My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 34. Compement Vs Compement



"Hei Hendrick, apakah Kamu Tak tau di mana Zen sekarang" Ernest berjalan di pinggir Hendrick.


"Hmmm...Ia juga tak bilang, Tapi aku mendapat satu informasi jika Ia tidur di Asrama VIP" Jawab Hendrick.


"Apa...VIP" Orang itu terkaget-kaget.


"Apaan sih kamu Ernest, Itu masihlah Rumor belaka, Jadi belum tentu benar." Wajahnya sedikit Risih.


"Hehehe...Benar Juga yah" Tawanya.


"Tapi kenapa mereka berkerumun begitu" Melihat Murid-murid Akademi yang bertumpu pada Satu tujuan.


"Entahlah..."


Kerumunan Orang memadati Hal yang di tuju Hendrick dan Ernest sekarang Ini, Kerumunan padatan orang yang tak kala dari berbagai sisi membuat sesak Untuk mendekat dan juga berdesakan, Hendrick dan juga Ernest merasa risih akan hal ini, Tapi mau bagaimana lagi.


Mereka berdua merembes Kerumunan dan terlihat Jelas di kedua mata mereka, Sebuah Papan Proyeksi Besar berwarna putih di tempat Biasa para Instruktur memberikan Informasi atau Pengumuman mengenai sesuatu hal yang penting itu lah Papan Informasi, Proyeksi Tersebut Bebas melayang di atas Kepala para murid akademi berdiri yang ada di situ, Entah kenapa ada sesuatu di balik semua ini, Bukan hal yang pasti juga untuk di ketahui tapi yang jelas harus di pertanyakan di setiap benak orang yang penasaran bukan.


" Ernest, Apakah kau tau semua ini?".


"Aku juga tak tau kali" Jawabnya dari pertanyaan Hendirck yang menurutnya di luar dari pemikiranya.


"Itu siapa...Kamu Tau tidak" Menunjuk papan proyeksi.


Walau samar tapi di ketahui Dengan Jelas olehh Hendrick orang yang di maksud, Berambut Putih Salju yang membelakangi dengan Porsi badan yang sesuai, Dari Kebanyakan orang juga Tak tau itu Siapa, Tapi Hendrick Sendiri menduga satu Orang Yang sangat Cocok dengan Ciri-ciri yang satu ini.


"Bukanya Ia Zen" Batin Hendrick penuh tanya.


"Jangan-jangan, Jangan bilang Kalo dia".


o0o


Di Satu sisi Zen berjalan di tengah Pusat Arena, Arena yang ukuran Lebarnya Sekitar 20 meter dan tinggi Arena sekitar setengah badan dari tubuh orang dewasa dengan Dinding tebal Tegak yang kira-kira mencapai 6 kaki. Menjadi pusat dari semua itu adalah terdapat 10 instruktur yang sebagai Instruktur Utama yang ada, Dari Instruktur Guld, Instruktur Vena, Instruktur Lekness, Instruktur Kesna, Instruktur Wei, Instruktur Lorita, Instruktur Anatia, Instruktur Hagrid, Instruktur Dina dan Terakhir Instruktur Esnet selaku kepala akademi. Zen menaiki anak tangga yang menjadi penghubung dari lantai dasar ke lantai arena yang mencapai enam kaki, Ia terus memandang Lurus tanpa berpaling hingga sudah ada sepuluh pasang yang menunggunya.


Zen Juga tau Jika The Salivon Of Arena sendiri berada pada Ruang bawah tanah yang sengaja dibuat untuk keperluan Darurat atau Tergantung Situasi yang terjadi misalnya Zen sekarang ini. Dengan ada hal ini Membuktikan jika Akademi Phyterus di buat begitu Sistematis maupun Terhubung dalam beberapa Aspek dan itu tak di pungkiri, Jika bangunan dengan julukan Sekolah orang berbakat ini adalah Satu-satunya Bangunan Dengan Rancangan yang benar-benar mengalahkan Istana Kerajaan maupun Kekaisaran Besar yang ada.


Mereka Seolah menyambut kedatangaan Zen dengan Eksperesi Rumit yang di tunjukan, Dan seperti biasa Zen tak dapat mengartikan setiap Ekspresi yang lancarkan kepadanya. Ia hanya Fokus pada satu tujuan sampai saat ini, Ia tak ingin Kecerobohan maupun gagal fokusnya akan berdampak pada sekarang ini.


"Zen apakah kau sudah Tau apa Ujiannya" Tanya Instruktur Leksnes.


"Belum.." Balas Zen.


Instruktur Guld Tertawa lantang sambil berucap "Berbahagialah Lah Nak Jika Ujiannya tak akan merepotkanmu tapi...Akan Membuatmu Sekarat"


"Apa Maksudnya..." Batin Zen bingung.


"Apakah kamu sudah Siap Zen" Kata Instruktur Vena.


"Yah.."


"Baiklah"


"Mari Kita mulai" Menghilang dari pandang Zen.


Sembilan Instruktur pun begitu, menghilang dengan cepat seolah berpindah tempat, Tapi sekarang yang menjadi pusat perhatian bahkan itu semua murid maupun Instruktur utama berpusat pada Zen yang berdiri di lapangan dengan Gagah.


"Apa-apaan ini" Batin Zen menjerit.


Seorang melangkah dengan santai dari Ujung arena pintu yang hanya satu satunya terlihat jelas di mata biru Zen, Sosok yang begitu di kenal Zen berdiri tegak menatap Zen dengan lengkungan Senyumnya, Armord tipis yang di kenakan Sebuah kesan Gagah yang di tunjukan, Rambut Hitam pekat yang sekarang tergerai, Tidak lupa Pedang yang disampinya sehingga Kesan Kesatria kuat dalam pribadi masing-masing menambah Dari Penilaian Armord Silver sebelumnya.


Hingga kini pria tersebut sampai di tengah-tengah Arena Zen berada, Pusat perhatian bertambah menjadi Dua sosok, Berbeda umur terpaut satu sama lain dan juga Porsi badan yang takklah berbeda. Entah bagaimana mereka menilai Semua yang mereka lihat dari dua Sosok di Arena itu. Tapi satu kata cukup untuk memberikan Makna dari kesan semua ini, "Mendominasi". Pria itu menjulurkan pedang yang berada di sampingnya sembari mengucapkan kata-kata membuat Zen menatap lebar terkejut.


"Bagaimana Latihan Kamu Zen" Ucap nya dengan Senyum lengkung


"Bukannya Master..." Menjeda


"Apaan-apaan ini, ini bukan namanya Ujian Lagi" Tambahnya.


Zen di buat terkejut, Bulir-bulir keringat dingin di pelipis dahinya seakan bertambah bertambah di wajah Tenangnya, Ia mengepalkan Kedua Tangannya seakan tak terima dengan apa yang ia sekarang ini terjadi maupun rasakan, Bagaimana Tidak semua yang telah ia pikirkan selama ini di garis bawahi Kecurigaan mendalam pada Sosok pria Tua itu adalah benar dan sosok di hadapannya sebagai pembuktian dari penutupan Akhir, Walau begitu ia pun di buat bingung setengah mati dengan motif semua ini, Ada apa dengan dirinya gerangan?!!! Benak pemuda itu.


Jika kita Telaah, Otak Zen Ketika memikirkan Semua ini tak lain dan tak bukan dari latihan sepekan itu berawal, Ia tak tahu kenapa paman Sebastian harus terlibat dari semua ini tapi kemungkinan ada alasan di baliknya. Namun Demikian jika Sosok di depanya ini pasti telah melaporkan beberapa hal-hal yang Zen tak ketahui baginya. Tapi Asumsinya juga tak sebatas sampai di situ, Tidak...tidak....Lebih tepatnya Ketika ia melakukan sebuah kecerobohan yang tidak ia ketahui, Apakah....!!!!


"Tuan Lucas, Sepertinya kalian telah merencanakan semua ini".


Lucas Von Alasta atau master Zen diam tak berkutik. Ia membeku tak bergerak sehingga Dugaan Zen menambah dengan Prediksinya. Apa yang di rencanakan mereka, Zen pun tak tau.


"Betul...Kami ingin membuktikan Sesuatu dari dalam Tubuhmu Zen" Ujarnya menunduk.


"Apa yang kalian buktikan Ha...." Teriak Zen kesal.


Zen takalah emosi Juga tak mengetahui jika semua ini di siarkan langsung oleh Akademi, Tapi di balik semua itu ada maksud tertentu dari Peristiwa di baliknya, Baik itu positif dan Negatif.


"Zenos...Bisakah Kamu Analisis kekuatan Orang Ini".


[Di Mengerti].


[Analisis Data Di Mulai].


0%...25%...50%...75...100%


[Analisis Selesai].


[Data Akan Langsung Di Kirim Di Otak Pengguna].


Name: Lucas Von Alasta.


Age: 36th


Iris Color: Silver


Hair Color: Hitam Pekat.


Skin Color: Coklat Langsat


Affilition: Elbasta Empire ~ Ten Commander Rhei.


Unique Skill (Compement): Multi Fungsion Of Atribut


Unique Magic: Manipulation Mercury


Magic Elemental: Logam anda Earth


martial Art: Sword Art, Asassin Art, Tank Art


Mana Capacity: S


A Spesialis: Magic Knight


Tipikal Magic


• Magic Elemen and Manipulation: S


• Magic Controller: S-


• Summoning Magic: F (Tidak Ada)


• Sealing Magic: A


"Unique Magic nya Manipulation Of Mercury?" Guman Zen pelan.