My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 57. Behind The Story



Seorang anak berambut hitam silver yang nampak ceria berlari, senyum lebar menghiasi raut wajah yang nampak di tampangnya, di hutan rindang yang masihlah asri akan dominasi. Di bawah pohon yang cukup besar dengan dahan-dahan yang menjalar ke segala sisi, meninggi keatas. Seekor makluk berteduh, dengan ekornya yang di lipat dengan badan yang lengkungkan tidur posisi seakan ingin mengapai ekornya yang panjang berduri itu.


“Lihatlah Nor, bagaimana aku lakukan pada beats-beats ini,” ucap anak itu.


Kedatangan anak berambut hitam silver itu tak terlepas akan dua belas serigala dengan satu corak putih dan lainnya adalah abu-abu berdiri patuh, di hadapan pembicaraan dua orang itu. Anak itu masih sama menunjukkan senyum ceria yang berikan kepada sang naga yang kini tertidur malas di bawah pohon, di atas rumput hijau yang tak terlepas menjadi sandaran tubuh sang naga.


“....”


“Direworlf ini sangat susah untuk di jinakkan tahu, kamu tidak kasi pujian padaku.....” Nampak berpikir-pikir sambil memegang dagunya.


“Ayolah....” ujar anak itu memelas.


Anak itu tanpa ras takutnya, menjulurkan tangan lalu mengusap kepala sang Naga. Naga itu masih tak merespon hal yang di lakukan anak di depannya dengan rasa inisiatifnya, tak membuka mata atau hal lain yang di lakukan sekedar merespon, membalas yang lakukan padanya. Namun secara Interpretasi ada rasa yang hangat yang tak dapat ia terjemahkan sekedar untuk di berikan respon. Ia masih seakan tak tersadar akan realita, Naga hitam itu seolah-olah bermimpi indah, entah apa itu mimpi yang ia mimpikan.


“Ayolah bangun Nor! lihat, kamu itu sangat malas, hampir 2 jam lebih kamu tidur disini tahu...” anak itu berucap.


Seolah merespon, telinganya sedikit bergerak, namun, matanya yang ia buka menampakan iris berwarna merah dengan pupil vertikal menatap sang Anak. Anak itu tersenyum senang melihat teman sekawan nya ini merespon apa yang ia lakukan. Senyum lebar lagi-lagi terlukis di wajah sang anak, tak mau terlewat begitu saja; hal di lakukan dengan menyentil dengan ibu jari dan jari telunjuk yang di dempetkan lalu di lepaskan, ketelinga besar sang Naga.


“Apa yang kamu lakukan Whilen, setiap hari hanya untuk bermain-main dengan hewan-hewan rendahan itu.”


“Terserah aku dong, memangnya kamu mau, menemaniku bermain, bahkan kamu kerap kalian, tidak, tidak, tidak, bahkan setiap hari hanya asik dengan kegiatan malas-malasanmu itu.”


Naga itu tak merespon apa yang di utarakan dari anak laki-laki di depanya ini. Meskipun ia hanya bermalas-malasan di tempat ini, namun hal ini tak ada hubungannya dengan dirinya bukan, entahlah ia begitu malas menanggapi dengan pembawaan yang cukup untuk membalas atau melakukan tindakan lain sekedar hanya untuk merespon.


“Kamu itu sangat cerewet, untuk anak seukuran kamu...” ucap sang Naga.


“Aku ini baru 12 tahun tahu.....”


“Ya, ya, ya, terserah kamu saja.”


Whilen masih saja mendengus kesal, walau ia tahu Naga di depannya ini tak terlalu membuat ia – menjadikan ia bisa saja meregangkan nyawanya saat ini, namun hal itu pun tak ada sangkut-pautnya dengan bakat Tamer-nya, bahkan Naga satu ini malas sekali menanggapi apa yang di lakukan dan Whilen sendiri — tak dapat fungsi sebenarnya menggunakan bakat Tamer-nya pada naga ini.


Cahaya mentari dan juga angin sejuk dari pohon rindang yang kini mereka berteduh di bawah bayangan. Pertukaran yang saling mempengaruhi, membuat kedua makluk berbeda itu hanya menikmati atas natural ini, di bawah bukit meninggi namun tidak terlalu tinggi di katakan, mungkin sekiranya hanya 14 meter; terlentang sang Whilen dan berguling sang Nor di atas angin menerpa yang begitu sejuk dan menyegarkan, kenikmatan yang tiada taranya di rasakan dua orang ini


“Sepertinya di sini sangat menyenangkan dan juga nyaman.” Maju selangkah lalu menyandarkan tubuhnya di belakang sang naga.


“Kamu itu benar-benar tak ada rasa malunya, ketika dengan santainya menaruh punggungmu itu di atas bandanku, Whilen.” Masih menutup malas matanya.


“Haha...hari ini sungguh indah bukan.”


“....”


“Aku tidak tahu, sampai kapan hari menyenangkan seperti ini, berakhir.”


“Namun, aku berharap jika hari semoga, waktu sedikit melambat dari biasanya.”


“....”


“Bagaimana menurutmu Nor?”


Nor mendengar maupun menyimak semua ucapan jelas dari Whilen, yang kini mengisi kekosongan hati yang ia miliki. Kesepian selama sepuluh milenium ini, seakan tak terasa akan adanya seorang manusia, tanpa rasa takutnya mendekat maupun mengajak ia mengobrol dengan sesuatu yang tidak penting atau hal-hal lain beserta bualan yang keluar dari mulutnya. Meskipun ia malas mendengar hal demikian, itu terasa seakan mengobati hal tak ia miliki selama hidup; kesepian tak bisa di obati akan kekuatan, namun berbanding terbalik terhadap yang begitu melekat pada orang yang sebut Ras Terkuat ini.


“Menurutku itu adalah terbaik yang pernah ada.” Naga itu tersenyum tipis di samping Whilen yang sedang menatap keatas dengan angin berhembus kencang.


“Ya, aku sangat setuju denganmu, dan baru kali ini kamu merespon dengan senyuman, ucapanku selama ini.” Menatap wajah Nor di bawahnya, sembari mendongak kebawah.


“....”


Tentu hal itu tak terlewat dengan kisah mereka berdua untuk di jabarkan terlalu rumit; anak berambut silver itu, sangat terobsesi dengan ras terkuat satu ini – Ia sangat ingin menjadi temanya kala itu bahkan menurutnya ras Naga sangatlah keren dari jenis beats yang pernah ia temui. Pertemuan mereka di hutan Nours, yang hampir seperlima meliputi wilayah barat ras manusia, di bagian hutan terdalam. Anak itu bahkan tak takutnya masuk lebih dalam dari hutan yang di katakan berbahaya ini; disebabkan rumor yang beredar jika di bagian terdalam hutan, ada sesosok kuat hidup mendiami didalam hutan demikian. Whilen melangkah untuk membuktikan hal tersebut, tentu anak itu tak merasa takut sedikitpun; biografi ia sendiri cukup miris untuk di katakan, ia seorang yatim piatu yang menjadi petualang di umur cukup muda di kala masa kanak-kanaknya ini.


Nor sendiri ketika bertemu dengan Whilen, ia begitu terkejut dari tampang naganya, tak habis pikir jika ada orang yang begitu berani dengan jalan superior nya masuk tanpa rasa getaran mental itu sendiri. Namun anak itu bukan takut ketika melihat wujudnya malah di tunjukan adalah mata berbinar-binar seakan kagum bertemu dengan sang idola, hal itu membuat ia tambah bingung, apa yang di pikirkan bocah ini, namun ia acuh tak acuh saja malas merespon atau pun menanggapi, dan yah, pikirnya anak ini tak akan berbahaya – melalui insting.


“Ini adalah hari yang sangat terindah dalam hidupku,” ucap Whilen di kala angin menerpa.


“Apa itu menurutmu.”


“Hmmm...semoga kedepannya bisa seperti ini lagi, Nor.”


***


Di pandangan sang Naga, di pupil vertikalnya terlihat dengan jelas anak berumur dua belas tahun, terlentang tak berdaya dengan darah menghiasi wajahnya, anak itu tak merespon di kala di panggil oleh sang Naga, sejatinya sang anak akan begitu girang ketika sang idola berbicara padanya, namun hal lain berbeda di kata pada kejadian ini. Anak itu hanya menutup mata, di bawah pohon rindang hutan Nours yang gelap akan malam hari yang di terangi binatang malam yang menerangi di kala bulan tak menunjukkan. Sang Naga berulang-ulang kali memanggil namanya, menanyakan keadaannya bahkan mengancam sendiri di bawah ketidakberdayaan sang Anak itu. Anak itu sedikit membuka mata, terlihat hanya separuh yang dapat ia tunjukan, tersenyum melihat pedulinya sang Idola yang jelas di kedua matanya.


“Whilen kamu tidak apa-apa.”


“N-Nor.... terimakasih a-at-tas semua ini, aku sangat senang menjadi temanmu, namun aku...tak bisa lagi menjadi temanmu di kala waktuku yang telah dekat ini dan juga menemanimu... semoga kamu tak membalas pada orang-orang yang telah menyakitiku...” ucapnya dengan terbata-bata.


“Semoga di kemudian hari nanti, aku dapat bertemu denganmu lagi Nor...” Menutup mata dengan senyum wajah terlukis di wajahnya.


“Whilen...”


“Whilen...”


“Whilen...”


“Whilen...”


“Siapa yang melakukan semua ini pada kamu.”


“Sialan....”


“Graooo...” Auman Sang Naga.


“Benaraninya mereka...para bedebah itu...akan kubalas hingga mereka merasakan apa arti dari penderitaan sebenarnya.” Mengepakan sayap nya yang besar langsung terbang di udara.


...


Swuss..


“Tak akan kubiarkan kalian semua hidup, dasar Makluk kotor....”


Rumah-rumah yang porak-poranda, tak ada yang dapat menghentikan makluk terkuat itu. Nafas api hitam yang keluar secara beruntun dengan brutal, tak ada yang dapat mengahalangi. Api yang bersifat destruktif itu bukan, melainkan bersifat seperti omnivora itu, melahap segalanya. kota besar yang makmur kini menjadi sematan nama saja di kala sejarah menghampiri. Tak dapat meredam amarahnya hanya rasa luapan amarah yang keluar, dari orang terpenting yang telah mengisi kekosongan hati selama ia hidup.


“Dengar aba-aba, keluarkan Spell terkuat kalian masing-masing, untuk mengecoh makluk itu....”


Banyak sekali pasukan prajurit dengan Armord lengkap, ada yang membawa pedang, panah, tombak atau senjata lain – menjadi penguasan mereka. Mereka di katakan membawa kata dari sang penguasa mereka saat ini, untuk menghentikan sang Naga. Para Magic Master, yang telah bersiap menyerang dan juga Magic Master yang berspeaslis pada Sealing Magic tingkat tinggi telah bersiap, meredam kemarahan sang Naga. Namun ada rasa gundah di hati mereka, mereka cukup pesimis akan keberhasilan mereka, walau di dukung pasukan Elit yang kini Affilition yang mereka diami.


Sang Naga menatap makhluk-makhluk sampah di depanya, mendongak kepalanya dengan senyum sinis dan suara berat menghampiri. Mereka langsung gemetar akan hal yang di lakukan, tak habis pikir jika Naga satu ini mempunyai kemampuan seperti itu, seolah-olah mempunyai pikiran tak seperti yang mereka ekspetasikan.


“...Dasar Makhluk sampah...”


“Serang...”


-[Magic Elemental Manipulation]....


-[Magic Elemental Manivestasion]...


-[The Selaing Magic]....


“Exploison Of Fire...”


“A Breath Of Fire...”


“Lightning Harlot...”


“The Currently Of Tornado..”


“Five Layer Of Protector..”


“Eart Soars..”


“The Currently Of The Water...”


Sihir supermasif yang bersifat destruktif itu saling tumpah tindih di kala spell maupun Rune Sihir yang tercipta, menyerang sang Naga bersamaan spell [Sealing Magic] di ucapkan. Namun hal itu seakan tak percaya dengan kejadian yang mereka lihat, di kala Spell ultimate yang di keluarkan, tak berdampak sama sekali bagi fisik sang naga, yang menatap remeh ketika melihat mereka mengeluarkan sihir mereka terkuat itu.


“Dasar makluk rendahan...”


“Menhilang lah dari hadapanku...”


Swiisss..


Bufff...


...


Kota yang kini yang hancur berkeping-keping dengan sentral subjek yang kini mengamuk seperti makluk tak berakal. membakar secara liar great city ini dengan sempurna napas api hitamnya. Ribuan nyawa melayang di waktu bersamaan sang Naga menyerang dan lagi sang Emperor yang kini lari entah kemana, meninggalkan semua warisan leluhurnya ini— negara yang hancur hanya satu malam sungguh luar biasa, ekspetasi maupun Realita yang ada.


Namun demikian, hal itu tak membuat hati sang naga membaik, ia seolah-olah bernafsu untuk menghancurkan apa yang ada di depannya, baik itu bersifat material maupun hal lain yang ia lihat.


“Disspear.”


Swuss..


Api hitam besar yang sekarang mengelilingi sang Naga hilang entah kemana, sesuai perkataan seseorang. Di balik api hitam seorang individu bertopeng berjalan santai mendekat sang naga yang kini memandangnya menjadi pusat indikasi, pupil nya menyipitkan memastikan apa yang ia lihat, tak dapat ia ekspetasikan atau hal lain, menyembur nafas yang sama ia lakukan sebelumnya hanya untuk memastikan.


Swuss....


[Magic Of Controller]; The Return Of Magic


Rune Sihir putih pudar tepat di depan sang seorang bertopeng, topeng yang bebentuk rubah dengan pola garis merah kejingga-jinggan kini menjadi perhatian bola mata dari sang naga. Rambutnya tergerai hitam panjang, dengan warna iris biru di balik dua loba topeng, jelas terlihat. Tak ada rasa takut terlihat dari apa yang ia lakukan, seakan sungguh tak peduli atau hal lain menerawang di mentalnya sendiri.


Semburan api tersebut berbalik menyerang dengan kelipatan dua kali lebih besar dari sebelumnya...


Swuss...


Tak dapat menghindari karna porsi tubuhnya, namun masih bisa menahan api hitam yang ia miliki bahkan jauh lebih besar dari semburan yang ia lakukan.


“Sudah Waktunya aku akhir penderitaanm mu ini, aku tahu bagaimana rasa sakitmu itu, tapi hal yang lebih penting sekarang menyelamatkan orang tak bersalah yang sekarang ini, menjadi apa yang kamu lakukan.” Nada yang terdengar jelas kebijaksanaan.


“Namun, takdir yang kini telah menentukan, kamu menjadi pendamping di masa depan nanti untuk orang yang akan menyelamatkan dunia rusak ini...”


[Magic Of Controller]; The Soul Cleanser...


Formasi Aksara Rune yang nampak besar di atas beberapa meter mengelilingi seluruh tubuhnya, mengeluarkan cahaya yang kini menghujani sang naga, Nor tak berdaya dengan sihir tipe Controller itu, membuat mentalnya kesakitan seakan di tikam oleh sepulu ribu pedang sihir dengan berat ribuan ton dan juga kekuatan yang begitu besar dalam waktu bersamaan. Pikirannya kini lebih tenang lama kelamaan seolah-olah terlarut dalam pembawaan, dengan Impresif mengingat kenang dengan Whilen kala itu, sungguh membuat ia bernostalgia.


“Semoga takdir membuat kamu, menjumpai orang kusebutkan itu..Nor.” Guman pelan individu bertopeng ketika melihat rasa bahagia yang di miliki oleh Not sendiri


“Akan ku akhir semua ini...”


[The Sealing Magic Of Unique Skill]; The Time Prison Determination Of Desteny..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Note;


Jangan lupa dukung Novel ini dengan like, vote, tip, dan lain sebagainya..tapi jika kalian suka dengan novel ini tolong, di bintangin lima aja karna Author butuh banget, dan lagi jangan lupa like di semua Chapternya; karna Author butuh support dari kalian yang membaca.


🙏🙏🙏🙏🙏