
Zen memikirkan beberapa konsep yang ia sinkronisasikan dalam imajinasi, cukup mudah untuk di katakan maupun di lakukan. Membayangkan udara bebas di sekitar pelindung lalu ia menggunakan materi atom yang di kendalikan dan terjadi pergerakan fisika; Unique Magic [Absolute Law] pun berlaku. Menghubungkan satu sama lain, imajinasi dengan realita itu cukup untuk di defenisikan bagi sihir — mendeskripsikan lebih luas dan mendalam; meskipun kebanyakan masih berpikiran berbeda-beda sesuai dengan pemikiran masing-masing, dan terlebih muncul beberapa generalisasi yang menguak percaya kebanyakan orang di yakini bahkan tersebar luas.
Free Air the Breakwater; seperti yang ia ucapkan, materi atom di kendalikan tadi yang masih di katakan masuk istilah materi itu, satu sama lain melakukan saling mempengaruhi dalam artian, saling menghacurkan akibat Manipulation Dari Zen. Pergerakan fisika tadi masih menjadi tolak ukur akan kesempurnaan sihir ini, memunculkan tekanan yang kuat dari tekanan udara di sekitar, walau semestinya tekanan udara berpengaruh pada ketinggian atau pun hal lain sehubungan berkaitan, misal ketinggian suatu tempat akan memunculkan tekanan yang tinggi pula, namun Zen seakan tak menjadi pantangan walau hal yang masih menjadi imajinasi menjadikan konkret di lihat atau Teori di jadikan Hukum di gunakan.
Pelindung yang terlihat bergetar kuat, seperti gema pada kaca-kaca gedung akibat gelombang bunyi; singkat saja, jika Zen menggunakan udara bebas sebagai bahan utama, untuk di lakukan ledakan atom satu sama lain dari komponen udara, dalam tekanan udara yang menekan terbilang tinggi; di wujudkan oleh sihir [Alls Materi] yang ia miliki di langsung di gunakan secara bersamaan oleh dua sihir sekaligus. Namun seberapa besar, Zen dapat memanipulasi hal yang terbilang sangat susah untuk di kerja otak dalam waktu yang cukup singkat, jadi Zen hanya dapat memanipulasi dalam tiga titik secara bersamaan, dan itu menurutnya sudah cukup untuk mengatasi hal demikian.
“Apa yang kamu lakukan Zen,” ucap Hendrick.
“....”
Tak ada respon yang keluar dari mulut Zen, ia sedang berkonsentrasi tingkat tinggi jadi tak ada yang harus mengganggunya, walau ini sangat susah untuk di lakukan, tapi Zen tiadakan untuk tak mencoba. Regangan jari-jari tadi secara serentak ia mengepal seakan meremas kuat sebuah objek, dan itu pun secara bersamaan, terjadi retakan akibat udara meledak walau tak terasa ataupun di lihat seperti kejadian peristiwa destruktif lainya, karna yang meledak bukan lah udara melainkan atom yang berukuran hampir nano.
Buss...
- Hancur berkeping-keping, tak ada yang tersisa.
“Huh...akhirnya, selesai juga...” guman Zen pelan.
Hancur tak tersisa, pelindung yang kini memisahkan, hanya tinggal kenangan saja, Gate terakhir pun terlihat, namun berbeda dengan gate-gate sebelumnya seperti pintu lebar berpola aneh atau pun teka-teki yang harus di pecahkan; sebuah portal ruang seperti pertemuan pertama mereka lihat melayang di depan sana, dengan Bundaran berbentuk oval seperti biasanya.
“Kalian tidak ingin keluar, portal sihirnya sudah terlihat di sana..” ucap Zen.
“Z-zen a-apa yang terjadi?” ujar Hendrick yang masih bingung.
“Apa yang telah kamu lakukan,” ucap Lumire dengan tampang rumit yang jelas.
“Jangan bilang, kamu yang menghancurkan pelindung itu.”
“....” Berjalan melangkah diam tak menjawab.
“Jangan diam saja, kamu membuat kami penasaran Zen...” ujar Lusi.
“Penasaran? itu urusan kalian, tidak ada hubungannya dengan ku,” ucap Zen masih melangkah.
“....Ada sebuah pertanyaan yang ingin ku tanyakan kepadamu Zen, apakah kamu si pengguna api hitam, maksudnya...sebelumya yang kamu keluarkan ketika melawan Golem kala itu...” kata Guinevere.
Zen melangkah berhenti, berbalik menatap dengan ekor matanya, yang kini sedikit mengingat-ingat kejadian sebelumnya. “Ya, aku memang menggunakan api hitam...” jawab Zen santai.
“Hmmm, apakah kamu tahu legenda yang mengatakan akan kehancuran sebuah negara karna api hitam,” ucap Esline.
“...”
“Rupanya orang jenius sepeti kamu, masih kurang akan pengetahuan yang cukup penting...”
“Jika empat kekaisaran tahu ada seorang di antara kami, yang menguasai sihir tersebut, aku tak tahu akan terjadi seperti apa...”
“Mereka setidaknya berpikir, kamu adalah salah satu ancaman Zen, walaupun sihir seri malaikat hampir di samakan dengan sihir ini, namun setidaknya kamu bisa sembunyikan sihir kamu miliki,” ucap Cintia.
“Aku sebagai temanmu, ingin memberikan saran saja, setidaknya ini sebagai perwujudan dari apa yang kamu lakukan bukan..” ucap Leksmar yang memegang bahu Zen.
“Semoga kamu lebih berhati-hati, ketika menggunakan sihir mu itu, lebih baik kamu tutup rapat-rapat akan rahasiamu itu Zen.”
“.....” (Benar-benar menakutkan)
Mereka dengan santai, berjalan melangkah pergi masuk kearah portal yang terlihat di arah depan sana, melayang. Zen pun juga tak di pungkiri jika sebelum-sebelumnya, ia melakukan kecerobohan; lebih baik ia tak menarik perhatian bukan–anggapannya, namun itu telah berlalu, hal yang di lakukan akan di tinggalkan dan tak bisa di kembalikan kesedia kala lagi, mungkin kecuali jika seseorang menggunakan sihir waktu yang ia manipulasi agar dapat memperbaiki masa lalu, dan opsi itu adalah mustahil.
“Huh... setidaknya mereka tidak mengetahui lebih dari itu. sepertinya aku harus menggunakan sihir ku ini, lebih selektif lagi.”
“Kenapa Zenos kamu tidak memberitahu aku...”
[Permintaan Dimengerti; Saya akan selalu mengingatkan anda].
“Yah, begitu lebih baik.”
***
Di suatu tempat; tempat yang di kenal sebagai “Keindahan peradaban Elf” ini, yang di kenal oleh kebanyakan para Elf, sebutan The Temple Foresty; sebuah ruangan tersembunyi, ruangan yang di katakan terletak paling bawah dalam susunan tingkatan pohon berdiameter amat besar menyamai satu kota kecil ras manusia, lebih kirannya ruangan latihan rahasia yang di sembunyikan. Dengan dinding dan juga lantai pola bata tua, yang entah sudah berapa lama di bangun hingga terlihat agak kuno, berdiri sekelompok orang bertelinga panjang, di pusat ruangan latihan itu. Tujuh orang Elf yang masih muda bagi ukuran anggapan umur Elf, tengah menatap sang ratu yang kian tersenyum melengkung di bibirnya. Mereka cukup merasa senang karna bisa bertemu dengan Ratu mereka yang sangat di banggakan, seantero masyarakat Elf ini, dari sikap kepemimpinannya seakan ada revolusioner bagi Elf kingdom ini, setelah ia memimpin.
Seorang perempuan remaja Elf, yang kini maju selangkah kedepan dari posisi sebelumnya berdiri, busur panah ada di belakangnya, tepat di punggung di ikat oleh rompi karet kecil, kesan kilauan di bagian panah yang bercorak putih terang itu.
“Perkenalkan nama saya Mia Exonia, ratu Evana yang agung,” ucap remaja Elf perempuan berambut putih, yang sikap penuh hormat.
“Aku suka sikap kepercayaan dirimu itu, sangat percaya penuh keberanian seperti pejuang para Elf, Mia Exonia.” Ratu Elf yang kini tersenyum terhibur sikap Mia tunjukan. Padahal ia sudah tahu, Identitas masing-masing jadi tidak perlu repot-repot orientasi maupun Perkenalkan diri masing-masing, yang membuang banyak waktu.
“Ak------”
“Tidak usah perkenalkan diri kalian, aku sudah mengetahui dengan jelas indentitas kalian, baik itu nama maupun kemampuan masing-masing, jadi aku akan langsung keintinya saja..”
“Aku akan membuat kelompok yang berisi Elf muda berbakat dari keluarga besar kaum Elf, untuk di dijadikan sebagai sebuah kekuatan mutlak tak tertahankan bagi masa depan bangsa Elf, tentu jika hal itu di lakukan, maka, Kemampuan kalian harus kuat bukan.”
“Jadi, kita akan di jadikan kekuatan Mutlak tersebut,” tanya remaja Elf spontan dengan rambut di biarkan acak-acakan, dengan setelan Armord yang kian tak luput dari kata gagah untuk seorang kesatria, tak lupa dengan pedang di samping di pinggirnya.
“Menurutmu bagaimana, bagaimana jawabanmu Edmund,” tanya Ratu Elf balik.
“Sungguh kehormatan terbesar bagi saya, atas apa yang ratu ucapakan sebelumnya, mengingat nama saya,” ucapnya datar seperti tadi.
“Tapi.. sepertinya aku tak dapat menjawab apa yang anda balik tanyakan...”
“Hahaha...jika begitu, bagaimana menurutmu bocah Asilon, pendapatmu, aku ingin mendengarnya,” ucapnya yang kini menatap remaja Elf laki-laki yang hanya diam tanpa berbicara.
“.... Menurutku anda hanya ingin, menyetarakan kami dengan bangsa manusia, yang di karuniai kemampuan mereka yang hampir sederajat dengan kami....dalam bentuk umur...namun berbeda dalam kekuatan, dan itu pun kami juga tahu.” Mendongak kepalanya tersenyum manis mengarah kepada sang ratu yang masih mempertahankan senyumnya.
“Bukanya begitu ratuku yang agung...”
Senyum lebar masih terlihat di wajahnya, padahal ia sedikit waspada dengan kecerdasan dari anak yang bermarga Asilon ini, yang tadi ia lakukan hanya mengetes kemampuan yang di miliki anak itu saja. Lagi-lagi senyumnya semakin melebar penuh makna, seolah-olah telah menemukan sesuatu yang begitu menarik.
“Baiklah untuk mempererat hubungan kita, aku ingin kalian menyebutkan nama masing-masing, di mulai dari kamu bocah Asilon.”
Ia menatap sekali lagi Sang Ratu yang menatapnya dengan senyum lebar merekah, dia sudah tahu secara pasti apa maksud dari Sang Ratu, namun ia tak peduli apa yang di inginkan atau pun di rencanakan oleh otak ratu Elf ini.
“Namaku Elder Asilon,” ucapnya.
“Aku Elivia Arexes.” Perempuan berambut kuning dengan sedikit hijau, di bagian atasnya.
“Perkenalkan, aku Demian Asgard.” Remaja Elf begitu bersemangat.
“Eldemesh Dwarzes, ucap remaja Elf yang menggunakan kaca mata.
“Seperti yang kalian ketahui, aku Mia Exonia.”
“Kalian sudah ketahui juga sebelumnya, namaku Edmend Lumiel.”
“aku Amanda Wynen.” Perempuan Elf dengan rambut hitam mencolok di tambah mata berwarna merah terkesan lebih mencolok lagi.
“Ini sudah bagus, dari hari ini sampai ini semua berakhir, kalian akan di bawah bimbinganku, apa kalian mengerti.”
“Ya, kalian mengerti.”
“Bagus, aku sudah mengetahui tekad kalian, semoga kedepannya kalian akan berkembang lebih dari ini.
“Dan terakhir kelompok kalian ini akan kuberi julukan, hingga masyarakat Elf tahu akan kehebatan dan juga jasa kalian..”
“Nama kelompok kalian adalah, Seven Pride Of The Elves; pasukan yang setara dengan kedudukan tujuh keluarga besar.”
“Besok, berkumpul lah seperti biasa di tempat ini,” tegas Ratu Evana.
***
Hari yang melelahkan kini telah di lewati oleh anak-anak The Golden Egg ini, rombongan lelaki yang kini melangkah ke asrama masing-masing, dengan jalan berbeda-beda, kecepatan langkahnya yang sama sekali tidak sama.
“Aku yang dulu sedikit acuh dengan keberadaan seseorang, namun....akan ku bongkar semua kemisteriusan yang kamu miliki Zen,” ucap Lumire lirih, yang kini menatap Zen dengan intens, senyum tipis terlihat di sudut bibirnya.
“Apa maksudmu, apa yang akan yang kamu bongkar, jangan mengatakan hal yang aneh lumire...”
“Heh...aku pun tahu, setidaknya ada beberapa yang harus di pecahkan bukan, Leon!”
“....”
“Jadi, kamu ingin mencari informasi dari Zen, jangan bertingkah di luar batas Lumire...” Hendrick sedari tadi mendengar, pun menjawab.
“Ohh...maaf, maaf, aku tak bermaksud demikian; aku...ingin bertanya satu hal, apakah kamu sangat mengetahui lebih banyak tentang Zen yang kamu anggap saudara itu.”
“....”
“Sudah kuduga, kamu pun tak tahu bukan,” ucapnya kembali
“Aku sedikit familiar dengan punggungmu Zen, seakan pernah lihat dimana, tapi aku sedikit lupa...” Peter bergabung.
“Ya, aku tahu, sepertinya ini sungguh sama dengan orang yang di rumorkan itu, di akademi sebelumnya.”
“Berambut putih yang sama persis, dan juga porsi badan yang sama, jangan-jangan jika orang itu adalah Zen.”
“Jangan terlalu kencang, nanti dia dengar...” Hendrick membungkam mulut dari Gaznel.
“Apa yang kalian bicarakan.” Suara terdengar di belakang mereka.
To be continue...
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=