My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 47. Learn Magic Part 2



Di The Salivon Of Arena, banyak dari mereka yang menyimak dengan jelas apa yang keluar dari mulut instruktur Vena di depan mereka, ia berjalan mondar-mandir dengan tangan di posisikan ke belakang berjalan santai sambil mengucapkan beberapa penjelasan bagi para Compement - Compement muda ini. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut masing-masing pihak, kecuali Instruktur Vena sendiri. Cukup detail yang ia jelaskan, Zen menangkap beberapa makna penjelasan, yang ia sendiri simpulkan di dalam pikirannya.


“Secara umum sihir Controller, dapat kita asumsikan seperti sebuah penciptaan, jenis sihir yang berfokus pada control pikiran terhadap apa yang ia imajinasi kan” Jelas Instruktur.


‘Jadi yang perlu kita lakukan ketikan menggunakan sihir Controller sendiri, yang perlu kita lakukan....adalah memikirkan hal penciptaan itu sendiri’ menyimpulkan apa yang di jelaskan Instruktur Vena.


“Hei Zen, apakah kamu mengerti apa yang ia jelaskan.” Ucap Hendrick berbisik.


“Lumayan, memangnya kenapa?” Tanyanya balik.


“Aku hanya menanyakan sajalah, jika kamu perlu bantuan dengan beberapa penjelasan yang tidak kamu mengerti.” Ucap Hendrick percaya diri.


“Huh... terserah kamu saja.”


“Yang harus kalian ketahui bahwa, jika sihir tipikal Controller ada hubungannya dengan sihir Unique Magic yang kalian miliki dari sekian banyak pengguna, disebabkan karna Rune sihir yang akan di ciptakan.” Penjelasan masih berlangsung oleh Instruktur Vena.


“Sekian penjelasanku, apakah kalian mengerti.” Tambahnya


“Yah......” Serempak membalas.


“Baiklah, mari kita lihat bagaimana control kalian dengan sihir kalian masing-masing, dengan sihir dasar tipe Controller” Ucap Instruktur Vena.


“Perhatikan baik-baik, apa yang ku lakukan di depan ini.”


Dengan tampang yang tenang di tunjukan, ia menyodorkan tanganya kearah depan tepatnya pada murid kelas the Golden Egg, dengan posisi mata yang masih sama, lalu meremas dengan kuat seakan ada objek yang ia genggam di telapak tangannya.


[Magic Of Controller]; Magic Slow Obejcts


Suaranya menggelegar bersamaan dengan Rune magic tercipta melayang di atas arena, skalanya tadi hanya mengelilingi Instruktur Vena meluas ke semua sudut arena yang ada, hingga efeknya benar-benar terasa melambat pada semua orang bahkan objek yang di lalui oleh amplitudo Rune sihir itu, setelah masuk dalam jangkauan kecuali sang pengguna itu sendiri. Walau Sihir ini terbilang tingkat dasar dalam sihir tipikal Controller, tapi sangat berguna untuk mensupport jika rekanya menggunakan sihir berjenis Ultimate yang berskala luas maupun masif, misalkan sihir memanipulasi meteor tipe sihir element tanah. Kendati demikian, jangan mengasumsikan jika sihir yang di sebut sebagai jenis dasar ini, seperti yang kita ekspetasikan, mudah kerjakan dan enteng di pelajari.


“Bagaimana?, apakah sampai di sini, perlu di tanyakan” Ucap Instruktur Vena.


“Tidak ada Instruktur!” Ucap semuanya.


“Bagus, jika begitu, akan aku beri waktu sampai sehari full ini, selesai sihir dasar ini.”


“Kalo gitu aku pergi dulu.”


Ia melangkah pergi dengan santai tanpa beban, menatap pemuda berambut putih yang terlihat melamun dengan Eksperesi cukup rumit, ia tersenyum ketika melihat pemuda berambut putih itu. Zen sekarang ini memikirkan sihir yang satu ini, yakni [Magic Slow Objects] yang terbilang rumit untuk di kuasai dalam waktu yang cukup singkat.


“Akan aku tunggu perkembangan mu Zen.” Guman Instruktur Vena lalu melangkah pergi.


***


“Ahkk....Ini benar-benar susah, bahkan sangat susak ketika mempelajari Asassin Art.” Teriak Hendrick Frustasi.


“Kenapa..Kenapa dan kenapa.” Ujarnya yang tak terima.


“Dasar bodoh” Ucap semua perempuan dari seberang.


“Apa yang kalian bilang, dasar perempuan aneh.” Balasnya tak terima.


“Kamu hanya membebani pikiran kami dengan suara yang keluar dari mulut busukmu itu.” Ucap Esline.


“Yah, sadar aneh.” Tambah Anatsyah.


“Sudahlah kawan, ayo kita lanjut lagi, jangan terlalu memikirkan itu semua.” Bujuk Leonhart sambil memegang pundak Hendrick.


“Hmmm, kamu ada benarnya juga.”


“Dasar aneh....” Ucap Leksmar, perempuan berambut pasta.


Di ujung sana, seorang remaja dengan rambut biru tua yang sedikit acak-acakan tak seperti rambut Zen, menatap tanganya dengan serius, hal yang ia pikirkan sekarang berhubungan dengan latihan yang di berikan Instruktur Vena sekarang ini. Walau ia mengerti secara semestinya penjelasan yang ia utarakan tadi; Tapi, ia tak di pungkiri sedikit ragu dengan pemahamannya sekarang ini— beranggapan bahwa jika sihir yang di gunakan Instruktur Vena, seolah memperlambat benda atau “Modero” salah satu sihir yang di miliki bangsa Witch. Dan jujur saja ia cukup mengerti dengan sihir dari bangsa witch, namun demikian pemikarannya sendiri hanya dugaan maupun prespektif belaka.


“Hei Lumire, apakah kamu tak ingin mempelajari sihirnya, lihatlah waktu terus berjalan.” Ucap Erwin yang berada di depannya sembari mendongak kepalanya kearah kebelakang, kearah sanga empu.


Lumire menatap kearah yang berlawanan, iris birunya jatuh pada bocah loli yang sedang menggunakan sihirnya namun tak berhasil, berulang kali ia mencoba tapi seperti sebelumnya. Namun sekiranya ada sedikit perkembangan dari bocah loli itu.


“Hei Anatasya!, bisakah kamu jelaskan mengenai sihir Witch.” Ujar Lumire


“Aku tak akan menjelaskan apapun pada kalian para lelaki aneh.”


“Sudahlah lupakan saja mengenai kejadian itu, itu kan sudah berlalu, dan lagi apakah kamu tak ingin sihir ini terpecahkan walau sedikit saja.” Jelasnya sambil mengangakat tangannya.


Kalian pasti bertanya, kenapa Lumire menanyakan semua dugaannya pada loli itu, mengenai Witch magic yang sebagian kalangan dari ras manusia tak mengetahui selak beluknya kecuali orang-orang tertentu. Dan jawabannya adalah jika perempuan atau loli yang satu ini, salah satu dari sekian banyak orang yang dapat di hitung jari, yakni Half-Witch yang mempunyai dua Compement yang sangat langkah bahkan sangat langkah untuk manusia—mengesampingkan rasnya sendiri. Dan lagi, yang paling mengejutkan adalah, salah satu Compementnya bersifat aktif sangat-sangat sungguh benar langkah di tanah Etherna World ini—di ketahui dan sudah menjadi pengetahuan umum jika Compement itu sendiri bersifat pasif tapi hal itu dapat di turunkan menjadi [Unique Magic] itu sendiri sesuai penggunannya hingga dapat bersifat aktif sekiranya demikian.


“Huh, biar ku pertimbangankan.”


Mengesampingkan kejadian demikian, di atas tak di ketahui di arena the Salivon, seorang memantau sembari menyinggungkan senyumnya dari arah yang tidak di ketahui juga, ia memantau dengan jelas walau matanya sediri terlihat tertutup seakan tak melihat. Lalu seorang lelaki yang datang entah darimana mana, hingga sang empu sendiri hanya dapat menampakan dengan jelas senyumnya, menyadari orang itu.


“Tak ku pikir jika ia, dapat mengetahui dengan mudah salah satu sihir yang yang cukup sulit untuk di mengerti ini, bagaimana menurutmu Hagrid?”


“Dan Apa yang membuatmu tertarik ketempat ini.” Tambahnya.


“Aku tak punya urusan untuk itu.”


“Aku hanya ingin mengawasi seseorang saja” Jawabnya.


“Dan kamu sudah tahu juga kan....”


“Hmmm... Sepertinya begitu, aku juga sedikit tertarik dengan anak itu, dan juga entahlah apa yang ia buat sekarang ini.” Memandang kearah Zen yang berdiam.


“Kita lihat saja nanti, Instruktur Vena.”


***


“apa kah kamu sudah menyerah” Tanya Peter datang duduk di samping Zen.


“Entah juga kita lihat Kedepannya.”


“Lihatlah Near, walau ia terbilang mahir dalam penguasaan sihir Controller, tapi kelihatannya ia sedikit kesusahan.”


Di sana seorang pemuda berambut Hitam yang terlihat tergelatak jatuh dengan kedua tangannya sebagai penopang dari posisi duduknya, ia seakan kelelahan yang dari tadi aktifitas yang ia lakukan. Wajar saja itu membuat ia kelelahan, walau ia mengorbankan [Mana] nya untuk membuat sihir Controller yang cukup sempurna, tapi tak ada kemajuan dan itu hanya sekedar hayalan belaka.


“Near, bisakah kamu mrngajariku” Ucap Hendrick.


“Lihatlah...Aku juga tak dapat melakukannya, jadi artinya aku sama seperti kalian.”


“Apakah ini benar, sihir dasar dari tipe Controller, kok benar-banar sangat susah sih.”


“Entahlah, terima nasib aja saja.” Ucap Near menghela napas.


Zen memperhatikan dengan saksama semuanya yang ada, baik dari Erwin, Morlex, Guinevere, maupun Gaznel yang dari tadi begitu kesusahan. Bulir-bulir keringat yang keluar membasahi jubah akademi yang mereka kenakan; Zen juga sadar, meskipun ia terbilang mengerti dengan apa yang di lakukan oleh teman-teman sekelasnya itu, cukup baginya menyimpulkan semua yang ia amati dan juga ia asumsikan. Zen Sebenarnya bukan sekadar duduk diam saja, melainkan mengamati secara detail apa yang di lakukan oleh orang-orang ini hingga ia mendeduksikan secara pasti, apa yang akan di lakukan selanjutnya.


“Baiklah, sudah cukup.....Akan ku beritahukan kepada kalian semua.” Ucap Zen dengan teriakan.


“Apa maksudmu Zen, apakah kamu sudah mengerti bagaimana memecahkan semua ini.” Jawab Erwin.


“Ini sangat susah tau, jangan main-main, dasar laki-laki.” Balas Esline.


“Jangan suka mencari perhatian.” Ucap Lusi.


“Dasar laki-laki aneh.” Ucap Cintia, perempuan berambut perak itu.


Hendrick yang mendengar teriakan saudaranya itu, mendekat dengan bingung—bingung akan apa yang di ucapkan dengan keras tadi. Melangkah mendekati Zen yang berdiri diam tak dapat berkata-kata, seolah-olah ia bungkam dengan apa yang di utarakan dari masing-masing pihak.


“Zen apakah benar semua ucapanmu itu.” Tanya Hendrick kala ini mendekat.


“Yah.....Dan ini adalah terakhir kalinya, bagi kita kelas The Golden Egg, terpisah-pisah seperti ini” Kata Zen.


“Apa Urusannya denganmu.” Jawab Guinevere.


“Hmmm....Oh Kalian tidak berpikir ya, jelas ini ada urusannya denganku..... Perempuan yang selalu menganggap kami laki-laki sebagai makluk sampah, entahlah bagaimana pikiran kalian. Tapi, aku beri tahu pada kalian, walau kita berbeda pendapat seperti itu, jangan gunakan dalam hal lain hingga mengganggu kehidupan orang—dan lagi sepertinya kalian semua perempuan telah melanggar Aturan Akademi pasal XXVII Ayat 1-5 tentang Saling menghormati tanpa merendahkan sederajatnya bukan.” Jelas Zen.


“.....” (Semua orang diam)


“Baiklah, kami tahu kami salah....Tapi, bukankah kalian juga sama.” Jawab Guinevere yang membuyarkan semua Keheningan yang ada.


“Tentu, kami juga tahu, kalo gitu kami minta maaf sebesar-besarnya sebelumnya.” Ujar Zen menunduk di ikuti oleh Hendrick.


Semua laki-laki yang ada, melihat titik terang dari bacotan kebebasan dari perempuan, langsung mengerti, lalu secara bersamaan mereka juga melakukan seperti apa yang di lakukan oleh kedua orang di depan mereka. Lumire pun juga sama, walau ia tak terlibat secara pasti, tapi ia terkena juga dengan apa yang lancarkan banyak perempuan itu, sungguh di buat telinga memanas karnanya.


“Kenapa aku harus menunduk juga coba” Ucap Morlex tak terima.


“Kamu ikuti saja, Morlex....” Jawab Hendrick berbisik yang mendongakkan kepalanya ke belangkan.


“Iya, iya, iya” Jawab berturut-turut tanpa jeda.


“Hmmm...Jika seperti itu, aku atas perwakilan dari pihak perempuan, memaafkan kalian semua” Ucap Guinevere.


“Biarkan itu, berlalu......” Ucap Esline.


“Ya, aku juga sama, jika Esline beranggapan begitu, maka aku pun sama seperti itu juga.” kata Anatasya tersenyum dan di ikuti semua perempuan.


“Aku sudah memaafkan kalian kok” Ucap Rena.


Rena terbilang hanya mengikuti apa yang di lakukan banyak temannya ini, walau pada dasarnya ia tak beranggapan jika apa yang di lakukan teman perempuan sendiri adalah sebuah kesalahan maupun kebenaran, tapi ia seolah-olah sebagai penetralan yang ada.


“Mari kita sampingkan hal itu dulu, hal yang perlu kita pikirkan sekarang ini adalah, latihan yang berikan oleh Instruktur Vena ini” Ucap Zen.


“Benar juga Saudaraku, jadi bagaimana?”


“Baik akan ku jelaskan.”


“Pada dasarnya, jika sihir ini adalah salah satu sihir dasar yang ada dalam Klasifikasi tipikal sihir Controller, tapi.... Instruktur Vena menggabungkan dua komponen sihir yang cukup aneh, hingga ini betul-betul berefek secara jelas dan terlihat.”


“Yang satu sihir dari pola Rune nya sendiri, dan satu lagi aktifitas sihir yang di lancarkan.” Jelas Zen.


“Tapi...apakah semua ini ada hubungannya dengan sihir para witch.” Tanya Lumire.


“Aku tidak tahu secara pasti, tapi...aku pernah membaca sebuah buku, menjelaskan jika sihir Witch merupakan sihir cukup simple dan mematikan, walau pada dasarnya sihir ini berpatokan pada Manipulation Itu sendiri dan juga mantra yang mereka ucapkan—dan hubungannya sendiri, kita harus berpikir secara cepat ketika menggunakan sihir ini yang hampir sama dengan para witch, tanpa menggunakan mantra sama sekali.”


Prok...


Prok...


Prok...


“Tak kusangka kalian bisa menebak dari sihir yang ku ciptakan sendiri” Ucap orang dari seberang.


Terdengar suara langkah kaki mendekat kearah sentral dari arena yang berdiameter itu, respon semua yang ada menatap secara bersamaan pada suara yang terasa semakin mendekat kearah posisi mereka ini, sosok yang begitu di kenal yang kala ini, dan menjadi pembimbing dari mereka sebelumnya.


“Instruktur Vena.....” Teriak mereka semua.