My Life Is Full Magic

My Life Is Full Magic
Chapter 28. Instruktur Utama



Memasuki Gerbang besar dari Akademi Phyterus, Hal yang harus di perhatikan di dalamnya adalah Keasrian lingkungannya yang cukup alami sepanjang jika di lihat. Mungkin ini lah namanya penggunaan Teknologi Sihir dalam Lingkungan Hijau. Tak terlewat juga Akademi para Murid mendaftar dengan Lencana sebagai orang yang akan menjadi penerus dari Akademi Phyterus kedepannya.


Akademi ini jika di lihat memang di peruntuhkan bagi keluarga bangsawan, Tapi setelah di Revisi kebijakan-kebijakan yang tak sesuai untuk keberlangsungan umat manusia, Maka di hapuslah Akademi Phyterus yang di peruntuhkan bagi kalangan bangsawan menjadi akademi umum untuk semua kalangan. Murid bangsawan sendiri terbilang hanya setengah dari populasi yang mendominasi dan yang lainnya adalah Anak dari pengusaha terkenal, Orang orang yang melalui jalur khusus karna kehebatannya maupun murid yang telah di Rekomendasikan karna pembuktiannya dalam sihir atau penguasaan senjata terbilang mahir dan menyimpan bakatnya yang tersembunyi.


Berjalan bersama dengan Kak Anatia yang di ketahui sebagai salah satu guru yang mengajar di Akademi dengan gelar ahli profesional. Walau umurnya yang terbilang muda, Tapi sekali-sekali Jangan di lihat dari segi umur dalam menilai keterampilan seseorang. Tak tau pasti bagaimana kehebatan dari perempuan berambut pirang ikal dengan kecamata khasnya, Tapi yang pasti orang dengan gelar ahli profesional itu sudah pasti kehebatannya seperti Profesor di dunia Zen dulu.


Ketiga orang itu juga tak tau jika Kak Anatia akan menjadi guru pembimbing tingkatan kedua;itu masih tidaklah jelas. Tapi sepertinya masih ada rahasia yang di sembunyikan yang tak bisa ia ujarkan sekarang, Seakan membuat sebuah kejutan besar bagi adik dari Teman baiknya itu.


"Apakah kalian memilih jurusan Militer yah"tanya Kak Anatia.


"Yah..bisa di bilang itu".


"Kalo aku sih nge... lanjutin Jurusanku yang pertama,mungkin kita bertemu hanya jurusan penggunaan sihir saja"ucap Ernest.


"Jika seperti itu, sepertinya sedikit lebih baik"ujar Hendrick secara terang-terangan.


"Aku juga tak ingin berlama-lama dengan mu, Benarkan Zen".


"Entahlah.."jawab Zen.


"Zen itu Nanti masuknya Jurusan Militer bersamaku tahu"mengingatkan pada Ernest.


"Sudahlah kalian berdua...."ucap Kak Anatia yang melerai.


"Boleh aku tanya Hendirck,Siapa orang yang di sampingmu itu"Cicit kak Anatia yang berbisik.


"Oh Ya aku lupa..."Katanya serentak.


"Maaf...Maaf kak aku lupa memperkenalkan kamu sama Zen".


"Perkenalkan dia Saudara Angkat aku...Zen"


Zen sama sekali tak terlalu merespon, Ia masih memikirkan beberapa Alasan yang kemungkinan ia pergunakan dalam Test masuknya Nanti. Ia tak ingin memberikan penafsiran jika Tes yang akan ia hadapi tak terlalu sulit atau merepotkan baginya, Zen sebenarnya tak ingin Jika sifat 'Pandang Enteng' masuk dalam daftar sikapnya;Ia yang Lebih memandang pada hal Logis maupun Kenyataan sebenarnya dari pada yang bersifat bualan dari pemikiran semata.


Entah kenapa Zen cukup yakin dengan kemampuannya sendiri, Tapi ia sedikit mengkhawatirkan jika ada yang terlewat dan akan menyusahkan baginya. Terlewat dalam artian Sikap maupun hal yang sekecil apapun. Zen pun terbilang anak yang sangat teliti akan apapun, Ia paling tak Suka dengan Sifat Ceroboh, Tapi tak terlalu akut.


"Aku akan berpisah disini" Ucap Zen yang melihat Jalan yang berbelok.


"Hmmm...Nanti kita ketemu lagi yah Zen" Ucap Hendric.


"Kelasku pada Jurusan Kesatria Class 2-A".


Soal Kelas Sendiri, Semua kelas memang di juluki dengan nama yang terbilang mewakili dari nilai kelas itu sendiri, Entah bagaimana julukan yang terdengar di semua para murid, Tapi itu semua tidaklah penting sama sekali.


Zen menyusuri jalan yang berbeda arah dari Hendric, Ia sepertinya telah mengetahui semua yang ada baik itu ruangan yang akan ia tuju. Sebenarnya jika melihat dari awal memang Zen yang di bantu Paman sebastian telah mendaftarkan diri mengikuti ujian yang di selenggarakan dari Guru-guru yang ada atau lebih tepatnya Ujian yang akan di selenggarakan baginya. Jangan kalian pikir jika masuk di Akademi yang berkualitas tak melakukan tes yang rumit apalagi memasuki kelas khusus atau jurusan pilihan yang begitu perhatikan oleh Kekaisaran besar. Zen juga tau jika ujian yang di berikan padanya akan sedikit menyulitkan, Oleh Sebab itu lah sifat tak ingin ia perlihatkan atau tunjukan selama ujian berlangsung:Ceroboh.


Enggang melepaskan pandanganya menatap lurus kedepan, Ujung lorong tepat di hadapan pintu besar seorang perempuan berambut Ungu dan juga bermata Ungu berdiam diri menunggu sesuatu, Ketika pandangannya jatuh atas Kehadiran Zen ia dengan cepat melangkah mendekat lalu memberikan Hormat dengan menundukan kepalanya sedikit Dan tensenyum tipis.


"Selamat Datang Zen Arnold Van Charlotte"


"Perkenalkan Namaku Sally Van Gardnerd"ucapnya dengan senyum tipisnya.


"Perkenalkan Namaku Zen Nona Sally" Membalas ucap perempuan berambut Ungu yang menutupi sebagian mata kanannya Karna rambut panjangnya.


"Lewat sini Tuan Charlotte, Semua orang telah menunggumu"


"Yah..." Balas Zen.


Mengikuti dari arah belakang Nona Sally, Sedangkan Nona Sally sendiri mendorong pintu besar yang ada di pandanganya. Ruangan yang Sangatlah indah terlihat di mata biru laut Zen, Tak cukup sampai di situ ada sepuluh orang yang duduk saling berjejer yang ada tingkatan dasar dari posisi lantai. sepuluh orang dengan sikap yang di tunjukan berbeda pula dan juga mengintimidasi, Tapi satu orang Pria Tua yang jika dilihat menurut Zen ada rasa De Javu tersenyum akan kehadiran Zen. Dan posisinya berada di pusat pertengahan dari Empat Orang berjejer.


Rasa De Javu yang di rasakan Zen cukup membuat rasa penasarannya timbul. Tapi yang menjadi Fokusnya sekarang adalah apa yang dia menjadi Tujuannya selama seminggu yang lalu. Nona Sally pun mengundurkan diri meninggalkan Zen di Ruang itu.


Terlihat ada gerakan yang di keluarkan dari beberapa orang yang di hadapan Zen, Seorang Pria kekar sepertinya ingin memulai membuka suara. Otot-ototnya yang terlihat membuktikan ia seorang individu yang memiliki bentuk badan yang paling Profesional Bahakan tak dapat di bandingkan dengan Biragawan yang terekenal yang ada di Bumi.


"Perkenalkan Nama aku Nak, Gulder. Kau bisa memanggilku Instruktur Gul" Ujarnya dengan lantang.


Yang berikutnya juga seorang perempuan dengan rambut pirang, menutup mata dengan posisi yang tenang.


"Aku adalah Instruktur Vena, Spesialis kelas sihir Tipikal Controller" Ucapnya dengan nada yang tenang.


Selanjutnya Seorang Perempuan berambut Coklat dengan mata Coklat yang tersenyum ramah ke arah Zen.


"Namaku Kesna, Bisa di panggil Instruktur Kes, Spesialis Kelas Blacksmith"Katanya yang tersenyum gembira.


...


Ia tak tau kenapa semua Instruktur ini bersifat tak dapat artikan, Bukan berarti Zen mencuragai akan sesuatu tapi itu pantas untuk di curigai. Intinya Semua orang mempunyai sikap dan juga sifat yang membuat Zen bingung, bahkan patut di pertanyakan lagi kenapa Semua orang berbeda sikap ini di satukan dalam satu instansi yang sama, Membuat orang lebih di buat bingung.


Untuk di jelaskan semua instruktur mempunyai Jurusan Spesialis masing-masing yang mewakil semua bidang yang ada, Bahkan Kak Anatia sendiri duduk bersebelahan dengan Pria yang membuat Zen merasa De Javu dengan jurusan Spesialis Magical Of Education. Orang yang bersebelahan denganya;Ia di kenal sebagai kepala Akademi. Dan Namanya Adalah Esnet De Phyterus atau Pria tua yang memberikan Telur naga kepada Zen dengan makna yang masih menjadi misteri.