My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 53. The Game



Di kamar asrama Zen tempati, tampak sang empu lagi membaringkan badanya lelah melewati hari yang panjang nan melelahkan, di tambah harus menjelaskan penjelasan atas apa yang terjadi pada kala itu – kepada Leonhart, Peter, Near dan terakhir paling mengesalkan adalah Hendrick. Tubuhnya terlentang malas, dengan tangan yang di biarkan secara horizontal di biarkan lemas seadanya, di kedua sisi tubuhnya, sungguh malas untuk beranjak apa yang ia posisikan saat ini.


Ia mengingat-ingat kejadian sebelumnya, ketika bertemu dengan Summoning keduanya, hal yang paling cukup mengejutkan untuk di pikirkan. Zen tak bisa tak terkejut atas apa yang terjadi, lagi dan lagi Libia di balik semua ini, namun apakah Noir juga masuk dalam rencana Libia sama seperti Lemia; tetapi membuat Zen sangat terkejut dengan sikap Lemia yang cukup aneh menurutnya, sangat penurut.


“Ah...benar juga, Lemia....” ucap Zen memanggil.


Swuss...


“Salam Hormatku tuan...” ucapnya menunduk hormat.


“Kamu bilang kan, jika kamu itu The Queen Of Spirit sebelumnya,” tanya Zen baru menyadari.


Lemia tersenyum hangat, makluk bersayap transparan itu mengatakan hal yang tanpa ia sadari, namun ia menyangka jika tuanya ini tak akan menyadari atas apa yang ia ucapkan sebelumnya, dan ekspetasi yang ia pikirkan adalah salah besar.


“Ya, tuan....”


“Hmmm....apa benar kamu ras peri,” ucap Zen beranjak duduk.


“Kamu itu cukup aneh Lemia, aku baru tau ada ras peri yang mau menjadi Summoning atau partner dari seorang manusia,” tanya Zen.


Lemia tersenyum hangat. “Ya, aku tau jika manusia itu adalah makluk yang egois dan juga tamak, tapi....berbeda hal lain dengan anda tuanku,” jawabnya.


“Oooo...”


“Aku benar-benar tidak mengerti makna maksudmu, dan lagi sekarang ini jangan pernah memanggilku tuan itu agak canggung, karna kamu adalah partnerku jadi sekarang panggil aku Zen, gimana.”


“Hmmm, aku mengerti Zen,” jawab Lemia tersenyum hangat.


“Baiklah, sudah waktunya aku tidur, selamat malam Lemia,” ujar Zen.


“Selamat malam Zen.” Langsung menghilangkan.


***


“Hei Zen, ada apa dengan matamu itu.” Terlihat warna kehitaman di bawah matanya.


“Itu semua gara-gara kalian tahu,” jawab Zen malas.


“kenapa gara-gara kami,” tanya Hendrick.


“Ahhh...sudahlah, lebih baik secepatnya kita bergegas bukan, mungkin teman-teman lain telah menunggu kita” ujar Zen.


“Ada apasih dengan kamu Zen, oh...aku lupa bagaimana dengan tugas yang di berikan oleh Instruktur Anatia, sudah selesai bukan.” la tersenyum penuh arti.


“Iya, iya! tokoh-tokoh berpengaruh bagi ras manusia dan juga masa di mana peralihan dari peradaban pertama sampai dengan peradaban keempat atau apalah itu, sudahku dapatkan sumber-sumber nya.”


“Benarkah....tapi kamu dapat dari mana?”


“Instruktur Etnest!” jawab Zen.


“Instruktur Etnest?” Berhenti sebentar.


“Aku tidak pernah mendengar nama itu sama sekali,” ucap Hendrick.


“Kepala akademi....” ujar Zen sudah berada jauh di depanya.


“Hah, kepala akademi?” Hendrick bingung. “Zen tunggu aku.....” Berlari mendekat kearah Zen yang jauh dari nya beberapa meter di depan.


...


“Huh, lagi-lagi berakhir di tempat ini, sungguh kesialan yang berarti”


“Bisakah kamu jangan selalu mengeluh seperti itu, morlex.”


“Ah....Sudahlah Guin, biarkan orang seperti dia menjalani hidupnya saja,” ucap Lusi.


Perempuan berambut merah muda itu menatap kearah depan lebih tepatnya kearah pintu yang dari tadi mereka tunggu akan kedatangan seseorang, bersamaan dengan para teman sekelas mereka di ruangan yang aneh ini. Tembok tebal mengelilingi, dengan meja kayu yang memanjang di tambah lima belas buah kursi kayu saling berhadapan masing-masing berjejer. Duduk di kursi pertama yang berurutan di sebelahnya seorang wanita cantik dengan rambut Skroll berwarna coklat di sampingnya dan hadapannya adalah laki-laki dengan tampang memelas — tangan kanan menjadi penongkah dagunya, menatap malas arah sebaliknya.


“Kapan sih mereka datang, ini sudah lama sekali tahu....” ucap Morlex dengan wajah memelesnya.


“Tunggulah lebih dulu, mungkin mereka masih dalam perjalanan.”


“Huh....” Lagi-lagi desahan yang ia keluarkan.


Terdengar suara gerakan pintu, membuat dua orang itu berpaling menatap kearah pintu – pengecualian bagi Lusi yang dari tadi memperhatikan ke arah pintu di depan — jalur lurus arah pandangannya.


“Mungkin itu mereka....” guman pelan.


Kreak...


“Maaf, maaf kami terlambat....” ucap perempuan di adalah Rena — nampak panik menunduk dengan sopan; di ikuti masuk semua orang yang ada dari kelas the golden egg ini: Cintia, Erwin, Leksmar, Anatsyah, Esline, Peter, Near, Lumire, Gaznel, Leonhart, Hendrick dan terakhir Zen – masuk secara berurutan, mengambil tempat masing-masing.


“Baiklah, sepertinya semua telah berkumpul,” ucap Lusi.


“Jadi untuk apa kami semua di kumpulan disini, emangnya siapa lagi yang menyuruh anda ketua kelas,” tanya Peter.


“Kalian semua itu sudah terlambat hampir dua puluh menit, aku lihat-lihat tidak ada sama sekali rasa bersalah kalian,” sinis Morlex.


“Ya, maafkan kami tuan Morlex,” ucap Erwin dengan nada malas.


“Sudahlah kalian, jangan berdebat seperti itu.” Anatasya melerai.


“Diam kau Loli,” balas mereka berdua.


“Apa! jangan sekali kalian memanggil ku seperti itu.....akan kusihir kalian berdua,” ucap Anatasya marah.


“Memang betul kamu itu kan Loli,” jawab Erwin.


“Dasar Loli yang tak mengaku....” kata Morlex.


Seketika saja wajah Anatasya menggelap; Esline yang melihat dua laki-laki bodoh tepat di hadapannya ini hanya menggeleng-geleng kepala – menganggap jika mereka berdua telah membangunkan singa yang tertidur. Esline bahkan sangat tahu, bagaimana kemampuan dari sosok loli di sampingnya ini, kemampuannya bahkan setara para penyihir hebat yang umurnya masih terlihat muda untuk anak seusianya.


“Sudah, sudahlah....” Rena melerai panik.


“Ayo terus, kita lihat, Hahahaha...” kata Peter dengan nada mendramatisir.


“Bukanya ini asik Zen, lihatlah....benar kan Peter.”


“Benar banget....”


Langsung saja, Lumire, Gaznel, Leksmar, Near, Leonhart, Luci, Cintia, dan Guin melihat mereka dengan tatapan datar, sungguh sifat yang begitu kekanak-kanakan.


“Huh....” hembusan nafas Zen yang ia keluarkan.


“Dasar laki-laki bodoh....” ucap Cintia menatap dengan tampang Aneh.


“Kalian, tolong pisahkan dong.”


“Hilícleásta.” Menyodorkan staf yang ia punya.


Piusss....


Cling....


“Akhhhh....”


Bufff......


...


“Untunglah aku tidak apa-apa,” ujar Zen dalam hati.


“Rasain tuh, enak kan,” ucap Anatasya terlihat senang dengan kondisi keduanya – targetnya sekarang ini.


Terlihat dua orang: Erwin dan Morlex; terdorong tak berkutik hingga mengenai tembok kokoh beton dengan mantra Witch yang di sodorkan oleh Loli Half-Witch ini. Ia tersenyum lebar kala melihat hasil karyanya yang di lepaskan — puas akan hal itu seolah-olah semua kekesalannya tadi telah ia keluarkan namun belum sepenuhnya.


“Sialan kau nenek sihir, kenapa kamu menyerang kami ha....” teriak Morlex.


“Ohhh... rupanya kamu ingin menjadi kelinci percobaan ku ini, aku mempunyai sihir baru loh...kamu mau coba,” ujar Anatasya tersenyum devil.


“Tidak, tidak usah, kami berdua minta maaf,” ucap Erwin takut.


“Emangnya masalah ini, cukup menggunakan maaf saja.” Melihat staf nya, di main-main kan.


“Ihhhh....” Keduanya ketakutan.


“Kenapa kami berdua juga, kena sihir aneh itu sih,” ujar Hendrick yang sama kondisinya dengan Peter, lebih parah dari kedua orang sebelumnya — berbenturan langit-langit di atas tembok.


“Kalian berdua tuh pantas, mendapatkan hal yang lebih parah seperti itu,” ucap Guin perempuan berambut coklat itu, di tambah tatapan sinis dari Leksmar.


Kalian pasti bertanya, kenapa Guinevere tidak lagi menjabat sebagai ketua dari kelas the golden egg ini. Ya, jawab nya sih karna Insiden waktu itu, ketika ulah bocah empat orang itu, kalian pasti sudah tau bukan. Tidak bukan hanya itu saja, ia sepertinya muak dengan sikap mereka yang selalu tak tau apa itu aturan, tentu saja itu semua tak tertuju para perempuan atau teman-teman segender nya itu. Terpaksa ia di gantikan oleh teman sejatinya yakni Luci, perempuan beriris Camelia itu atas kemauan dari dirinya sendiri.


Pertanyaan kedua, apa hubungannya Guinevere dengan sih Morlex itu? Morlex dan juga Guinevere di katakan masih satu famili namun berbeda dari nama keluarga, atau bisa di katakan keluarga cabang namun tak ada keluarga utamanya, begitu pun juga dengan keluarga Paxley maupun Vermilion yang sangat terkenal itu. Empat keluarga tersebut saling mempengaruhi satu sama lain, baik itu kontribusi besar bagi Kekaisaran Zugen; bukan karna terpecah belah atau faktor konflik maupun perseteruan lain, namun karna perjanjian atas kesepakatan yang legasi sebelum Zugen Empire berdiri; kaisar sekarang Julius De Barekyou atau ayah Guinevere tak dapat menentang sama sekali, perjanjian leluhur itu — mempersatukan empat keluarga besar menjadi satu memang sangatlah tak mudah. Kendati pada dasarnya kaisar lah pemegang dan juga penguasa monarki yang paling penting dan juga berkuasa dalam sistem kerajaan atau setingkat di atasnya – tak dapat berbuat apa-apa.


“Apakah kalian sudah selesai, main-mainya,” suara berat mengagetkan mereka semua.


Zen mengeryitkan dahinya, ketika respon wajah melihat kearah yang keluar suara di depan sana. “Ini bukanya....” guman Zen pelan.


“Ini baru namanya masa muda,” ucap leaki berbadan kekar itu. “perkenalkan namaku Gulder Von Hernandez, kalian bisa memanggilku Instruktur Gull.” Senyum Lebar terlukis di wajahnya.


“Lets go to Game.....” ujarnya senyum lebih lebar sebelumnya merekah, dengan makna entah apa itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Note;


Hilícleásta (Hiklasstas), salah satu mantra witch tingkat tiga; dengan memberikan daya dorong ketika di gunakan kepada subjek yang terkena spell yang di keluarkan. Efeknya tak terlalu seperti gaya gravitasi yang menekan, namun dapat memberikan kesakitan yang berarti ketika terkena sihir ini. Sihir ini terbilang bisa saja dapat mengontrol subjek yang masih terkena efek satu menit, ketika spell di keluarkan. Namun hal itu tentu saja harus menggunakan Manipulation yang lebih bukan; sehingga dapat menghasilkan sesuatu fungsi lebih Spell Witch Ini.


Jangan lupa, like, vote, dan juga komentarnya!!! 😊😊😊