My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 3. Alliance City



Sebuah kota begitu besar bahkan sangat besar sepanjang mata memandang, walaupun aktifitas mata menyapu pun tak akan sampai pada ujungnya. Tadi Zen yang bersikap santai dan biasa-biasa saja sangat terkejut dengan kota yang begitu indah di tambah lagi dengan kecanggihan teknologinya — tentu memakai sihir, lumayan apatis akan keadaan. Sebuah menara yang disebut sebagai Magic Tower menjulang tinggi keatas seakan mencakar langit, di sentralisasikan dari empat penjuru sisi, di hubungkan dari satu tali tiang membentuk sangkar menancap di atas tembok luar. Tak hanya itu, seakan membuat Zen impresif, merasa jika ini adalah sesuatu yang sangat abnormal juga ia lakukan, inisiatif melihat dari arah jendela wagon, di atas sana, jika ia lebih memincing mata, menatap lekat-lekat apa yang ia lihat — keindahan yang sangat-sangat— tak dapat di jelaskan, itulah yang mereka sebutkan sebagai pelindung bentuk dari Sealing Magic yang setiap lima dekade akan di ganti.


“Wow...” Satu kata yang di keluarkan Zen secara langsung.


Susan dan juga Paman Sebastian hanya tersenyum melihat keterkejutan di wajah pemuda satu ini, menjadi suatu kebanggaan bagi mereka ras manusia menciptakan sebuah kota yang tak tertembus bahkan dengan kekuatan penuh Bangsa Dragon sekalipun, untuk disebar luaskan kepada banyak orang. Yah, bangga akan sebuah karya yang sangat mereka muliakan – bermukim di tempat ini.


Seperti namanya Alliance City, adalah gabungan dari seluruh kekuasan yang di miliki manusia, sejak beratus-ratus tahun yang lalu ras manusia membentuk aliansi sesama mereka, saling bahu-membahu. Manusia mengorbankan ambisi mereka hingga terciptanya kota yang tercatat benar dalam sejarah hingga peradaban yang semasif ini. Kota dengan pusat pertahanan dan juga semua aspek kehidupan Ras manusia ada di dalamnya, di anggap sangatlah tak dapat tertandingi.


Nampak di depan sana, terlihat army dengan zirah lengkap mereka dengan aura superior masing-masing, berjaga di gerbang masuk memanjang seuntai tembok menjalar. Dengan masing-masing gerbang tembok yang di biarkan diberikan nomor sampai ke-14 sebagai gerbang ahkiran penutup dari gerbang besar yang ada, berjejer. Ada hadangan yang di terima oleh pasukan berzirah—tembok yang di masuki bernomor empat.


“Tunjukan indentitas kalian!” ucap salah satu pemakai Zirah yang menutupi wajahnya. Full Armord Plate, Magic Equipment.


Paman Sebastian yang mendengar akan hal itu, keluar untuk mengkonfirmasi. “Kami utusan dari Kekaisaran Pentagrom.” Saat ini menghadap dua orang Knight, sembari menunjukan kartu identitas, dengan tertera lambang keluarga Charlotte.


Menatap memastikan. “...Selamat masuk Tuan, kami sangat menyambut Anda. Maaf, atas semua yang tadi, kami hanya menjalankan tugas.” Nada tegas, terusan anggukan Paman Sebastian.


“Ya, aku juga tahu... bolehkah kami masuk.”


“Di persilahkan. Buka gerbangnya!!” Mengarah kearah depan.


Rombongan Paman Sebastian langsung di biarkan masuk. Lambang keluarga Charlotte yang berkibar mengikuti angin yang tercipta akibat kereta berjalan, membuat para prajurit dengan sigap memberikan Hormat.


Zen tau bahwa Paman Sebastian sangat di pandang tak sebelah mata dan juga di Hormati oleh semua orang hanya di lihat dari Sifatnya yang Begitu sopan sesama Ras mereka. Belum di tambah lagi Status keluarga Charlotte yang disebut keluarga Dari kaisar Kekaisaran Pentagrom selaku kakak dari Paman Sebastian.


Umat manusia, yang hidup secara liberal tanpa ada sebuah status yang mengikat—anggapan yang mendalam, sungguh ramai akan penghuninya, impresinya membuat Zen sangat terkagum, sangat membuat ia yang berpikir jika hal ini adalah delusi selama yang ia pikirkan.


“Jadi menurut Kakak Bagaimana?” tanya Susan.


“Aku tak tau bagaimana mendeskripsikanya tapi satu Hal yang kulihat dari kota ini yang begitu indah,” jawab Zen memandang kearah Susan.


“Kalau itu kan sudah pasti.”


Perbincangan singkat mereka terhenti ketika gerbong mereka memasuki gerbang kota sebagai tempat pertama masuknya kota Alianci City. Banyak pertokoan yang menghiasi pusat perdagangan yang terlihat hingga orang orang berlalu lalang dan membeli beberapa jualan yang terjual.


Hingga kami berhenti di sebuah Toko Baju cukup besar dengan semua jualan mereka di balik kaca. Zen heran dengan gerbong kereta yang berhenti tiba-tiba, apakah ada masalah di depan hingga membuat mereka terpaksa berhenti.


“Ayo kak,” ajak Susan sambil menarik tangan Zen yang kebingungan.


“Ada apa ini?” jawab sebagai tanda tak mengerti.


“Ikut saja kak,” balas Susan tanpa melihat kearah Zen yang berada di belakangnya.


Zen dan juga Susan masuk dengan agak sedikit berlarian. Hanya helaan napas yang keluar dari mulut Zen menandakan pasrah apa yang di lakukan Anak Perempuan yang ada di depannya itu.


“Selamat datang Tuan dan Nona di toko kami.” Sambut sang pelayan membungkuk Hormat.


“Ada bisa yang kami bantu Tuan,” tambahnya.


“Aku membeli semua pakaian laki-laki terbaik dari toko ini yang cocok denganya,” pinta Susan sambil melirik kearah Zen yang masih tak mengerti.


“Baik Nona,” ucap mereka, pelayan yang menyambut pun serempak.


Seketika saja puluhan baju bermerek terlihat jelas di depan mereka. Zen yang melihat akan hal itu mendesah atas kelakuan Susan yang begitu boros menurutnya. “satu orang saja pakaiannya sebanyak ini,” batin Zen.


“Jadi kak... sekarang giliranmu,” beo Susan sambil melirik Zen.


“Eh...? jadi semua ini untukku,” jawab Zen seakan tak percaya.


“Tidak.. tidak apa-apa,” balas Zen dengan cepat dengan Keringat dingin di wajahnya.


“Mati aku bukanya ini terlalu banyak,” batin Zen yang sedikit ketakutan.


Selang beberapa saat mereka melanjutkan perjalanan, terlihat Zen yang begitu lelah dengan letih yang di buat-buat sedangkan Susan hanya tersenyum cengesan di wajahnya. Tampak Zen yang begitu tampan menggunakan pakaian casual berwarna putih dengan jubah setengah badan berwarna Hitam polos yang ia kenakan. Sumpah ganteng banget!!!! satu kata deskriptif, tidak di buat-buat.


Dari kejauhan terlihat Paman Sebastian sudah selesai dengan urusanya. Sebenarnya paman Sebastian, tadi lagi mengurusi beberapa administrasi pindah kota dan beberapa urusan lainnya termaksud Zen sendiri, bermukim di bagian selatan dari wagon mereka yang berhenti — sebagai tempat ijin masuk para pelancong ataupun membuat kartu pengenal, sebelum di berikan kepada lebih yang bersangkutan – Divisi Kependudukan. Jika seseorang yang tidak memiliki status kota atau di bumi di bilang “KTP,” maka orang tersebut Di anggap sebagai Penghianat atau sejenisnya, Itu sudah menjadi aturan yang di sepakati seluruh perwakilan dari berbagai Fraksi dalam perkumpulan berbagai negara.


Tapi bagaimana jika Mereka yang menghilangkan status kota,apakah mereka dianggap penghianat juga? Jawabnya adalah tidak!! Sebenarnya dengan membuat status kota seseorang secara tidak langsung tanpa di sadari mereka telah mendaftarkan diri mereka sendiri di departemen kependudukan, memang teknologi cukup canggih dengan bantuan sihir.


“Ini punya mu Nak,” Kata paman Sebastian menyerahkan sebuah plakat berwarna silver.


“Ini apa paman?” jawab Zen melihat plakat dari Jarak dekat, dengan lambang matahari terbit dengan menara tinggi – Magic Tower – lambang dari Alliance City.


“Sudahlah simpan saja,” pinta paman Sebastian.


Rombongan mereka bergegas pergi memasuki Gerbang tembok kedua. Banyak rumah penduduk di setiap jalan utama, beberapa warga berjalan bersama keluarga mereka dan juga rumah beratap merah yang tersusun rapi yang wagon mereka lewati.


Biar ku jelaskan, memang Aliance City memiliki enam tembok sebagai Pembatas setiap distrik. Misalnya tembok pertama sebagai pusat perdagangan maupun perbelanjaan umum bagi para penduduk – lebih mendominasi dan juga mayoritas, pemukiman disini. Tembok kedua sebagai perumahan penduduk tinggal. Pembatas ketiga sebagai tempat tinggal sebagian Keluarga Bangsawan. Pembatas ke-empat tempat Akademi Tinggi Sihir maupun Khasatria. Pembatas kelima sebagai Tempat kerja paman Sebastian atau lebih tepatnya Pusat Semua Diplomat dari berbagai penjuru Kerajaan maupun Kekaisaran. Dan terakhir pembatas Ke-enam sebagai markas utama dari organisasi Human Race Alliance. Kendati begitu, itu tak cenderung sistematis apik seperti demikian, ada beberapa yang juga bermukim tak seperti itu–tidak untuk pembatas kempat, kelima dan juga keenam.


“Aku tak pernah melihat tembok seperti ini,” kata Zen di kala kereta kuda masuk — sudah melewati distrik pertama.


“Benarkah..?? Wow kak, kamu itu tidak tahu yah...” kata Susan tak percaya.


“Ya, aku memang tahu... dan ini baru pertama kalinya aku melihat tembok sebesar ini.”


“Apa Kak tahu, jika tembok ini bukan hanya satu, bahkan kota lain selain Alliance City pun, mempunyai tembok besar seperti ini.“


“Apa begitu? aku lumayan penasaran,” kata Zen.


“Hmm, hmmm, hmmm...” Mengangguk-anggukan kepalanya.


Terkadang Zen sering membandingkan antara Kota Aliance City dengan kota Tokyo yang ada diduniaku. Walaupun perbedaanya terpaut jauh dengan Rancangan Yang begitu sistematis dari kota Aliance City, tapi Zen masih lebih memilih kota Tokyo. Kenapa? Zen bukan melihat dari keindahan maupun teknologinya yang begitu canggih, tapi... pernahkah kalian mendengar kalimat “sejauh jauhnya atau sebagus bagus Negeri orang tapi masih jauh lebih bagus dari kampung Halaman sendiri,” bukanya begitu.


Lamunan akan kampung halaman membuat Zen mengingat masa lalunya dulu. Bisa dikatakan Zen seorang yang berprestasi yang ada di sekolahnya, tapi ia merasa biasa-biasa saja. Walau rasanya hidupnya dulu begitu santai tapi dia juga merindukan Kehidupannya yang dulu yang begitu santai demikian.


Zen juga merasa aneh, tentang dirinya. minder akan perbedaan yang begitu signifikan dari bentuk mata maupun Rambut yang menurut kebanyakan orang aneh. Karakteristik yang menunjukkan beda kelainan dengan Orang Tua mereka sendiri. Atavisme itulah kelainannya, membuat Zen berbeda dengan orang lain. Tapi ia juga tak terlalu mempermasalahkanya sih.


Lamunannya buyar ketika Susan memanggil namanya berulang kali. Ternyata kereta kuda telah berhenti sejak Susan memanggilnya, sekali merespon langsung ia alihkan menatap pada objek menjadi indikasi ini. Kediaman yang begitu besar dengan Halaman yang begitu luas terlihat di mata biru Zen ini dengan Lambang Bunga mawar merah yang di kurung oleh Duri Duri mawar merah itu sendiri.


“Selamat Datang kembali Tuan.” Salam seorang pelayan yang menggunakan Kaca mata.


“Ohh...bagaimana kabarmu Hend,” balas Paman Sebastian.


"Baik Tuan."


Mereka berdua berbincang bincang di mengenai beberapa masalah, sedangkan Susan hanya melihatnya tersenyum — Zen pun membalasnya dengan senyum tipisnya.


“Ayo kak kita masuk,” ajak Susan.


“Hmmm...iya,” jawab Zen.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=