalurnya sendiri.”
Perdebatan terus berlanjut di tambah banyak umpatan-umpatan yang di lontarkan dari kedua kubuh. Zen hanya mendesah akan semua ini...belum di tambah lagi kesan pertamanya tentang kelas barunya sendiri benar-benar lah buruk, ia hanya berharap jika ia dapat menikmati ketenangan sedikit saja ketika bertemu dengan orang-orang yang ada di dekatnya.
“Apakah kalian akan begini terus,” batin Zen.