
Dua orang pemuda berpikir cukup keras memutuskan masa depan yang akan mereka ambil. Wajah berpikir cukup membuat Pria paruh baya yang menjadi guru pembimbing, tertawa disebabkan membuat mereka kebingungan sambil duduk santai menyesap minuman yang telah di sediakan.
Dari segi kemampuan memang fisik menjadi faktor utama sebagai penopang dalam hal Martial art, tapi bisa saja menggunakan magic sebagai bentuk pendukung dalam Hal bertarung itu berlaku bagi Magic Knight sendiri.
Sudah sewajarnya jika seorang kesatria mempunyai ketetapan hati yang kuat maupun tekad yang mendalam, mungkin itu hanya di miliki para kesatria sebenarnya. Hati yang manusia yang kita tak tau, ada yang busuk maupun ada yang bersih. Orang orang dengan munafiknya memuji dengan kata kata yang terdengar seolah olah sesosok besar yang di agungkan, tapi terpendam kebencian yang mendalam, benar-benar Sampah masyarakat.
"Kita lihat bagaimana jiwa kalian,Anak muda berbakat" Batin pengajar dengan santainya.
Hal ini di lakukan sebagai pengetesan pertama untuk orang bergelar Kesatria, Zen dan juga Hendric yang memilih sebelumnya untuk menjadi seorang kesatria. Sebenarnya Magic Master terbilang Cukup Menantang bagi Zen, tapi ia tak ingin menyia-nyiakan Hadian misterius yang di berikan kepadanya berupa katana sebelumnya.
Kalian harus tau juga,semua akademi tinggi militer; Mereka tak terlalu fokus dengan Para Mage, tapi juga sangat sangat di peruntuhkan bagi kekuatan yang ada hingga ada namanya para Magic Master. Bisa saja para Mage mengalahkan para kesatria, itu pun sebaliknya. Para Mage yang terbilang lemah dalam pertahan dan kuat dalam segi menyerang sedangkan para kesatria yang kuat dalam bertahan sedangkan sedikit lemah dari segi menyerang dari para Mage.
"Sepertinya kalian sudah memilihnya,bagaimana...kelas apa yang akan kalian ambil" Tanyanya dengan senyum.
"Aku pilih belati ini" Ujar Hendrick sambil memegang belati yang hanya satu di atas meja.
"Hoho...kelas assassin yah."
"Kalo kamu anak muda?" Tambahnya mengarah kepada Zen yang masih berpikir memegang dagu.
"Aku memilih Dua kelas Asassin dan juga Swordman" Jawabnya dengan tegas.
"Apakah benar kamu akan memilih dua kelas, mungkin akan susah loh" Tanyanya dengan nada memastikan.
"Yah..saya akan mengambil dua kelas".
"Hmmm...kenapa kamu ingin seperti itu, apakah kamu mempunyai kemampuan" Tanyanya.
"Kalo itu aku bisa jamin."
"hahaha..Kamu begitu percaya diri sekali" Tambahnya.
"Baiklah aku boleh tau kenapa kamu ingin mengambil dua kelas secara bersamaan."
Tak ada jawaban yang keluar dari Mulut Zen, hingga suaranya terdengar mengejutkan sang pria paruh baya.
"Kalo itu masalah privasi" Jawabnya langsung melangkah pergi.
"Aku tak pernah mendengar orang berbicara itu padaku" Guman sang pria paruh baya.
***
"Kalian berdua harus tau jika seorang kesatria mempunyai hal dasar; dalam menyerang yaitu, Acceleration Dan juga bertahan yaitu Enchement."
Dua Remaja itu benar-benar Menyimak dengan benar apa yang jelaskan oleh Pembimbing yang satu ini, walau wataknya yang terbilang jauh dari Pembimbing yang ada tapi cukup bagi mereka berdua; Baik itu pemahaman maupun segi bertarung meningkat dengan pesat, tapi dari segi Martial Art yang di kuasai secara perorangan.
Dalam Sword Art sendiri, lebih mengutamakan Kecepatan menyerang jarak dekat dan juga Serangan yang Efesien dan lagi Efektif. Hal ini di lakukan untuk menghindari gerakan yang berlebih hingga berdampak pada penggunaan Stamina yang terbilang terbuang percuma.
BAK...
BUK...
Bunyi Pedang kayu yang beradu satu sama lain, baik itu dalam posisi bertahan maupun menyerang saling menjatuhkan lawan di depan mereka.
"Hah...Hah...Hah..Hah" Suara buruan napas memburu udara untuk dihirup, tak lain dan tak bukan dua remaja yang bertempur melawan seorang pria paruh baya dengan Senjata yang di pegang masing-masing.
"Lambat sekali."
"Sialan kau..Hiaaaa..." Suara teriakan dari Seorang pemuda berambut Coklat.
HUEK...
"Lemah sekali" Ucap pria paruh baya.
"Hendrick mundur dulu" Teriak seseorang dari belakang.
Tepat sasaran pukulan telak mengenai Ulu hati Sang Hendric hingga ia memuntahkan Salivanya. Tak sampai disitu karna kekuatan yang di lancarkan cukup besar, ia di buat terlempar kebelakang tapi di tangkap oleh Zen.
"Kamu tidak apa apa kan."
"Tidak...apa apa kok" Balasnya.
"Apakah kamu masih bisa berdiri" Tanya Zen.
"Aku masih bisa berdiri, ayo kita lawan dia secara bersamaan."
"Seorang Swordman Tak Hanya mengandalkan fisik saja dalam menyerang tapi juga dengan Otak dalam menghadapi sesuatu, jika orang itu disebut petarung kuat maka ia harus benar benar tak meremehkan kekuatan lawan di hadapannya" Ujarnya.
Zen terbilang sedikit diam, ia berusaha berpikir aka apa yang ada di hadapannya, ia melirik Hendrick yang berusaha untuk berdiri “apakah ia masih mampu bertarung” Batin Zen.
"Kalian Lihat kemana" Ucapnya.
Dengan sigap orang itu menghilang dari hadapan mereka berdua, hingga tanpa sadar ia sudah berada di samping Zen yang tak fokus, karna posisi Zen yang terbilang sedikit menguntungkan baginya, pedang kayu yang ia pegang menangkis menyambar pedang kayu yang lain mendarat padanya.
"Hohoho.. sepertinya kamu bisa membaca pergerakanku."
"Tapi...." Tambahnya.
[Sword Art];Paroxsysm, Gumanya
SWUSS....
"Menghilang..kemana?" Batin Zen.
Tiba-tiba ia yang di cari dengan cepat melancarkan serangan pada area Vital Zen tepat di punggung Zen, tapi....Hendric dengan sigap melemparkan belati yang ia pegang dengan kecepatan Anginya.
SWUSS..
DING..
"Zen di belakangmu" Ucap Hendrick.
Zen yang tau posisinya dalam bahaya, mundur kearah belakang sekitar Tujuh kaki melangkah hingga tepat seperti di kepung di dua sisi dari arah berbeda yang sasarannya pria tua yang menggunakan Armord Silver di pandanganya. Wajahnya mengerut, ia bingung dengan apa yang di rencanakan pria ini.
"Jangan-jangan...Hendrick menghindarlah."
"Hehehe..." Senyum pria paruh baya yang posisinya berada di tengah lapangan.
[Sword Art]; Double Slash Different Direction
Dengan kuda-kuda yang ia buat dengan posisi kaki satu di depan, pedang yang ia gunakan berputar tiga ratus enam puluh derajat selama sekali dengan posisi tubuh tegak menghadap kearah berlawanan. Dua bilah hasil tebas yang di keluarkan hingga menghasilkan bilah angin yang melesat menyerang dua arah berbeda dengan sasaran dua remaja yang menjadi Lawannya.
Slash memang terbilang Teknik berpedang dasar yang di miliki oleh seorang Swordman, membuat bilah yang di ciptakan karna tebasan yang konsentrasinya di udara padat hingga menyatu menghasilkan serangan Yang di sebut Slash. Teknik ini juga dapat berkembang sesuai dengan dengan pengguna yang menggunakan, bisa saja mereka menambah sihir Elemen sebagai bentuk Slash itu sendiri.
SWUSS...
Bilah angin menyambar dua remaja yang menjadi Target, karna Kecepatan dan juga serangan yang susah di prediksi terhadap apa yang di lancarkan, terpaksa dua remaja itu terseret dengan tebasan hingga keluar dari Arena pertadingan.