My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 64. Impian Dan Keputusan



Ruangan kepala akademi sekarang ini, Instruktur Etnest melihat dan mengecek berbagai dokumen yang langsung berhubungan dengan kesiapan event pameran yang akan di gelar. Berbagai proposal laporan yang di ajukan maupun ditulis dalam bidang masing-masing akan di gelar walaupun tema yang di tentukan bersifat bebas; Instruktur Ernest pun juga merasa, setidaknya hal ini juga kemajuan tersendiri bagi Akademi, walau sebenarnya ini hanyalah alasan maupun tujuan sampingan belaka. Aktivitasnya berhenti, menyadari seorang perempuan yang kini menatapnya, perempuan yang terbilang muda berambut coklat dengan iris mata yang senada, senyum terhibur terlukis di wajahnya, berdiri didepan saling berhadapan – berbeda posisi.


“Apa yang membuatmu kemari?”


“Hanya memastikan saja, bukanya... ini terlalu berlebihan Instruktur Etnest.”


Kepala Akademi, Etnest De Phyterus, tak di pungkiri pun menjadi hal yang melatar belakangi demikian; ia adalah orang yang mendaftarkan Zen secara diam-diam, walau seandainya, itu pun tak dapat di katakan aneh untuk konspirasi yang ia lakukan hanya semata karna rasa penasaran, atau selebihnya juga. Dan disini Instruktur Kesna juga sebagai seorang Blacksmith terkenal pun berharap sama denganya, padahal itu akan membuat citra mereka berdua turun jika di ketahui.


“Kamu benar juga, walaupun ini agak berlebihan, bukanya kamu juga ingin melihat bakatnya kan, Instruktur Kes-na.”


“Hahaha..anda benar sekali, aku sangat penasaran dengan bakat terpendam yang ia miliki. Jujur saja aku sangat sensitif dengan bakat seseorang, kau tahu itu bukan.”


“Harusnya itu memang menjadi ciri khasmu, Instruktur Kesna, walaupun seharusnya itu sudah melekat padamu. Itu tak patut untuk di kagetkan.”


“Jika anda menganggap begitu aku juga tak mempermasalahkan hal demikian.”


“Hahaha...tak kusangka kamu jujur juga, Instruktur Kesna.”


***


Zen tak percaya mendengar apa yang di ucapkan Peter, ia sama sekali tak pernah mendaftarkan dirinya mengikuti event pameran itu, dan ini pun tak patut ia pungkiri juga, hal telah terjadi; Ia juga memenangkan dirinya, sebelum ia kembali merespon untuk di tanyakan. Berjalan dengan langkah sedikit cepat, di lorong yang kini langsung terhubung dengan tempat yang menjadi tujuannya.


Krak...


Pintu terbuka, memperlihatkan seorang remaja berambut Putih di balik pintu yang kini lebar. Sebenarnya Zen pun merasa ini ada hubungannya dengan Instruktur Etnest, spekulasinya sendiri terbilang masuk akal jika di pikirkan, berkuasa maupun hal-hal sehubungan dengan akademi pasti pria tua itu tahu, atau sebagai estafetnya juga. Namun demikian, Zen bukan untuk cekcok atau mengajukan protes berdasarkan spekulasinya saat ini, walau itu sudah dikonfirmasi kemungkinannya oleh Zenos sendiri, ia hanya ingin meminta kepada kepala akademi untuk mengeluarkan namanya dari daftar, kendati hal itu tak dapat dilakukan oleh orang yang diajukan.


“Instruktur Etnest, aku ingin berbicara denganmu..” ucap Zen cepat kendati dengan sedikit butiran keringat di pelipisnya.


“Zen yah, ada apa gerangan kamu ingin bertemu denganku ini, apa ada masalah yang harus dibicarakan,” jawabnya tersenyum; sekedar berbasa-basi.


“Ya,” ucapnya menjeda. “Bisakah aku bertanya satu hal padamu..” ucap Zen lagi.


“Apa yang anda ingin tanyakan, mungkin...aku bisa menjawabnya,” balasnya masih mempertahankan senyumnya.


“Apakah event kali ini semua ada hubungannya dengan kamu?”


“Bisa dibilang iya, bisa di bilang tid---.”


“Jika begitu apa yang membuatmu tak sungkan-sungkan mendaftarkan orang yang tak ingin ia terdaftar,“ tanya Zen.


“Hmmm...apa yah, tapi untuk apa kamu menanyakan itu semua..” tanyanya balik.


“Jangan mengelak lagi, aku tahu kamu yang mendaftarkan aku bukan,” ujar Zen tak tahan, walau masih dalam posisi tenangnya.


“Masa sih aku mendaftarkan kamu, kalau hal itu terjadi maka peraturannya akan dilanggar karna tidak sesuai dengan prosedurnya bukan, dan prosedurnya sendiri harus mengatasi namakan calon yang akan mengikuti..”


“Tapi, jika kamu ingin kudaftarkan maka itu adalah ide yang sangat brilian...” ucapnya lagi.


“Makusdku bukan begitu.” Masih nada yang sama. “Aku tak pernah mengajukan jika anda akan menjawab seperti itu Instruktur Etnest.”


“Jadi makna maksudmu, kamu menuduhku, bukannya begitu.”


“Huh...terserah, aku mengaku kalah hari ini Instruktur Etnest, tapi..di hari kemudian, aku tak akan pernah kalah seperti ini lagi; aku cukup akui dengan bakat permainan kata-kata yang kamu miliki itu,” ucap Zen menatap sinis namun dengan nada datar.


“...Kalo gitu permisi..” Beranjak pergi.


“Kamu adalah salah seorang orang yang berbicara pedas selama aku hidup ini, aku cukup acungkan jempol atas keberaniamu Zen,” balasnya tersenyum tipis.


“Dan semoga itu tak membuatmu seperti mata panda sampai sepekan ini..” ujar Instruktur Ernest.


“Sialan pak tua ini.”


“Ya, aku tahu...tidak perlu apa yang kamu ucapkan, akan aku usahakan untuk mengikuti Event ini sampai selesai.”


“Aku percaya denganmu, Zen...” Tersenyum tulus.


...


Tak jauh dari tempat ruangan Kepala Akademi saat Ini, remaja yang kini berjalan sendiri di lorong remang-remang akan cahaya, berpikir dalam-dalam beberapa hal tak berbeda jauh denganya asumsinya yang Ia buat, walau itu dari segi sekecil apapun. Memikirkan hal yang memungkin itu cukup membuat mentalnya sedikit kelelahan, dan Ia setidaknya harus mengistirahatkan fisik dan pikiran yang hampir Ia pakai seharian penuh ini.


“Apakah hal ini dapatku lakukan? hais.... Ini benar-benar merepotkan tahu..” ucap Zen pelan.


“Kalo dipikir-pikir setidaknya Ini cukup menarik untuk di ikuti, walaupun aku harus bekerja keras selama sepekan ini dibawah latihan yang dilakukan juga.”


“Bagaimana menurutmu Zenos...”


[Menjawab; ini masihlah kemungkinan; presentase kemungkinan sebesar 35,6%, jika ini semua tak akan merepotkan anda]


[Menjawab; ya, itu bisa saja terjadi, disebabkan jika corporation terbesar akan turut berpartisipasi]


“Hmmm, kamu ada benarnya juga Zenos, aku pun setidaknya cepat atau lambat membutuhkan uang bukan untuk kedepanya nanti.”


Zen mendongak wajahnya menatap langit-langit lorong dengan langkah terhenti. “Aku dan kamu juga tak dapat memprediksi maupun mengekspetasikan keadaan dimasa depan nanti; aku juga mempunyai mimpi yang ingin kuwujudkan ketika misiku ini selesai, hal yang mungkin dianggap konyol jika didengar.” ucapnya.


“Apakah kamu ingin mendengarnya...” tambahnya lagi.


[Menjawab; orang yang mempunyai mimpi itu dikatakan jika ia mempunyai tujuan hidup, jadi tidak ada salahnya jika anda ingin bermimpi seperti itu. Bisa anda katakan saja]


“Ingin menguasai dunia itulah impianku Zenos....cukup ambisius bukan, bagaimana menurutmu.”


[Menjawab; Aku sama sekali tak dapat berkomentar atau merespon untuk menyatakan hal yang mungkin terjadi, namun jika begitu, aku akan selalu berada di sampingmu, berada di pihakmu]


“Ya, aku tahu itu, kamu pasti akan berada di sampingku apapun terjadi, karena kamukan dibuat oleh Libia sendiri.”


“Huh....hari ini sangat melelahkan, apalagi harus berdebat dengan pria tua itu lagi, sungguh hari yang melelahkan tiada tara.”


“Dan ini akan kubalas dengan dengan tidurku ini...saatnya tidur.”


***


....Keesokan harinya, mentari yang berada pada titik beberapa derajat yang sejajar dengan ukuran jengkalan tangan berdiri, menandakan berawalnya aktifitas di Akademi Phyterus yang kini semakin gencar akan kesibukan. Akademi yang hampir menyamai satu kota kecil ini ukuran sekiranya ribuan hektar, dengan ruangan-ruangan dengan fungsi yang komplit, sepenuhnya di padati oleh murid yang berjumlah 5000-an. Dan itu pun sama bagi Zen dan juga kawan-kawannya. Setelah berpikir sangat matang semalam, apa yang akan ia lakukan maupun keputusan yang telah ia ambil untuk kedepannya, dan Zen sudah memantapkan hatinya akan ia jalani selama sepekan yang akan datang.


Di perpustakaan Anion, Zen nampak duduk diam membaca dan juga mencari referensi yang cukup untuk menemukan Inspirasi teknologi yang akan ia pamerkan, jujur saja ia terbilang bingung untuk menentukan karya ilmiah yang akan ia buat fokus selama sepekan ini; hal ini pun menjadi tantangan tersendiri bagi Zen, walaupun dampak realita akan terlihat jelas sesudahnya.


“Hmmm...mungkin ini cocok dengan pemikiranku saat ini,” ucap Zen menatap buku yang kini ia baca.


Ia segera menarik buku yang tersusun di sampingnya, sebelum menaruh buku yang tadi ia baca. Dengan lembaran-lembaran yang ia balik tak terkecuali membaca isi yang tertera, memahami maksud maupun konsep-konsep sihir yang ada untuk ia pelajari lebih lanjut. Tak kurang maupun tak lebih untuk mengartikan, hal tentang sihir, konsep maupun selak beluk dalam aktifasi dalam pola Rune, itu Zen telah memahami secara semestinya. Kendati dalam praktek melakukan cukup ada beberapa kendala yang harus ia cermati – di evaluasi ulang kembali.


“Apa yang kamu lakukan disini Zen..” ucap seseorang yang menghentuian aktifitasnya.


Zen berpaling sebagai respon yang ia tunjukan. “Ernest? ....Husss...” Hembusan nafas yang keluar.... ”Aku sudah menerimanya..” ucap Zen langsung to the poin.


Ernest mengangkat satu alisnya, tak mengerti. “Menerima, jangan-jangan,” ucapnya terlihat menduga-duga.


“Ya, aku menerimanya mengikuti, yah...pameran...” ucap Zen sudah tahu makna dari perkataan Ernest.


“....”


“Syukurlah...aku tak harus berpartisipasi, kan sudah ada Zen, aku bisa saja bilang pada Instruktur Wei bukan...”


“Apa yang kamu lakukan disini?”


“Tidak ada, hanya untuk melihat buku-buku terbaru saja, yang di buat oleh Instruktur Kesna yang baru di isi di perpustakaan Anion.”


“....Begitu yah, aku sedikit familiar dengan nama ‘Instruktur Kesna yang kamu sebutkan.”


“Kamu tidak tahu Instruktur Kesna Zen...” ucap Ernest terkejut.


“Yah, begitulah...” Acuh tak acuh.


[Menjawab; Instruktur Kesna yang an------]


“Tidak usah kamu jawab Zenos, setidaknya hari kamu bisa beristirahat bukan...” batin Zen mengehentikan penjelasan dari Zenos.


“Masa kamu tidak tahu Instruktur Kesna sih Zen, dia itu Instruktur utama tahu di Akademi Phyterus inj...bisa kamu bayangkan jika ruangan sistematis yang terhubung dengan sistem mekanis dari Akademi Phyterus sendiri, dia adalah orang yang merancangnya.”


“Dan dia adalah salah satu orang yang sangat berpengaruh dalam Kota Antoinerei...kota yang kujelaskan kemarin, tempat tinggal para Ilmuan dan juga sarjana sihir terkenal,” jelas Ernest panjang lebar.


“Oooooo”


“Kok cuman itu saja respon mu Zen, kamu tahu tidak jika menjadi seorang Blaksmit sangat terkenal, bahkan begitu di hormati...”


“Apalagi teknologi dari tangan Blaksmit yang di jual di pasaran sangatlah mahal, walaupun tak semahal dengan potion sih...”


“....”


“Ya sudahlah...kalo gitu aku pergi dulu ya Zen...semoga kamu dapat memenangkan lombanya, maka akan kupastian jika ayahku akan mengajukan kontrak padamu...”


“Semoga berhasil,” ucap Ernest lagi.


Sekian detik sejak Ernest beranjak pergi, Zen tersenyum melengkung di kedua bibirnya. “Ini kelihatannya lebih menarik lagi dari yang kupikirkan,” gumannya lirih.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=