My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 54. Pelajaran Survival



“Baiklah, kalian sudah mengerti bukan peraturannya.”


“Ya, kami mengerti,” ucap mereka semua yang ada.


“Apakah kita semua akan berlama-lama di tempat itu, jika tidak dapat sampai gerbang besar yang menjadi tujuan kita,” ujar Hendrick.


“Tentu tidak, dimensi yang telah kami rancang perbedaannya satu jam itu sama dengan tiga hari, jadi kalian tidak perlu khawatir,” jawabnya.


“Jadi, kalian harus berbangga sebagai orang pertama yang mencoba teknologi hasil kerja sama ini dengan Ilmuan sihir terkenal,” tambahnya lagi.


“Namun, apa kita juga harus mengatasi setiap rintangan yang ada, apakah ada hal-hal seperti sistem dugeon,” tanya Guinevere.


“Apa yang Kamu bilang tidak salah juga, hampir sama dengan sistem dugeon, tapi sistem yang kami pakai adalah, sistem nyawa yang membuat kalian mati kapan saja dan di anggap gagal, tentu yang gagal akan mendapatkan hukumam. kalian juga bebas menggunakan sihir terkuat kalian masing-masing, tapi jangan salahkan jika [Mana] kalian habis atau terkuras banyak; sistem ini tidak ada namanya [Mana] absolute maupun mana tak akan terkuras semestinya, lebih tepatnya seperti penggunaan mana di dunia nyata, dapat bertambah ketika kalian melakukan faktor-faktor yang membuat sekiranya kalian mengisi [Mana] itu sendiri atau berkurang sama halnya demikian,” jelas Instruktur Guld.


“Tapi Instruktur Guld, apakah peraturan juga bisa membuat nyawa kita berkurang atau mati ketika melanggar,” tanya Zen.


“Tentu tidak, kalian bebas melakukan apapun,” jawab Instruktur Guld, namun perhatian matanya – melihat wajah Zen masih bingung.


“Apakah kamu masih bingung Zen,” kata pria kekar itu.


“Hmmm, aku masih bingung, untuk apa anda menjelaskan semua peraturan yang ada jika tidak ada hubungannya dengan hal-hal penting lain.”


“Ya, aku sama halnya dengan Zen Istruktur Guld, Akau sama sekali tidak mengerti, apakah kalian menyembunyikan sesuatu,” ujar Lumire.


“Apakah ini semua ada hubungannya dengan kita semua,” kata Luci terlihat berpikir.


“Hohoho...nanti kalian akan mengetahuinya,” balasnya.


Mereka semua bingung ketika mendengar jawaban balasan dari Instruktur Guld, pria berbadan kekar itu nampak hanya tersenyum lebar yang tak dapat di tebak apa yang di pikirkan atau pun di simpan dalam otak nya ini. Zen juga menganggap jika semua ini ada hubungannya dengan mereka seperti pendapat Luci, tetapi ia harus memastikan secara pasti dulu, apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh Instruktur sangat bersemangat ini.


“Baiklah, sudah cukup, waktunya kita memainkan Game bukan.”


Swingg...


Portal ruang sederhana terlihat di samping badan kekar Instruktur Guld, tingginya pun sekiranya berukuran tubuh mereka ini; sekilas seperti retakan ruang dan waktu, namun secara konstan – tak menekan maupun menghisap dengan daya tarik luar biasa seperti Black Hole. Cahaya putih keluar tetapi tak merembes hanya begitu saja – terlihat di sela-sela portal itu.


“Sekarang kalian masuklah....”


Sesuai apa yang di perintahkan Istruktur Guld, mereka dengan rapi masuk secara berurutan. Namun demikian tidak sama halnya dengan anak berambut putih itu yang masuknya agak sedikit melambat, ia berhenti ketika tepat beberapa jengkal dekat portal yang masih terlihat, berbalik menatap Intens orang di belakangnya ini. Zen sangat sensitif dengan apa yang berhubungan realita, karna ada sistemnya Zenos dia anggap sebagai pemandunya itu, di kala Zen bingung untuk menentukan hal menurutnya rumit atau sangat rumit.


“Kalian tidak menyembunyikan sesuatu bukan,” ujar Zen dengan nada penekanan.


“Entahlah, nanti kalian akan tahu selanjutnya, jadi Bersenang-Senang lah,” balas Instruktur Guld santai.


Tak mendapat sesuatu yang mungkin, Zen menghela napas kasar, lalu melangkah memasuki portal yang masih ada itu — kini sudah di masuki teman sekelasnya. Walau ia cukup cermat mengamati situasi, namun ia tak mungkin bisa menyimpulkan dari berbagai tesis yang masih belum tentu terbukti dengan realita yang ada. Hal yang tak memungkinkan, tak bisa ia simpulkan singkatnya seperti itu.


Swuss...


“Kelihatanya ia menyadari sesuatu Instruktur Guld,” ucap seseorang yang belakang.


“Aku tidak habis pikir dengan kejelian anak itu, seeprtinya dia akan menjadi monster di kemudian hari,” jawabnya.


“....Bagaimana menurutmu kepala Akademi?”


“Ya, aku pun beranggapan sama dengan kamu Instruktur Guld.”


“Kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya dari anak itu,” tambahnya.


“Memang, anda benar-benar tak memilih anak sembarangan, ini sungguh menarik.”


Di dalam portal ruang; pemandangan Zen nampak takjub dengan apa yang ia lihat sekarang ini, namun bukan dia saja yang memandang takjub hasil maha karya Ilmuan sihir terkenal itu. Semua anak dari kelas berbakat ini pun, sama dengan kata takjub terlukis di wajah mereka. Zen tak dapat berkata-kata dengan apa yang di lihat iris matanya, sungguh di luar realita. Pantas saja Instruktur Guld berkata ketika menjelaskan ini adalah sistem Game, yang sangat berbeda dengan dunia nyata di luar sana, kendati masih ada kemiripan dengan kehidupan yang ada misalnya objek-objek lain yang mendukung kehidupan kedua ini.


“.....Ini seperti Virtual Reality saja....” guman Zen seolah-olah memberikan pendapat penilaian atas Sistem yang satu ini.


Tiba-tiba sebuah papan proyeksi di hadapan mereka, tinggi juga melayang di atas beberapa meter di depan semuanya, sungguh berindikasi di hadapan semua anak berbakat itu. Tak menyurut perhatian, Zen menatap papan melayang itu, orang yang begitu de Javu terlihat di dalamnya. Instruktur Guld menatap para murid yang ada dengan senyum lebar merekah seperti biasanya, menyinggung senyum khasnya di balik teknologi proyeksi itu.


“Bagaimana menurut kalian.....”


“Akan ku beritahukan kepada kalain, aku di sini hanya pengontrol secara bebas, sistem game ini; sesuai apa yang ada, rintangan yang harus kalian lewati ada tujuh gerbang dengan tantangan berbeda setiap masing-masing....”


“Jadi jangan mengeluh, jika kalian menyerah, katakan saja menyerah...kalian akan langsung di keluarkan dari dunia sistem dan di anggap gagal.”


Diam hening tak menjawab, murid dari kelas the Golden Egg ini hanya berpikir dengan pikiran masing-masing di dalam lontaran kepala dan juga benak mereka. Zen nampak berpikir dan menanyakan berbagai solusi dan itu cukup menjelaskan bagaimana akan kemungkinan terjadi sebelumnya. lamunan Zen itu menjadi Indikasi dari sosok Near, Lumire maupun Leonhart, memperhatikan secara lambat apa yang di pikirkan anak berambut putih itu. Jujur saja ia penasaran dengan apa yang akan di lakukan anak ini seolah-olah mendambakan sesuatu kejutan yang di buat anak ini.


Near dan juga Leonhart sendiri — rasa penasarannya seketika bertambah ketika mendengar penuturan dari Hendrick sebelumnya akan kekuatan Zen sebenarnya. Tapi itu semua belum membuat mereka merespon akan kekuatan Zen sebenarnya dengan cara duel atau hal-hal lain – menentukan kekuatan antara dua orang itu dengan anak berambut putih demikian. Namun berbeda hal lain dengan Lumire sendiri, remaja berambut biru tua berindikasi pada Identitas Zen sebenarnya, jika menanyakan soal kekuatan mungkin anak itu tidak tertarik akan kehebatan seseorang.


“Zen kamu tidak apa kan,” ucap Hendrick.


“Hmmm...tidak apa-apa.”


“Jika kalian diam, maka aku menganggap semua ini di mulai.....”


“Sekarang Ujian di mulai!!!!”


Lagi-lagi secara tiba-tiba objek yang mengejutkan terlihat, gerbang besar muncul secara serentak di sela-sela lamunan semua anak berbakat yang ada. Pada dasarnya jika benda seperti pintu besar itu berlandasan bukan, namun ini di biarkan melayang beberapa centi di bawah yang ada. Zen tak sangat mengerti dengan maksud semua ini, menatap papan proyek yang merah kenapa tatapannya juga sama menatap pada diri Zen — tersenyum lebih lebar akan hal itu.


“.....Kalian bisa masuk kedalam pintu besar itu, maka ujiannya akan di mulai.”


“Apakah semuanya siap.”


“... Ya....” ucap semuanya.


...


Seluruh perhatian memandang jelas sepenuhnya padang rumput membentang luas, bahkan ini semua penuh perhatian dari anak-anak The Golden Egg ini, mengamati objek yang ada tak luput dari pemikiran bergulat di otak masing-masing. Namun Zen tentu menggunakan Zenos, menganalisis semua yang, pemetaan dan juga analisis objek tak luput dari apa yang di identifikasi Zenos. Pelipis Zen sedikit mengernyit, tak mengerti kenapa atau apa yang akan kita lakukan di tempat ini, apa tantangan yang akan harus mereka taklukkan.


“Ini benar-benar aneh....”


Suara gemuruh di bawah tanah sebagai landasan kaki mereka. Semua respon langsung menunduk menatap apa yang terjadi di bawah mereka, tapi bukan karna getaran yang berasal dari bawah bumi namun disana objek debu bertebaran di udara. pusat tanah bergemuruh lalu nampak siluet sekumpulan objek aneh – membuat debu berterbangan di udara; semua respon menatap kearah bersamaan, menanyakan ada apa dengan tanda tanya begitua besar.


“Itu bukanya.....” ucap Lusi.


“Itu The Horned Bull Wind bukan.....” ucap Hendrick cepat.


Lumire, Hendric, dan semua laki-laki maupun perempuan mengedipkan matanya dua kali, mereka tak habis pikir akan melawan bahkan mempertaruhkan hidup untuk bertarung dengan binatang monster beats seperti ini. Kendati rasa tak percaya menyulut hati masing-masing atas kejadian ini semua, tetapi ini semua tak membuat ras pesimis menguasai kepercayaan diri mereka. Namun hal yang di perkirakan dengan kemampuan binatang banteng bertanduk satu ini salah besar.


“Menghindar semuanya......” ucap Leon. “Ini tidaklah sempat.” Menggertakan gigi di atasnya.


[Magic Elemental]; The Flame Strongers!!!! guman Seseorang.


Swuss..


Bufff...


“Ehh...”