
Hujan berhenti menampakan Matahari walau samar terlihat di Atas Cakrawala. Pesona Kota Aliance City yang tak terlepas dari keindahan menambah ketika sebuah pelangi memenuhi udara. Udara yang basah terhirup di penciuman dengan bulir-bulir air diatas atap para penduduk dan genangan air tercipta di atas jalan yang biasa para para penduduk lewati.
Sudah berlangsung selama sejam Hujan mereda, dua orang remaja yang saling bercengkrama satu sama lain dan tak terlewatkan obrolan ringan dari ucapan kedua remaja itu. Langkah ringan yang di iringi candaan, membuat Susana tak seperti Canggung.
"Lelah sekali...tapi juga sangat menyenangkan."
"Hmm, tak ku kira akan sangat menyenangkan seperti ini"
"Yah, mungkin setelah ini aku akan tidur."
"Itu Terserah padamu."
"Hahahaha..Hei Zen bisakah kamu mengejarku" Ujarnya yang terlihat beberapa langkah didepan Zen.
"Malas" Balasnya padat dan juga Jelas.
Entah kenapa Ucapan terkahir Zen membaut Hendrick tertawa lepas, ia berjalan dengan cepat sedangkan Zen hanya berjalan santai mengikuti dari arah belakang.
"Huh...bersemangat sekali dia."
"Zen cepatlah..kamu lambat sekali seperti kura-kura berjalan saja."
Terprovokasi atas apa yang di ucapan Hendrick, Zen berlari dengan cepat meninggalkan Hendrick di depannya. Ia pun tersenyum mengejek kearah Hendrick yang terlihat tersenyum balasnya.
"Lihatlah siapa yang di sini seperti kura-kura berjalan" Ejek Zen.
"Hehehe.." Balasnya.
Di situlah pertandingan lomba lari antara kedua belah pihak, angin Segar yang menerpa wajah tampan mereka di tambah senyum bahagia yang terlukis di tampang masing masing.
***
Di sebuah gerbang besar, nampak seorang gadis mungil yang berdiri bersandar di samping gerbang besar yang sedikit terbuka, rambut pirangnya yang terlihat indah dan juga pakaiannya yang terlihat Elegan yang ia kenakan, gaun yang pas berwarna biru muda dengan sepatu yang selaras sama dengan gaun yang ada di tubuh mungilnya.
"Heh...kalian pulang juga Rupanya" Ucapnya yang begitu sinis.
"Eh, Susan kenapa kamu ada di sini" Tanya Hendrick.
"Sepertinya Firasatku tak baik" Batin Zen bergidik Nyeri.
"Hehehe..Aku di sini~" Ujarnya yang tersenyum menakutkan.
"Untuk memberikan kamu pelajaran" Tambahnya.
"Eh..."
BHUK..
BHUK...
"Kenapa kamu memukulku ha..apa salahku sih?"
"Hahaha..kamu tidak tau kesalahanmu, kamu itu membawa kak Zen secara diam-diam tau" Ucapnya dengan nada Cemooh
"Apa Hubungannya denganku."
"Oh..kamu masih tidak tau kesalahanmu itu, sepertinya pembelajaran yang ku berikan tidak menyadarkan pikiran Idiotmu" Sambil mengepal tanganya lalu merenggangkan Jari jari dari kedua telapak tangannya.
"Tidak-tidak aku hanya bercanda" Jawanya yang bergidik Nyeri.
Zen yang melihat itu Hanya diam mematung, ia sedikit takut dengan Aura yang di pancarkan perempuan mungil ini “Untunglah bukan Aku”, sambil menghela napas panjang.
"Ayo kak Zen masuk kedalam,tinggalkan orang Idiot ini" Ucap Susan dengan senyum lembutnya.
"I-Iya."
Zen sedikit bingung dengan perubahan sikap yang di tunjukan susan. Ia begitu tak mengerti dengan Perasaan perempuan, menurutnya semua perempuan itu sama, baik di dunianya dulu maupun sekarang, semuanya Aneh bahkan yang lebih parah lagi, perempuan bisa saja lebih seram dari laki-laki jika kalian mengganggu ketenangan maupun kedamaian mereka.
"Hei siapa yang kamu panggil idiot" Teriak Hendric dari arah belakang.
Tatapan mata Tajam langsung mengarah kepada Sang Empu suara, sang empu sendri hanya bisa menelan Saliva nya yang tertahan di tenggorokan, menggerutu di hatinya atas kebodohan yang telah ia lakukan, seolah-olah beranggapan Ia telah membangunkan singa yang tertidur.
"Ayo kak Zen" Memegang langsung tangan Zen berjalan berbalik pergi.
"Syukurlah tidak terjadi apa-apa" Menghela nafas lega.
"Kenapa sih kakak dan juga Adikku Aneh aneh semua" Gerutunya terhadap Nasibnya sendiri.
o0o
Zen yang berada di kamarnya sekarang ini membuka beberapa Barang bekas hasil percobaan yang tak terpakai yang ia minta dari Ernest sebelumnya, mencoba beberapa hal yang mungkin saja ia bisa melakukan salah satu Teknik yang membuat ia tertarik, Blacksmith. Kemampuan yang terbilang Umum tapi sangat sulit di kuasai seperti Alchemi.
Kemampuan Menempa terbilang Salah satu pelajaran umum yang sekarang ini di pelajari di Akademi Tinggi yang ada di Aliance City, semua para murid di berikan Kelas khusus untuk mempelajari Pelajaran ini, walau begitu hanya murid-murid terpilih saja yang di khususkan berdasarkan kemampuan yang telah di pertimbangkan. Seperti sama halnya dengan Alchemi sendiri, membuat Potion Dan juga tanaman Herbal sudah menjadi makanan Sehari-hari bagi Orang yang bergandrungi pada bidang ini.
Teknik Blacksmith Sendiri terdiri atas Tiga bidang Spesialisasi seseorang yakni: Design, Modify and Repair, dan Creator. Zen sebenarnya mempunyai tujuan lain meminjam Alat Pengetesan mana; Alasan yang ia utarakan pada Ernest hanya bualan belaka. Tujuannya ada tiga yang mengharuskan pikiranya bekerja keras lagi: Pertama; Zen hanya ingin menganalisis Alat yang di bilang canggih bagi pengakuan bangsa Dwarf selama mereka Hidup, karna kebetulan juga ia mendapat beberapa Buku yang menjelaskan alat alat yang di buat para Dwarf, tidak buruk itulah pendapat Zen. Kenapa ia bisa tau mengenai Alat Pengetesan Mana? Tempo lalu ia secara tak sengaja Mendapati ruangan yang terbilang Rahasia itu dari bantuan Zenos ketika menemani Ernest mengambil pesanannya, ketika ia mengidentifikasi semua Ruangan yang ada hingga mendapati Ruangan yang terbilang Rahasia.
Yang kedua sendiri berhubungan salah satu Teknik Spesialis, yaitu Creator. Zenos berkata jika Zen mempunyai bakat dalam Menciptakan. Oleh sebab itulah, ia ingin mengetahui bagaimana sistem mekanika yang di gunakan Para Dwarf sendiri dengan Teknik kedua ketika menggunakan sihir yaitu Division dengan cara mengidentifikasi menggunakan mana ketika di aliri. Sungguh mengejutkan bagi Zen, sistemnya sangatlah Rumit. Itulah kenapa Para Kaum Dwarf sendiri mengakui akan hal itu bahkan Ilmuan Para manusia maupun Witch terkenal.
Berhubung bakatnya yang menonjol pada Creator, membuat Zen ingin mempelajari Sistem mekanik yang di buat Kaum Dwarf yang terbilang Rumit. Mencoba sesuatu dari hal penasaran masih sangat melekat dari Sikap Zen sendiri, mungkin saja Pengetahuan di dunianya dulu bisa membantunya.
Alasan ketiga sangat lah menarik, kejanggalan dari alat Pendeteksi mana sendiri bisa di bilang tidak sesuai dengan Ekspetasi banyak orang yang menuntun dari kata benar. Zen hanya mencoba membuktikan apakah benar teori-teori para Dwarf sendiri mengenai [Mana], berapa jumlah mana yang terkandung dalam tubuh individu dan menjadi patokan semua bangsa terutama bangsa Witch maupun Human. Tapi semua itu masihlah sama, tak ada yang benar masih melenceng dari Fakta yang ada.
"Huh selesai juga."
"Sekarang waktunya tidur, persiapkan untuk Hari esok."
Waktu yang ia gunakan selama semalam, membuat ia tertidur pulas karena kelelahan, Zen yang terbaring di atas tempat tidurnya bergulat dengan mimpi indah hingga tak tau apa yang terjadi disekitarnya. Malam yang indah di terangi cahaya rembulan karna pantulan sinar matahari ditemani bintang bintang yang indah di langit sana.